Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 89


__ADS_3

"Revan ketoilet sebentar ya mbak." ucap Revan pada Winda setelah memesan camilan dan coffe latte dikafe mawar yang dipilih Winda.


"Iya."


Drrrrtt drrrrtt 🎡🎡🎡


Android Winda berdering, ia meraih benda pipih itu lalu membaca nama seseorang dilayar yang terlihat.


"Abang? oh iya Winda lupa tidak izin tadi sama Abang." ucap Winda baru menyadari jika ia belum pamit pada suaminya, lalu menggeser keatas tombol hijau dilayar hp nya.


"Iya, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, lagi dimana dari tadi dicariin tidak ada?"


"Iya maaf tadi lupa tidak pamit dulu sama Abang."


"Ya sudah, sekarang ada dimana?"


"Ini lagi di kafe mawar sama Revan."


"Jauh amat? ngapain kesana?"


"Ingin ngobrol aja sama Revan."


"Gimana dia? masih marah?"


"Mungkin. Soalnya dari tadi dia diam terus."


"Ya sudah Abang nyusul kesana saja ya?"


"Hm. Kayaknya Abang memang harus menjelaskan padanya sekarang deh."


"Ok, Abang kesana sekarang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Klik.


Winda menutup panggilan Sigit, tidak lama kemudian pesanan Revan pun sudah disajikan seorang pelayan diatas meja mereka.


"Lama menunggu mbak?" tanya Revan.


"Tidak juga."


Revan duduk didepan Winda lalu menyeruput cangkir didepannya.


"Revan."


"Hm?"


"Sebenarnya mbak mau bicara sama kamu."


"Hm aku tau itu, maka dari itu mbak ngajak Revan mampir kesini kan?"


jawab Revan meletakkan cangkir diatas meja kembali melihat kakak iparnya sekilas.

__ADS_1


Winda tersenyum melihat raut wajah Revan datar.


"Hhhh... Revan tau susah payahnya seorang wanita yang sedang mengandung?" tanya Winda menyelidik. Revan memalingkan wajahnya sebagai tanda masa bodoh pada ucapan Winda.


"Kamu tentu sudah mengerti itu bagaimana susahnya mbak akhir-akhir ini selalu dalam kepayahan saat mengalami yang namanya ngidam, belum nanti melahirkan bertaruh dengan nyawa, kemudian merawat bayi hingga dia dewasa, tahapan demi tahapan perkembangan bayi itu selalu diperhatikan sebegitu telatennya hingga bayi itu menjadi anak dewasa yang mandiri ditengah masyarakat." Winda berhenti sejenak melihat raut wajah Revan yang masih tidak bergeming.


"Pun sama dengan apa yang sudah dilakukan orang tua kita pada kita dulu, kita tidak pernah tahu bagaimana susahnya mereka merawat kita dari lahir hingga sekarang, yang kita tahu adalah kita selalu baik-baik saja dengan mereka selalu memberikan fasilitas dan kenyamanan pada kita. Tanpa kita tahu bahwa semua itu ada proses dan peristiwa yang bahkan mungkin sangat memilukan." lanjut Winda panjang lebar.


Diam-diam didalam hatinya ia merasakan perkataan Winda mengingatkan masa kecilnya.


Sigit sudah memarkirkan mobilnya diparkiran kafe mawar, ia segera mencari dimana adik dan istrinya berada.


Winda kembali melanjutkan kalimatnya.


"Revan, setiap orang pasti punya masalah dan masalah itu akan menjadi rumit jika orang itu sendiri salah menyikapinya, begitu juga sebaliknya permasalahan itu seakan tidak berarti jika orang itu tepat dalam menyikapinya, jadi... maksud mbak adalah... tanyakan permasalahan yang kamu hadapi saat ini pada abangmu secara baik-baik, karena mbak yakin papi dan mami punya alasan tertentu sampai mereka menyembunyikan hal ini padamu."


"Jadi? mbak juga sudah mengetahui masalah ini sebelumnya?"


"Tidak Van, mbak juga tidak mengetahui pastinya seperti apa. Yang pasti mereka tidak bersalah mungkin hanya menunggu waktu saja yang tepat untuk memberitahukan ini semua padamu."


"Sakit tau mbak, sakit. Ketika Revan mengetahui identitas Revan yang bukan putra mami."


"Mbak tau itu. Tapi... bagaimana pun mereka sangat menyayangi mu sama seperti sayangnya mereka kepada Abang Bram dan Abang Sigit. Apalagi saat ini mereka sangat merindukanmu, menunggu kedatangan mu dalam sakitnya, apa kamu tega melihat mereka menderita ketika mengetahui dirimu pergi dari rumah beberapa Minggu ini setelah mengetahui status mu yang sebenarnya? apa itu adil untuk mereka sebagai orang tua yang begitu menyayangi mu sepenuh hatinya? dan kamu sekarang akan membalas mereka dengan caramu yang menurut mbak salah besar Van?"


Sigit ikut mendengarkan perkataan Winda pada Revan tanpa sepengetahuan mereka berdua, ia memperhatikan Revan yang mulai terpengaruh dengan perkataan Winda, hanya diam mendengarkan penjelasan Winda.


Sigit berjalan mendekati meja mereka dan duduk disamping kursi Revan.


"Apa yang dikatakan Winda benar Van."


"Aku hanya ingin tahu tentang ibu kandung ku." Revan seakan menunjukkan sikap tenangnya dengan menatap kedua bola mata Sigit menunggu jawaban yang akan diberikan Sigit padanya.


"Baiklah." jawab Sigit membalas tatapan Revan.


"Dia adalah seorang wanita baik-baik, dia dinikahi papi saat mereka bertemu kembali."


Sigit mulai menceritakan kisah papi dan ibu kandung Revan secara detail membuat Revan ternganga mendengar kalimat demi kalimat yang diceritakan Sigit padanya, tidak ada yang terlewatkan kisah mereka hingga pada kakak kandungnya yang bernama Renaldi. Namun Sigit belum memberitahukan ibunya yang sudah tiada saat melahirkannya.


"Aku ingin bertemu ibuku sekarang." ucap Revan.


Sigit terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaan Revan.


"Baiklah akan Abang antarkan, tetapi sebelumnya ikut Abang dulu."


"Hm, baiklah." ucap Revan menyetujui perkataan abangnya.


Sigit beserta Revan dan Winda segera menuju parkiran memasuki mobil Sigit dan segera melajukan mobilnya dijalan raya menuju sebuah tempat yang lama tidak Sigit datangi.


Setelah melalui perjalanan hampir satu jam akhirnya sampailah mereka disebuah pemakaman yang membuat Revan terheran dengan sikap Sigit.


"Kenapa kita kesini bang?"


"Sebelum kamu bertemu dengan ibumu ada yang perlu Abang kenalkan terlebih dulu sama kamu Van."


Revan mengikuti langkah Sigit hingga terhenti di sebuah pemakaman yang bertuliskan nama seorang wanita diatas batu nisan.

__ADS_1


"Siapakah gerangan Revalina Suherman ini bang?" tanya Revan setelah membaca tulisan itu.


Sigit membalikkan tubuhnya menghadap Revan sambil memegang kedua pundaknya.


"Dia adalah ibu yang telah melahirkan mu didunia ini Van." jawab Sigit.


Seketika Revan terduduk diatas tanah disamping gundukan tanah pekuburan ibunya.


"Benarkah? benarkah dia sudah tiada bang?" tanya Revan menitikkan air matanya, ia benar-benar terpukul baru mengetahui bahwa ibunya sudah meninggalkannya selama ini.


"Kamu harus mendoakannya Van, kamu tidak boleh lemah karena kamu adalah laki-laki yang kuat." Sigit duduk disamping Revan yang tertunduk lesu.


"Abang... gara-gara aku ibuku tiada bang..."


"Revan, kamu salah, itu pemikiran yang sangat sempit, ibumu pergi bukan karena dirimu, akan tetapi karena Allah lebih sayang padanya, jadi memang seperti itulah takdir Allah." ucap Winda mendekati Revan mencoba menenangkan hati Revan yang terpukul begitu mengetahui kenyataan tentang ibunya.


Revan kemudian mengikuti Sigit yang membacakan doa untuk ibunya.


❄️❄️❄️


"Aku malu bang, aku malu sama mami." ucap Revan saat menginjakkan kakinya diparkiran mobil halaman rumah papinya.


"Revan, mami akan sedih jika mengetahui kamu berbeda dengan hari-hari biasanya, bersikaplah seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Bagaimana pun kamu adalah anak papi, adik Abang." Sigit mencoba memberikan ketenangan pada Revan.


Revan menganggukkan kepalanya dan membersihkan sisa-sisa air matanya agar tidak membekas diwajahnya.


"Ayo masuk, mereka pasti sudah menunggu kita dari tadi." ucap Sigit.


Papi dan mami sudah pulang tadi siang setelah semuanya diurus oleh Sigit, begitu selesai mengurus kedua orang tuanya Sigit segera menyusul Revan dan Winda di kafe mawar.


Sementara kedua orang tuanya sudah tidak sabar ingin merasakan kebersamaan keluarganya seperti hari-hari biasanya.


Pukul sembilan malam Sigit bersama Revan dan Winda baru sampai dirumah besar bak istana itu, mereka langsung menuju ruang tamu dan memeluk kedua orangtua yang masih duduk disofa.


"Assalamualaikum, Pi, mi belum tidur?" suara Revan begitu bertemu papi dan mami yang diikuti sepasang suami istri dibelakangnya.


"Waalaikumsalam, bagaimana bisa tidur, jika anak-anak mami belum pada pulang?" jawab mami.


Revan tersenyum memeluk tubuh maminya sambil mencium pipi wanita dipelukannya itu.


"Syukurlah mami dan papi sudah sehat kembali, sehingga kita bisa kumpul bersama lagi."


"Alhamdulillah sayang, mami sama papi sangat bersyukur sekali." jawab mami membalas pelukan Revan.


.


.


.


.


. Bersambung πŸ€—πŸ€—


🌺Selalu berprasangka lah yang baik dengan tersenyum walau apapun yang terjadi. Dengan begitu hidup akan damai.🌺

__ADS_1


Saranghe πŸ’žπŸ’ž


__ADS_2