
Sigit menemani kedua orang tuanya bersama Revan, ia membiarkan istrinya meninggalkan mereka diruang tamu setelah beberapa saat membersamai orang tuanya. Lalu menaiki tangga memasuki kamar dan segera membersihkan dirinya.
Winda merasakan perutnya yang tegang setelah seharian menahan lelah, namun, rasa lelahnya telah terbayarkan dengan kembalinya orang-orang terdekat dirumah ini lagi. Ia membujurkan kedua kakinya diatas ranjang, punggungnya terasa lebih enakan ketika ia merebahkan tubuhnya. Lambat-laun matanya terasa berat untuk ia pertahankan menatap langit-langit didalam kamarnya, iapun terlelap sendirian diatas ranjang.
Malam semakin larut sehingga mami menyuruh kedua putranya agar segera istirahat dalam kamar mereka. Sigit dan Revan pun mendengarkan perintah mami, mereka beranjak dari kursinya keluar dari kamar orang tuanya. Mereka menaiki tangga dan berjalan menuju kamar masing-masing.
Sigit melihat Winda yang sudah tertidur pulas, terlihat dari wajahnya rasa kasihan melihat wajah Winda yang terlihat lelah, ia mendekati Winda dan menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya di telinga.
"Terimakasih sudah membantu menyatukan keluarga ini lagi. Kamu pasti lelah seharian tidak istirahat karena kami." ucap Sigit lirih. Lalu membelai perut buncit didepannya seraya tersenyum dikedua pipinya.
"Anak papa baik-baik saja didalam sini ya, bantu mama agar tetap sehat dan kuat menjagamu sampai waktunya nanti." lanjutnya lagi, lalu menutupi tubuh Winda dengan selimut.
Sigit segera merebahkan tubuhnya di samping Winda dan terlelap dalam tidurnya.
❄️❄️❄️
Mentari pagi bersinar cerah menemani keluarga Winata yang berada ditaman, kicauan burung terdengar dari ranting pepohonan menandakan seakan mereka juga ceria menyambut sang mentari.
Mami bersama papi dan anak serta menantunya duduk dibangku taman menghirup udara pagi yang sejuk, mami sangat bersyukur hari ini bisa menikmati kembali suasana dirumah setelah cukup lama dirumah sakit. Keinginan untuk kembali dirumah karena rasa jenuh yang sudah membuatnya ingin segera pulang bersama anak dan menantunya selama dirumah sakit kini bisa terwujud.
Begitu pula dengan papi yang terlihat bahagia bisa kembali dirumah besarnya, pagi ini papi memilih taman untuk tempat sarapan mereka sambil bercengkrama bersama keluarga.
"Bagaimana cucu mami didalam perutmu Win? apa dia baik-baik saja?" tanya mami pada Winda setelah menyelesaikan sarapannya.
"Alhamdulillah baik mi, kata dokter sehat-sehat saja mi." jawab Winda.
"Tendangannya mi hmmmm... kuat banget sampai Igit sendiri heran." Sigit tidak kalah menimpali perkataan Winda seraya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada kedua orang tuanya.
Mami terbelalak memalingkan wajahnya pada suaminya dengan senyum bahagia.
"Benarkah?" kata mami yang diangguki Sigit.
"Wah jangan-jangan laki-laki itu nanti cucu papi Git." ucap papi.
"Oh iya sudah ketahuan belum apa jenis kelaminnya bang?" tanya mami penasaran.
"Belum sih mi, Winda tidak mau melihatnya dulu, karena dia ingin surprise nanti." jawab Sigit.
"Tidak apa, yang penting ibu dan anaknya sehat dan lancar persalinannya." kata papi memberikan semangat pada menantu dan putranya.
"Iya bener kata papi, itu yang terpenting." kalimat mami membenarkan kalimat suaminya.
Suasana semakin hangat dengan percakapan pagi mereka, sesekali canda tawa terdengar dari kejauhan, sehingga Ningsih dan mbok Lastri merasa bahwa keluarga Winata sudah kembali seperti semula.
Selama waktu sarapan berlangsung hingga selesai, Revan hanya banyak diam walaupun bibirnya tersenyum, hanya sesekali saja ia berbicara, namun terlihat dari kedua bola matanya bahwa dirinya sedang menyembunyikan sesuatu dan sorot mata itu tertangkap oleh mami karena sikap Revan tidak seperti biasanya. Sehingga mengundang pertanyaan mami.
Revan melihat jam tangannya menunjuk pada angka enam dan tujuh, itu berarti ia harus segera pamit berangkat kesekolah. Tidak lama pun ia segera pamit untuk berangkat dulu dari pada abangnya.
Setelah kepergian Revan kini tinggallah mereka berempat, mami membuka percakapan kembali dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan sikap Revan.
"Bang."
__ADS_1
"Iya mi."
"Mami rasa ada yang telah terjadi pada Revan saat ini, sepertinya ada sesuatu. Abang tau apa yang sudah terjadi pada Revan?" mami mendekatkan wajahnya pada Sigit dan Winda.
Mendengar pertanyaan maminya, Sigit terkejut dan segera menutupi keterkejutannya seakan tidak percaya jika maminya juga dapat merasakan ada suatu hal yang sudah terjadi pada Revan ketika mereka tergolek dirumah sakit.
"Bang? hallo... ada apa? kenapa Abang ngelamun?" perkataan mami mengagetkan Sigit yang masih berusaha mencari ide agar bisa menjawab pertanyaan maminya tanpa memberitahukan kejadian yang sebenarnya secepat ini.
"Git?" suara papi terdengar membuyarkan lamunannya.
"Iya Pi."
"Ada apa?"
Sigit menoleh papinya dan menatapnya sejenak, lalu menghempaskan nafasnya secara perlahan dan menjawabnya dengan asal.
"Mungkin dia sedang memikirkan ujiannya yang sebentar lagi pi, mi." jawab Sigit.
Papi menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Sigit, sedangkan mami hanya memperhatikan wajah Winda dan Sigit bergantian.
"Oh iya mi, pi dua hari lagi Igit sama Winda mau kerumah bapak dan ibu untuk beberapa hari, mami dan papi tidak keberatan kan?" Sigit membuka pembicaraan lain agar orang tuanya tidak terfokus pada Revan setelah teringat rencananya dengan istrinya.
Rencana yang sudah ia rancang bersama Winda untuk memanfaatkan liburan kali ini kerumah pak Idris sesuai keinginan Winda. Setelah mereka menikah belum pernah mereka mendatangi rumah orang tua Winda.
Mami menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
"Ya tentu saja tidak bang, justru kami sangat setuju bang, karena selama ini kalian memang belum pernah berkunjung kan?"
"Iya mi, maka dari itu kami ingin mengunjunginya besok." ucap Sigit.
"Hm, kami juga terimakasih Win, karena kamu sudah menjadi menantu yang sabar untuk Sigit." kalimat papi yang ditanggapi Winda dengan senyum manisnya. Sigit mengangkat sebelah alisnya seraya menaikkan sebelah bibirnya, lalu berdiri dari kursinya.
"Baiklah Pi, mi, kami berangkat dulu ke kantor."
"Hm, hati-hati bang."
"Ya mi beres, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
❄️❄️❄️
Winda baru saja selesai mengemasi barang-barang yang diperlukan selama dirumah ibunya nanti, sudah tidak sabar rasanya ia ingin bertemu dengan bapak dan ibunya yang sangat ia rindukan.
Hari ini sudah saatnya ia bersama Sigit berangkat berkunjung kerumah orangtuanya, mami dan papi mengantar mereka sampai halaman rumah.
Mami memeluk Winda begitu Sigit membukakan pintu mobil untuk Winda, ia sudah membayangkan betapa sepinya rumah ini setelah kepergian anak dan menantunya nanti.
"Jaga kesehatan ya Win, jangan lupa kasih kabar mami jika sudah sampai disana."
"Iya mi insya Allah akan Winda inget pesan mami."
__ADS_1
"Dan juga sampaikan salam kami untuk bapak dan ibumu ya."
"Iya mi, insya Allah akan Winda sampaikan juga salam dari mami dan papi."
"Assalamualaikum." Winda mencium punggung tangan mami dan papi bergantian. Lalu masuk kedalam mobil.
"Waalaikumsalam." jawab papi dan mami serempak.
"Hati-hati bang."
"Iya mi."
Sigit mulai mengendarai mobilnya menuju pintu gerbang. Winda melambaikan tangannya pada mami dan papi yang dibalas lambaian tangan mami.
Tin.
Mobil Sigit sudah melaju dijalan raya, ia mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati, sesekali tangannya meraih tangan Winda dan menciumnya.
"Gembira sekali kayaknya..." suara Sigit menggoda Winda.
Winda tersenyum sambil melirik suaminya.
"Tentu dong, mau ketemu cinta pertama Winda gitu loh bang."
Jawaban Winda justru membuat Sigit tersenyum lebar melihat wajah istrinya yang sumringah.
"Ternyata, bahagia itu sederhana tidak harus dengan barang yang mewah, cukup menjenguk keluarga istri itu sudah membuatnya sangat istimewa. Bagaimana kamu semudah ini Win bahagia? apapun yang Abang berikan padamu, kamu pasti bahagia. sungguh sangat beruntung aku menjadi suamimu."
Sigit berkata sendiri dalam hatinya dengan menggenggam tangan Winda.
Winda heran melihat suaminya yang senyum-senyum sendiri sambil mengemudi dengan sebelah tangan saja.
"Abang, ngapain senyum-senyum sendiri seperti itu hayo? fokus saja sama kemudinya."
kata Winda merasa khawatir dengan suaminya.
"Hm, tenang saja Abang akan sangat hati-hati membawa mobilnya, sekarang... jika kamu capek istirahat saja, ti-dur. nanti kalau sudah sampai di rumah ibu, Abang bangunin." jawab Sigit sambil tersenyum.
Winda memandang wajah suaminya, lalu memalingkan wajahnya melihat pemandangan dipinggir jalan yang mereka lewati, terdapat berbagai macam gedung, orang yang lalu lalang dan pemandangan disekitar kiri jalan.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Halo kak... lama ya baru up.
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak untuk Abang dan Winda ya...
Saranghe 💞💞