
"Minum dulu Win! "
Winda menerima segelas air yamg diberikan Sigit kepadanya. lalu meminumnya sambil melirik Sigit.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Glekk ...
Glekk ...
Glekk ...
hhhhhhhh ....
"Alhamdulillah ...."
Setelah meminum segelas air pemberian dari Sigit, Winda merasakan tenggorokannya lega dan nafasnya sudah teratur kembali.
Winda memperhatikan keadaan disekitarnya, matanya menyapu disetiap ruangan.
Winda mengedarkan pandangannya kebeberapa benda dan ruangan yang berbeda dari biasanya ketika ia membuka mata dipagi hari.
Matanya meneliti ruangan yang luasnya dua kali lipat dibandingkan kamarnya. penataan ruangan dan benda-benda didalamnys sangat elegant, seperti dihotel berbintang lima.
Merasa bukan kamar tidurnya mata Winda kembali menatap Sigit.
" Ini bukan kamarku. lalu dimana ini git? "
Sigit kembali mengambil gelas dari tangan Winda, lalu meletakannya diatas nakas.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku Git! Ini dimana Gi? "
karena masih penasaran, Winda mengulangi pertanyaannya mencari jawaban dari Sigit. dengan mata berhenti di sebuah bingkai foto yang terletak diatas nakas.
"Oh... ini kamarmu? "
Winda menjawab pertanyaannnya sendiri sambil menyebikkan bibirnya.
Sigit masih terdiam belum menjawab pertanyaan Winda.
Winda terdiam setelah menemukan sosok mami dan papi Sigit serta tiga sosok laki-laki didalam foto itu.
Mata Winda masih memperhatikan Sigit yang masih belum menjawab pertanyaannya. perlahahan matanya memperhatikan stelan baju tidur yang dipakai Sigit, lalu memperhatikan dirinya sendiri.
Setelah memeriksa bajunya masih utuh seperti semalam, begitu juga dengan jilbab putihnya masih terpasang dikepalanya, walaupun tidak serapi kemarin, ada perasaan lega dihatinya.
Winda melirikkan ekor matanya kearah Sigit lagi dengan menahan senyum.
Merasa curiga dengan gelagat Winda, Sigit memperhatikan baju yang dipakainya dan memperhatikan rambutnya didepan kaca hiasnya.
Begitu mendapati keadaannya yang berantakan, Sigit baru teringat, semalam dia sudah capek dan rasa kantuknya sudah tidak tertahankan lagi.
Maka ketika dirinya mengganti baju, dia terburu-buru dan tidak memperhatikannya. rambut yang memang sudah sedikit memanjang pasti akan berantakan ketika bangun tidur.
"Pantesan... Revan meledekku ketika didapur tadi. ckkk." pikir Sigit setelah menyadarinya.
Tangan Sigit membuka kancing bajunya yang nyasar dengan senyum nakal dan berjalan mendekati Winda yang masih terduduk diatas ranjang.
Menyadari Sigit semakin mendekati ranjang, Winda menggeser duduknya hingga terpentok disandaran ranjang.
"Git! " lirih Winda dengan rasa ketakutannya.
Wajah Sigit semakin mendekati wajah Winda, hembusan hangat nafas Sigit terasa dipipinya, mata Winda melirik wajah Sigit, tangan kanannya menutupi bagian dadanya menahan pergerakan Sigit yang semakin mendekatinya.
"Git۟! jangan macam-macam kamu ya! "
Winda cemas, jantungnya berdetak semakin kencang menahan keresahan dari perbuatan Sigit.
Matanya masih melirik wajah Sigit yang sudah tidak berjarak.
Tubuh Sigit sudah didepan dadanya.
Sigit tidak merespon peringatan Winda, bahkan kini wajahnya sudah menempel di jilbab kiri Winda, tangannya terus bergerak keatas nakas.
Winda masih terdiam tidak bergerak dengan mata sudah terpejam ketakutan.
Merasa berhasil meraih benda pipih diatas nakas yang berada disamping Winda.
Sigit beranjak dari ranjang sambil tersenyum puas telah berhasil menggoda Winda.
__ADS_1
Merasa tidak ada pergerakan dari Sigit, Winda membuka kedua matanya dan melirik kearah Sigit yang sudah berdiri dipinggir ranjang.
"Lain kali berfikirlah yang positif! jangan kebanyakan nonton film mesum! "
Sigit berlalu menuju kamar mandi setelah melihat jam dilayar hpnya, Sigit meninggalkan Winda yang masih terbengong dari ulahnya.
"Astaghfirullah, Winda... apa yang ada dalam pikiranmu! "
Winda menepuk kepalanya setelah kepergian Sigit ke kamar mandi.
Winda mencari hpnya didalam tas. setelah menemukannya dia bergegas membuka layarnya.
"Masya allah sudah jam setengah enam! jadi kesiangan nih shalat subuhnya gara-gara Sigit rese! "
Winda beranjak dari ranjangnya, merasa kakinya sudah bisa digerakkan untuk berjalan sendiri.
"Sudah bisa berjalan? "
Suara Sigit mendekati Winda setelah keluar dari kamar mandi.
Winda menoleh kearahnya dan melihat wajah Sigit yang sudah basah air wudhu. dan bersiap menggelar sajadah.
"Git! "
"Hmmm! "
"Aku mau mandi! "
Winda mengutarakan niatnya kepada Sigit karena merasakan lengket disekujur tubuhnya.
Mendengar perkataan Winda, Sigit menghentikan gerakannya yang sedang memakai sarung.
"Mandinya nanti dulu. shalat subuh aja dulu. baru mandi! "
"Tapi badanku sudah... "
"Waktunya sudah siang Win! " Sigit menyela perkataan Winda.
"Sudah. gue mau Shalat dulu! lu bisa kan kekamar mandi sendiri? "
"Hmmm bisa! "
Setelah beberapa saat didalam kamar mandi Winda keluar dengan jalan yang masih sedikit pincang, walaupun jalanya sudah lancar dibandingkan kemarin.
Winda sudah selesai dengan ritual wajib yang biasanya dilakukannya setiap subuh, kini karena kelelahan winda melaksanakannya kesiangan.
"Jadi mandinya? "
"Jadi. "
"Terus luka didahi lu gak kenapa-napa kalau kena air? "
Winda terdiam dengan bibirnya mencebik mendengar perkataan Sigit merasa dirinya diperhatikan.
"Heh jangan mikir yang macam-macam! "
Jari telunjuk Sigit diarahkan dikening Winda setelah terdiam beberapa saat.
"Siapa juga yang mikir macam-macam! "
"Itu kenapa tadi bibirnya begitu?! "
Winda hanya terdiam memandangi suaminya, yang ternyata diam-diam memperhatikannya.
"Malah bengong! buruan sana mandi! "
"Iya iya! bawel! "
Winda beranjak masuk kamar mandi yang diikuti pandangan Sigit sampai pintu tertutup.
❄❄❄
Hari minggu mami akan menghadiri acara arisan bersama teman sosialitanya, papi Winata ada acara main golf bersama Gunawan dan beberapa rekan bisnisnya.
Revanpun bersiap-siap pergi bersama teman-temannya menghabiskan hari liburnya.
"Mbok lastri, tolong anterin sarapan bang Sigit keatas sekarang ya! abang kelamaan, tidak turun sarapan bersama pagi ini."
Mami Lia membawa dua piring nasi dengan rendang serta sayuran diatasnya dan dua gelas susu putih diatas nampan, diserahkan mbok Lastri.
__ADS_1
"Iya bu. "
Mbok lastri segera mengambil alih nampan itu dan bergegas naik kekamar Sigit.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
ceklekk
Tidak berselang lama pintu segera terbuka. dengan disambut wajah berseri mbok lastri dari balik pintu
"Mbok lastri? kenapa sarapannya dibawa kesini? "
"Maaf bang! ibu tadi yang nyuruh mbok bawa sarapan abang kesini."
Brugh ...
Auwww ...
Suara benda terjatuh dari kamar mandi terdengar saat mbok lastri meletakkan nampan diatas meja, membuat Sigit dan mbok Lastri terkejut. Mereka saling berpandangan lalu menoleh kearah suara tersebut.
"Winda! "
Sigit berlari kearah kamar mandi, lalu membuka pintunya.
Sigit mendapati istrinya yang terduduk dilantai dengan menggunakan jubah mandi dan handuk putih melilit dikepalanya.
Hmmm Wanginya ....
Seketika pikiran Sigit teralihkan ke wangi mawar dari tubuh Winda.
Aduh!
"mbak! mbak! bang! itu buruan dibantuin mbak Windanya jangan bengong aja! "
Tangan Winda memegang wetafle disamping Sigit, Sigit baru tersadar saat mbok lastri sudah dibelakangnya.
Winda berusaha berdiri dari jatuhnya.
Sigit mengulurkan tangannya kearah Winda.
"Ulurkan tanganmu biar gue bantu! "
lagi-lagi Winda tidak menyangka banyak sekali kejadian-kejadian yang membuatnya tak berdaya ketika bersama Sigit. Sigit masih mengulurkan tanganya menunggu Winda mengulurkan tangannya.
"Tidak usah berpikiran yang macam-macam! "
Winda hanya gemas dengan jawaban Sigit yang seolah-olah dalam otaknya selalu berpikiran kotor setiap kali Sigit memperhatikannya.
"Sudah mbak cepetan bangun biar dibantu bang Sigit! malah masuk angin nanti kalau kelamaan." suara mbok lastri semakin membuatnya gugup.
Winda semakin terpojok dengan perkataan mbok lastri barusan.
Dengan terpaksa ahirnya Winda mengulurkan tangan kanannya ketangan Sigit dan tangan kiri masih memegangi jubah mandinya.
Sigit menangkap netra Winda yang terlihat gugup didekapannya. masih memapah jalan Winda ke ranjang king sizenya.
"Mbok keluar sebentar ya bang. mau ngambil baju mbk shofia buat mbak Winda." mbok lastri baru melangkahkan kakinya meminta izin kepada sigit untuk mengambilkan bajunya istri bram, abangnya Sigit. terhenti saat Sigit melarangnya.
"Tidak usah mbok! biar Winda nanti pakai baju Sigit dulu! mbok lastri tolong cuci baju Winda yang ada di keranjang baju kotor itu. kalau sudah kering biar dipakai lagi! nanti sekalian Sigit mau ngajak Winda belanja! "
"Tapi git! aku tidak mau pakai bajumu! " sergah Winda cepat.
Sigit hanya diam.
"Git! "
"Sigit! " karena tidak mendapatkan jawaban dari Sigit. Windapun mengulang pertanyaannya.
"Lu sudah tau kan? kalau Sigit paling tidak suka dibantah! duduk!"
Sigit sudah mendudukkan Winda di ranjang, matanya menatap Winda tajam. dia paling tidak suka perintahnya dibantah.
Mbok Lastri memang sudah mengetahui karakter Sigit yang keras kepala dari kecil, dia tidak akan mau memakai barang yang sudah dipakai orang lain. Apalagi itu menyangkut hal pribadinya.
"Iya bang, mbok akan cuci bajunya mbak Winda sekarang."
__ADS_1
Mbok Lastri membawa keranjang baju kotor bergegas keluar menuruni tangga keruang loundry.