
"Mi, untuk saat ini terpaksa papi sendiri yang harus berangkat ke Singapura bersama Gunawan, biarkan Igit menikmati liburannya bersama Winda, jadi jangan dikabari dulu dia kalau perusahaan disana membutuhkan kita lagi."
papi memberitahukan keputusan terakhirnya pada mami setelah beberapa saat berunding dengan Gunawan tentang keberangkatannya ke Singapura.
Saat ini perusahaan mereka sudah stabil seperti semula lagi setelah Sigit berhasil meyakinkan para kolega asing untuk bekerjasama kembali dengan perusahaan WP. Beberapa tender pun berdatangan secara bertubi-tubi. Maka dari itu papi tidak ingin merusak rencana liburan Sigit bersama Winda yang sudah berlangsung selama seminggu ini.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi papi saat Sigit menggantikan posisinya selama disana, dan terlebih lagi tindakan Sigit sangat tepat, ia cepat memahami keadaan dan bisa mengatasinya dengan baik. Itu berarti papi tidak ada keraguan lagi jika Sigit sudah siap menjadi penerusnya.
"Apa tidak sebaiknya papi menghubungi Abang dulu?" mami memberikan pertimbangan pada papi.
"Tidak perlu mi, papi sudah ada Gunawan."
"Yang dikatakan mami itu benar loh Pi. Setidaknya papi kasih kabar ke Abang sekarang." Revan menimpali usulan mami.
Papi mengalihkan pandangannya pada Revan yang duduk disampingnya.
"Tidak usah, biarkan Abang mu menikmati liburannya dulu, papi sudah bisa menghandle semua ini dengan Gunawan. Makanya siapkan dirimu dari sekarang untuk meneruskan perusahaan papi bersama Abang mu, fokus dengan kewajibanmu saat ini." tangan papi menepuk pundak Revan.
Revan melihat laki-laki didepannya dan berakhir dengan menganggukkan kepalanya.
"Baik Pi, Revan akan berusaha." jawabnya lirih.
Mami tersenyum melihat kedua lelaki didepannya sudah berinteraksi dengan baik seperti semula.
"Inilah sejatinya sebuah keluarga yang aku inginkan, sebuah keluarga yang anggotanya saling rukun dan saling mengerti satu sama lain. Saling membantu dan bekerja sama."
"Ya sudah sekarang papi mau istirahat dulu karena nanti malam papi dan Gunawan harus sudah berangkat." papi berdiri dari duduknya. "Dan kamu harus jagain mami selama papi dan Abang belum pulang."
"Iya Pi."
Papi berlalu menuju kamarnya meninggalkan mami dan Revan diruang tengah.
❄️❄️❄️
Didalam hotel Mutiara kamar nomor 217 terlihat sepasang suami istri yang sedang sibuk memasukkan barang-barang bawaannya kedalam koper. Mereka mengakhiri masa berlibur dan segera pulang kerumah.
"Sudah siap semuanya?" tanya Sigit pada Winda saat menutup koper.
"Hm, sudah beres."
"Yakin tidak ada yang tertinggal?"
Winda terlihat memikirkan sesuatu lalu menggeleng. "Sepertinya tidak ada." beranjak dari duduknya diatas ranjang lalu menyeret koper.
"Sudah biar Abang saja, kamu segera bersiap biar tidak kemaleman nanti sampai rumahnya." Sigit mengambil alih koper dari tangan Winda.
Winda mengikuti perkataan suaminya, ia segera mengganti pakaiannya dan menempelkan makeup tipis diwajahnya.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Sigit mendapati Winda sudah berdiri didepannya dengan penampilannya yang rapi.
"Sudah?"
"Hm. Sudah."
"Kita turun sekarang ya..." Winda mengangguk dan berjalan kearah pintu mengikuti langkah suaminya.
Sigit membuka pintu mempersilahkan Winda keluar lebih dulu darinya, kemudian ganti dirinya dengan menyeret koper ditangannya, berjalan menuju lift turun sampai ke lantai dasar.
"Ini mbak kuncinya, kami ucapkan terima atas pelayanannya selama kami disini."
Sigit menyodorkan kunci pada pelayan hotel yang berada di balik meja resepsionis.
Pelayan itu tersenyum seraya menerima kunci yang disodorkan Sigit padanya.
"Semoga bapak dan ibu membawa kesan yang baik selama berada di hotel kami. Dan juga kami mengucapakan semoga selamat sampai tujuan." jawab pelayan didepannya dengan ramah.
Winda dan Sigit tersenyum padanya. "Terimakasih." setelah berpamitan pada pelayan didepannya, mereka berlalu meninggalkan meja resepsionis menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.
Sigit melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tangannya sesekali meraih tangan Winda dan menggenggamnya seakan enggan melepaskannya. Winda membiarkan suaminya.
"Kalau dalam perjalanan seperti ini enaknya dilakukan dimalam hari." ucap Sigit memecah kebisuan didalam mobil, ia melirik istrinya yang menoleh kearahnya. "Karena waktu malam hari itu adem, udara sejuk tidak sepanas perjalan disiang hari." Sigit menjelaskan perkataannya sendiri.
Winda berpikir sesaat lalu mengangguk.
Sigit kembali fokus pada kemudinya, ia melepas genggaman tangannya saat jalanan sudah mulai ramai. Tidak ingin sesuatu terjadi dalam perjalanan mereka.
Suasana menjadi hening, mereka saling diam tidak bersuara.
Winda memperhatikan lampu-lampu mobil didepan seakan berkedip manja pada semua mata yang memandangnya.
Sigit mengurangi kecepatan saat membelokkan mobilnya dipertigaan yang sudah dekat dengan rumah mereka.
"Oh iya besok sudah jadwal check ya ke dokter? memeriksa anak papa?" tanya Sigit tiba-tiba ia teringat jadwal periksa kehamilan istrinya.
"Hm? iya ya?" Winda tertegun mendengar pertanyaan suaminya.
"Ya iyalah, sudah sebulan yang lalu kamu periksa kan?"
Winda mengingat-ingat kembali jadwal periksa kandungannya.
"Iya ya... besok berarti Winda harus periksa lagi." gumam Winda setelah mengingat waktunya kapan terakhir kali memeriksakan kandungannya.
Sigit memelankan laju mobilnya karena tinggal beberapa rumah lagi mereka sudah sampai.
Namun belum saja sampai didepan gerbang rumahnya, dari depan Sigit melihat sebuah mobil keluar dari pintu gerbang rumahnya, ia memperhatikan mobil yang sangat ia kenal nomor mobilnya.
__ADS_1
"Itu kan mobil papi? mau kemana malem-malem begini?" dengan kening sedikit terkerut Sigit bergumam penasaran.
Ia terus memandang mobil yang berjalan semakin dekat didepan mobilnya.
Tin tin.
Sigit mengklakson mobil yang dikendarai papi dan menghentikan mobilnya tepat berhadapan disisi kanan mobil papi. Lalu turun berjalan menghampiri mobil itu.
"Papi, om Gun?" Sigit terkejut melihat kedua orang yang baru disebutnya berada didalam mobil ketika Riyan membuka kaca jendela mobil.
"Selamat malam bang." sapa Gunawan padanya.
"Malam om." jawab Sigit mengalihkan pandangannya pada papinya.
"Papi mau kemana?" tanyanya masih penasaran.
Papi dan Gunawan mengerti jika Sigit sedang penasaran dengan keadaan didepannya.
"Emm... papi dan Gunawan mau ke Singapura sekarang."
"Ke Singapura? sekarang?"
"Iya, karena kerja keras mu kemarin jadi papi harus segera menindak lanjuti pekerjaan kemarin."
"Kenapa tidak kabari Sigit saja sebelumnya Pi? jadi Sigit bisa menggantikan pekerjaan papi lagi disana."
"Sudah cukup apa yang kamu kerjakan untuk kemarin, jadi besok kamu harus masuk dikantor pusat juga. Karena semua perangkat yang dibutuhkan papi disana sudah diurus Gunawan kemarin, sekarang kamu tenang saja."
Sigit mengerti setelah mendengarkan penjelasan dari papi.
"Baiklah kalau begitu, papi hati-hati dan jaga diri baik-baik disana karena papi belum sehat betul." pesan Sigit menghawatirkan kondisi papinya, lalu mengalihkan pandangannya pada Gunawan. "Om Gun, jika disana ada sesuatu yang membutuhkan bantuan Sigit tidak usah segan kabari Sigit, Ok?!"
"Sipp laksanakan bang." jawab Gunawan tegas dan diakhiri dengan sebuah senyuman padanya.
"Baiklah kalau begitu selamat jalan." ucap Sigit seraya memundurkan langkah kakinya kebelakang, mempersilahkan Riyan kembali mengemudikan kendaraannya.
Sigit memandang mobil papi hingga menjauh, sambil berdoa ia memohon keselamatan dan kelancaran urusan orang tuanya.
.
.
.
. Bersambung 🤗🤗
Saranghe 💞💞💞
__ADS_1