Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 86


__ADS_3

Sigit mondar mandir berjalan ditaman belakang rumah, ia tidak bisa berfikir jernih. Rasa kesal, geram, marah campur aduk jadi satu dalam pikirannya. Entah apa yang membuat sikap Revan yang ia rasa sudah tidak care lagi dengannya sehingga membuat dirinya semakin penasaran.


Sudah satu minggu Revan tidak pulang ke rumah dengan pergi begitu saja tanpa izin mau kemana.


Sigit sangat menghawatirkan adiknya, apalagi jika melihat istrinya yang sering termenung, sangat mencemaskan keadaan Revan yang tiba-tiba saja pergi. Winda takut terjadi sesuatu pada adik iparnya itu.


Sigit menghampiri Winda yang duduk di kursi taman, ia mendekatkan kursinya pada Winda dan duduk berhadapan. Sigit memandang wajah Winda.


"Sudahlah, kamu jangan terlalu mikirin Revan yang macam-macam, dia pasti baik-baik saja, yakinlah. Justru yang harus kamu perhatikan adalah kehamilanmu saat ini." kalimat Sigit pada Winda seraya memegang perutnya yang sudah terlihat sedikit membuncit. "Dia akan merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu pikirkan." Sigit menatap manik hitam didepannya yang sebentar lagi akan tumpah air matanya. "Karena dia satu batin dengan mamanya semasa didalam kandungan, maka dari itu tenangkanlah pikiranmu, toh Revan juga sudah besar. Lagi pula om Gunawan sudah menyuruh anak buahnya untuk segera mencari keberadaannya dimana sekarang."


Winda menganggukkan kepalanya pada Sigit sambil memegang perutnya, lalu mengelusnya.


Senyum kecil Winda terlihat saat ia merasakan gerakan yang datang dari dalam perutnya, gerakan janin dalam perutnya merespon gerakan tangannya yang mengelusnya perlahan. Ia menyadari dari perkataan suaminya barusan, jika janin didalam perutnya akan ikut merasakan apa yang dia rasakan.


"Kenapa?" tanya Sigit heran melihat istrinya yang tersenyum.


Winda meraih tangan Sigit dengan tersenyum dan meletakkan kembali diperutnya agar merasakan gerakan anaknya. Sigit terkejut begitu merasakan gerakan janin dalam kandungan istrinya semakin kuat dibanding bulan kemarin.


"Sakit?" tanya Sigit menatap manik istrinya penuh iba. Winda menggeleng.


"Tidak."


"Gerakannya kuat banget sayang."


"Hm."


"Seperti papanya tadi malam." Sigit membisikkan kalimatnya lirih didepan wajah Winda seraya tersenyum menggoda Winda.


Cupp.


Sigit mengecoh pandangan Winda dengan mencium bibir tipis didepannya dengan cepat, membuat Winda terkejut membelalakkan matanya dengan sempurna, tangannya reflek memukul kecil lengan kekar suaminya.


"Abang iih... Malu tau... ada Ningsih dan pak Zain tuh..." ucap Winda kesal ketika mendapati Ningsih berjalan mendekati meja mereka.


"Bodo amat, istri, istriku sendiri juga. Ngapain malu." jawab Sigit bersikap biasa tanpa dosa seraya membenarkan kerah lehernya walaupun ada dua orang yang disebut Winda sudah didekat mereka.


"Ehem, ehem..."


Ningsih berdehem dengan senyum-senyum sendiri sambil melirik sepasang pangeran dan tuan putri didepannya, ia melihat Winda yang terlihat tidak nyaman setelah ketahuan olehnya dan pak Zain yang akan menyiram tanaman.


"Mbak Winda, kalau mas Sigit masih kurang pemanasan olahraganya jangan mau ditaman lagi ya, soalnya disini ada anak dibawah umur. Kasihan." kalimat Ningsih menggoda Winda lalu meletakkan menu sarapan mereka diatas meja.


Winda mengangkat kedua alisnya dan mengedikkan pundaknya menanggapi ucapan Ningsih.


Sedangkan Sigit mengalihkan pandangannya kearah kolam renang yang silau karena sinar mentari pagi yang menyorot air didalam kolam.

__ADS_1


"Ck, suruh siapa coba pagi-pagi kelayapan ditaman." celetuk Sigit tanpa melihat kearah Ningsih.


Ningsih hanya menyebikkan bibirnya dengan sebelah alisnya terangkat berlalu meninggalkan mereka berdua setelah selesai meletakkan sarapan untuk mereka.


"Yah... begitulah kalau orang yang lagi kasmaran." gerutu Ningsih setelah membalikkan badannya menuju kedalam rumah.


❄️❄️❄️


Ditempat yang berbeda.


"Sudah cukup informasi yang aku butuhkan." ucap seorang pemuda pada bawahannya yang baru saja memberikan berita padanya.


"Sekarang keluarlah dari disini. Dan... berhati-hatilah setiap bergerak, karena orang-orang mereka sangat banyak." pesan pemuda itu.


"Baiklah, akan saya dengar pesan anda, dan saya izin undur diri."


Seorang bawahan pemuda itupun menunduk sebagai rasa hormatnya pada tuannya dan berlalu meninggalkan pemuda itu didalam apartemennya setelah atasannya mengizinkan dirinya keluar.


Seorang pemuda yang berada didalam apartemennya kini tersenyum puas setelah mendengar kabar bahwa laki-laki yang menghancurkan keluarganya terbaring dirumah sakit sudah beberapa hari ini belum sadarkan diri beserta istrinya. Ditambah lagi dengan kabar perginya putra bungsu laki-laki tua itu sudah beberapa hari ini telah meninggalkan rumah bak istana raja, hatinya puas membayangkan kehancuran keluarga Winata sudah didepan mata.


"Anda sebenarnya orang yang baik Winata, tetapi... kebaikan anda telah membuat anda serakah."


Pemuda itu berjalan disebuah laci didekat lemari besar. Ia membuka laci itu dan mengambil sebuah foto didalamnya. Lalu menatap wajah wanita dalam foto tersebut.


"Lalu... penderitaan yang ibu alami hingga merenggut nyawa ibu sendiri saat itu, apa sama sekali tidak pernah ibu pikirkan sebelumnya?" pemuda itu mengusap air matanya yang menetes dikaca foto ibunya.


"Lalu... nasib Revan saat ini yang kacau saat mengetahui statusnya didalam keluarga Winata pasti dia dalam frustasi Bu... karena itu aku ingin memberitahunya tentang kebenaran yang telah disimpan keluarga Winata kepadanya selama ini, agar dia tahu... agar dia tahu bahwa dia adalah putra dari ibu, putra dari perempuan baik-baik yang selalu diam dengan keputusan suaminya tidak mempertemukan ibu dengan Tante Lia. Tetapi ternyata keputusanku yang telah mengirimkan surat-surat itu kepadanya kemungkinan ia ketahui ketika Winata dan Tante Lia kecelakaan." Pemuda itu terdiam sejenak masih menatap foto itu.


"Sumpah Bu, aku tidak tau kalau mereka kecelakaan waktu itu, sebenci-bencinya aku kepadanya aku tidak akan tega mencelakakan laki-laki yang sangat engkau hormati Bu, aku cuma ingin agar mereka juga merasakan hancurnya hatiku saat merasakan keluargaku hancur karena laki-laki itu."


pemuda itu meletakkan kembali foto ibunya didalam laci.


"Sekarang ibu tidak usah kuatir, tenanglah dalam surganya Allah, biar Revan aku yang jaga, karena bagaimanapun juga aku adalah kakaknya Bu."


Pemuda itu menutup laci itu dan menautkan kedua tangannya dikeningnya dengan kepala tertunduk. Ia terdiam beberapa saat teringat masa kecilnya disebuah tempat terpencil jauh dari perkotaan, dimana tempat tinggalnya dulu yang terasa begitu tentram.


Hatinya saat ini bagaikan tanah liat yang basah, lunak bisa dibentuk apapun sesuai keinginan pengrajin gerabah. Begitulah hati seorang Renaldi jika menyangkut wanita yang sangat ia sayangi. Seketika ia teringat sahabat-sahabat masa kecilnya.


###


"Tenang Zam, pulang sekolah nanti kita bisa menyelesaikan tugas ini dirumah."


katanya menghibur sahabatnya ketika belum selesai mengerjakan tugas kerajinan disekolah mereka.


"Hm, tentu. Kamu juga jangan sampai tidak datang ya?"

__ADS_1


"Beres, yang penting ada kuenya di taman belakang."


"Ha ha ha." suara tawa mereka terdengar riang.


###


Renaldi menghapus air matanya setelah tersungging senyuman mengingat Azam sahabatnya. Hingga ia teringat tragedi memilukan setelah ia berada dalam kekalutan dalam rumah tangga orang tuanya setelah ayahnya meninggal dunia.


Bertambah hancur, sedih dan pilu lagi hatinya ketika mendengar sahabatnya Azam telah pergi untuk selamanya karena penyakit kanker yang dideritanya selama ini tanpa ia ketahui sebelumnya. Ia berlari menuju rumah sahabatnya yang sudah di padati penduduk sekitarnya, lalu ia memasuki rumah itu, baru saja ia memasuki ruang tamu kedua bola matanya menatap sosok seorang pemuda kecil yang sudah terbujur tertutup kain kafan.


Ia berjalan mendekati bocah perempuan kecil yang menangis ditengah kerumunan itu.


"Bidadari kecil dengarkan mas Aldi, jangan bersedih. Jangan merasa sendiri lagi ya... ada mas yang akan selalu menjagamu." ucapnya menenangkan Winda kecil disaat menangisi laki-laki yang membujur tertutup kafan ditengah kerumunan para tamu. Ia menggendong Winda kecil ke taman belakang rumahnya, menghibur bocah perempuan yang benar-benar terpukul dengan kepergian laki-laki itu.


"Sekarang... mas Aldi adalah kakakmu, jadi... mas akan bersamamu." Ia mendudukkan Winda diatas kursi taman, sedangkan ia duduk berjongkok dibawah kursi yang diduduki Winda.


Tangan Renaldi menyibakkan rambut panjang Winda yang tersapu angin diwajahnya, dan menyelipkan anak rambutnya dibelakang telinga. Lalu menghapus air mata dipipi Winda.


"Nanti kalau Bidadari kecil mas Aldi ini sudah besar, jadilah Winda besar yang kuat, tidak rapuh dan tidak mudah cengeng. Jadilah wanita hebat." Pesannya ketika melihat Winda sudah tenang dari Isak tangisnya.


###


"Maafkan aku sahabatku, aku tidak tau dimana bidadari kecilku itu berada sekarang, bapak dan ibu telah pindah ke daerah lain yang tidak aku ketahui. Akan tetapi... aku akan berusaha mencarinya dan menjaganya untukmu sahabatku. Doaku semoga dia dalam lindungan Allah dengan hidup ditengah-tengah orang-orang yang baik."


Renaldi membuka laci meja dibawah laci tempat ia menyimpan foto ibunya, ia mengambil sebuah gantungan kunci yang berbentuk bintang didalam bola kristal yang terdapat serbuk glister berwarna keperakan. Ia menemukan gantungan kunci itu dari sebuah laci meja belajar milik bidadari kecilnya, lalu mengambilnya dan ia simpan hingga sekarang. Terkadang jika ia sedang merindukan sahabat masa kecilnya ia mengambil gantungan kunci itu lalu memandang dan menggenggamnya hingga ia tertidur.


.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Hai kak Kangen nih author dengan akak2 yang kece badai ❤️❤️


maaf ya author baru sempat up.


Ayo semangatnya untuk author mana lagi nih...


Saranghe 💞💞

__ADS_1


__ADS_2