
Sigit duduk disamping papi Winata dengan menahan air matanya agar tidak menetes, dia begitu terpukul dengan kondisi Winda.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Winda mi?" Sigit bertanya kepada mami Lia yang sudah duduk disampingnya, bola matanya mencari kejujuran dari manik hitam maminya saat dia bertanya keadaan Winda.
Mami Lia membalas tatapan sendu putranya yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Winda... tadi pagi detak jantungnya terdeteksi di monitor tiba-tiba lemah, kondisi tubuhnya drop, sehingga dokter harus segera mengambil tindakan." jawab mami Lia.
Papi Winata dan kedua mertuanya berjalan mendekatinya, lalu duduk disampingnya.
"Papi sudah berbicara dengan pak Idris tadi mengenai kondisi Winda jika masih seperti ini, kami akan membawanya ke Singapura secepatnya supaya mendapatkan penanganan yang lebih, menurutmu bagaimana Git?" kata papi Winata menyampaikan hasil pembicaraannya dengan besannya kepada Sigit.
Sigit menoleh kearah kedua laki-laki yang berada dihadapannya yang sedang menatap wajahnya, dia benar-benar bersyukur memiliki papi dan bapak mertua yang begitu peduli dengan keadaan rumahtangganya sekarang.
"Sigit mengikuti saran papi dan bapak, jika itu memang terbaik untuk Winda." jawab Sigit.
❄❄❄
Diruang ICU
Dokter Tama berteriak memberikan komando kepada para perawat disekitarnya yang ikut menangani Winda diruang serba hijau ini ketika kedua tangannya meletakkan defibrilator didada Winda.
Sudah beberapa kali alat kejut jantung itu diletakkan didada Winda karena detak jantung Winda masih sangat lemah, sedikit rasa cemas menghinggapi hatinya, hingga dokter memutuskan untuk yang terahir kalinya meletakkan defibrilator itu.
"Coba sekali lagi dengan tekanan normal." perintah dokter Tama tegas menghilangkan keraguannya.
"Siap!" jawab perawat di depan monitor tidak kalah.
Hanya rasa yakin dan berusaha sekuat tenaganya yang membuat dokter Tama kembali bersemangat, hingga terdengar suara teriakan suster yang melihat monitor, disana terlihat deteksi denyut jantung mulai bergerak normal lagi dengan ditandai ritme detak jantung normal.
"Ok, normal!" teriak seorang suster yang melihat monitor didepannya.
"Hhhhhhhh.... syukurlah... ahirnya kembali normal." terdengar desahan lega dan rasa syukur para suster dan dokter yang berada di dalam ruangan setelah melihat monitor, tangan dokter Tama meletakkan alat kejut jantung ditempatnya kembali.
"Tolong bereskan semua peralatan ini ya sus." dokter Tama membuka kedua sarung tangan dan memberikan titah kepada susternya.
"Baik dok." jawab suster itu.
Dokter Tama tersenyum memperhatikan monitor dan memeriksa kondisi Winda yang sudah kembali normal detak jantungnya.
"Kamu benar-bener pasien yang kuat." ucap dokter Tama memandangi wajah Winda yang mulai terlihat membaik.
Setelah selesai memeriksa kondisi Winda, dokter Tama berjalan menuju pintu lalu membuka pintu kaca dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Sigit berjalan mendekati pintu ICU yang diikuti keempat orang tuanya dibelakangnya begitu melihat dokter Tama sudah keluar dari ruang ICU.
"Dengan wali pasien?" tanya dokter Tama kepada Sigit begitu melihat Sigit seraya berlari mendekatinya.
"Iya dok. Bagaimana keadaannya sekarang dok?" jawab Sigit sangat cemas dengan menanyakan kondisi terbaru istrinya.
Pertanyaan Sigit mengundang senyum kecil dokter Tama yang tersungging dipipinya.
"Bersyukur pasien sudah kembali membaik, dan pasien boleh ditunggu secara bergantian setelah suster selesai membereskan peralatan nanti." jawab dokter Tama.
"Alhamdulillah, terimakasih dok." ucap Sigit lega dan diikuti keempat orang yang berada dibelakangnya.
__ADS_1
"Sama-sama pak, saya tinggal dulu." kata dokter Tama berlalu setelah menundukan kepalanya.
Tidak lama setelah dokter Tama berlalu, beberapa suster keluar dari ruangan.
Sigit menoleh kebelakang melihat ibu Arini ketika akan membuka pintu.
Sigit memberikan kesempatan kepada ibu mertuanya terlebih dulu, namun bu Arini menolaknya, karena dia tahu bahwa menantunya saat ini yang lebih terpukul dengan keadaan putrinya walaupun dalam hatinya ingin sekali tangannya membelai, mendekap Winda.
Sigit membuka pintu memasuki ruangan yang hanya suara monitar detak jantung Winda yang terdengar ditelinganya, perlahan dia berjalan mendekati ranjang kemudian duduk diatas kursi yang berada disisi ranjang, kedua bola matanya terpaku memperhatikan wajah yang tertidur pulas diatas ranjang dengan selang berada dimulutnya dan alat bantu pernafasan tertempel dihidungnya, perlahan tangan kanan Sigit menyapu lembut dahi istrinya menyusuri setiap lekukan kulit lembutnya.
"Winda... ini abang sudah datang menjemputmu sayang..." ucap Sigit lirih didepan wajah istrinya.
"Cepat bangun Win... bukalah matamu... abang sudah disini menunggumu...
abang sangat merindukan senyumanmu..." Suara sigit parau menahan sesak didadanya, air matanya sudah menetes dipipinya.
''Sudah cukup Win kamu tidur disini, ayo bangun Win... disini bukanlah rumahmu, ayo kita pulang dirumah... ayo bangun Win..." tangan Sigit beralih menggenggam tangan Winda lalu mencium punggung tangan Winda.
"Ayo pulang kerumah Win, ibu, bapak, mami dan papi sudah menunggumu, jangan tinggalin abang sendirian..." Sigit membisikkan kalimatnya didekat telinga Winda, kemudian mencium keningnya.
"I love you Winda Zilfana Idris. itukan kalimat yang ingin kamu dengar? aku sudah mengatakannya Win..."
(Winda Pov)
Dibawah alam sadarnya....
Aku melihat didepanku terbentang tanjakan yang panjang nan gelap penuh kabut, disaat aku berjalan menapakinya aku mendengar seseorang memanggilku, langkahkupun terhenti, aku mencari suara itu darimana sumbernya, ternyata suara itu muncul dari belakangku yang terlihat jelas penuh cahaya yang terang, disitu ada sesosok laki-laki yang sangat aku kenal, tidak asing lagi dia adalah Sigit, temanku. Dia menggenggam tanganku.
"Winda... ini abang sudah datang sayang..."
"Abang disini menunggumu pulang."
"Aku mau pulang melewati jalan
yang panjang itu Git."
"Disini bukan rumahmu Win, ayo kita pulang kerumah bersama-sama."
"Tetapi aku sudah ditunggu disana Git?"
"Ayo pulang kerumah Win, ibu, bapak, mami dan papi sudah menunggumu, jangan tinggalin abang sendirian."
Perlahan tubuhku merasakan kehangatan, keningku merasakan kecupan lembut dari ibu yang sangat aku rindu selama ini, rasa hangat itu kini menjalar keseluruh tubuhku.
"Ibu aku rindu..."
❄❄❄
Sudah tiga puluh menit Sigit menunggu Winda didalam dengan membisikkan perasaannya ditelinga Winda dengan suara parau, mencium kening Winda, menggenggam tangan lemah istriya.
Sigit dibuat terkejut dengan air yang keluar dari mata istrinya yang masih terpejam, lalu dia memperhatikan genggaman tangannya yang merasakan ada gerakan kecil dari tangan istrinya itu.
Sigit terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan, dia memanggil Winda yang mencoba membuka matanya.
"Winda? Win??" suara Sigit menyebut nama istrinya yang sudah bisa meresponnya.
__ADS_1
Winda membuka kelopak matanya perlahan dan melihat orang yang berada didepannya.
"Sigit...." suara Winda lemah menyebut nama Sigit, dia memejamkan matanya kembali dan membukanya secara perlahan.
"I-iya Win, alhamdulillah... kamu sudah sadar sayang... cupp."
Tidak tergambarkan rasa gembira Sigit melihat istrinya yang sudah tersadar dari komanya, dia mencium kening istrinya dengan tangan kiri menggenggan tangan Winda dan tangan kanan memegang kepala Winda.
Winda mengerutkan kedua alisnya melihat tingkah Sigit, bingung dan heran. Itu yang dia rasakan.
"Sebentar, aku panggilkan dokter dulu dan mengabari ibu diluar."
Winda terpaku, terdiam melihat Sigit yang melepaskan genggamannya lalu memencet tombol diatas ranjangnya, sebagai simbol panggilan.
Sigit beranjak dari duduknya dan berlalu keluar dengan membuka pintu ruangan ICU.
Tidak lama setelah Sigit keluar, beberapa perawat dan dokter sudah berada didalam memeriksa perkembangan kondisinya.
Perawat mulai membuka selang bantu pernapasannya dan memberikan senter kecil kepada dokter Tama.
"Alhamdulillah ini adalah anugerah dari Allah, anda sudah sadar kembali." kata dokter Tama kepada Winda.
"Tetapi anda masih harus istirahat dulu karena kondisinya masih lemah." lanjut dokter Tama, lalu melihat suster yang melepas alat penghubung monitor dari tubuh Winda.
❄❄❄
Diruang tunggu.
"Ada apa bang?"
"Ada apa Nak?"
Tanya mami dan ibu Arini berbarengan begitu melihat Sigit keluar dari pintu.
"Winda sudah sadar mi, bu."
"Alhamdulillah..."
Jawab keempat orang tuanya berbarengan mendengar kabar yang dibawanya barusan.
.
.
.
.
.Bersambung...
udah author turutin ya...
sekarang dukungan like, komen dan votenya terutama, digas ken yuk... biar rame 😍😍
saranghe 💞💞
__ADS_1