
Tok tok tok
"Mbak, Mbak Winda." suara Revan terdengar dari balik pintu setelah mengetuk pintu terlebih dulu.
"Iya."
Winda menjawab panggilan Revan dan segera meraih jilbabnya.
"Dipanggil Abang, suruh turun kebawah sekarang."
Suara Revan memberitahu kepadanya dari balik pintu kamarnya.
Degupan jantung Winda semakin tidak beraturan, sedari tadi setelah Sigit keluar dari kamarnya ia tidak bisa tidur, pikirannya berselancar kemana-mana tidak tenang ketika terbayang wajah suaminya yang kesal saat keluar kamar tadi.
"Nanti ikut turun kalau ada yang panggil kamu kesini!"
Terngiang perkataan Sigit ditelinganya saat ia mengatakan tentang orang-orang yang mengaku Aldi datang kerumah.
"Aduh kira-kira mau ngapain ya abang? perasaan Winda jadi tidak enak begini, takut." gumamnya gusar.
"Mbak cepetan turun mbak udah ditungguin." suara Revan terdengar kembali memanggilnya.
Winda membuka pintu dan mendapati Revan dengan wajah sembab terlihat habis menangis.
"Kamu kenapa?"
"Abang marah?"
"Diapain sama abang?"
"Atau jangan-jangan kamu dipukul ya?"
"Revan jawab mbak dong Van."
Revan masih diam tidak menjawab.
Beruntun pertanyaan Winda pada Revan, ia khawatir dan ketakutan dengan nasibnya nanti jika Sigit sampai menghukumnya juga.
"Waduh... Revan aja sampai menangis begitu, apa lagi aku nanti? huf huf huf tenang Win tenang ada anaknya diperutmu..." Winda mengatur nafasnya perlahan mencoba menenangkan dirinya.
"Mbak Winda kenapa? kok kayak orang ketakutan gitu?" tanya Revan heran dengan sikap kakak iparnya.
"Kamu tadi lihat wajah Abang gak Van?"
"Ya lihatlah mbak Abang kan makhluk yang berwujud juga mbak."
"Aduh Van... bukan itu maksud mbak."
"Terus maksudnya mbak apa?"
"Maksud mbak wajah Abang tadi serem gak kalau lagi marah kok kamu sampai nangis begitu?"
Revan mengerutkan keningnya, ada pemikiran jail ingin mengerjai kakak iparnya yang terlihat ketakutan ketika menyebut abangnya.
"Sepertinya mbak Winda sedang ketakutan gara-gara ada orang-orang yang datang kerumah dua hari ini, kerjain dulu ah... asyik kayaknya hehehe..."
Revan memasang wajah sedihnya lagi berpura-pura pada Winda.
"Abang sedang marah besar mbak hati-hati aja nanti."
__ADS_1
Hati Winda semakin menciut mendengar perkataan Revan.
"Revan, jangan nakutin mbak ah."
"Ih beneran mbak."
"Aduh gimana nih..."
"Revan, Van, Revan! sudah belum sih lama amat!" suara Sigit terdengar dari bawah memanggil Revan berkali-kali.
Winda menjingkat kaget semakin ketakutan. Matanya membulat seraya melirik Revan.
"Tuh kan mbak dipanggil lagi, ayo ah buruan turun Revan takut kalau dimarahin Abang lagi."
"Emang mbak Winda sudah berbuat kesalahan apa pada abang?" tanya Revan lagi dengan suara lirih berjalan beriringan menuruni tangga.
"Gak ada mbak cuma bilang ada orang-orang yang datang kerumah mencari mbak, itu doang." jawab Winda jujur.
"Ya udah santai aja kali mbak." kata Revan menenangkan pikiran Winda yang sudah terlihat lucu wajahnya ketika khawatir, dengan diam-diam Revan menertawakannya.
"Emang enak dikerjain?" batin Revan.
Winda berjalan beriringan dengan Revan hingga berhenti diruang tamu.
Winda berdiri mematung menatap sorot mata suaminya yang terlihat kesal.
"Lama amat! disuruh turun aja lama. Apa sudah tidur tadi?" kalimat Sigit tertuju pada Winda.
Sigit kesal menunggu Revan dan Winda cukup lama sehingga wajahnya terlihat sedang marah.
Winda menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa tidur?" tanya Sigit lagi.
Winda hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Sigit.
"Bagaimana bisa tidur kalau abangnya menyeramkan gitu wajahnya ketika keluar kamar tadi? Winda kan takut bang" batin Winda.
"Pakai suara Winda bukan gerakan." suara Sigit memprotes sikapnya.
"Tuh kan? Winda jawab dengan gerakan aja salah apalagi diam coba?" batin Winda lagi.
"I-iya bang. Winda tidak bisa tidur."
jawab Winda akhirnya.
"Hehehe kesempatan abang ini Win untuk melarangmu bekerja lagi dikantor dengan alasan kejadian saat ini. Emang tega apa abang lihat perut semakin membukit begitu masih aja kerja dikantor, jalan keluar rumah, naik turun lift setiap hari seenaknya sendiri." batin Sigit tidak tega sebenarnya memperlakukan istrinya seperti itu, namun karena keras kepalanya Winda agar tetap diizinkan bekerjalah yang mendorong Sigit melakukan semua itu.
"Tahu apa kesalahanmu hari ini?" tanya Sigit sambil mengitari tubuh istrinya. Berjaga jika tiba-tiba istrinya terjatuh dan pingsan saat menahan ketakutannya.
Winda terdiam memperhatikan sorot mata suaminya dan mengangguk.
Sigit melihat istrinya tajam walaupun sebenarnya ia menahan tawa yang sudah tak tertahankan.
"Abang dan semua orang yang ada disini ingin dengar langsung darimu apa kesalahanmu hari ini bukan dijawab dengan anggukan." lanjut Sigit.
"I-iya Winda sudah salah bertindak gegabah sehingga mengakibatkan banyak orang yang mencari Winda hingga berdatangan dirumah ini." jawab Winda benar-benar merasa takut.
Mami tidak tega melihat menantunya sedang ketakutan menghadapi Sigit. Ia menolehkan kepalanya kepada suaminya agar menyuruh Sigit menghentikan marahnya pada Winda.
__ADS_1
Mami hampir saja berdiri membela Winda namun tangan papi mencolek lengan mami dan mengedipkan matanya sebagai isyarat untuk menjadi penonton dan pendengar saja.
"Baik karena akibatnya sangat berbahaya bagi dirimu dan anak Abang yang ada didalam rahimmu itu maka kamu harus Abang kasih hukuman." suara Sigit terdengar lantang.
Winda semakin terkejut dan tidak percaya jika akan serumit ini akibatnya.
"Ya sudah, pesan papi jangan sampai rumah tangga kalian ribut hanya karena masalah sepele. Apalagi Igit pernah punya pengalaman pahit dari kehidupan papi dulu jadi dia sangat membenci dengan yang namanya penghianatan." Winda teringat kalimat pesan dari papi malam itu.
Winda menatap tubuh suaminya yang masih berjalan mondar-mandir didekatnya. Sedang kedua mertuanya hanya terdiam melihatnya seperti menyaksikan film layar lebar yang mungkin pantas dikasih judul sudah puaskah aku disakiti anakmu?
"Baiklah dengarkan baik-baik hukumanmu mulai malam ini dan detik ini juga."
Winda memejamkan matanya pasrah dengan apapun keputusan suaminya walaupun ia harus diusir keluar dari rumah ini sekalipun dia siap menerima hukuman itu.
"Tenang Win kuatkan hati dan dirimu, badai pasti berlalu." bisiknya dalam hati.
"Mulai besok pagi kamu sudah tidak boleh keluar rumah dengan siapapun kecuali kalau pergi hanya bersamaku dan..." Sigit menjeda kalimatnya mengitari istrinya dengan melangkahkan kakinya perlahan.
"Mulai besok pagi kamu sudah tidak boleh bekerja lagi dikantor ataupun kerja di manapun. Cukup dirumah titik. Kalaupun kamu jenuh tinggal dirumah terus, tinggal bilang dengan Abang tidak boleh bilang dengan selain Abang. Dimana pun tempat yang kamu inginkan akan Abang pertimbangkan terlebih dulu tempat itu kalaupun Abang menyetujuinya. Faham dengan apa yang Abang katakan barusan?"
"Iya faham."
Jawab Winda singkat.
"Iya jadikan aku tawananmu sekarang, mentang-mentang sudah tidak berbentuk lagi tubuhku Abang mengurung aku didalam rumah terus, biar apa coba? biar Abang bebas melihat wanita cantik, melihat wanita seksi di luaran sana kan? iya kan? dasar laki-laki." batin Winda berontak tidak terima. "Apalah daya jika sampai terucap dari bibir ini, bisa-bisa matang tubuh ini didalam kamar tidur. Oh ibu oh bapak tolonglah anakmu ini."
Mami baru faham arah pemikiran Sigit, namun walaupun begitu ia tetap tidak tega melihat Winda.
"Sudah cukup ultimatum dari Igit untuk Winda malam ini pi, mi. Dan Revan tolong sampaikan ke mbok Lastri besok pagi agar mengantarkan semua keperluan Winda kekamarnya, jangan sampai Winda keluar kamar sebelum mendapatkan izin dari Abang."
"Baik bang akan Revan sampaikan nanti."
"Baik terimakasih. Kalau begitu Igit dan Winda kekamar dulu pi, mi selamat beristirahat."
Sigit pamit masuk ke kamarnya lalu menuntun istrinya dengan merangkulkan tangannya dipundak Winda.
"Kenapa cemberut? marah sama Abang iya?"
"Bodo amat."
"Serah. Yang penting Abang ngelakuin ini semua demi kebaikanmu sendiri dan anak kita."
Winda benar-benar pasrah dengan keadaannya sekarang, percuma saja jika dia akan berontak karena dia faham dengan karakter suaminya yang tegas dan tidak suka dibantah itu.
Malam semakin larut, kediaman Winata sudah sepi semua penghuninya sudah terlelap dalam buaian dinginnya malam.
.
.
.
.
Bersambung 🤗🤗
Mana nih suara akak2 terlope-lope...❤️❤️
saranghe 💞💞💞
__ADS_1