Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 72


__ADS_3

Sigit terbangun dari tidurnya, ia mengangkat tangannya yang masih memeluk tubuh hangat Winda. Ia memeriksa kembali suhu tubuh Winda dengan meletakkan telapak tangannya didahi Winda yang sudah tidak terasa panas lagi, wajah ayu didepannya terlihat sudah tidak sepucat tadi malam, itu berarti kondisinya sudah membaik. Perlahan Sigit menggeser duduknya ketepi ranjang agar tidak membangunkan Winda yang masih terlelap, tangannya meraih android disampingnya yang sudah menunjukkan angka lima pagi.


"Masya Allah... aku ketiduran..." ucapnya lirih seraya melihat istrinya.


"Pantesan kamu tidur terus selama didalam mobil Win setelah kita berhenti dimasjid tadi malam... ternyata kamu sakit. Maafkan Abang tidak mengetahuinya." Sigit bergumam setelah mengingat Winda yang tertidur selama perjalanan. Ia membelai rambut istrinya pelan, netranya menatap lekat wajah yang selalu ingin ia lihat setiap bangun tidur.


Sigit meletakkan kembali benda pipih itu diatas nakas dan bergegas menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya yang semalam tidak sempat mandi.


Tidak begitu lama didalam kamar mandi, Sigit sudah keluar dengan tubuh lebih segar dari sebelumnya. Selembar handuk putih melilit tubuh atletisnya dengan telanjang dada, tangannya mengusapkan handuk kecil di rambutnya yang basah mengalirkan tetesan bening sisa-sisa mandinya.


Ia berjalan menyeret kopernya yang masih utuh belum terjamah semalam, lalu membukanya mencari baju yang tersusun rapi didalamnya. Ia memilih kaos kasual yang di padu dengan celana panjang warna hitam untuk ia kenakan.


Sigit berjalan mendekati ranjang membangunkan Winda, ia menggerakkan pundak Winda perlahan dengan menyebut namanya lirih.


"Win... bangun... shalat subuh yuk."


"Hm..."


Winda membuka matanya perlahan, ia menolehkan kepalanya pada Sigit, dan mengalihkan pandangan disekitarnya. Alangkah terkejutnya ia sudah berada didalam ruangan yang sangat luas, yang tidak lain adalah didalam kamar hotel yang sudah dipesan suaminya kemarin, yang seharusnya mereka sampai disini kemarin sore ternyata mereka masih berada dikantor cabang. Ia tidak mengetahui kapan mereka sampai di hotel ini, yang pasti dia sudah berada diatas ranjang saat ia bangun, karena Sigitlah satu-satunya orang yang sudah membopong tubuhnya setelah mengingat dirinya tertidur selama perjalanan.


"Maafkan Winda yang tertidur selama perjalanan tidak menemani Abang mengemudi semalam, dan... tentunya Abang juga yang sudah mengangkat Winda sampai disini."


Winda bangun dan duduk di atas ranjang, ia memperhatikan wajah Sigit sudah segar, rambutnya terlihat masih basah menandakan dirinya baru selesai mandi.


"Hm, tidak mengapa, sekarang kamu bangun ambil air wudhu dulu sana." jawab Sigit seraya berdiri.


"Abang sudah mandi?"


"Hm. Semalam Abang ketiduran. Jadi tidak sempat mandi."


Winda tidak mengingat semalam dirinya demam hingga mengigau. Ia menyibakkan selimutnya, beranjak dari ranjang berjalan menuju kamar mandi.


❄️❄️❄️


Suasana pagi ini terasa begitu dingin menyusup ditulang rusuknya, Winda kembali menenggelamkan tubuhnya didalam selimut putih diatas ranjang setelah melaksanakan shalat subuh bersama Sigit, hingga jam delapan pagi ia masih bergelung didalam selimut. Entah mengapa pagi ini ia merasa sangat lemas, mulutnya terasa pahit, dan kepalanya terasa sedikit berat, rasanya hanya ingin tidur-tiduran.


Winda membuka matanya ketika Sigit masuk dengan menenteng kantong plastik warna putih ditangannya yang diikuti pelayan hotel dibelakangnya membawa nampan berisi dua piring sarapan, beberapa lembar roti bakar, segelas susu dan segelas jus segar.


Pelayan cantik itu meletakkan nampan diatas meja dan mempersilahkan Winda untuk menikmatinya lalu pamit keluar dari kamarnya.


Winda mengalihkan pandangannya pada Sigit setelah kepergian pelayan hotel itu. Ia duduk menyenderkan punggungnya dikepala ranjang.


"Abang..."


Winda memanggil Sigit, tiba-tiba perutnya merasa mual seakan diaduk, kepalanya terasa pusing.


"Win? kamu kenapa?"


"Aku masuk angin deh bang kayaknya..."

__ADS_1


"Kamu dari kemarin belum makan kan?"


"Hm. Gak enak makanannya."


"Alasan aja kamu."


Sigit menjawab alibinya Winda dengan membawa sarapannya didekat Winda.


"Sudah makan sekarang, Abang suapin."


Sigit meletakkan nampan disisi Winda diatas ranjang, tangannya menyendokkan nasi dan lauknya.


"Buka mulutmu."


Winda terpaku melihat suaminya yang menatapnya dalam.


"Bukannya abang kemarin marah ya sama Winda, tapi kenapa ia perhatian sama Winda? nyuapin segala seperti ini, apa itu berarti Abang sudah tidak marah lagi sama Winda?"


"Hei... buruan makan. Jangan bengong aja."


"Biar aku makan sendiri bang."


Winda meraih sendok didepannya dari tangan Sigit. Ia merasa sedikit membaik melihat suaminya tidak seperti kemarin yang membiarkan dirinya dalam diam. Paling tidak pagi ini ia sudah melihat perhatian Sigit terhadapnya.


"Abang juga makan bagian Abang, kita makan bersama saja." sahut Winda dengan senyumnya.


"Hm."


"Aku senang melihat senyumu pagi ini."


Sigit mengikuti wanita didepannya mulai menyantap sarapannya.


❄️❄️❄️


Sigit terpaksa mengikuti keinginan Winda yang mengajaknya mencari suasana nyaman dengan udara segar tanpa polusi seperti di ibu kota. Hampir seharian mereka hanya tiduran didalam kamar, Sigit tidak tega melihat Winda tertekan mengingat semalam badannya demam. Rencana yang sudah dirancang dari awal ingin menghabiskan kebersamaan mereka selama di Bandung gagal seketika.


Pukul empat sore suasana pantai masih terasa panas tersorot sang surya walaupun sudah berada dibawah payung pantai, meskipun begitu banyak pula pendatang yang berselancar, anak-anak bermain pasir pantai. Tidak sedikit pula muda-mudi berkejaran menikmati kejaran ombak yang mendarat dibibir pantai sambil tertawa satu sama lain.


Winda memandang mereka dari bawah payung pantai, walaupun ada keinginan untuk bermain air seperti mereka, namun apalah daya jika suami tidak mengizinkan dengan alasan takut peristiwa itu terulang kembali.


"Sudah enakan badannya?"


tanya Sigit baru datang dari penjaja minuman dengan menyodorkankan minuman kaleng ke tangannya. Winda memandang wajah Sigit sekilas dan menerima minuman itu.


"Alhamdulillah udah bang."


Winda mulai menarik tutup kaleng ditangannya.


"Syukur kalau begitu."

__ADS_1


Sigit mendaratkan tubuhnya diatas kursi. Ia menatap wajah istrinya teringat nama laki-laki semalam.


Winda tidak mempedulikan tatapan suaminya setelah mengetahuinya, ia kembali melihat orang-orang yang asyik dipinggir pantai.


"Masih ingat dengan Aldi?"


"Hm? Aldi?"


Winda terkejut dengan pertanyaan suaminya.


"Iya, mas Aldi, semalam kamu memanggilnya begitu."


Winda mengalihkan pandangannya dari anak-anak yang asyik bermain gundukan pasir kepada suaminya yang menantikan jawaban darinya.


"Benarkah semalam aku menyebutnya?" tanya balik Winda tidak percaya ucapan Sigit yang dijawab dengan anggukkan Sigit.


"Dan... apa... aku juga menyebut nama mas Azam?" tanya Winda ragu menyelidik menatap Sigit, Winda merasa, jika ia sampai menyebut salah satu dari mereka pasti dia akan memanggil keduanya, mereka berdua adalah dua lelaki yang selalu ada untuk dirinya.


"Iya. Dua nama laki-laki yang sempat kamu sebut saat kamu mengigau didalam mobil." jawab Sigit menutupi rasa cemburunya dengan memasang wajah datar, lalu meminum air didalam kaleng bagiannya.


Winda terdiam menatap kaleng yang diputar-putar kedua tangannya diatas meja mengalihkan perasaannya.


"Ada masalah apa kamu dengan mereka?"


Sigit melihat Winda yang terdiam.


"Biasanya... jika aku sampai mengigau mereka, aku sangat merindukannya." jawab Winda seraya melihat raut wajah laki-laki didepannya.


"Mereka selalu ada untukku."


Winda seakan melihat Aldi, Azam dan Winda kecil dipelupuk matanya. Ia menahan rasa rindu bersama mereka.


"Bidadari kecil dengarkan mas Aldi, jangan bersedih. Jangan merasa sendiri lagi ya... ada mas yang akan selalu menjagamu." ucap Aldi menenangkan Winda kecil disaat menangisi laki-laki yang membujur tertutup kafan ditengah kerumunan para tamu. Aldi menggendong Winda kecil ke taman belakang rumahnya, menghibur dirinya yang benar-benar terpukul dengan kepergian laki-laki itu.


"Sekarang... mas Aldi adalah kakakmu, jadi... mas akan bersamamu." Aldi mendudukkan Winda diatas kursi taman, sedangkan ia duduk berjongkok dibawah kursi yang diduduki Winda.


Tangan Aldi menyibakkan rambut panjang Winda yang tersapu angin diwajahnya, dan menyelipkan anak rambutnya dibelakang telinga. Lalu menghapus air mata dipipi Winda.


"Nanti kalau Bidadari kecil ini sudah besar, jadilah Winda besar yang kuat, tidak rapuh dan tidak mudah cengeng. Jadilah wanita hebat." Pesan Aldi ketika melihat Winda sudah tenang dari Isak tangisnya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗

__ADS_1


Ayo dukung terus babang Igit dan Winda ya...


Sranghe...💞💞


__ADS_2