Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 58


__ADS_3

Sesuai janjinya dengan dokter Tama dua minggu yang lalu Sigit mengajak Winda kontrol sesuai jadwal yang sudah ditentukan, cukup lama mereka berada dalam ruangan dokter Tama membicarakan kesehatan Winda selama dua minggu terakhir, bahkan sampai mimpi-mimpi Winda yang ternyata memang nyata adanya, dokter Tama pun terheran mendengarnya.


Setelah selesai memeriksa dan memberikan saran terbaik untuk Winda, dokter Tama memberikan resep obat pada Sigit, Sigit segera pamit dan menebus obat di bagian farmasi, setelah mendapatkan obatnya mereka menuju parkiran segera berangkat ke kantor.


"Sudah siap?"


"Hm, sudah. Abang nganterin ke kantor Winda dulu kan?"


Winda duduk di samping Sigit dengan melihat suaminya yang memasukkan gawainya didalam jas hitamnya ketika dirinya memasuki mobil, tangan Winda memegang grandel mobil lalu menutup pintunya.


Sigit hanya membalas tatapan mata Winda sekilas lalu mengalihkan pandangannya kesamping melihat jarak mobil yang parkir di samping kanan kirinya melalui kaca spion mobilnya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit berbaur dengan kendaraan yang memadati jalanan ibukota.


Sepanjang perjalanan menuju kantor mereka banyak diam. Pandangan Winda terpaku pada gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.


Winda menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil menghela nafas yang panjang.


Sigit melirik istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, dia yakin jika istrinya masih mengingat pesan dari dokter Tama ketika kontrol tadi.


Dimana dokter Tama menyarankan agar Winda lebih baik mengurangi aktifitas bekerja dan lebih banyak istirahat terlebih dulu mengingat keadaannya yang baru sembuh, walaupun secara kasat mata tubuhnya fit namun tidak tahu jika sebenarnya psikisnya akan mudah terguncang jika ada salah satu peristiwa yang terjadi tanpa sengaja sehingga dapat memicu stress berlebihan baginya.


Saran dokter Tama itulah yang membuat Sigit tidak ingin sesuatu yang buruk akan menimpa istrinya lagi jika Winda tidak mengindahkan saran dokter Tama, dia benar-benar ingin istrinya baik-baik saja dan tetap berada disampingnya. Namun berbeda dengan Winda yang tidak mau berhenti bekerja dengan alasan dia sudah senang dan nyaman selama bekerja di perusahaan WP walaupun di cabangnya, Winda juga sempat berdebat dengan Sigit diruang dokter Tama ketika suster memanggil dokter Tama ke ruang UGD karena ada pasien yang baru datang.


Winda merasa tidak ada tekanan jika tetap bekerja, justru dia akan merasa kesepian dan jenuh jika harus di rumah saja tanpa ada kegiatan, dia membayangkan jadi ibu rumah tangga saja di rumah terlebih di rumah mami, pasti akan lebih membosankan mengingat semua pekerjaan sudah ada yang bertanggung jawab, ada mbok Lastri, Ningsih, Riyan, pak Zein, semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan mereka.


"Sayang..." panggil Sigit pada Winda yang masih terdiam ketika mobil sudah berada di parkiran kantor cabang WP.


"Winda..."


"Hm?"


"Tidak turun? sudah sampai di kantor, tuh..."


Sigit menunjuk ke arah kantor ketika Winda tersadar dari lamunannya, Winda melihat jari Sigit yang menunjuk tempat kerjanya sudah didepannya.


"Hm. Kalau begitu aku turun dulu, nanti sore abang tidak usah jemput Winda, biar Winda naik taksi online saja." ucap Winda masih dengan nada kesal.


Sigit mengangkat sebelah alisnya melihat tingkah Winda yang masih marah dengannya sedari rumah sakit.


"Hm, baiklah." jawab Sigit.


Winda memutar tubuhnya membelakangi suaminya, tangannya meraih pintu, namun suara Sigit menghentikannya.


"Biasanya selalu cium tangan Abang dulu, kenapa sekarang tidak?"


"Hm? benarkah?" tanya Winda sambil memutar tubuhnya menghadap suaminya lagi, Sigit hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Makan siang dulu yuk, sebentar lagi kan jam istirahat." ucap Sigit ketika Winda mengulurkan tangan padanya.


Winda melihat jam yang menggelayut di tangannya sudah pukul setengah dua belas.


"Tidak usah bang, biar aku makan di kantin saja, Abang juga katanya mau ada rapat jam satu kan?"


"Hm, baiklah kalau begitu."

__ADS_1


"Assalamualaikum." Winda mencium punggung tangan Sigit mengahiri percakapannya kemudian membuka pintu meninggalkan mobil Sigit.


"Waalaikumsalam."


Sigit hanya tersenyum setelah kepergian Winda, dia menertawakan istrinya yang masih belum mengetahui tempatnya bekerja yang satu kantor dengannya.


"Winda, Winda... atasanmu saja kamu lupa, dan selama sepuluh hari aku tinggal di Bandung kemarin kamu masih belum mengetahuinya juga hhhhhh....." lirih Sigit kemudian keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki kantor.


❄️❄️❄️


Winda sudah menyelesaikan shalat dzuhur setelah menaruh tas diatas mejanya, dia kini berada di kantin sedang makan siang bersama Dian, viona, Riri, dan Nagita.


Sejak baru datang di kantin hingga pesanan mereka habis tak henti-hentinya mereka membicarakan atasan mereka yang merupakan putra dari pemilik perusahaan WP yang tampan, kaya, dingin, cuek, disiplin.


Winda hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka karena merasa belum mengenalnya, dia merasa mengenal nama yang sering diucapkan teman-temannya yang disebut-sebut sebagai pak bos, namun Winda segera menepis dugaannya karena setaunya Sigit suaminya bekerja di kantor pengadilan.


"Eh tau tidak, tadi gue sama Riri ketika keluar dari toilet papasan sama pak bos, wajahnya terlihat berseri, berbunga-bunga gitu..." Viona memberi tau teman kerjanya tentang bosnya.


"Iya bener kata Vio, aura orang yang jatuh cinta gitu..." sahut Riri menambahi ucapan Vio.


"Secara kebiasaannya kan pak bos orangnya dingin, apalagi kalau ada nenek lampir Anita hmmmmm... bener-bener tega gue, pengen rasanya gue cakar-cakar tuh muka tak tau malu itu." ucap Riri berapi-api ketika menyebut nama Anita, wanita genit yang selalu mengejar bosnya dengan tidak punya rasa malu bila sudah bertemu bos mereka.


"Emang lu apanya pak bos Ri?" celetuk Nagita menyadarkan Riri.


"Gaya aja belagu, kenyataannya babu..."


"Ha ha ha..." gelak tawa Viona dan Nagita menertawakan Riri yang cemberut.


"Sudah, sudah tidak usah diributkan masalah pak bos, lagi pula percuma. Kata pak Firman pak bos sudah menikah." suara Dian menengahi para junior-juniornya yang masih saja membahas bosnya yang memiliki wajah tampan dan tubuh atletis, sehingga pantas jika jadi rebutan para kaum hawa.


"Ha?? menikah???" suara ketiganya serempak seperti paduan suara terkejut matanya terbelalak saat mendengar perkataan Dian.


Dian mengangguk memperhatikan mereka satu persatu yang benar-benar seperti tersambar petir disiang hari, terkejut dan kecewa. Itulah yang seakan-akan mereka rasakan. Lalu pandangannya beralih pada Winda yang tersenyum melihat raut wajah ketiga temannya.


"Iya benar beliau pak bos memang sudah menikah, kenapa? kecewa? karena sudah ada yang punya begitu?" jelas Dian menegaskan jawabannya.


Riri mencep menarik bibirnya kekiri mendengar perkataan Dian sambil meliriknya.


"Gak juga si mbak Dian, lagi pula gue juga gak suka kalau sama nenek lampir itu, ya... paling tidak..."


"Sama lu gitu maksudnya?"


Belum sempat Riri menyelesaikan perkataannya sudah disahut oleh Nagita yang dijawab Riri dengan senyum-senyum tersipu malu.


"Ye... dasar tak tau diri lu ya." sela Vio sambil menjitak kepala Riri.


"Bener-bener sudah gila." sahut Nagita.


"Apa? lu bilang gue gila?" ucap Riri.


"Iya emang, gila hayalan." suara Nagita dan Vio serempak.


"Ha ha ha ha..."

__ADS_1


"Yeee... sirik!" sungut Riri menjawab kedua sabatnya


Dian geleng-geleng kepala melihat ketiganya, dia mengalihkan pandangannya pada Winda yang tersenyum terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.


"Sudah tidak usah perhatikan mereka Win." ucap Dian membiarkan ketiga juniornya yang semakin seru saling mengejek.


Winda menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Dian.


"O iya Win, file yang saya kirim tadi malam sudah kamu pelajari?" tanya Dian yang baru teringat pesan pak Firman.


"Sudah mbak, kenapa?"


"Syukur deh, tadi pak Firman memberitahuku kalau nanti siang aku ada tugas menyampaikan berkas ke pusat jadi kamu yang menggantikan aku mengikuti rapat nanti jam satu diruang rapat." Dian melihat Winda yang terbengong mendengar penjelasan darinya.


"Kenapa harus saya mbak?"


"Ya... sekalian aku ada kepentingan sebentar diluar, gak papa ya? lagi pula kamu kan memang sudah sepaket sama aku dari dulu Win, ketika pertama kali kamu kerja disini sampai hari ini. Entah kenapa juga sampai pak bos memindahkan kita satu ruangan sama beliau, nasib baik selalu berpihak padamu. Mungkin Tuhan sangat menyayangimu." jelas Dian pada sahabatnya.


Winda melihat Dian yang berdiri dari duduknya sambil melihat jam tangannya lalu tersenyum dan menepuk pundaknya.


"Sudah aku pamit dulu siap-siap mau berangkat, dua puluh menit lagi sudah jam satu, sebentar lagi rapat juga dimulai, aku bersyukur semalem sudah memberikan file itu padamu, kalau ada tugas mendadak seperti ini sudah ada yang siap menggantikan posisiku he he coba kalau tidak, hmmm pasti sudah pusing aku Win he he... terimakasih ya..." ucap Dian.


Winda tersenyum dan mengangguk pada Dian yang mengingatkan waktu rapat padanya.


"Hm, sama-sama mbak, saya juga terima kasih sudah dibimbing sejauh ini."


"Apaan sih, ini berkasnya, jangan lupa nanti dibawa dan jangan sampai kena air."


"Iya."


"Hai trio cerewet mbak cabut dulu ya..."


"Iya mbak."


"Saya juga duluan ya mau ke ruang rapat sekarang."


"Iya."


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Ayo dukung babang supaya kuat menghadapi Winda di part selanjutnya.😉


love you akak2ku ❤️


saranghe.💞💞

__ADS_1


__ADS_2