Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 70


__ADS_3

"Siapa sebenarnya Winda? gue merasa benar-benar mengenalnya, tapi dimana?" Anita berjalan menyusuri koridor kantor Duta Perkasa, ia berjalan dengan perasaan gontai setelah pulang dari kantor cabang WP. Kembali teringat kalimat Winata ketika mereka masih berada diruang gedung lantai tiga.


Setelah Sigit dan Winda meninggalkan surprise party saat itu, Winata menertawakan Anita karena kebodohannya, ia bisa kehilangan segalanya. Satu-satunya jalan agar ia selamat dari segala resiko perbuatannya yaitu dipecatnya dari perusahaan Duta Perkasa, maka ia harus mendapatkan persetujuan kembali dari Sigit dengan jalan pengalihan penanggung jawab proyek kerjasama mereka. Sedangkan Anita akan pindah proyek yang lainnya, asal masih dalam perusahaan Duta Perkasa.


Flash back


Winata terdiam setelah kepergian Sigit dan Winda dari ruangan, ia berpikir dampak dari kemarahan Sigit terhadap perusahaan cabang dan juga citra putranya saat ini. Selain sebagai pimpinan diperusahaan cabang, Sigit juga seorang suami yang bisa jadi akan mudah diketahui kelemahannya oleh para kolega-koleganya yang nakal, yaitu dengan mudah menyalah gunakan kelemahannya yang terletak pada Winda. Winata mencari ide agar segera bisa ditangani.


"Bagaimanapun caramu untuk mengganggu hubungan mereka, om pastikan kamu tidak akan bisa menggoyahkan Sigit sedikit pun dari Winda, dan perbuatanmu saat ini sudah fatal akibatnya jika Sigit benar-benar sudah memutuskan kerjasama ini, itu berarti kamu akan dipecat dari perusahaan Duta Perkasa, dan itu sudah pasti kamu juga akan kesulitan diterima kerja di perusahaan manapun jika kamu sudah hengkang dari perusahaan Duta Perkasa. Hati-hatilah jika menghadapi Sigit. Dan... Sigit bisa saja menyeretmu dijalur hukum karena pencemaran nama baiknya."


Winata keluar dari ruangan setelah selesai berbicara dengan Anita, sehingga membuat Anita tertekan dengan kalimatnya Winata.


"Apa yang sudah gue lakukan... kenapa tidak terpikirkan sebelumnya... apa yang dikatakan papinya memang benar. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Gue harus segera bertindak. Gue tidak terima, gue harus bicara dengan Sigit."


Anita terdiam sejenak memikirkan jalan keluar terbaik untuk dirinya sebelum semuanya terjadi. Anita segera menemui Firman selaku manager Sigit yang menanganinya, dan merundingkan kelanjutan kerjasamanya dengan jalan kekeluargaan. Ada satu jalan yang bisa ditempuh Anita menurut Firman jika ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan, yaitu mendapatkan persetujuan pengalihan penanggung jawab, alias pengunduran diri Anita dan digantikan dengan perwakilan lain dari perusahaan Duta Perkasa.


Anita hanya menginginkan reputasinya tidak hancur, agar tidak dipecat dari perusahaan, maka dari itu dengan terpaksa iapun menyetujui saran Firman, ia segera membuat surat pernyataan pengalihan penanggung jawab proyek kerjasama, tentunya setelah mendapatkan persetujuan dari perusahaannya.


Susah payah ia mengurus berkas-berkas pengalihan dengan dibantu dua asistennya dari perusahaan. Ia berjalan menuruni lantai tiga menuju ruangan Sigit dengan gugup, resah, rasa ketakutan menghadapi Sigit sudah terbayang di pelupuk matanya. Perlahan ia memejamkan matanya ketika mengetuk pintu, dua, tiga kali ia mengetuknya namun tidak juga ada jawaban, sehingga terdorong hatinya untuk membuka pintunya perlahan dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan Sigit.


Sementara didalam ruang istirahat Sigit, Winda meminta suaminya untuk menunggunya diruang kerjanya, setelah Sigit mendengar permintaan Winda iapun keluar meninggalkan Winda membetulkan baju dan jilbanya didalam sendirian. Tidak membutuhkan waktu lama Winda melakukan hal seperti itu, iapun beranjak dari lemari setelah bercermin, namun ketika baru saja memutar langkahnya ia mendengar notifikasi masuk kedalam android Sigit yang berada di atas ranjang. perlahan Winda meraih android itu dan berjalan mendekati pintu, namun sekali lagi notifikasi masuk dalam android Sigit membuatnya penasaran, ia membuka pesan dan membacanya.


🎵


Firman.


Bang, atas permintaan dan persetujuan dari perusahaan Duta Perkasa bahwa pengalihan penanggung jawab proyek digantikan oleh pak Haris Setiawan, tolong tanda tangan surat persetujuan yang sudah dibawa Anita diruangan Abang.


🎵


Firman

__ADS_1


Segera tanda tangan!


###


Anita menutup pintu saat Sigit keluar dari ruang istirahatnya sendirian, iapun menutupi rasa gugupnya dengan melampiaskan emosi seakan tidak terima dengan keputusan Sigit digedung lantai tiga beberapa waktu lalu. Namun justru Sigit meledeknya dengan sindiran yang memojokkan dirinya. Anita semakin gugup ketika Sigit berjalan mendekati dirinya yang berdiri didepan sofa dengan mengeluarkan kalimat yang terasa panas ditelinganya.


Anita menatap tajam wajah Sigit didepannya yang begitu dekat dengan dirinya, ia merasa kesal mengatasi permasalahannya yang membuatnya harus memohon belas kasih dari Sigit, malu, gengsi, sebal, berbaur jadi satu dalam pikirannya. Ketika ia mengatur semua rasa itu tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari dalam ruang istirahat Sigit, yang dirasa Anita adalah Winda. Iapun teringat kata-kata Winata jika Sigit tidak akan tertarik dengan wanita lain, itu berarti Winda adalah satu-satunya wanita spesial dalam hati Sigit. Iapun ingin memastikan kebenaran itu sehingga terselip pikirannya untuk menguji Sigit dan bagaimana perasaan Winda jika melihat suaminya hanya berdua sedang memeluk wanita lain didepan mata kepalanya. Entah pikiran apa yang meracuni otaknya untuk menutupi perasaan kacaunya saat itu dengan refleks menarik tangan Sigit ketubuhnya, tarikan tangannya begitu kuat sehingga membuat Sigit hilang keseimbangan yang mengakibatkan tubuhnya terdorong di atas sofa dengan posisi tubuh Sigit menindihnya.


Terkejut, itulah yang dirasakan Anita saat itu, ia benar-benar semakin ketakutan dengan tindakannya barusan.


"Hadeh... bisa hancur berantakan ini... Anita, Anita bener-bener ceroboh kamu." monolog Anita dalam pikirannya sendiri merutuki kecerobohannya.


Tepat saat itulah Winda keluar melihatnya dengan posisi yang tidak pantas, namun Anita segera menutupi ketakutannya dengan memasang senyum seakan menikmati pelukan Sigit. Sengaja Anita tersenyum hanya ingin melihat reaksi Winda, namun yang ia lihat dari wajah Winda ternyata terbalik tidak sesuai perkiraannya, yang ia rasa Winda akan marah-marah dengan mengeluarkan cacian terhadapnya, seperti istri-istri pada umumnya.


Wajah tenang Winda terlihat jelas oleh Anita, seakan tidak terjadi sesuatu didepan mata. Justru Winda memberikan minuman untuk dirinya dengan mengajaknya berbicara secara terus terang sehingga lambat laun membuat Anita simpati dengan Sikap Winda walaupun Sigit sangat kesal terhadapnya, namun Winda mampu meredam emosi suaminya, hingga sampailah pada kesepakatan kerjasama kembali dengan perusahaan Duta Perkasa.


Perdebatan Sigit dan Winda terjadi setelah Anita dipersilahkan keluar oleh Winda, Sigit benar-benar kesal dengan Winda, ia hanya melirik kertas didepannya sekilas.


"Gak Win, abang bilang gak ya gak."


"Tapi bang..."


"Sudah cukup!"


Winda terdiam sesaat melihat Sigit yang sudah menahan emosinya.


Winda menarik napas dalam-dalam lalu dihempaskan diudara pasrah seraya berjalan mendekati meja kerja Sigit, mereka saling berhadapan.


"Oke baiklah, semua terserah Abang... dan... Winda sebagai istri tugasnya patuh pada imamnya, Winda cuma mau ingetin Abang doang jika Abang lupa, Siapa saja yang memudahkan urusan orang lain suatu saat Allah pasti akan memudahkan urusannya." kalimat Winda seraya memegang pundak suaminya. Lalu menyodorkan android Sigit dari tangannya.


Sigit terheran melihat androidnya berada ditangan Winda, ia memperhatikan benda pipih itu memastikan kalau itu adalah miliknya.

__ADS_1


"Bukankah itu Hpku? kenapa bisa dibawa Winda?" Sigit mengerutkan keningnya seraya menatap bola mata Winda. Lalu mengambil hpnya dari tangan Winda.


"Hpnya tadi ketinggalan didalam. Sekarang Abang buka pesan dari pak Firman dulu, setelah itu dikaji ulang berkasnya, dipertimbangkan, lalu ambil keputusan. Winda tunggu di mobil ya bang?" lanjut Winda seraya menepuk tangan suaminya pelan, dan beranjak meninggalkannya.


"Siapa yang suruh menunggu dimobil?!"


suara Sigit menghentikan langkah Winda seketika. Lirikan matanya tajam bagaikan samurai.


"Duduk di sofa. Tunggu abang sampai selesai."


lanjut kalimat Sigit. Tatapan matanya khas Sigit yang dingin pada Winda.


Winda menuruti perintah suaminya duduk menunggunya di sofa. Sementara Sigit fokus pada androidnya dan membaca pesan dari Firman. Sigit membuka map, meneliti berkas yang berada didepannya, ia berdecak dengan lirih dan menyetujui perubahan kontrak itu. Lalu melirik istrinya yang sibuk dengan androidnya.


"Ck, Winda... Winda... dasar ya kamu wanita unik, bikin orang panas dingin aja, Abang sudah menahan marah, malu, takut salah faham lagi kamu. Heeeeem... lagi-lagi kamu memperlihatkan kepribadianmu yang unik, Abang suka gayamu..."


Sigit menyimpan senyumnya dibalik wajah kesalnya melirik Winda, tangannya menautkan tubuh pena dengan tutupnya, setelah itu menutup kembali map yang sudah ia setujui berkasnya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Maaf akak2 semua belum bisa balas komennya satu-satu, yang pasti sudah author baca ya...


tentunya terimakasih atas support nya, saran, kritik, like, komen, hadiah dan votenya...🤩

__ADS_1


Saranghe...💞💞


__ADS_2