
"Sudah yuk kita masuk ke dalam."
"Abang lanjutkan dulu ceritanya, aku penasaran bang."
Sudah kesekian kali Sigit mengajak Winda masuk rumah mengingat malam sudah semakin larut hampir pukul satu dini hari, namun Winda masih merajuk Sigit agar melanjutkan ceritanya dan rasa penasarannya tidak mengganjal dalam pikirannya.
"Lanjut didalam saja, ini sudah larut malam sayang... udara malam tidak bagus buat kesehatan, apalagi dibawah pohon begini. Bisa sakit nanti. Ingat hari Senin kamu harus kontrol kan?"
Sigit membujuk istrinya yang masih ngotot ingin berada di taman. Tangannya menyodorkan mesin pintarnya pada Winda dengan menunjukkan angka yang sudah tengah malam.
Setelah melihat angka dari gawai suaminya yang memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya, Winda menurutinya lalu beranjak dari tempat duduknya walaupun agak terpaksa. Entah mengapa rasa kantuknya tidak juga menghampirinya.
Sigit mengikuti Winda dari belakang memasuki rumah kontrakan walaupun dia tau jika istrinya itu masih ingin berlama-lama diluar sambil menikmati sinar bulan dan berjuta bintang yang selalu memberikan keindahan dimalam hari.
Sigit mengunci pintu lalu mencari sosok istrinya didalam kamarnya, namun dia tidak menemukannya, Sigit mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan namun belum juga menemukan istrinya.
Sigit pun melihat ruangan lantai dua mulai menaiki tangga didepannya, dia mengayunkan kakinya dengan cepat, sehingga tidak perlu memakan waktu yang lama Sigit sudah berada di depan pintu kamar Winda.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Sigit langsung membuka pintu dan masuk di dalam kamar mencari sosok istrinya, namun tidak juga menemukan Winda. Sigit berjalan menuju ranjang yang masih kosong lalu duduk diatasnya.
Sigit mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Winda, dia menunggu Winda keluar dari kamar mandi sambil bermain gawai.
Tidak lama kemudian Winda sudah selesai dengan ritual malam sebelum tidur, dia selalu membersihkan sisa-sisa makeup yang masih menempel di wajahnya walaupun hanya tipis.
Cekklekkk
Sigit menoleh melihat Winda yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan lingerie dongker, tangan Winda mengelap wajahnya dengan handuk putih kecil yang selalu dia gunakan husus untuk mengelap wajahnya sambil berjalan menuju ranjangnya, Winda masih belum menyadari dengan adanya Sigit didalam kamarnya.
Ada tonjolan Sigit yang semakin mengeras dibalik bokser abunya, berkali-kali dia menelan ludah menahan beratnya hawa yang menelisik dalam desiran hasratnya ketika gundukan kenyal didada istrinya terlihat saat tangan Winda menggerakkan handuk putih diwajahnya.
Sigit memaklumi kondisinya saat itu karena memang sudah hampir dua bulan lebih batinnya puasa, menahan rasa haus dan lapar menanti waktu yang tepat untuk berbuka.
Winda duduk diatas ranjang menghadap kaca membelakangi Sigit.
Winda memperhatikan kaca riasnya tidak berkedip lalu menguceknya perlahan tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya, ada sesosok Sigit dibelakangnya yang terlihat jelas sedang memandanginya. Winda memutar tubuhnya menghadap sosok suaminya, memastikan jika wajah yang dilihatnya dari kaca adalah benar-benar suaminya atau hanya halusinasi nya belaka.
"Sigit?? eh abang?" sebut Winda terkejut begitu dia benar-benar menemukan Sigit didepannya.
"Hm." jawab Sigit dingin, menyembunyikan pikiran konyolnya tidak ingin diketahui oleh istrinya.
"Ngapain disini?"
tanya Winda terlihat kikuk setelah menyadari dirinya yang hanya memakai lingerie yang benar-benar terlihat menggoda. Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Winda jika suaminya akan masuk dikamarnya malam ini.
Winda segera menutupi tubuhnya dengan selimut disampingnya, matanya menatap wajah suaminya yang hanya meliriknya sekilas, tangannya meletakkan handuk putih kecil pada tempat asalnya.
"Sudah tidak usah malu, abang sudah pernah melihatnya dan... tentu sudah merasakannya." jawab Sigit sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang disamping Winda.
__ADS_1
Winda terhenyak mendengar kata-kata suaminya, degupan jantungnya seperti musik disko yang sedang bertalu-talu.
"Abang jangan..."
"Sudah tidur jangan banyak ngomong, sudah dini hari ini. Kamu juga pastinya sudah ngantuk." Sigit mulai memejamkan matanya menahan hawa panas yang sudah menguasai tubuhnya, namun dia tidak mau memaksa keinginannya pada istrinya, mengingat malam sudah menjelang pagi, kasihan Winda jika harus melayaninya sekarang.
"Kata siapa bang? tiba-tiba rasa kantukku hilang." jawaban Winda diluar dugaan Sigit.
"jangan bercanda sayang... sudah tidur."
kata Sigit masih menahan dengan nada berat.
"Beneran bang, Winda sudah tidak ngantuk."
"Jangan pancing abang sayang..."
"Pancing? memang Winda mancing apaan?"
"Winda Zilvana Idris... tidur!" kalimat Sigit pelan penuh penekanan.
"Sigit Andra Wi..." panggilan Winda justru seperti tantangan baginya, sehingga membuat Sigit terduduk mendekati Winda dan mengecup bibir tipis Winda.
Cup cupp cupppp
Belum selesai suara Winda menyebut nama Sigit, beberapa kecupan mendarat secara bertubi-tubi dibibirnya.
"Ini akibat jika sudah membantah dan berani memancing pertahanan abang."
Winda tertegun dengan kata-kata suaminya, dia terdiam merasakan sentuhan-sentuhan hangat yang mulai bergerilya dan menjalar di sekujur tubuhnya.
Entah dorongan dari mana, setelah beberapa saat Sigit memberikan ruang hangat untuknya, Winda pun menyambut permainan Sigit, mereka saling pandang lalu merebahkan tubuh mereka, pergulatan sengit diatas ranjang pun kian memanas.
"Jangan lupa baca doa bang...."
"Hm...."
Semakin sunyi malam, semakin merdu rancauan sepasang sejoli melampiaskan malam panas penuh keindahan setelah penantian panjang yang berujung nikmat.
Bagai mendaki gunung Himalaya dan menyeberangi lautan luas, nafas mereka tersengal-sengal setelah menyelesaikan dua ronde pertarungan sekaligus.
"Terimakasih sayang... cuppp."
Sigit mendaratkan kecupan di kening istrinya yang dibalas senyuman oleh Winda setelah menyelesaikan misinya.
Sigit mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi, dia menginginkan mandi bersama istrinya dengan saling menggosok punggung mereka secara bergantian dibawah guyuran shower didalam bathtub.
Setelah keluar dari kamar mandi, Winda segera mengenakan baju tidurnya dan bersiap untuk tidur, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut, dia tidak ingin membangkitkan macan tidur lagi, cukup sudah tenaganya terkuras.
__ADS_1
Begitu pula dengan Sigit, ada rasa lelah terlihat dari wajahnya, diapun segera tidur dibawah selimut dengan posisi mendekap tubuh langsing istrinya.
❄️❄️❄️
Jarum jam dinding menunjukkan angka sembilan, Sigit terbangun dari tidurnya setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan Winda tadi pukul lima subuh mereka baru terbangun.
Ada senyum bahagia dibibirnya ketika melihat wajah istrinya didepannya, lalu mengecup lembut bibir tipis itu.
"Sayang... bangun yuk, sudah siang." suara Sigit membangunkan istrinya.
Winda tidak merespon ajakan suaminya, dia masih terlelap dalam kecapean.
"Sayang..." kembali suara Sigit membangunkan istrinya, kali ini jari telunjuknya sambil memijit-mijit hidung Winda.
"Hm??"
"Bangun."
"Masih capek bang..."
"Ayo bangun.... abang laper sayang...."
"Pesen aja bang, Winda gak bisa jalan kebawah." jawab Winda malas-malasan.
"Mau abang gendong lagi?"
Winda membuka matanya perlahan dan memandang wajah Sigit yang sudah berada diatasnya dengan tersungging senyum manisnya.
"Tidak usah, cukup temenin didapur aja." jawab Winda sambil menyibakkan selimut dari tubuhnya dan menggaruk-garuk lehernya.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Jangan lupa tarik nafas ya kak...
Terimakasih akak2ku semua atas supportnya.
dan ramaikan terus like n komentnya...
love you all...💗
__ADS_1
saranghe....💞💞