Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 159. Di Pusat belanjaan


__ADS_3

Dikeramaian toko souvernir. Banyak pengunjung yang sibuk mencari benda-benda yang diinginkan, tidak jauh berbeda dengan tiga wanita yang berpetualang menjelajah setiap tempat yang menyediakan berbagai macam jenis dan model souvernir. Dari berbagai model kaos, tas, sampai kerajinan tangan lokal mereka sambangi.


"Bagaimana dengan ini? Bagus kan?" Tania memperlihatkan souvernir pilihannya.


"Gak ah norak." Silvi menggeleng.


Tania meletakkan kembali benda ditangannya pada asalnya, lalu meraih benda unik lainnya.


"Kalau yang ini?"


Silvi memperhatikan benda ditangan Tania tampak berpikir sejenak, menimang seraya menggeleng pilihan Tania.


"Hmm... Gak deh Tan."


Tania beralih ke benda yang lain lagi.


"Ini?"


Silvi menggeleng.


"Ini?" Kembali menggeleng.


"Ini?"


Winda memperhatikan Silvi masih kekeh menggeleng kepalanya setelah beberapa kali Tania menawarkan pilihannya, namun seperti tidak punya hati wanita itu masih saja menolak. Entah seperti apa oleh-oleh yang diinginkan Silvi dari ibu kota untuk saudara dan teman-teman kerjanya.


"Masih belum oke sepertinya Tan."


Wajah Tania sedikit ditekuk, terlihat lelah berada di toko souvernir. Pasalnya sudah empat toko souvernir yang mereka kunjungi, namun Silvi belum juga menunjukkan tanda-tanda mengakhiri petualangan disana sehingga membuat Tania kesal.


Seorang pelayan toko masih saja dengan ramah setia membersamai ketiga sahabat yang masih asik memilih itu. Mondar-mandir berjalan dibelakang mereka.


"Kalau yang ini gimana, masih tidak oke juga?" Tania mengangkat sebuah boneka mungil ditangannya sebagai gantungan kunci yang bisa digantung sesuai selera seseorang.


Walaupun sederhana, tetapi tidak buruk juga sebagai oleh-oleh. Setidaknya jika tidak suka dijadikan gantungan kunci bisa juga dijadikan gantungan tas atau hanya sekedar hiasan didalam mobil.

__ADS_1


Silvi meraih boneka mungil yang disodorkan Tania, lalu tersenyum setelah meneliti benda itu.


"Hm, sepertinya oke juga, kita ambil yang banyak." Jawab Silvi menatap Tania sekilas. "Mbak! Saya mau gantungan ini seratus biji ya! dan... pena ini juga!" Seru Silvi mengakhiri petualangan mereka dengan menjatuhkan pilihan apa yang ditunjuk Tania dan pena pilihannya pada pelayan disampingnya.


"Baik mbak, mohon tunggu sebentar diruangan disana ya, biar kami persiapkan pesanan mbak dulu." Suara pelayan itu lembut mempersilahkan ketiga pembeli yang sedari tadi ia kawal ke kursi yang sudah disediakan untuk para pembeli.


" Baiklah, kami tunggu disana." Jawab Silvi seraya menunjuk kursi yang sudah disediakan.


"Ya mbak silahkan."


Ketiga sahabat itu berjalan meninggalkan pelayan toko. Mereka duduk melingkar seraya menikmati minuman dan camilan yang diambil Winda dari rak dan lemari pendingin yang disediakan oleh toko.


Rasa lelah terlihat jelas pada raut wajah Tania dan Winda yang seharian menemani Silvi. Mereka berbelanja memilih bermacam baju dan aksesoris lainnya, lalu berakhir pada toko souvernir.


Seperti biasa jika kaum hawa sudah di pusat perbelanjaan pasti apapun yang mereka lihat sudah pasti akan menjadi sasaran target. Sungguh indah dan menarik.


Barang yang tidak begitu diperlukan mendadak menjadi penting dan harus dibeli jika sudah melihat barang bagus. Walaupun didalam lemari sudah tidak sanggup menampung isi bebannya, namun si pemilik seakan tidak melihatnya, tidak peduli dengan semua itu. Yang penting happy. Entahlah mengapa hal seperti selalu terjadi pada mereka.


"Sorry gue ketoilet dulu ya... Udah gak tahan nih kebelet." Ucap Tania pamit pada kedua sahabatnya.


Cukup lama Tania menahan keinginannya membuang air kecil, ia mengira pelayan toko akan cepat menyelesaikan pesanan Silvi, ternyata tidak. Mungkin karena ramainya pembeli sehingga harus mengantri.


"Tidak." Tania berdiri dari duduknya. "Gampang, nanti tanya dengan pelayan." Tania segera beranjak dari tempatnya dan berlalu meninggalkan Winda dan Silvi.


Dengan tergesa-gesa Tania berjalan menuju ujung gedung, tidak ia hiraukan orang-orang yang lalu lalang disekitarnya yang sedang memperhatikan keanehannya. Hanya rasa tidak nyaman yang bersemayam dalam hatinya. Khawatir jika kebablasan karena sudah diujung tanduk.


Tania terus berjalan, bolak balik melangkahkan kakinya didepan toko-toko menuju tangga darurat. Tania pernah melihat tulisan toilet berada didekat tangga darurat itu, namun ternyata tidak ada.


"Haduhh... Mana sih toiletnya, jauh amat!" Gumam Tania masih berjalan menyusuri pertokoan yang berada didalam mall, tidak sabar ingin segera menemukan kamar khusus untuk buang air.


"Hais, perasaan setiap aku datang ke sini pasti ketemu sama kamar kecil disini deh, tapi kenapa saat ini terasa lenyap tulisan itu, seakan dia takut bertemu dengan ku? hhhh..." Tania mulai gusar. Menghela nafas panjang.


"Maaf mbak, mau tanya. Disini toiletnya dimana ya?"


Tania menghentikan langkahnya saat melihat seorang pelayan yang sedang jaga toko tidak jauh dari tangga darurat.

__ADS_1


"Oh toilet? mbak mencari toilet?" Tania mengangguk. "Toilet ada dilantai dua mbak ini kan lantai tiga. Mbak turun tangga lewat sebelah sini saja dan tepat disamping tangga nanti mbak akan menemukan toilet." Jelas seorang wanita yang menggunakan seragam putih pada Tania.


"Oh... Salah lantai ya mbak saya hehehe... Pantesan dari tadi saya jalan tidak ketemu juga toiletnya. Terimakasih ya mbak." Tania tersipu setelah menyadari kesalahannya.


"Iya mbak sama-sama." Jawab wanita didepan Tania dengan senyuman kecil menahan tawa setelah mengetahui kelakuan Tania yang ternyata sedang menahan hajat.


Kebayang kan, bagaimana tingkahnya seseorang yang sedang menahan hajat ditengah keramaian? Ya betul, gugup, bingung. Itulah yang dirasakan Tania ditengah keramaian pusat perbelanjaan sedang berusaha menahan air seni agar menuruti kata hatinya.


Tania segera berjalan menuruni tangga setelah mendapatkan arahan dari gadis sebayanya, ia tidak ingin menambah resah yang mengganjalnya.


"Hais, sudah kebelet malah salah lagi." Gerutu Tania disela-sela menuruni anak tangga sambil memegang senjata kewanitaannya.


Begitu sampai pada anak tangga yang terakhir, Tania segera membuka pintu dan menyalurkan hajatnya didalam ruangan yang sunyi itu.


❄️❄️❄️


Sementara itu, ditempat yang penuh keramaian. Tampaklah seorang lelaki yang sedang kebingungan memutar otaknya agar sebisa mungkin ia menghindari pertemuannya dengan seseorang yang berada dihadapannya.


"Sorry, saya harus pergi."


Laki-laki itu tidak tahu jika selama ini ternyata ia telah dicari oleh seseorang yang sudah jauh dibuang namanya dalam kenangan mereka selama ini.


"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara!" suara lawan bicara lelaki terdengar ditelinga nya, berusaha menghentikan niatnya.


Ditengah rasa gundah lelaki itu yang berusaha agar secepatnya bisa mengelak dari seseorang yang berada dihadapannya saat ini. Secara tidak sengaja ia mendapatkan sesosok bayangan yang dikenalinya sedang memasuki toilet dengan tergesa-gesa sambil memegang anggota tubuhnya tertentu.


Bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru, dengan tiba-tiba laki-laki itu mendapat ide cemerlang, ia tersenyum menatap pintu toilet yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar bisa terhindar dari petaka di depanku saat ini." batin laki-laki itu dengan sorot mata yang berbinar.


"Sorry, saya benar-benar tidak bisa. Saya harus segera menjemput seseorang."


laki-laki itu berjalan meninggalkan wanita dihadapannya.


Bersambung 🤗🤗🤗

__ADS_1


Jangan lupa dukunganya ya... 😊


Sarangheo💞💞💞💞


__ADS_2