Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 108


__ADS_3

"Apa? papi dan mami sudah tahu kalau Revan sudah mengetahui identitasnya? dan Revan memberikan hasil tes DNA nya kepada mereka?" Sigit terkejut begitu mendengar penjelasan dari Winda.


Winda mengangguk sebagai jawaban, ia menyembunyikan rasa takut jika suaminya tiba-tiba diluar kendali.


"Jadi karena itu mereka tadi bersikap aneh begitu?" terlihat wajah Sigit menahan kesal.


Setelah beberapa saat berada didalam kamar dan membersihkan dirinya, Sigit bersiap untuk istirahat diatas ranjang bersama Winda.


Winda menceritakan keanehan sikap papi dan Revan yang ia rasakan saat baru pulang dari rumah sakit selama menunggu saudaranya disana, sama dengan yang dirasakan Sigit sekarang.


Winda masih dalam posisi memeluk tubuh suaminya dengan berbantalan lengan kekar suaminya. Hembusan nafas Sigit terasa hangat diwajahnya.


Sigit terdiam sesaat memikirkan sesuatu, dia ingin menyelesaikan masalah antara papi dengan Revan, tidak ingin masalah itu berlarut-larut terlalu lama.


Cukup sudah kesalahpahaman dan hubungan yang tiba-tiba saja senggang ini terjadi selama beberapa hari. Dia tidak ingin penghuni rumah menjadi manusia robot yang kaku tanpa ekspresi ceria diwajahnya.


Sigit mencium kening istrinya lalu beranjak dari tidurnya, ia duduk di atas ranjang.


"Abang mau kemana?"


"Mau turun sebentar, nanti kesini lagi ya?"


Winda ikut terbangun dan duduk di samping Sigit.


"Tapi Winda belum selesai ceritanya."


"Udah nanti dilanjutkan kalau Abang sudah kembali ke kamar lagi."


"Tidak mau, maunya sekarang karena sangat penting bagi Winda."


Sigit mengerutkan keningnya, lalu tersenyum nakal pada istrinya.


"Oh itu ya... jangan khawatir pasti Abang kasih kok. Santai." ucapnya sambil tersenyum dengan memainkan sebelah alisnya.


"Kenapa jadi genit begini? aku kan cuma mau kasih tau tentang orang-orang yang datang kemari?"


"Iiihhh... Abang. Winda serius nih mau cerita."


Sigit memperhatikan wajah Winda yang serius membuatnya menahan dirinya untuk tetap mendengarkan cerita istrinya.


"Ya sudah Abang dengerin deh, apa..."


"Sebenarnya kemarin waktu Winda menunggu mas Ibrahim di rumah sakit, bik Ratna memberitahu kalau ada orang yang bernama Aldi datang ke rumah mencari kami tapi tidak ketemu."


"Terus?"


"Terus dia memberikan kartu namanya sama bik Ratna."


"Heeem? terus?"


"Terus kartu nama itu kebuang sama bik ratna."


"Hilang lagi jejaknya?" sahut Sigit.


"Iya, tapi bik Ratna inget alamatnya doang, dan alร matnya itu deket dari sini. Terus Winda nyariin sendiri sampai-sampai ada banyak orang yang datang kemari dan semuanya mengaku namanya Aldi."


"Apa?? datang kemari?!" nada Sigit seketika berubah meninggi mendengar kalimat istrinya.


"Iya."


"Winda Winda ceroboh ya kamu."


Wajah Sigit berubah saat mendengar penjelasan terakhir istrinya.

__ADS_1


Winda ketakutan melihat perubahan ekspresi wajah suaminya.


"Tau tidak, akibat dari perbuatanmu itu bisa mengancam dirimu sendiri."


Winda terdiam menundukkan kepalanya.


"Nanti ikut turun kalau ada yang panggil kamu kesini!" kalimat Sigit dengan suara pelan namun seakan terasa hujaman tajam mengoyak dagingnya.


Sigit menyingkap selimutnya dan berdiri beranjak dari kamarnya.


"Ada-ada aja kejadian di rumah ini." gumam Sigit sambil membuka pintu kamar dan meninggalkan Winda sendirian.


Sigit menuruni tangga menuju ruang tengah, ia mendapati papi dan mami sedang duduk santai berdua disana.


"Belum tidur bang?" tanya mami begitu melihat sosoknya.


"Belum mi." jawab Sigit seraya duduk di samping papi.


"Papi sama mami gimana keadaanya, sudah lebih baikkan sekarang?" tanya Sigit.


"Alhamdulillah papi sudah jauh lebih baik Git."


"Alhamdulillah mami juga bang."


"Alhamdulillah kalau begitu, Igit jadi lega mendengarnya. Tapi, Igit rasa ada sesuatu yang terjadi antara papi dengan Revan sepertinya. Iya gak sih pi?" Tanya Sigit langsung pada tujuannya turun kebawah.


Sigit melihat kedua orang tuanya saling berpandangan lalu beralih padanya.


"Apapun itu yang ditutupi pasti akan terkuak juga Git. Papi merasa bersalah pada kalian semua, pada mami dan semua anak-anak papi. Semua ini karena ketidakberdayaan papi."


"Pi, sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan, lama-lama Revan akan menerimanya dengan baik." sahut mami menenangkan perasaan papi.


Sigit terdiam melihat kedua orangtuanya, tidak tega melihat wajahnya yang terlihat sangat sedih karena penyesalan.


Sigit melihat kamar Revan yang masih menyala lampunya, ia beranjak dan berjalan memasuki kamar itu.


Perlahan ia mengetuk pintu dan membukanya setelah mendengar izin dari pemiliknya.


Ia melihat Revan yang baru saja merapikan buku-bukunya terlihat baru saja menyelesaikan tugas sekolah.


"Bagaimana sekolahnya? serius kan pak Dirut Revan Winata?" suara Sigit membuka percakapan setelah mendudukkan dirinya di atas ranjang adiknya.


"Hm serius dong bang... tumben banget ke kamar Revan malem-malem begini, bukannya menghabiskan malam bersama istri tersayang abang hehehe..." jawab Revan cengengesan seperti biasa menggoda abangnya terlihat seperti tidak terjadi sesuatu dengannya.


"Harusnya si... tapi karena ada yang harus Abang lakukan sebelumnya."


"Apa itu bang?"


"Revan mau bantuin abang?"


"Tentu mau dong kalau itu menguntungkan."


"Jangan khawatir karena ini pasti menguntungkan kok."


"Beneran? apa itu bang?"


"Ikut Abang yuk keluar sebentar."


"Ok siap bang..."


"Hadiah-hadiah, kejutan hehehe..." batin Revan dalam hatinya.


Sigit berdiri dari tempatnya lalu keluar dari kamar Revan dengan Revan berjalan disampingnya tersenyum menari dibenaknya akan mendapatkan hadiah dari abangnya.

__ADS_1


"Lumayanlah dapet oleh-oleh dari Singapura uhuy ..." batinnya.


Mereka berjalan menuju ruang tengah yang masih terdapat papi dan mami duduk ditempatnya seperti tadi.


Senyum Revan perlahan memudar melihat papi dan mami duduk disana, mami dan papi melihat senyum Revan perlahan memudar itu. Mereka saling pandang penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sigit.


"Duduk dulu Van." ucap Sigit menyuruh adiknya duduk di samping papi.


"Oke, Revan duduk. Hadiah apa sih bang sampai harus malem-malem begini ngasih nya?" jawab Revan sembari berjalan menuju kursi yang dimaksud Sigit.


Sigit menghela nafas panjang.


"Soal hadiah yang kamu inginkan Abang besok bisa belikan untukmu, tetapi untuk malam ini Abang hanya ingin kesalahpahaman antara kamu dan papi harus beres. Abang tidak ingin penghuni rumah ini menjadi robot mainan yang terjadi begitu saja."


Revan terkesiap mendengar kalimat abangnya, sama sekali tidak ia duga jika abangnya akan bertindak setegas ini.


Sebenarnya ia tahu jika Sigit lah satu-satunya Abang yang paling tegas dibanding dirinya dan Bram. Dalam pikirannya kejadian saat ini tidak akan terjadi secepat ini, namun diluar dugaannya justru Sigit langsung melakukan tindakan begitu mengetahuinya.


"Revan, apapun yang sudah kamu ketahui tentang kebenarannya tentang hubungan ini kami harap itu tidak menjadi tembok penghalang kebersamaan, keharmonisan dalam keluarga ini, papi dan mami sangat menyayangi kita semua. Bahkan mereka sampai menganggap kakakmu Renaldi sebagai putranya juga, mereka tidak ingin kita terpecah belah hanya karena status."


"Bukan begitu bang, Revan hanya takut jika papi membenci Revan."


"Revan, papi tidak pernah membenci putra-putra papi nak, papi sangat takut jika kehilangan kalian, papi tidak peduli dengan apa yang papi miliki sekarang, papi hanya ingin putra-putra papi bersama-sama seperti dulu." papi berkata panjang lebar mengeluarkan kegundahan dalam hatinya.


Revan menghadap laki-laki disampingnya lalu memeluknya dengan erat.


"Papi... maafkan Revan Pi. Revan juga tidak mau kehilangan papi dan mami hiks hiks."


papi membalas pelukan Revan, mereka terhanyut dalam perasaan mereka.


Sigit memegang bahu mami ikut haru memandang antara anak dan ayah yang saling memeluk didepannya.


"Jangan seperti itu lagi nak sama papi."


"Iya pi maafkan Revan Pi..."


Cukup lama Sigit melihat pemandangan didepannya itu, ia baru sadar jika ada satu lagi persoalan yang harus dia selesaikan malam ini juga.


"Winda, oh iya dia juga harus disidak sekarang juga biar tahu rasa dia." Pikir Sigit saat itu.


"Sudah Van, cukup. Sekarang tolong panggilin mbak Winda suruh kesini sekarang."


"Untuk apa bang?"


"Sudah panggil saja cepetan!"


Revan segera berjalan menaiki tangga menuju kamar Abangnya sesekali sambil menghapus air matanya.


.


.


.


.


Bersambung...๐Ÿค—๐Ÿค—


Ada apa gerangan dengan Winda selanjutnya?


Yuk ah kasih semangat kak biar kuat menghadapi kenyataan selanjutnya...


Saranghe ๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž

__ADS_1


__ADS_2