Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 128


__ADS_3

Setelah kepergian Bu Iroh yang pamit pada mereka berdua untuk keluar sebentar beberapa saat lalu, Renaldi membantu Winda berjalan kedepan rumah lalu mengekor dibelakangnya.


Ia berjalan dibelakang Winda dengan menautkan tangan kanan ke tangan kirinya dibelakang sembari mendengarkan cerita Winda.


Winda semangat menceritakan kisah perjalanan mulai awal penculikan hingga penyekapan dirinya oleh komplotan penjahat yang sama sekali tidak ia ketahui siapa mereka.


Flashback on.


Malam itu, ketika Winda sudah mencoba meyakinkan Leo, bawahan Rendi yang sudah mulai mempercayainya saat Winda meminta melepaskan ikatan tali ditubuhnya, tidak berselang lama saat tengah malam ketua komplotan yang bernama Rendi datang kembali dengan wajah panik dan menyuruh Leo membawanya masuk kedalam mobil pindah ketempat yang sudah direncanakan.


Rendi mendapat kabar dari atasannya jika Sigit sudah mulai bergerak menyebar anak buahnya dan mencium pergerakan mereka. Jika mereka tidak bergerak cepat tentu saja pekerjaan mereka akan sia-sia.


Nelson, seorang pengusaha besar yang pernah merasakan sakitnya jeruji penjara karena seseorang yang sangat lihai dan cerdik mencari alat bukti kecurangannya hingga dengan semudah membalikkan telapak tangan ia mendekam dalam penjara.


Hancur.


Dendam dan sakit hati ia rasakan saat itu, hingga semua aset perusahaan disita tidak ada yang tersisa. Ia pun berusaha bangkit kembali menata kesuksesan dari bawah. Untuk Nelson mencoba berdiri lagi tidaklah sulit mengingat bantuan dari teman sejawatnya sangat banyak.


Winda mengikuti setiap perkataan Leo, dia tidak mau menyulitkan dirinya dengan diikat tali lagi. Selama didalam mobil Winda selalu berdoa meminta perlindungan dan pertolongan Allah. sesekali ia melongokkan kepalanya kesisi jalan yang terlihat sepi jauh dari keramaian, tepatnya di daerah polosok. Ia memejamkan matanya, gusar dan panik karena menahan sedih atau menahan rasa takut, entahlah.


Pagi hari mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat disebuah perumahan sederhana seperti rumah penduduk biasa di pedalaman pedesaan yang jarak antara rumah satu dengan yang lain sangat jauuuuh sekali.


"Tetaplah menjadi wanita yang baik selama berada dalam pengawasan ku." ucap Leo lirih seraya meliriknya sinis.


Winda terdiam menatap Leo tidak berkata sepatah katapun. Kemudian berjalan mengikuti langkah Leo dengan dikawal beberapa anak buah Leo.


Dua hari semalam ia berada didalam ruangan yang sangat ketat penjagaannya namun ia tetap saja bisa melakukan apa saja yang ia inginkan didalam ruangan itu. Hingga pada malam kedua saat ia beranjak tidur diatas ranjang terdengar semua anak buah Leo bersorak gembira tertawa sangat keras dengan diselingi suara dentingan botol dan gelas secara bergantian sebagai tanda bahwa mereka sedang begadang dengan minum-minuman yang memabukkan sampai larut malam menjelang pagi.


Winda yang awalnya memaksakan dirinya segera tidur lebih awal ahirnya ia bangun lagi, kemudian menempelkan kedua telinganya di daun pintu. Suara gaduh yang diselingi dengan dentingan botol dan gelas sudah tidak terdengar lagi, hanya suara racauan yang tidak jelas terdengar dari dalam ruangan Winda lalu hening, sunyi tiada suara lagi.


Perlahan ia memberanikan diri memutar gagang pintu kamarnya berharap para komplotan penculik itu lupa menguncinya.


Dengan sangat hati-hati ia memutarnya dan...

__ADS_1


Klik.


Akhirnya harapannya terpenuhi, ia segera membuka pintu dan berjalan sangat pelan mengendap-endap meneliti keadaan didepan pintu keluar. Ia melihat semua penghuni tumbang tergeletak dengan botol minuman berserakan disekitar mereka.


Winda melihat beberapa kunci tergeletak begitu saja diatas meja didepan pintu. Ia tidak mau membuang kesempatan saat ini. Dengan cepat ia menyambar kunci itu kemudian memasukkan kunci ditangannya satu persatu dan memutarnya mencari kunci yang tepat.


Klik klik.


Akhirnya kunci pintu ia dapatkan dan berhasil membuka pintu dengan mudah tanpa beradu mulut bahkan beradu otot sekali pun.


Winda segera berlari melintasi jalanan yang berkelok penuh pepohonan dalam remang disela-sela sahutan ayam berkokok dari kejauhan.


Entah keberanian dari mana ia terus berjalan menyusuri jalanan sepi seorang diri. Sesekali ia menoleh kebelakang khawatir komplotan penculik itu segera menyadari keberadaannya yang telah menghilang dari penyekapan mereka maka besar kemungkinan dia akan disiksa semakin berat, tiada ampun lagi baginya.


Dia terus berjalan dan berjalan tidak kenal lelah, hawa dingin menusuk ulu hatinya tidak ia hiraukan, justru keringat yang bercucuran menetes ditubuhnya.


Sejauh ia berjalan tidak ada seorang pun dan kendaraan satupun yang melintas saat ia menyusuri jalanan itu, dalam benaknya ia sangat bersyukur bisa bebas dari komplotan penculik itu dan segera meminta bantuan.


Tubuhnya kian lemas dan lelah, rasa haus dan lapar telah menguras tenaganya, tanpa ia sadari mulutnya meracau meminta tolong.


"Tolong... tolong saya..."


-------------------------------------------------------------------------


Flashback off


"Kamu sama sekali tidak mengenal seorang pun dari mereka?" tanya Renaldi.


Winda menggeleng kemudian mensejajarkan langkahnya pada laki-laki disampingnya.


"Tidak. Aku tidak mengenalnya." menghentikan langkahnya dan menatap wajah Renaldi. "Aku hanya sempat mendengar nama Nelson. Nama yang disebut sebagai bos saat mereka meracau."


Winda menemukan keteduhan dalam manik hitam Renaldi saat ia menatapnya.

__ADS_1


"Sepertinya dia orang yang baik bukanlah orang jahat seperti yang dikatakan Abang. Nyatanya dia mau menolongku dan membawaku kesini. Malah kata Bu Iroh, dia membopong tubuhku dari tempat yang cukup jauh untuk sampai ke sini. Dia sangat mencemaskan keadaan ku yang lemah kemarin." batin Winda, mereka beradu pandang saling menatap bola mata mereka terdiam sejenak.


"Kenapa menatapku seperti itu?" ucap Renaldi membuyarkan Winda. "Jangan salah paham dengan sikapku sekarang, semua ini aku lakukan tidak lain hanya karena aku menginginkan jabatan dan harta dari mertuamu si tua itu." jawab Renaldi, wajahnya berubah sinis seketika. "Dan menarik simpati suamimu tentunya."


Winda tersenyum melihat wajah laki-laki tinggi didepannya, kemudian mengalihkan pandangannya disekitarnya.


"Hm, aku tahu."


"Aku pernah mendengar kata bijak seperti ini." Winda menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. "Jika hatimu banyak merasakan sakit, maka belajarlah dari rasa sakit itu untuk tidak memberikan rasa sakit kepada orang lain. Carilah cinta Tuhan, cinta Allah yang sudah pasti menenangkan kalbu, maka niscaya cinta yang lain akan berdatangan menemuimu."


Winda memetik selembar daun dari tangkainya lalu mengangkatnya sejajar dengan pipinya.


"Daun kecil memang tidak sanggup menutupi bumi, namun bila menempel di mata, maka tertutuplah bumi. Jika sebuah pikiran negatif menempel di hati, maka semua kebaikan tidak akan tampak."


Winda menatap semakin dalam raut wajah Renaldi yang seakan terlihat sedang menepis kebenaran dalam keadaan yang sebenarnya.


"Itulah manusia. Maka dari itu aku sangat berharap ada segumpal daging didalam dada seseorang, yaitu hati. Yang dapat mengalahkan sebuah keegoisan yang sudah memperdaya dirinya selama ini." lanjutnya.


"Sudahlah lanjutkan saja jalan-jalannya atau kalau tidak ayo segera masuk saja." kalimat Renaldi mengalihkan tema pembicaraan.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


Ayo kak semangat mendukung cerita ini dengan memberikan vote, koin kalau ridho 🤭, hadiah, like and komennya.


Terimakasih 🙏🌹🌹


Saranghe 💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2