
"Abang... ini beneran kita di hotel Mutiara?" tanya Winda begitu mereka berada di loby hotel.
Winda tidak mengetahui sebelumnya rencana suaminya yang akan membawanya ditempat ini, hotel Mutiara yang menyimpan rahasia cerita cinta mereka.
"Hm, bener lah. Nyatanya kita sekarang sudah berada di lobby kan?" Sigit menerima kunci dari pelayan. "Bagaimana dengan hari ini? seneng kan menghabiskan hari bersama abang?" Tanya Sigit pada Winda yang masih tidak percaya dengan keberadaan mereka saat ini.
Winda mengangguk dan tersenyum pada Sigit.
"Hm seneng banget bang." jawabnya semangat. "Sering-seringlah berbaik hati sama istri seperti ini bang, selalu memberikan kejutan dan kebahagiaan, supaya istri semakin sayang sama Abang."
"Begitu ya? baiklah akan Abang lakukan demi istri tersayang." jawab Sigit.
Mereka berjalan beriringan dengan saling bergandengan tangan menuju kamar 217, kamar yang sudah dipesan Sigit untuk beberapa hari bersama Winda.
Sigit membuka pintu kamar untuk Winda dan mempersilahkannya masuk terlebih dulu.
"Waaaw... Abang... kejutan apa ini hm?" Winda terdiam sesaat, terpana melihat ruangan yang penuh cahaya lilin dan taburan bunga mawar didalamnya.
Bahagia.
berbunga-bunga hatinya.
Perlahan-lahan ia menginjakkan kakinya memasuki ruangan itu, lalu berjalan menuju ranjang yang tidak kalah romantis dengan ruang depan.
Lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan sikap suaminya.
"Abang..." Ia melihat ranjang yang penuh taburan bunga mawar dengan hiasan nuansa romantis. "Ini kita tidak sedang malam pertama loh, kenapa memesan kamarnya seperti ini?" lanjutnya masih belum percaya.
"Hm Abang tau itu, tapi kamu pasti nyenyak tidurnya nanti." jawab Sigit enteng.
"Winda Winda dibawah pohon saja kamu bisa tidur se nyenyak itu tadi siang apalagi tidur di atas ranjang begini, bisa berlipat-lipat nyenyak nya." Sigit tersenyum kecil melihat istrinya sejenak, lalu membuka bajunya dan segera masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Winda terhenyak mendengar kalimat suaminya yang sudah meninggalkannya sendirian.
"Tidur nyenyak? kenapa harus repot-repot nyuruh para pelayan mendesain ranjang seperti ini coba kalau sekedar untuk tidur?" lirih Winda berkata sendiri. "Jadi berantakan nantinya, sayang kan?" Winda duduk diatas ranjang meraba bunga yang bertaburan disekitarnya, lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang cantik itu.
Setelah beberapa saat berada didalam kamar mandi, Sigit sudah selesai membersihkan dirinya. Tubuhnya merasa segar setelah mandi. Ia berjalan menuju ranjang yang sudah terdapat Winda diatasnya.
__ADS_1
"Tuh kan bener kata Abang, sudah tidur kan?" Sigit mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Rebahan Abang, re-ba-han bukan tidur." Winda mengelak ucapan suaminya.
Winda segera duduk dari rebahan, melihat wajah segar suaminya.
"Hahaha... tinggal bilang iya kenapa sih, susah amat, emang pairok sekarang." kalimat Sigit terasa ledekan untuknya.
Winda membiarkan Sigit, ia tidak menjawabnya.
Sigit meletakkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya diatas jemuran handuk, lalu duduk disamping Winda.
"Mau mandi sekarang atau nanti subuh sekalian?" tanya Sigit memberikan pilihan.
Winda melihat Sigit sejenak, lalu beranjak dari duduknya berlalu begitu saja ke kamar mandi.
Sigit memencet remote televisi dan berjalan menuju lemari pendingin, lalu meraih minuman yang sudah tersedia didalamnya.
Sambil menikmati pekatnya malam bertabur bintang dari balik kaca kamarnya, ia duduk santai menyesap minuman kaleng yang dibawanya, ia merenungkan apa yang sudah terjadi selama ini terhadap dirinya.
"Sungguh indah rahasia Mu Tuhan... mungkin aku tidak akan menjadi Sigit yang sekarang jika tidak melewati jalan itu pada malam itu... benar-benar peristiwa yang unik. Ternyata memang benar kata mami, seorang suami akan menjadi lebih baik jika bersanding dengan seorang istri yang tepat, begitu pula dengan diriku jika tidak menikah dengan Winda mungkin aku tidak akan semujur ini nasibku. Aku kira apa yang dikatakan oleh kakek tua waktu itu akan menjadi kenyataan tetapi itu semua salah, tidak benar sama sekali. Aku sudah menemukan bidadari hatiku sekarang bukan bidadari kecil yang bersamaku malam itu." Sigit termenung tiba-tiba teringat kakek tua pembuat gantungan kuncinya yang sudah ia berikan kepada seseorang.
"Kenapa pikiranku jadi kacau begini? ada apa dengan ku? aneh." Sigit merasa heran dengan pikirannya yang tiba-tiba saja tidak terarah.
"Ada Apa bang? dari tadi Winda perhatiin Abang melamun terus berbicara sendiri, apa ada masalah lagi?" suara Winda tiba-tiba mengagetkan dirinya.
"Hm? oh tidak, tidak ada apa-apa. Abang cuma menunggumu dari tadi disini sambil memandang bintang-bintang itu." ucap Sigit menutupi kegugupannya dengan dalih melihat bintang sebagai alasan yang tepat.
"Oh..."
Winda membulatkan bibirnya mendengar kalimat Sigit.
"Berita terkini malam ini. Saudara, baru saja terjadi kasus penculikan dari seorang gadis yang mencari saudaranya yang sudah menghilang bertahun-tahun lamanya. Gadis itu mencari saudaranya beberapa hari ini di media sosial sehingga pemberintaan pencarian saudaranya tersebar dengan cepat...."
Sigit dan Winda saling pandang melihat berita yang barusan didengarnya dari televisi yang dinyalakan Sigit.
Deg.
__ADS_1
Winda terkejut mendengar suara berita itu, ia melirik kan ekor matanya pada Sigit.
"Itu dengar beritanya, sama kan dengan ide mu kemarin?" kata Sigit tiba-tiba terdengar.
"Coba, jika hal yang sama yang terjadi bagaimana kemaren? siapa yang susah juga?"
Winda terdiam, terhenyak menelan ludahnya.
Merinding.
Ia tiba-tiba membayangkan dirinya dalam posisi yang sama dengan gadis itu.
"Tidak terbayang bagaimana nasibku jika itu benar terjadi padaku kemarin." batin Winda miris, ia melihat suaminya yang sudah berubah kesal.
"Pokoknya mulai sekarang cukup sudah mencari orang yang namanya Aldi, apapun alasannya Abang tidak mengizinkan." ucap Sigit tegas. "Dan." ucap Sigit terjeda dengan jari telunjuknya diangkat didekat wajah Winda.
Winda semakin bersalah.
"Jangan mudah percaya dengan orang lain menceritakan masa lalumu begitu saja. Faham kamu." Winda menatap bola mata suaminya yang tajam seakan mata elang yang menyorot mangsanya.
Winda mengangguk.
"Iya bang, faham." jawab Winda lirih menahan rasa ketakutan dan bersalah pada suami dan keluarganya.
"Ya sudah sekarang istirahatlah tidur, besok kita lanjut lagi menjelajahi tempat-tempat yang lain." nada kalimat Sigit sudah berubah tidak setegas tadi, lebih lunak dari sebelumnya.
Winda bergegas mengikuti langkah suaminya setelah memencet tombol off pada remote televisi.
.
.
.
. Bersambung 🤗🤗
Jodoh itu adalah seseorang yang sudah ditentukan oleh Allah untuk pasangannya. Dimana dua orang yang saling memberi dan menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain.
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞