Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 81


__ADS_3

"Pi, dapat kabar dari Revan, kalau kita akan punya cucu dari Abang dan Winda." mami memberi tahu papi sembari meletakkan secangkir kopi diatas meja.


"Yang bener mi?"


"Hm, barusan mami tanya mbok Lastri, katanya tadi pagi mereka sedang berada di meja makan mual-mual kalau istilah anak jaman now morning sickness. Mereka berdua tidak tahan mencium bau kulkas." cerita mami pada papi setelah memastikan kabar dari Revan pada wanita kepercayaannya, mbok Lastri.


"Hahaha Alhamdulillah... akhirnya Igit berhasil menembus gawang hahaha..."


"Papi, bicaranya kayak anak muda saja."


"Hahaha... gembira mi hahaha..."


"Iya Pi, ingin sekali mami meluk menantu mami sekarang." kata mami sambil duduk disamping papi tidak sabar ingin bertemu Winda.


"Ya sabar mi, tunggu sampai kerjaan papi disini kelar dulu." jawab papi setelah menikmati kopi yang baru diseruputnya dan kembali diletakkannya diatas meja.


❄️❄️❄️


Di kafe.


"Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati lagi, kalau perlu dirumah saja, biar Abang yang kerja cari nafkah. Kamu cukup dirumah saja menjaga dirimu dan kandunganmu. Mencari nafkah itu kewajiban seorang suami, kewajiban seorang ayah. Bukan kewajiban seorang istri." kalimat Sigit ketika mereka menikmati makan siangnya di kafe lili dekat kantor mereka.


Sepulang dari rumah sakit, mereka segera meluncur ke kafe mengisi perutnya yang belum terisi makanan apapun. Karena terburu-buru ingin segera memeriksakan keadaan Winda.


Winda terdiam memikirkan perkataan suaminya, ia menatap mata Sigit. Lalu kembali menyendokkan makanan kedalam mulutnya.


"Kalau cuma berdiam dirumah saja itu sudah pasti membosankan, sementara aku dari dulu sudah terbiasa beraktivitas. Lalu bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku hanya didalam rumah saja? itu hanya akan memicuku stress saja." Kata hati Winda dalam lamunannya.


Sigit memperhatikan Winda seperti memikirkan sesuatu walaupun mulutnya mengunyah makanan.


"Hey... kamu kenapa?" tegur Sigit membuyarkan lamunan Winda.


"Mmm, tidak apa-apa bang, cuma... kayaknya Winda belum bisa deh untuk berdiam diri dirumah saja saat ini." jawab Winda agak ragu untuk mengatakannya.


"O... kamu tadi mikirin itu?"


"Hm."


"Kenapa tidak bisa, apa alasannya?" tanya Sigit penasaran.


Winda meletakkan sendok dari tangannya dan menatap kedua bola mata Sigit dalam-dalam.


"Yang pasti saat ini Winda belum terpikir kearah situ, karena Winda akan bertambah jenuh dan bisa jadi tambah stres jika tidak beraktivitas, karena dari dulu Winda selalu kerja."


Sigit terdiam sejenak seraya mencerna perkataan Winda, ia tidak mau keadaan Winda saat ini akan merasa terbebani dengan pendapatnya.


"Terus maunya bagaimana?" tawar Sigit sambil memasukkan suapan terakhir didalam mulutnya.


"Mmm... untuk sementara waktu biar Winda tetap bekerja sampai nanti ketika kandungan Winda sudah tujuh atau delapan bulan baru ambil cuti bagaimana?" jawab Winda dengan tersungging senyum ceria diwajahnya.

__ADS_1


"Ya baiklah, kita coba dulu kalau kamu kuat dan bisa menjalaninya dengan baik tidak ada masalah dengan kehamilan kamu, it's oke. Abang tidak melarang, yang penting kamu harus menjaga kesehatan kamu dan juga jaga buah hati kita baik-baik." ucap Sigit menyetujui kalimat Winda. Winda tersenyum mendengar perkataan Sigit, bahagia.


"Terimakasih."


Mereka menyelesaikan makan siang plus sarapan dengan sedikit obrolan dan melanjutkan rencananya menuju kantor perusahaan cabang walaupun hanya sekedar memantau pekerjaannya saja.


❄️❄️❄️


Sore menjelang petang Sigit sudah berada dihalaman rumah yang luas dengan mobil sudah terparkir disana. Winda membuka pintu mobil setelah mesin mobil dimatikan Sigit.


Sigit berjalan dibelakang Winda memasuki rumah. Sementara mbok Lastri dan Ningsih sudah menunggu kedatangan mereka diruang belakang, begitu mendengar suara langkah kaki semakin mendekati meja makan yang mereka yakini adalah Sigit dan Winda, mereka segera berjalan tergopoh-gopoh ingin menemui mereka.


"Bagaimana bang hasil pemeriksaannya tadi siang?" tanya mbok Lastri berbinar-binar tidak sabar menunggu jawabannya.


Sigit menggenggam tangan Winda dengan tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada kedua wanita didepannya.


"Hm, berilah ucapan selamat pada kami mbok, Sih." jawab Sigit yang diikuti senyum simetri Winda.


Kedua wanita didepannya itu terbelalak sangat gembira mendengar jawaban Sigit.


"Alhamdulillah."


"Itu berarti mbak Winda positif hamil mas?."


"Hm."


"Yeee... selamat deh buat calon mama dan papa muda." suara Ningsih kegirangan seraya melirikkan matanya pada Sigit dan Winda.


"Hm, terimakasih Sih, tidak masalah dengan lirikanmu saat ini, karena aku hari ini lagi bahagia, lain kali lirikan yang mengandung ledekan akan kena hukuman yang setimpal." tukas Sigit sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka menuju kamarnya.


❄️❄️❄️


Winda menjalani hari-harinya seperti biasa, dengan hormon bawaan wanita hamil yang membuatnya harus lebih sabar dan perjuangan dimana pada saat berada di meja makan yang berdekatan dengan lemari pendingin ia dan suaminya secara bersamaan masih saja mengeluarkan suara heroiknya. Hingga akhirnya ketika waktu makan, Ningsih selalu membawakan makanan mereka kedalam kamarnya.


Hal itupun terjadi hingga kehamilan Winda menginjak bulan keempat. Namun, mereka menjalaninya dengan baik walaupun lebih sering menghabiskan waktu mereka berdua didalam kamar mereka.


Malam semakin larut, Sigit masih berkutat dengan mesin kotaknya diatas meja, sesekali melirik keatas ranjang melihat Winda yang masih bolak-balik miring kekanan dan kekiri, seperti orang yang tidak bisa tidur, sehingga tingkahnya menggelitik hati Sigit untuk mematikan mesin lipatnya itu serta membereskan perangkatnya.


Sigit berjalan mendekati Winda ingin mengetahui apa yang terjadi pada istrinya.


"Kenapa belum juga tidur? ada apa?" Suara Sigit mengagetkan Winda sudah berada di sampingnya dengan memegang pundaknya.


"Hm?"


"Dari tadi Abang perhatiin dari sofa, kamu cuma miring kanan miring kiri aja. Tidak bisa tidur?"


"Hm." jawab Winda lirih dengan merubah posisi tidurnya dengan duduk bersandar dikepala ranjang, ia menganggukkan kepalanya menatap wajah Sigit.


"Kenapa?"

__ADS_1


Winda terdiam sejenak ragu untuk mengatakan pada Sigit. Sigit semakin mendekatkan duduknya berhadapan tepat dengan Winda. Matanya menatap semakin dalam menunggu jawaban Winda, sehingga membuat Winda terpaksa mengatakannya.


"Mmm... Winda tidak bisa tidur..."


"Hm... terus..."


"Ingin... ingin..."


"Hm... ingin apa..."


"Ingin... makan...itu, sate kambing sekarang."


"Hahaha...."


Sigit refleks menertawakan sikap Winda yang mencoba mengatakan keinginannya dengan terbata-bata. Ia tau jika istrinya itu malu untuk mengatakannya karena selama ini Winda tidak suka dengan makanan yang bernama sate kambing. Tapi mungkin karena pengaruh bawaan janin dalam kandungannya yang sudah membuatnya berubah mood yang tidak seperti biasanya.


Winda terbingung melihat suaminya yang terbahak-bahak setelah mendengar kalimatnya tidak cepat bergegas dari duduknya justru masih duduk santai menertawakan dirinya.


"Abang iiih... jangan ketawa mulu ah, ayo buruan cari sekarang..."


Sigit melihat jam dinding didepannya menunjuk pada angka sebelas. Ia mengangkat kedua alisnya dan menghembuskan nafas panjangnya beranjak dari atas ranjang berjalan menuju nakas mengambil kunci motornya yang berada di dalam laci.


"Baiklah Abang cariin sekarang."


"Ikut."


Sigit membalikkan badannya yang sudah mendapatkan kunci motor ditangannya, ketika mendengar permintaan Winda.


"Tidak usah, biar Abang sendiri yang cari, diluar udara malam sangat dingin."


"Aku maunya nungguin dan langsung dimakan disana bang."


Sigit melihat wajah Winda memelas ingin ikut bersamanya.


"Hhhhh.... ya sudah cepetan sana pakai sweaternya."


Sigit mengabulkan keinginan Winda, lalu mengganti kunci motornya dengan kunci mobil diatas nakas. Mereka berjalan keluar rumah menuju garasi rumah dengan Winda bersandar dipundak Sigit.


"Yah... beginilah kalau suami sayang keluarga, harus selalu siaga kapanpun jika sang ratu sudah memberikan titahnya." ucap Sigit saat membukakan pintu mobil pada Winda sambil tersenyum melirik istrinya yang tersenyum pula dengan mengangkat kedua alisnya.


"Terimakasih Abang..."


.


.


.


. Bersambung...🤗🤗

__ADS_1


Siapa yang pernah seperti ini hayo...


Saranghe...💞💞


__ADS_2