Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 95


__ADS_3

"Sudah siap?"


Winda menganggukkan kepalanya pada bapaknya. Mereka sudah bersiap melanjutkan perjalanan menuju alamat yang sudah diberikan seseorang pada pak Idris dua hari yang lalu.


Terpaksa mereka menunda pencarian Aldi kemarin, karena kondisi Winda yang tiba-tiba tidak mendukung. Bu Arini membawanya ke rumah sakit untuk mengecek kehamilannya. Dokter hanya menyarankan agar Winda istirahat selama dua hari.


Pagi ini pak Idris membawa mobilnya dengan Sigit berada disampingnya. Sedangkan Winda duduk dibelakang bersama ibunya. Wajah Winda terlihat lebih segar dibandingkan kemarin, pucat karena terlalu bersemangat sehingga rasa lelah dan capek tak dirasa olehnya.


Selama perjalanan Winda banyak diam, terkadang tersenyum sendiri tidak sabar membayangkan pertemuannya dengan seseorang yang selalu menghibur dirinya ketika ia bersedih, wajah teduh Aldi yang penuh rasa sayang padanya dan selalu memanjakannya jika Azzam memberikan ketegasan kepadanya mengenai peraturan bermain dengan sesama temannya, terlebih dengan teman laki-lakinya.


Aldi selalu menghalangi Azzam jika Azzam hendak memarahi Winda, dengan cepat Winda bersembunyi dibelakang tubuh Aldi dan menyusupkan wajahnya dibalik punggung Aldi.


Masih melekat dalam ingatannya ketika itu ia pernah dikurung teman laki-lakinya didalam gudang yang sudah lama tidak terpakai oleh pemiliknya. Semua orang kebingungan mencari dirinya hingga keesokan harinya ia baru ditemukan.


Letak gedung yang begitu jauh dari pemukiman warga dan melewati pepohonan yang sangat rimbun menyerupai hutan. Ia ketakutan sendirian didalam gedung, berteriak meminta tolong berharap ada orang yang bisa membantunya keluar dari tempat menakutkan itu.


Winda mencoba membuka pintu sekuat tenaganya namun tidak bisa terbuka pintunya. Apalah daya tenaganya yang hanya anak kecil, berderaian air mata sudah payah ia memanjat jendela dan tidak sabar rasanya ingin segera keluar.


Hari semakin petang pertanda malam akan segera datang, rasa takut semakin menghinggapi gadis kecil yang mulai mendapatkan celah dari sebuah daun jendela yang sudah mulai usang. Masih dengan derai air mata ia menerobos daun jendela dan berhasil keluar dari gedung kosong itu.


Winda melompati pagar besi yang sudah berkarat dan berlari keluar dengan girang, dalam pikirannya ia sudah bisa kembali kerumah, namun ia dibuat bingung akan melangkahkan kaki kearah sebelah mana, kepalanya menengok kearah kanan dan kiri penuh pepohonan, ia berusaha berpikir keras mencari jalan yang tepat.


Winda mendongak keatas, ia melihat semburat merah sudah mulai hilang dan warna gelap telah menggantikannya. Ia memutuskan jalan kearah kanan setelah beberapa saat mempertimbangkan arah mana yang akan ia tempuh.


Ia berlari dan terus berlari diantara pepohonan yang rindang hingga ia mendapatkan sesosok bocah laki-laki yang sama seperti dirinya sedang berlari dari arah berlawanan, bocah laki-laki itu terlihat tergesa-gesa ketakutan. Winda berhenti dan terus mengamati wajah didepannya.


Hatinya gusar.


Takut.


Tubuhnya gemetar.


"Ha-hantu.....!!!" terdengar suara kedua anak itu berbarengan berteriak ketakutan.


Winda tidak berani bergerak sedikitpun, kakinya seakan membatu tidak dapat digerakkan.


Seorang anak laki-laki yang berada didepannya pun terdiam memperhatikan Winda yang mendekap tubuhnya.


Tercengang.


Mereka saling pandang satu sama lain setelah terdiam beberapa saat.


Winda memandang wajah bocah laki-laki didepannya dari ujung kaki hingga ujung kepala tidak berkedip.


"Ya Allah Winda takut sendirian disini ya Allah... apalagi ini waktu menjelang malam, Winda teringat pesan ibu yang melarang Winda, agar Winda tidak keluar rumah disaat pergantian sore dan malam karena banyak mahluk yang tak kasat mata sedang berkeliaran diluar rumah. Tapi saat ini aku melupakan pesan ibu ya Allah... terus penampakan didepanku saat ini jangan-jangan... hiiii!!"


"Ka-kamu... se-setan ya?" suara Winda terdengar terbata-bata.


"Hus! enak aja kalau ngomong." jawab bocah laki-laki itu setelah memastikan seseorang didepannya.


Winda memberanikan diri memperhatikan wajah lawan bicaranya dalam gelap menjelang malam, wajah yang terlihat lebih muda dengan mas Azzamnya.


"Terus mas siapa? manusia juga seperti bidadari kan?" tanya Winda sedikit tenang.


Bocah laki-laki itupun menjawabnya.


"Iya aku manusia, tapi bukan seperti bidadari."

__ADS_1


Deg.


hati Winda semakin tak karuan setelah mendengar jawaban bocah laki-laki itu.


"Manusia tapi bukan seperti bidadari? terus manusia apa dia? siluman?" gumamnya lirih sambil melirik. Ketakutan.


"Haaa... takut..." jerit Winda seraya berlari meninggalkan bocah itu. Namun baru saja ia berlari kakinya tersandung benda yang mengakibatkan ia tersungkur.


"Hei. Kamu kenapa?"


"Hiks, hiks, hiks jangan dekati bidadari, jangan-jangan... kamu... manusia silu...."


"Aku bukan manusia siluman." sanggah bocah laki-laki itu cepat, ia mulai mengerti dengan kata-kata bocah perempuan didepannya. Ternya nama bocah itu adalah Bidadari, ia salah mengira jika bidadari itu bukan sebuah nama.


Bocah laki-laki itu membantu Winda berdiri, lalu memegang kedua pundaknya.


"Aku sedang tersesat disini." ucap bocah laki-laki itu.


"Tersesat?" Winda tertegun mendengar ucapannya dan merasa iba.


"Hm." bocah laki-laki itu mengangguk.


Winda meneliti wajah didepannya.


"Kamu sendiri?" bocah laki-laki itu bertanya kepadanya.


"Aku tadi siang dibully teman-temanku."


"Dibully?" bocah laki-laki itu terkejut. "Kok bisa? gimana ceritanya?"


"Aku tadi udah muter-muter sekitar sini tau, tapi jalannya tetep aja pohon semua."


"Tapi aku tadi dari sana ada gedung kosong." ucap Winda memberi tahu.


Udara terasa sangat dingin, angin mulai bertiup kencang dimalam hari terlebih dibawah pepohonan. Winda terlihat kedinginan hanya dengan menggunakan setelan baju, berbeda dengan bocah laki-laki itu yang masih menggunakan kaos lengan panjang dan celana panjang yang dilengkapi dengan jaket tebal.


Rasa iba melihat wajah gadis kecil didepannya berhasil menyita perhatiannya. Ia melepaskan jaketnya dan memberikannya. Lalu ia mengeluarkan gantungan kunci yang terbuat dari kaca yang berbentuk bulat dari saku jaketnya, didalamnya terdapat bentuk bintang yang bertaburan Glitter. Seperti ada cahaya yang keluar dari benda itu dalam gelapnya suasana saat itu.


Winda tertegun melihat benda yang menakjubkan dirinya.


"Waaaah... bagus sekali mas bintangnya..."


"Hm. Ayo kita ke gedung sana saja sambil menunggu bantuan datang. Siapa tahu orang tua kita mencari keberadaan kita sampai kesini." ajak bocah laki-laki itu.


Mereka berjalan menuju gedung yang dimaksud Winda dengan pencahayaan dari benda yang dibawa bocah laki-laki itu.


Sesampainya mereka di gedung kosong, Bocah laki-laki itu yang tidak lain adalah Sigit kecil segera membuka pintu dengan memutar kunci yang masih tertempel. Lalu memasuki ruangan yang sangat gelap. Winda memegang erat pergelangan tangan Sigit menahan rasa ketakutannya.


Sigit mengerti jika gadis kecil disampingnya sangat ketakutan jika dilihat dari cengkraman tangannya.


"Jangan takut, aku akan membuat perapian saja disini, agar kamu tidak takut dan tidak kedinginan." ucapnya menghibur gadis kecil itu mencoba menenangkannya.


Setelah merasa kayu yang didapatinya cukup untuk membuat perapian ia segera mengeluarkan sebuah korek api dari saku celananya lalu segera membuat perapian.


"Mas bintang terimakasih ya... sudah membantu dan menemani bidadari disini, jika tidak ada mas bintang tadi entah bagaimana bidadari sekarang, hiks, hiks... mungkin sudah hilang ditengah hutan dan di maka..."


"Ssstttt... jangan nangis, jangan berkata seperti itu pula." jari telunjuk Sigit diarahkan pada bibir Winda. "Yang penting sekarang bidadari tenangin dulu diri bidadari ya, dan jika bidadari sudah ngantuk, sini." Sigit meraih pundak Winda didadanya. "Tidur disini, didada mas, anggap saja aku adalah kakakmu oke?"

__ADS_1


Winda mengangguk dan menuruti perkataan Sigit.


"Baik mas."


Winda terlihat lebih tenang berada dipelukan Sigit, ia memegangi benda yang mengeluarkan cahaya ditangannya. Sigit melihatnya dengan tersenyum.


"Lucu juga bidadari ini, sesuai dengan namanya."


"Kamu menyukai gantungan kunci itu?"


"Iya aku sangat suka dengan gantungan kunci bintang ini mas, unik. Dia bisa bercahaya seperti bintang di langit."


"Kalau kamu suka, kamu boleh mengambilnya."


"Benarkah?"


"Hm. Ambil aja itu buat kamu."


Winda meneliti benda yang dipegangnya lalu menggerak-gerakkannya jadi terlihat seperti hujan salju dibawah taburan bintang dimalam hari.


"Jadilah seperti bintang yang selalu bersinar di langit, indah dipandang dan dapat menenangkan yang memandangnya, ia memiliki energi yang bisa mendatangkan berjuta manfaat pada insan yang menatapnya sehingga energi positif juga yang tersalurkan padanya. kamu paham?."


"Iya mas paham. terimakasih." jawab Winda suaranya terdengar lemah dengan mata sudah berat pertanda ia sudah ngantuk karena kelelahannya.


###


"Win, Winda sudah sampai nak." suara bu Arini mengagetkan lamunannya.


Ia tergagap mendapati mobil bapaknya sudah berada di pelataran halaman rumah yang luas, terlihat juga suaminya sudah berdiri disamping bapaknya yang berada di depan mobil sedang berbicara dengan seorang satpam.


"Heh?"


"Kita sudah sampai dari tadi loh, kamu ngapain ngelamun aja dari tadi hem?"


"Tidak tahu kenapa aku tiba-tiba teringat dengan mas bintang. Padahal kejadian itu sudah sangat lama sekali."


"Oh tidak apa-apa Bu."


Winda membuka pintu mobil dan keluar berjalan disamping ibunya.


"Apa bener ini rumahnya bu?"


"Sepertinya sih, tapi kita tunggu bapak dan Sigit dulu, mereka masih menanyakannya pada satpam didepan itu." jawab Bu Arini seraya menunjukkan jari telunjuknya pada orang yang dimaksud.


.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


"Terkadang kita dipertemukan dengan orang yang tidak pernah kita duga, dan terkadang pula kita akan terpisah dengan orang yang tidak pernah kita inginkan."


Saranghe 💞💞

__ADS_1


__ADS_2