
Renaldi sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya nanti selama menjalankan tugasnya di daerah pelosok, karena dialah yang sudah ditunjuk atasannya untuk melakukan pekerjaan itu beberapa hari. Ia duduk di sofa yang berada di ruang tamu, kedua bola matanya masih menatap gantungan kunci ditangannya.
Hatinya resah, tidak tenang mengingat kalimat Azam dalam mimpinya.
Entah mengapa semalam dia bermimpi bertemu dengan Azam. Dalam mimpinya, sahabatnya terdiam berdiri memperhatikan dirinya dari kejauhan, wajahnya terlihat murung seakan berkata padanya "Jagalah bidadari kecilku, jangan telantarkan dia Al, jagalah dia."
"Ckk, apa kata-kata Azam semalam adalah sebuah pesan untukku?" gumam Renaldi bingung bertanya pada dirinya sendiri.
"Tapi... mengapa dia berkata seperti itu padaku? sampai saat ini saja aku belum tau dimana bidadari kecil itu berada."
"Seperti apa dia sekarang, aku tidak tau Zam..."
Tangan kanan Renaldi memijat keningnya, lalu naik keatas menyugar kasar rambutnya.
"Hhhhh... ya Tuhan... pertemukanlah aku dengan bidadari kecil kami..." Renaldi berharap agar dia dapat segera bertemu dengan bidadari kecilnya.
"Aku berjanji Zam, jika aku menemukannya nanti aku akan melindunginya dan aku akan selalu ada untuk dia." kedua tangannya menggenggam gantungan kunci dengan menatapnya tajam, keinginannya semakin membara untuk segera menemukan bidadari kecilnya.
Ia terus memandang benda kecil itu hingga terdengar suara pin pintu apartemennya dipencet seseorang dari luar yang membuyarkan lamunannya.
Renaldi menolehkan kepalanya kearah pintu, menebak siapa yang datang malam-malam ke apartemennya. Tidak lama kemudian, terlihatlah sosok tubuh yang sangat dikenalnya sudah berdiri tegak didepannya, menatapnya dengan mata elang yang siap mencabik mangsanya.
Terkejut.
Geram.
Wajah Renaldi berubah kecut seketika saat mendapati Sigit sudah berdiri berhadapan dengan dirinya didalam apartemennya.
Ia mendapati Sigit dengan wajah yang menyeramkan, terlihat wajahnya sedang menahan amarah dengan rahang sudah mengeras dan kedua tangan terkepal kebawah.
"Yah... beginilah kalau jadi seorang putra penguasa." Renaldi berdiri dari duduknya.
"Keluar masuk apartemen orang lain seperti milik sendiri." lanjutnya. Menyadari siapa keluarga laki-laki didepannya yang sudah pasti orang-orang bawahan Gunawan akan mengawasi apartemennya selama dia tidak disana.
Sigit tidak menghiraukan ucapan Renaldi, tangannya mencengkram kerah baju laki-laki didepannya.
"Jangan berani berurusan dengan Sigit, jika kamu ingin selamat!"
"Apa-apaan ini hah?! berani-beraninya kamu bersikap seperti ini!!"
Tangan Renaldi memegang cengkraman tangan Sigit yang semakin erat mencengkeram kerah bajunya sehingga terasa semakin sulit ia bernafas.
"Lepas keparat! lepas!!" Renaldi berontak mencoba melawan Sigit yang semakin membabi buta tingkahnya, gantungan kunci ditangannya menempel dipundak Sigit hingga tanpa mereka berdua sadari tiba-tiba benda itu bersinar seketika dalam genggam tangannya lalu terjatuh karena gerakannya melawan cengkraman Sigit.
__ADS_1
Lampu bintang berkelip hidup mengeluarkan cahaya, Renaldi terpukau melihat cahaya yang keluar dari gantungan kunci bintang itu, ia sangat terkejut melihatnya. Sementara Sigit pandangannya lurus ke depan menyorot tajam wajah Renaldi yang kemerahan menahan gerakannya.
Renaldi masih terpaku melihat gantungan kunci yang menggelinding karena terpental dari dinding dibelakang Sigit hingga berhenti tepat di belakang kaki Sigit.
"Katakan!! dimana kau sembunyikan istriku." suara Sigit lirih penuh penekanan ditelinga Renaldi.
Sigit segera melajukan mobilnya menuju apartemen Renaldi setelah menyadari Winda benar-benar tidak ada di rumah sesuai pernyataan seluruh penghuni rumah dan pak Zain yang mengatakan tidak melihat Winda setelah menggantikan tugasnya saat menyuruhnya membantu membetulkan pipa air. Pak Zain dan mbok Lastri menceritakan kejadian pagi hari hingga mereka baru menyadari jika Winda tidak ada di rumah.
Sigit yakin jika kurir pengirim paket adalah orang suruhan dari penculikan istrinya, yang tidak lain dibelakang dalang semua ini kemungkinan adalah Renaldi, mengingat orang yang sempat menemui Winda belakangan ini adalah dia.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk."
"Lepaskan bodoh!"
"Aku sama sekali tidak tau apa-apa."
"Uhuk uhuk."
Renaldi memukul lengan kekar Sigit yang masih mencengkramnya kuat sehingga terasa mencekik lehernya.
"Tidak ada pencuri yang mau mengakui kesalahannya keparat!" Sigit mendorong kasar tubuh Renaldi di atas sofa, wajah Renaldi terlihat kemerahan menahan sakit dari ulahnya,
Sigit melepaskan tangannya dari cengkeramannya di kerah baju rivalnya, lalu meninggalkannya memasuki kamar tidur dan beberapa ruangan didalam apartemen Renaldi.
Renaldi heran dengan benda yang sudah berada ditangannya itu, ia melihat ada glitter didalam gantungan kunci itu dan iapun merasa aneh dengan gantungan kunci bintang itu karena selama ia menyimpan benda itu baru kali ini ia mendapati benda itu bisa mengeluarkan cahaya sehingga ia merasa itu adalah benda yang unik, tidak sembarang gantungan kunci.
"Aneh... bagaimana bisa bercahaya gantungan kunci bintang ini?"
"Setelah bertahun-tahun aku menyimpannya tidak pernah sekalipun aku melihat benda ini bercahaya."
"Baru kali ini aku melihat benda seunik ini."
tangan Renaldi memutar benda kecil itu.
"Aku yakin ini adalah gantungan kunci yang sangat berarti untuk bidadari." gumamnya.
"Tapi... bagaimana bidadari kecil bisa mempunyai gantungan kunci sebagus ini?"
Renaldi meletakkan kembali gantungan kunci itu di atas meja, memandangnya tidak berkedip dari tempat duduknya. Ia berpikir keras tentang gantungan kunci didepannya.
Sigit masih menggeledah ruangan demi ruangan kosong, sepi tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang ditempat itu, setelah memastikan tidak ada ruangan yang terlewati dan benar-benar tidak ada orang lain di apartemen Renaldi, Sigit bergegas kembali ke ruang tengah, ia mendapati Renaldi kembali termenung.
Sigit melihat Renaldi yang tidak berkedip memperhatikan benda yang tergeletak di atas meja, sebuah gantungan kunci bintang yang mengingatkan dirinya kembali dengan gadis kecil yang bernama bidadari, namun ia segera menepis kebenaran benda itu setelah teringat gantungan kunci bintang yang sama dengan yang dimiliki seorang gadis saat di Singapura.
__ADS_1
"Ternyata dia juga memiliki benda itu... he." Sigit menertawakan Renaldi.
"Tidak ku sangka ternyata kamu juga memiliki benda murahan seperti itu juga he."
Renaldi melirik Sigit yang tersenyum mengejeknya, kemudian beranjak dari tempat duduknya meraih koper berniat segera berangkat menuju pedalaman yang sudah ditugaskan padanya.
"Sorry saya tidak ada waktu meladeni laki-laki yang kurang kerjaan seperti Anda." ucap Renaldi.
"Saya rasa... Anda telah salah orang pak Sigit Andra Winata." lanjutnya setelah menerka apa yang terjadi dengan rivalnya.
"Jika istri anda pergi dari rumah anda, sepertinya bukan salah saya."
"Salahkan diri anda yang tidak bisa memberikan dirinya kehangatan."
"Hahaha.... hahaha...."
Sigit merasa kesal dilecehkan Renaldi, telinganya seketika memerah.
"Atau... jangan-jangan anak yang dia kandung adalah anak..."
"Tutup mulutmu bajingan!" Sigit merasa emosi.
"Tenang pak Sigit, wanita seperti dia memang... sudah pasti banyak yang mengincarnya, jadi..."
"Sebaiknya Anda segera..."
"Diam!!!" seru Sigit dengan pandangan menyeramkan, tangannya kembali mengangkat kerah baju Renaldi, kemudian menghempaskannya dengan kasar.
"Sekali lagi jika aku mendengar kata-kata yang sama keluar dari mulut ini lagi melecehkan istriku, maka aku pastikan mulut itu sudah tidak akan berlidah lagi, camkan itu!!!"
Sigit merendahkan suaranya dengan kalimat ancaman pada sosok didepannya, kemudian berlalu meninggalkan laki-laki itu tertegun setelah mendengar kalimatnya.
Renaldi yakin jika Sigit tidak main-main dengan ucapannya.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Maaf ya baru bisa up padahal dari kemarin udah rencana segera next up supaya semakin seru bacanya, tapi... apa boleh buat karena tugas dunia nyata lebih penting jadi saya mohon maaf 🙏
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞