Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 138


__ADS_3

"Masih ingat pertama kali kita bertemu di rumah sakit waktu itu?"


"Hm."


"Kamu bilang, kamu sangat menyayangi kedua orang tuamu, dan ingin selalu membahagiakan mereka?"


"Hm."


"Kamu juga bilang, kamu sangat takut kehilangan bapak kamu waktu itu?"


"Hm, itu benar."


"Dan apa kamu juga tau kalau saat itu juga merupakan saat-saat terakhirnya?"


Renaldi menggelengkan kepalanya, pandangannya tidak fokus. Ingatannya berputar pada saat pertama kali bertemu dengan Bram, orang asing yang tidak ia kenal saat menunggu bapaknya di rumah sakit, seorang anak laki-laki seumuran dengannya yang baik hati bersedia mendengarkan ceritanya ketika hatinya kalut dan bersedih menahan rasa takut saat itu.


"Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, beliau meminta maaf karena telah mengambil kebahagiaan ibumu bersama papi, beliau ingin papi berjanji agar bersedia menikahi ibumu."


"Berkali-kali papi menolak, akan tetapi bapak kamu kembali meyakinkan papi hingga pada akhirnya om Gun mendapatkan informasi penting tentang ibumu."


"Saat itu papi bimbang, ragu untuk berterus terang dengan mami." pandangan mata Bram beralih pada sosok wanita yang melahirkannya.


"Karena bagaimanapun juga perasaan seorang istri akan hancur ketika suaminya menikah lagi dengan wanita lain, apalagi jika wanita itu adalah kekasih suaminya dulu."


"Om Gun dan aku sebagai putra sulung waktu itu memaksa papi untuk menikahi ibumu."


"Sakit, sakit sekali tentunya."


"Papi harus memilih dan menelan rasa pahit dalam dilema kehidupannya bersama orang-orang yang papi cintai dan sayangi."


"Namun, papi berusaha untuk tidak menyakiti perasaan mami dan ibumu. Papi sangat adil memperlakukan mereka."


Mami menundukkan kepala melihat dibawahnya. Air matanya mengalir, ia menangis.


Bram berjalan mendekati tempat duduk maminya, kemudian meraih tangan maminya dan menciumnya dengan rasa sayang pada orang yang sangat sabar selama ini.


"Mami... mami adalah wanita hebat, wanita yang menjalani hidupnya rela dimadu dengan mantan kekasih suaminya. Seorang istri yang tidak pernah mengungkit, marah, memaki, mencela bahkan menuding tanpa rasa hormat terhadap suaminya, meski cinta suaminya terbagi dengan wanita lain. Ternyata mami bisa membuktikan sebagai wanita terhormat yang lebih memilih diam dari pada bertengkar dalam bahtera rumah tangganya seperti yang terjadi pada istri sah di luaran sana yang memberontak suami dan madunya."


Bola mata Bram menatap sayu wajah mami.


Suasana hening, semuanya terdiam seketika, hanya suara isakan yang terdengar menusuk hati papi.


Papi menatap langit-langit ruang kerjanya, menahan air mata yang seakan runtuh dari pertahanannya.


"Mi, Bram tau jika mami sangat marah dan sangat sakit hati mami waktu itu, tapi karena keadaan yang memaksa papi untuk harus memilih dalam peliknya pilihan itu. Antara menolak atau menerima."


"Papi sudah menolak permintaan almarhum pak Herman, tetapi om Gun melihat istrinya almarhum, tante Reva mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, ia dipaksa untuk dijadikan wanita pemuas nafsu laki-laki hidung belang, sedangkan tante Reva adalah wanita baik-baik, dia menjaga dirinya sepeninggal suaminya, hanya statusnya saja yang menjadikan cibiran dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang disekitarnya. Hanya status janda yang disandangnya, dan itu bukan kesalahannya menjadi janda."


"Sepeninggal almarhum, tante Reva dalam tekanan mi, dan... beliau juga sakit-sakitan waktu itu."


"Om Gun akhirnya membawa tante Reva di apartemen dan menyembunyikannya disana seraya meyakinkan papi."


"Mi, papi hanya menyelamatkan kehormatan almarhum pak Herman, tidak lebih mi."


"Bram tau semuanya, karena om Gun sudah mempertimbangkan masalah ini bersama Bram. Papi menjalani ini semua tidak atas keinginannya sendiri. Ini adalah salah satu takdir keluarga Winata dari Tuhan." Bram masih terus menjelaskan.


Mami masih terdiam dalam keheningan suasana didalam ruang kerja.


Bram berdiri dari duduknya disamping mami dan kembali duduk ditempatnya semula.


"Jadi Re, papi Winata adalah seorang laki-laki baik-baik, beliau tidak mengambil keuntungan atau menyakiti ibumu, akan tetapi papi selalu siaga terhadap kedua istrinya."


"Dan kalian berdua." Bram memandang kedua adiknya, Sigit dan Revan.


"Jangan pernah memandang papi dengan masa lalu yang tidak baik, karena papi menjalani semuanya selama ini penuh dalam penekanan rasa bersalah dengan keluarganya, terutama terhadap Sigit."

__ADS_1


"Mungkin kamu sempat berfikir Git, papi tega menduakan mami dan membagi kebahagiaan kita dengan keluarga Renaldi selama ini."


"Tapi kenapa papi tidak berterus terang dari awal? kenapa harus ditutup-tutupi?" sahut Sigit memotong penjelasan Abangnya.


Bram terdiam. Matanya memperhatikan Sigit lalu beralih pada papinya.


"Bagaimana pun mami berhak tahu bang, jangan karena mami orangnya sabar dan... yah begitu sifat mami yang terlalu berhati baik, lalu dianggap enteng dan sepele begitu saja." lanjut Sigit tidak terima.


"Papi tidak tega untuk berkata yang sebenarnya Git, papi tidak bisa mengatakannya sama mami." jawab Bram.


"Dari dulu Abang ingin menceritakan semua ini, akan tetapi setiap kali Abang akan mengungkapkan masalah ini, papi melarang Abang karena menurut papi tidak baik mengungkit-ungkit masalah orang yang sudah tiada Git." lanjutnya.


Sigit menatap wajah Abang nya, ia menangkap sorot mata itu semakin dalam.


"Seorang istri yang ditinggal menikah suaminya lagi itu rasanya sangat sakit Git, sakit. Lebih sakit seratus kali dari pada tergores sebilah pisau ditubuh mami. Kelak, ingat-ingatlah perkataan mami ini, jangan sampai kamu meninggalkan istri dan anakmu suatu hari nanti hanya karena demi wanita lain, apapun alasannya itu jangan sampai membuat istrimu menangis Git. Jangan pernah. Selagi istrimu masih taat dan tidak melanggar syari'at agama teruslah ada bersamanya dalam setiap keadaan." masih terngiang kalimat mami saat mengetahui papinya menikahi wanita lain. Dan masih melekat dalam ingatannya sosok seorang istri yang sangat rapuh dan lemah saat itu dihadapannya berderaian air mata menahan pilu keadaan rumah tangganya.


"Maaf bang. Bagaimana pun alasannya, Sigit masih kecewa dengan keputusan papi yang tidak ada kejujuran dengan pasangannya."


Semua mata tertuju pada Sigit.


"Walaupun niat papi baik, yang inti dari cerita Abang adalah papi menjalankan amanah dari mendiang pak Herman, akan tetapi papi tidak menganggap mami sebagai istri yang baik saat itu, karena menurut Sigit istri adalah partner dalam membina rumah tangga, jadi salah jika menurut Sigit, papi mengambil keputusan tanpa dibicarakan terlebih dulu dengan pasangannya. Sigit yakin betul jika papi membicarakan masalah ini sebelumnya dengan mami, pasti tidak akan ada yang namanya rahasia, bahkan yang tersakiti."


Papi menelan ludahnya, ia tercekat mendengar perkataan Sigit. Perasaan bersalah masih melekat dalam hatinya.


"Igit tidak menyalahkan tindakan papi bang, tetapi... Igit hanya kecewa." lanjut Sigit dengan wajah tenang. "Papi tidak bersalah Van, Re. Hanya Igit saja yang masih kecewa, itu saja."


Sigit menatap wajah adiknya seraya tersenyum kecil.


"Semoga kejadian ini cukup salah satu anggota keluarga kita yang menjalaninya, kita ambil saja hikmahnya untuk dijadikan pelajaran di hari kemudian, yang sudah terjadi kita ambil hikmahnya saja, dan kita tiru yang baik saja." ucap Sigit seraya beranjak dari kursinya, berdiri.


"Hhhhh.... Papi." Sigit berjalan mendekati papinya. "Igit baru mengetahui saat melihat air mata seorang istri dan seorang ibu waktu itu, hatinya, hari-harinya benar-benar hancur melihat kenyataan didepannya yang membuat dirinya bukanlah seorang ratu lagi di kerajaan hati suaminya. Sebenarnya itu bukanlah kesalahan seorang laki-laki menikah lagi, sah sah saja, akan tetapi, seorang laki-laki diciptakan sebagai pemilik tulang rusuk yang bengkok seharusnya tegas dan bijaksana mengatasi masalahnya, karena saat kalimat ijab qobul yang telah diucapkan suami untuk istrinya saat pernikahan, pada saat itu pula bergoncanglah 'Arsy Allah, dimana sang suami pertama kalinya menanggung beban semua tanggungjawab bukan hanya dirinya sendiri melainkan ia juga menanggung semua perbuatan istri dan anak-anaknya juga, sungguh berat tanggung jawab kita sebagai laki-laki."


"Itu adalah kalimat yang Igit dengar dari mendiang kakek waktu itu. Papi masih ingat?" Sigit duduk disamping papinya, terlihat santai diwajahnya.


"Igit sama sekali tidak marah sama keputusan papi, hanya saja kalimat kakek saat Igit masih kecil walaupun saat itu Igit belum tau apa itu rumah tangga, suami istri, tapi Igit akan selalu ingat kata-kata kakek Pi." Kedua bola mata mereka saling pandang satu sama lain.


Mata mereka masih beradu membuat bendungan air mata papi jebol, ia melihat putranya seperti dirinya yang keras kepala jika sudah membuat keputusan.


"Terimakasih Git sudah mengingatkan papi." papi meraih tangan Sigit.


"Maafkan papi jika papi sudah gagal menjadi hakim itu, maafkan papi yang sudah membuat kalian kecewa."


Sigit tidak ingin menjatuhkan air matanya didepan saudara dan kedua orang tuanya, ia mendekap tubuh kekar papinya.


"Igit juga minta maaf jika selama ini Igit menganggap papi salah."


"Kamu tidak salah Git. Kalian tidak salah."


Papi membalas pelukan Sigit, mereka menikmati momen yang sudah lama tidak saling memeluk seperti waktu kecil putranya dulu.


Renaldi berdiri mendekati dua insan yang sudah merenggangkan pelukan mereka. Ia ragu, mulutnya seakan kaku untuk berbicara.


"Renaldi..." papi menyebut nama laki-laki disamping Sigit.


"Om... ma-maafkan kesalahan Renaldi selama ini om..."


"Renaldi salah besar terhadap om ternyata selama ini."


Papi menatap sosok Renaldi yang menundukkan kepala. Tidak percaya dengan pendengarannya.


"Kamu memaafkan papi Re?"


Renaldi menggelengkan kepalanya melihat wajah sembab lelaki didepannya.


"Justru Renaldi yang salah om. Renaldi sudah tidak tahu diri om, maafkanlah kesalahan Renaldi om maaf." Renaldi hanya berdiri di dekat papi dengan menelangkupkan kedua tangannya didedapan dadanya, ia tidak berani memeluk tubuh laki-laki didepannya seperti halnya yang dilakukan Sigit, ia cukup tahu diri berhadapan dengan siapa.

__ADS_1


"Jangan panggil om Re." tangan papi meraih tangan Renaldi. "Panggilah papi seperti anak-anak papi, kamu juga adalah anak papi sejak dulu kan? hm?"


Renaldi mengusap air matanya yang sudah makin deras membanjiri pipinya, rasa menyesal dan bersalah menumpuk didalam dadanya.


Semua kebaikan dan ketulusan papi Winata begitu nampak jelas dipelupuk matanya setelah ibunya menikah dengan laki-laki yang ia benci. Laki-laki yang sudah baik hati memenuhi kebutuhannya selama ini.


Papi merangkul tubuh Renaldi dan memeluknya.


"Kembalilah menjadi kakaknya Revan, dia sangat menyayangimu dan kedua Abang nya."


ucap mami berharap keutuhan keluarganya.


Mami memegang pundak Renaldi yang sudah merenggangkan pelukan pada suaminya.


"Mami..." lirih Renaldi


Revan pun ikut mendekati mami dan kakaknya, serentak ia menubruk kedua tubuh didepannya.


"Mami... Revan senang sekali hari ini keluarga Revan seakan utuh kembali mi..." Revan sesenggukan merangkul mami dan Renaldi bersamaan.


Papi tidak berkedip menatap wajah istrinya yang masih saja tenang, seperti tidak ada luka sedikitpun dalam hatinya.


"Sudah, sudah, sekarang tidak saatnya untuk menangis, mami tidak ingin menangis lagi, sudah cukup. Sekarang kita semuanya sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jadi mami harap lupakanlah masalalu yang tidak baik itu, kita perbaiki bersama, anggap saja tidak pernah terjadi apapun dimasa lalu, lihatlah kedepan bahwa kenyataannya kita semua adalah satu keluarga. Ya?"


Mami melihat wajah sembab Renaldi dan Revan, kemudian menggandeng tangan Sigit dan Renaldi hendak keluar dari ruang kerja papi.


Bram masih duduk diatas kursinya yang ia tempati. Lega hatinya, akhirnya keluarganya kembali bersama tanpa ada perselisihan lagi antara papi dan Renaldi.


Sementara papi masih saja berdiri melihat semakin hebat istrinya saat ini. Ia merasa malu melihat sikap istrinya yang sama sekali tidak pernah mengungkit-ungkit masa lalunya.


"Mi..." panggil papi dengan suara lirih.


Mami yang sudah berada didepan pintu menolehkan kepalanya pada pemilik suara.


Kedua mata mereka beradu, saling menatap beberapa saat. Papi berjalan mendekati istrinya.


"Maafkan papi yang sudah menyakiti perasaan mami selama ini..." papi menggenggam kedua tangan mami, lalu menciumnya berkali-kali.


"Papi sangat bersalah mi..."


"Maafkan papi..."


"Maafkan papi yang sudah banyak membuat kesalahan pada mami..."


Papi memeluk tubuh mami erat, erat dan semakin erat seakan takut kehilangan.


Mami membiarkan papi memeluk dirinya.


"Aku selalu memandang kekurangan suamiku seperti bintang yang bertaburan dimalam hari, memang terlihat sangat banyak bintang-bintang itu, namun aku juga selalu melihat kelebihan suamiku seperti matahari disiang hari yang hanya satu menyinari bumi ini, karena dengan begitu ketika matahari terbit, maka bintang-bintang itu sudah tidak nampak lagi."


Papi semakin sesak dadanya mendengar jawaban mami, hatinya bertambah pilu.


"Istriku sangat mulia hatinya yang sudah pasti membuat para bidadari surga cemburu dengannya karena kebaikan hatinya..."


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


Bagaimana perasaan anda semua?? gemes? greget? ataukah ingin memaki mami Lia??


Happy reading...

__ADS_1


Sarangheo 💞💞💞


__ADS_2