
Terimakasih selalu terucap untuk yang sudah kasih semangatnya dengan like, komen dan vote nya...β€β€π
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak setelah selesai membacanya. Terimakasih ππ
βββ
"Kenapa dengan leherku? "
Winda masih memperhatikan tubuhnya dikaca riasnya dan mengusap-usap bagian leher dan dada yang penuh dengan tanda merah keunguan.
"Aku tidak pernah alergi apapun selama ini..." Winda masih saja menggerutu tidak mengerti apa penyebab munculnya warna aneh menurutnya dibagian tubuhnya.
"Kenapa honey? " suara Sigit secara tiba-tiba mengagetkannya ketika memasuki kamarnya.
Winda melihat Sigit dari cermin sedang berjalan mendekati dirinya, Winda segera meraih jilbab yang berada disampingnya lalu memakainya, malu jika Sigit sampai melihatnya.
"Kenapa tiba-tiba pakai jilbab? " Sigit sudah berada didepan Winda, terheran dengan tingkah istrinya yang terburu-buru mengenakan jilbab panjangnya
"E... i-ini Git..." jawab Winda gugup melihat Sigit, tangannya membenarkan jilbabnya
"Panggil abang honey..." jeda Sigit menatap wajah winda, "kalau rambut masih basah harusnya dikeringin dulu, jangan langsung dipakaiin jilbab." ucap Sigit seraya tangannya membuka jilbab Winda.
"Jangan, Git." cegah Winda menghadang tangan Sigit yang sudah berhasil membuka kerudung dikepalanya.
"Kenapa? "
"Aku malu, entah kenapa aku tiba-tiba alergi." jawab Winda tertunduk malu.
Sigit melihat area leher Winda lalu menertawakan tingkah istrinya yang seperti anak kecil, menutupi lehernya.
"Ini alerginya? " tunjuk Sigit sambil tersenyum lalu tangannya meraih tangan Winda dalam genggamannya, yang diangguki Winda.
"Bener tidak tau alerginya dari mana? " Sigit menatap wajah ayu Winda, dengan mata masih terlihat sembab habis menangis semalam.
Kembali Winda hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Lihatlah cermin didepanmu, dan perhatikan dari mana sumber warna ini."
Kata Sigit menyuruh istrinya mengarahkan wajahnya kecermin didepannya, Winda tidak mengerti maksud suaminya untuk memperhatikan kaca, dia pun mengikuti perkataan suaminya.
Tangan Sigit memegang tengkuk dan pinggul seksi istrinya, kemudian mendekatkan bibirnya keleher putih jenjang Winda.
Winda terkesima melihat aksi suaminya dari cermin yang mirip drakula menghisap darah manusia.
Winda berpikir ini adalah bagian dari adegan yang mereka lakukan semalam, tangan Winda mendorong dada bidang didepannya.
"Kalau itu namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan Git."
sungut Winda.
"Ha ha ha ha."
Winda berlalu meninggalkan Sigit yang terbahak-bahak menertawakan kebodohannya dari kamar depan menuju dapur.
Sigit berdiri dibelakang istrinya didapur, dia memperhatikan tangan terampil istrinya yang memotong wortel.
"Git, bantuin Winda jangan bengong aja."
Kata Winda membuyarkan pandangan suaminya yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Hm? bantuin? "
"Iya, kan biar cepat selesai masaknya kalau dikerjakan bareng-bareng."
"Ta-tapi aku kan tidak bisa masak honey? "
Sigit linglung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Kamu pecahin telur saja ya? "
kata Winda sambil membuka pintu kichen set diatasnya.
"Hm? telur? gak salah dengar ni? " kata Sigit terkejut menoleh kearah istrinya.
"Iya, kenapa? ada masalah? "
Winda melirik kearah suaminya sambil tangannya meraba-raba benda diatas lemari yang ketinggian menurut ukuran tinggi badan Winda.
"Bukan begitu honey, abang kan cuma punya pusaka itu doang? masak iya mau dipecahin? "
Sigit berjalan mendekati Winda yang kesulitan mengambil benda didalamnya, lalu mengambilnya.
Ucapan Sigit membuat Winda terkejut, tangannya menerima mangkok putih dari tangan Sigit yang baru diambil.
"Kenapa liat-liat? iya kan bener? kalau dipecahin habis deh hidup abang? " ucap Sigit membela diri tanpa dosa dengan memperhatikan gerakan Winda yang membuka pintu pendingin.
"Ya Allah Git... ck ck ck emang ya dasar."
ucap Winda menggelengkan kepalanya sambil mengambil beberapa butir telur ayam dari kulkas.
"Nih, pecahin ini telur ayamnya, terus taruh disini. Sigit Andra Winata."
Winda meletakkan kotak telur ditangan Sigit yang sudah berisi beberapa butir telur didalamnya, lalu meletakkan mangkok putih diatas meja.
Sigit serba salah ternyum nyengir.
"Abang honey, panggil abang. jangan sebut nama."
"Ya maaf, belum terbiasa."
"Ini gimana mecahinnya?"
"Mudah kok diketokin dipiring atau diatas meja terus dibuka dengan dua tangan, begini." kata Winda sambil memperagakan memecahkan telur yang masih utuh digenggamannya.
Sigit menerima telur yang dipegang Winda, lalu memecahkannya sesuai tutorial Winda.
Sigit memberitahukan pecahan telur ayam hasil kerjanya kepada Winda.
Winda terbengong melihat pecahan sebutir telur diatas piring beserta cangkangnya.
"Masya Allah Git? "
"Abang honey."
"Iya lupa." jeda Winda "Gini caranya ya abang... cangkang itu harus dibuang, tidak ikut digoreng."
Winda membawa piring Sigit lalu menggantinya dengan piring yang lain, Winda memecahkan sebutir telur dengan memisahkan cangkang yang sudah kosong isinya diatas piring.
"Oh... " Sigit mulai memecahkan sebutir lagi
"Mudah ternyata." kembali mengambil telur yang kedua.
"Ketagihan deh mecahin telur." ucap Winda melanjutkan mengiris bawang merah.
Sigit tersenyum senang seperti anak kecil mendapatkan mainan baru, hingga tidak terasa sudah 6 butir telur yang dipecahkannya.
"Sudah bang, sudah, kebanyakan ini." Winda mengambil piring yang sudah hampir penuh dengan pecahan telur.
"Sudah, sekarang abang duduk saja disitu, biar aku yang mengerjakannya." Winda menunjuk kursi didepannya untuk Sigit.
"Asik ya ternyata, mecahin telurnya." ucap Sigit tersenyum, bahunya menyenggol pundak Winda disampingnya.
"Aissshhhh, sekarang duduk." Winda melirik suaminya yang cengar-cengir.
Winda menyelesaikan tugasnya memasak sarapan untuk mereka berdua, hingga menyiapkannya diatas meja.
__ADS_1
Sigit hanya memperhatikan Winda yang menata makanan didepannya, lalu mengambil nasi, sayuran dan telur dadar diatas piring untuknya.
Mereka makan bersama sambil sesekali saling pandang.
"Bagaimana rasanya? enak?"
"Enak." jawab Sigit.
Sigit melihat mata Winda masih sembab, ditambah lagi kurang tidur semalam sehingga sangat terlihat kelelahan.
"Kamu, hari ini jangan keluar rumah dulu, biar seharian disini, jangan kemana-mana." kata Sigit disela-sela makanya.
"Pasti matamu akan mengundang perhatian orang yang melihatmu, dan itu akan membuatmu tidak nyaman. Jadi tetap didalam rumah sampai abang pulang, ya? "
lanjut Sigit dengan menatap wajah Winda yang masih mengunyah.
"Hm." jawab Winda mengangguki perintah Sigit.
"Nanti, biar abang yang mengabari Firman jika kamu izin, tidak bisa masuk kerja."
"Tidak usah, biar aku sendiri yang menghubungi pak Firman dan mbak Dian." sahut Winda.
Tok tok tok...
Sigit dan Winda saling pandang mendengar suara pintu diketuk dari luar ketika mereka masih sarapan.
"Siapa? pagi-pagi ada orang datang? " kata Sigit.
"Hm... gak tau." jawab Winda mengangkat kedua bahunya.
Setelah beberapa saat, Sigit menyudahi sarapannya dan beranjak dari kursinya.
"Sudah, kamu lanjutin saja makannya, biar abang yang bukain pintu." titah Sigit pada Winda yang masih mengunyah sarapannya.
Sigit berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu.
Ketika pintu sudah terbuka, alangkah terkejutnya Sigit ketika melihat seorang wanita yang membelakangi pintu, yang tak lain adalah seorang wanita yang sudah melahirkannya.
"Mami? " ucap Sigit terkejut.
"Assalamualaikum? " ucap mami sambil berlalu melewati Sigit memasuki rumah minimalis modern kontrakan Winda yang dia ketahui tadi pagi dari Gunawan, asisten suaminya.
"Waalaikumsalam." jawab Sigit.
Sigit mengikuti langkah maminya menuju meja makan yang terlihat diwajahnya ada rasa hawatir.
"Mami? " kata Winda terkejut mendapati mertuanya sudah didepannya, dia berdiri dan menerima pelukan mertuanya.
"Menantu mami..." suara mami Lia lirih terdengar ditelinga Winda dengan tubuh saling berpelukan.
"Iya mi ini Winda. Mami ada apa? pagi-pagi sudah kemari? terus mami tau rumah kontrakan Winda dari mana? "
pertanyaan Winda kepada ibu mertuanya setelah melepaskan pelukannya.
Mami Lia memperhatikan wajah menantunya, ada rasa senang bercampur kesal.
"Kamu baik-baik saja kan? "
"Iya, Winda baik-baik saja kok mi."
"Syukurlah kalau begitu, mami hawatir ketika Ningsih cerita tentang kalian. "
"Memangnya kenapa mi? Winda baik-baik saja kok sama abang disini." jawab Winda tersenyum kepada mertuanya.
Mami Lia tersenyum menahan malu ketika melihat menantunya yang tidak mengenakan jilbabnya, terlihat jelas olehnya rambut panjang Winda yang masih agak basah dan terdapat banyak tanda kepemilikan yang dia rasa akibat kenakalan putranya.
"Hadeh Ningsih Ningsih aku datang diwaktu yang tidak tepat. Hhhhh " pikir mami setelah melihat keadaan menantunya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya...ππ
terimakasihπ ππ