Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 123


__ADS_3

Di sebuah ruangan dengan penjagaan yang ketat. Beberapa orang didepan pintu menunggu diluar dan dua orang lagi yang berada di dalam ruangan menunggu persis didepan Winda hingga menjelang senja.


Leo, seseorang yang menyeringai kesakitan saat kaki Winda menginjaknya didalam mobil merasa terkejut saat baru mengetahui jika sanderanya sedang hamil besar. Ia mengira jika postur tubuh Winda adalah gemuk, namun ternyata ia dan teman-temannya telah salah prediksi.


Winda tidak bisa berkutik dengan posisi duduk diatas kursi terikat tali putih ditubuh, kaki dan tangannya, ia terdiam memikirkan sesuatu agar bisa terbebas dari sekapan itu.


Tubuhnya terasa pegal dan lemah setelah kelelahan memberontak dari kursi itu, ia merasa apa yang sudah di perbuatnya hanyalah sia-sia.


"Itu dengar beritanya, sama kan dengan ide mu kemarin?"


"Coba, jika hal yang sama yang terjadi bagaimana kemaren? siapa yang susah juga?"


Winda menitikkan air matanya teringat kalimat Sigit ketika marah padanya.


"Abang... maafkan Winda yang tidak berpikir panjang sebelumnya, jika ini merupakan akhir dari sebuah kecerobohan ku saat itu maka biarkan aku menanggung akibatnya sekarang. Maafkan aku suamiku, maafkan aku...." batin Winda menyesali perbuatannya.


Tendangan dari dalam perutnya terasa sangat kuat seakan berontak tidak mau diajak duduk terus menerus sejak pagi tadi, menyadarkan keadaannya sekarang yang harus berjuang sendirian melawan sekelompok penculik dihadapannya.


"Sabar ya nak, kita berjuang bersama menghadapi keadaan ini, maafkan mama ya sayang..." Winda menatap perutnya, berkata lirih seakan menenangkan anaknya yang seakan berontak dengannya dengan menendang-nendang perutnya.


Samar-samar ia mendengarkan percakapan seseorang yang berada didepannya dengan suara seseorang didalam hp, bahwa pengawasan dirinya harus benar-benar dijaga dengan ketat.


Seseorang yang bertubuh kekar penuh tato di lengan tangannya terlihat dari balik pintu memasuki ruang penyekapannya berjalan mendekati Leo dengan menenteng sebuah bungkusan plastik.


"Leo, paksa dia agar mau makan makanannya."


"Baik Ren."


Seorang laki-laki yang diketahui Winda yang bernama Rendi menyerahkan bungkusan plastik pada Leo. Leo pun segera menerima dan membuka bungkusan yang berisi nasi beserta pelengkapnya.


Melilit dan panas perut Winda menahan rasa lapar dan dahaga seharian karena menolak makanan yang sudah dihidangkan untuknya. Ia benar-benar merasa gemetar tubuhnya saat ini.


"Ini makanlah! jangan keras kepala! ingat bayi dalam perutmu."


Laki-laki yang bertato itu menatapnya dan berlalu membalikkan tubuhnya meninggalkannya.


Setelah kepergian Rendi, Leo yang berada didepannya segera membuka bungkusan itu untuknya.


"Setidaknya kamu memakannya karena anakmu."


Winda melirik tajam Leo penuh amarah dan kebencian dengan rahang sudah mengeras.


"Cihh. Aku tidak akan sudi memakannya."


Leo memicingkan matanya menatap wajah Winda sesaat.


"Dasar keras kepala."


Ia berdiri didepan Winda, tangannya mencengkram dagu wanita didepannya.


Winda memalingkan wajahnya, menghindari tatapan laki-laki yang mengerikan. Dalam hati Winda saat itu, dirinya pasti sudah melawan komplotan itu dengan berbagai cara termasuk bela diri jika keadaannya tidak sedang berbadan dua seperti sekarang.


"Makan!"


Tangan Leo sudah berada di depan mulutnya dengan sendok berisi nasi diatasnya.


"Tidak!" tolaknya menantang.


"Buka mulutmu!"


"Tidak."


"Buka mulutmu kataku!!" bentak Leo semakin keras.


Winda menatap wajah Leo lalu beralih pada sendok didepannya.


"Jika kamu tidak mau makan juga, maka aku akan membuatmu lebih sengsara dari ini." ancam Leo membungkukkan badannya, mendekatkan mulutnya ditelinga Winda berkata lirih.


Winda memejamkan matanya, meringis merasakan kembali tendangan dari dalam perutnya. Ia menggigit kesal giginya mendengar ancaman laki-laki didepannya.

__ADS_1


"Lepas semua ikatan ditubuh saya, dan biarkan saya menikmati makanan itu." jawab Winda lirih, pasrah dengan keadaannya yang tidak akan mungkin bisa terus mempertahankan egonya.


Leo menatapnya lekat tersenyum sinis. Lalu memperhatikan sendok ditangannya.


"Hhh. Kamu sedang menyusun rencana rupanya."


Winda membalas tatapan itu tajam.


"Aku harus mengalah saat ini demi keselamatanku dan anakku, kakiku juga sudah kram menahan ikatan ini dari tadi. Aku harus mencoba cari cara berdamai dengannya agar aku bisa terbebas dari ikatan ini, setidaknya aku bisa tenang dengan bebas menggerakkan tubuhku."


"Biarkan saya tanpa ikatan tali ini dan saya akan tetap diam."


Leo memperhatikan secara mendalam menatap manik hitam didepannya mencari kesungguhan ucapan wanita didepannya.


"Biarkan saya bebas bergerak didalam sini dengan pengawasan kalian, saya pastikan saya tidak akan melarikan diri dari sini dengan kondisi seperti ini." lanjutnya.


Leo terdiam sesaat, kemudian tersenyum sinis melirik Winda.


"Baiklah." Terjeda kalimatnya sambil mengangkat badannya lagi.


"Tapi sebelumnya kamu harus tahu apa akibatnya jika kamu sampai berbohong."


"Saya pastikan, saya tidak akan membohongi orang yang sudah berbuat baik pada saya." jawab Winda tenang menatap Leo


"Sial!! dia mencoba mempengaruhi ku." batin Leo.


"Baiklah." Leo mengangkat sebelah alisnya.


"Terdengar lebih enak digendang telinga ku." ucap Leo menganggukkan kepala.


Ia berjalan dibelakang kursi Winda membuka semua ikatan ditubuh dan kaki sanderanya dengan tersenyum.


❄️❄️❄️


Sementara didalam ruangan kerja perusahaan pusat WP. Sigit membereskan berkas-berkas yang sudah dia baca. Rasa capek dan lelah menggelayuti tubuhnya.


"Kenapa perasaanku tidak enak begini? seperti waktu itu ketika..." gumamnya teringat peristiwa tenggelamnya Winda. "Ah mungkin karena aku sampai malam begini tidak pulang-pulang kali." hiburnya menepis perasaannya lalu memutar kursinya meraih telepon kantor menghubungi seseorang.


"Halo Pak, tolong kirim seseorang yang bertanggung jawab atas proyek perusahaan yang berada di perkebunan di pelosok pedesaan sekarang, agar besok pagi dia sudah bisa mengontrolnya dan secepatnya memberikan laporannya ke perusahaan pusat."


"Baik pak, akan segera saya utus sekarang."


"Baiklah terimakasih kalau begitu."


"Sama-sama pak."


klik


Sigit menutup panggilannya. Ia segera meraih tas kerjanya beranjak dari kursi panasnya berjalan menyusuri luar ruangan menuju halaman parkir.


"Kenapa perasaanku tidak enak begini dari tadi pagi sih? lutut dan tangan ku gemetaran terus?" gumam Sigit memperhatikan telapak tangannya, heran tidak mengerti merasakan perubahan dirinya.


Sementara dikediaman Winata.


Ningsih mengetuk pintu kamar Winda sesuai perintah mami Lia yang menyuruhnya memanggil Winda agar segera makan malam bersama.


Tok tok tok


"Mbak Winda..."


"Mbak Winda dipanggil ibu suruh keluar dulu."


Hening.


Setelah beberapa saat mengetuk pintu tidak ada jawaban, dengan ragu Ningsih membuka pintu.


"Mbak Winda..." kepalanya celingukan didalam kamar.


"Mbak."

__ADS_1


"Mbak Winda..."


"Ayo keluar dulu mbak makan malam."


"Sudah ditunggu ibu sama mas Revan loh."


Ningsih melongokkan kepalanya, kedua bola matanya berselancar mencari sosok Winda disekitar kamar, merasa sepi dan tidak melihat seseorang yang dicarinya, Ningsih menerobos memasuki kamar dan memanggil nama Winda.


"Kok sepi sih..."


Ningsih merasa heran dan takut tidak ada jawaban dari winda, ia pun berjalan mencari Winda sampai didalam kamar mandi.


"Mbak Winda didalam kamar mandi ya?"


Ningsih berada didepan pintu kamar mandi.


"Mbak Winda..." Ningsih memberanikan dirinya masuk didalam kamar mandi yang tidak kalah luas dengan kamar mandi Sigit yang berada di kamar atas.


"Mbak Winda dimana?"


"Jangan bercanda ah mbak, gak lucu tau mbak."


Ningsih semakin ketakutan, berpikir yang tidak-tidak didalam kamar meneliti setiap sudut kamar mandi.


"Mbak Winda ah... jangan bikin Ningsih takut ah."


Ningsih tidak juga menemukan sosok Winda didalam kamar mandi, ia pun beralih mencarinya diruang ganti baju meneliti disana, masih juga tidak menemukan sosok yang dicarinya.


"Mbak Winda kok tidak ada? terus dimana dia sekarang?"


"Seharian Ningsih tidak melihat mbak Winda dirumah deh setelah Ningsih pulang belanja tadi siang?" Ningsih masih heran, bingung memikirkan keberadaan Winda yang tidak biasanya seperti ini. Ia pun segera dari ruang ganti.


"Buk."


"Ibuk."


Suara Ningsih memanggil mami sambil berlarian keluar kamar Sigit menuju meja makan.


"Ibu."


"Ada apa Sih?" mami heran melihat Ningsih gugup.


"Mbak Winda Bu."


Deg.


Jantung mami berdetak cepat.


"Ada apa dengan Winda sih?" mami berdiri dari duduknya menyeret kursinya kebelakang.


"Mbak Winda gak ada Bu didalam kamarnya."


"Apa?" mami terkejut, kedua alisnya bertautan.


"Winda tidak ada didalam kamar??"


Mami menatap Ningsih yang menjawabnya dengan anggukan.


"Iya Bu."


Kedua bola mata mami sempurna membulat, tangan kanannya membungkam mulutnya tidak percaya.


"Winda?!"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 🤗🤗


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2