Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 55


__ADS_3

Winda dan Sigit duduk di kursi besi yang berada dibawah pohon melati yang saling melilit di taman bunga depan kontrakan Winda.


Mereka menikmati malam di taman sepulang dari Monas dan mampir dari restoran, Sigit memakaian jaket pada Winda yang diambilnya dari dalam kamarnya, lalu kembali duduk disamping Winda.


Tidak terasa tiga puluh menit sudah mereka berada ditaman. Winda menyandarkan kepalanya di bahu Sigit, sementara Sigit meraih telapak tangan kanan Winda dan menggenggamnya.


"Abang..."


"Hm..."


"Tidak terasa dua hari lagi kita sudah wisuda ya..."


"Hm, kenapa?"


Tanya Sigit sambil melihat wajah Winda yang mendongak menatap wajahnya.


"Aku sama sekali tidak pernah menyangka, apalagi terlintas di benakku jika kita berahir dalam ikatan yang sangat sakral ini." ucap Winda kembali menyandarkan kepalanya di bahu Sigit.


Sigit hanya terdiam memandang wajah yang merunduk dipundaknya, hanya selembar jilbab yang menutupi kepala istrinya, lalu tangannya merengkuh tubuh Winda, merubah posisi mereka dengan kepala Winda disandarkan didada nya.


"Itulah yang disebut dengan jodoh, rezeki, dan maut adalah rahasia Allah sayang..." balas Sigit sambil membelai kepala Winda, kemudian mendaratkan kecupannya di pucuk kepala Winda.


Perasaan Winda semakin tak karuan dengan kecupan dan dekapan hangat dari suaminya, jantungnya berdegup semakin tak beraturan.


Kedua bola mata Winda tidak berkedip menatap manik hitam milik Sigit didepannya, mereka sudah duduk berhadapan dengan kedua tangan Sigit menelangkup wajahnya, lalu bibir Sigit semakin mendekat mengikis jarak antara bibir mereka.


"Bang."


Suara Winda menghentikan gerakan Sigit, kepalanya merunduk menghindari aksi suaminya yang mulai menggetarkan hatinya.


"Hm?" jawab Sigit seolah tidak terjadi apa-apa.


"Aku masih belum tahu kenapa abang pulang dari Bandung bukannya pulang ke rumah, tapi justru berada di rumah sakit dengan baju dan pelipis berlumuran darah. Apa sedang terjadi sesuatu yang tidak Winda ketahui?" pertanyaan Winda membuat Sigit terdiam sejenak, lalu melihat wajah istrinya yang terlihat penasaran dengan keadaan dirinya saat berada di rumah sakit.


Rasa ragu untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Winda berkecamuk dalam pikirannya, dia merasa saat ini belum tepat waktunya menceritakan semuanya pada istrinya dan mengetahuinya. Masih terlalu cepat Winda ikut andil memikirkan permasalahan yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


Sigit kembali menerawang jauh pada ingatannya tentang peristiwa beberapa tahun yang silam, dia memegang tubuh mami Lia didepannya, Sigit merasakan getaran hebat dari tubuh maminya saat mendengar perkataan dari seorang wanita yang baru dikenal mami saat itu, wanita itu menyerahkan seorang bayi laki-laki mungil yang baru lahir pada mami.


"Bang? ada apa? cerita saja pada Winda. Jangan abang simpan sendiri jika ada sesuatu, aku insya Allah siap mendengarkannya." ucap Winda pada Sigit, setelah cukup lama dia memperhatikan suaminya melamun. Tangannya menggoyangkan lengan kekar suaminya yang baru tersadar dari lamunannya.


Sigit meraih tangan Winda dan mengenggamnya lalu menepuk pelan dengan tangan kirinya sembari tersenyum pada Winda.


"Sayang..." ucap Sigit terjeda, matanya menatap kedua bola mata Winda yang menunggu jawaban darinya.


"Apapun yang kamu pikirkan, yang kamu jawab, dan... yang kamu rasakan... ambillah yang baik dan selalu positif thinking dalam menghadapi setiap masalah."


"Hm. Seperti bintang itu kan? tapi apa sebenarnya maksud dari ucapan abang?" jawab Winda mengingat pesan Sigit saat mereka dimonas beberapa waktu, seraya menunjuk jutaan bintang yang seakan menari di malam semakin larut.


Sigit menarik nafas perlahan dan menghempaskannya secara kasar, sebagai tanda persoalan yang dihadapinya sangat berat.


"Beberapa tahun yang lalu ada sepasang suami istri yang sangat bahagia, kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan lahirnya dua putra di tengah keluarga kecil mereka, bahkan bisa dikatakan mendekati level sempurna. Mereka merawatnya dengan penuh kasih sayang tanpa ada kekurangan sedikitpun hingga putra mereka menginjak bangku sekolah. Suatu hari... entah benar-benar suatu keinginan atau hanya sekedar candaan belaka dari sang suami yang mengatakan keinginannya untuk menikah lagi dengan nada menggoda istrinya yang dijawab istrinya dengan kata enteng iya, karena dia rasa perkataan suaminya hanya bercanda." Sigit mulai bercerita secara perlahan pada Winda, kemudian terhenti sejenak.


Winda mulai tertarik dengan cerita suaminya, dia mengerutkan keningnya ketika mendengar kalimat yang keluar dari bibir suaminya. Winda mencerna setiap kata-kata Sigit.


"Lalu?"


"Dua tahun kemudian... si ibu tadi mendapatkan kabar dari rumah sakit bahwa ada saudaranya yang sedang kritis, sehingga mengharapkan dirinya untuk segera datang kesana, setelah menanyakan secara detail si ibu itu ahirnya segera menuju rumah sakit dengan ditemani putra keduanya, setiba dirumah sakit si ibu tersebut dipersilahkan memasuki ruang bersalin oleh dokter kandungan dari pihak rumah sakit, si ibu mengikuti perintah dokter tersebut walaupun dia merasa tidak mengenal dengan pasien dokter itu, sesampainya didalam ruangan dia mendapati seorang wanita dengan seorang bayi mungil disampingnya, wanita itu terlihat sangat pucat dan lemah, lalu si ibu mendekatinya setelah wanita itu memintanya mendekat, dia ingin berbicara dengan ibu tersebut, si ibu mendengar kata-kata wanita itu." jelas Sigit.


Winda terdiam mendengar suaminya, menunggu lanjutan cerita dari Sigit. Hatinya terasa semakin penasaran.


"Singkat cerita, ternyata... bayi mungil itu adalah buah hatinya dengan suami si ibu tadi, dengan kata lain, dia adalah istri dari suami ibu itu." kalimat Sigit terhenti lagi kemudian menoleh kearah Winda, melihat reaksi Winda yang terkejut.


"Ma-maksud abang... wanita itu merupakan istri kedua begitu? dan... benar-benar menikah lagi tanpa sepengetahuan dari ibu tadi?" suara Winda terdengar ditelinga Sigit.


Sigit melihat wajah Winda yang berubah ketika menanyakan hasil kesimpulan yang didengar dari ceritanya. Ada rasa kecewa yang terlihat jelas ketika Sigit memperhatikan wajah istrinya.


Sigit menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Winda. Sigit melihat wajah istrinya terlihat geram.


"Hm, ternyata mereka sudah menikah selama dua tahun itu." jawab Sigit.


Suasana hening sejenak, Winda menutup mulutnya dengan kedua tangannya, terkejut sambil melafalkan istighfar.

__ADS_1


"Dan... maksud panggilan dari pihak rumah sakit kepada ibu itu tak lain adalah atas keinginan mereka, yaitu suami dan istri mudanya. Keadaan wanita itu semakin lemah, bicaranya semakin terbata-bata, sambil menangis ia terus meminta maaf kepadanya dan menyerahkan bayi itu kepadanya agar bersedia menerima bayinya dan merawatnya dengan rela menggunakan nama ibu itu sebagai ibu kandungnya." lanjut Sigit.


"Ibu itu menolak keinginan wanita itu, dia merasa dirinya telah dihianati, telah dipermainkan, lalu dia membalikkan badannya berniat meninggalkan mereka berdua dengan menggandeng tangan putra keduanya yang berada disampingnya, namun baru saja mereka berjalan menuju pintu suara tangis bayi mungil itu terdengar memenuhi ruangan, semakin mereka berjalan cepat menuju pintu keluar, suara tangis bayi itu semakin kencang, sehingga membuat putra keduanya menghentikan langkahnya dan menarik tangan ibunya." ucap Sigit lalu meraupkan kedua tangan ke wajahnya.


Hati Winda sudah tidak karuan mendengarnya, membayangkan saja dia sudah tidak sanggup menjadi ibu itu, disisi lain ada bayi yang tak tau apa itu namanya dosa, Winda teringat vidio-video di media sosial tentang bayi yang masih berada dalam kandungan ibunya sedang berkomunikasi dengan Tuhannya, yang ketakutan untuk hidup di dunia karena kerasnya kehidupan dunia sehingga akan membuatnya ingkar kepada-Nya, namun Allah telah memberikan jawaban padanya bahwa setelah dirinya lahir di dunia nanti akan ada malaikat yang akan selalu menjaganya yaitu malaikat yang bernama ibu.


"Putranya memintanya agar menuruti keinginan wanita itu, yaitu bersedia membesarkan bayi itu sebagai adiknya. Setelah mendengar permintaan putranya dan mendengar suara tangis mahluk mungil yang tidak berdosa itu, ternyata mampu meluluhkan hatinya, ibu itu berjalan mendekati ranjang dimana bayi itu berada, lalu mendekapnya dalam pelukannya." lanjut Sigit.


"Tidak lama kemudian bayi itu terdiam dan tenang, dan... setelah melihat putranya yang terdiam dalam gendongan istri pertama suaminya, wanita itu mengucapkan terima kasih pada ibu itu yang telah bersedia menerima putranya, tidak lama kemudian si wanita itu tidak sadarkan diri. Sehingga membuat ibu itu berteriak histeris memanggil dokter dan perawat untuk segera memeriksa keadaan wanita itu, setelah beberapa saat dokter dan beberapa perawat berusaha menolong wanita itu, ternyata Tuhan lebih berkehendak memanggilnya."


Sigit melihat air mata Winda yang membasahi kedua pipinya, dia tau bahwa istrinya telah hanyut dalam ceritanya, membayangkan posisi mereka yang sangat menyedihkan.


Sigit mengusap air mata Winda lalu merangkul pundaknya dan menyandarkan kepalanya didada bidangnya. Sedangkan Winda melingkarkan kedua tangannya diperut suaminya.


"Abang... Winda kasihan dengan bayi itu, bagaimana dia sekarang? apa dia baik-baik saja?" tanya Winda sesenggukan dalam sandaran dada suaminya.


Sigit mengusap kepala Winda lalu mengecup pucuk kepalanya. Tangan kanannya mengelus-elus lengan kiri istrinya.


"Sekarang dia sudah menjadi laki-laki dewasa, tampan dan... sedikit kurang ajar sama kakaknya he" jawab Sigit yang diahiri dengan tawa candaan agar Winda tidak lagi larut dalam kesedihannya.


Winda mengangkat kepalanya menatap wajah suaminya yang tersungging senyum dibibirnya.


"Sudah jangan menangis, apa kata abang tadi di halaman monas hm? mata ini hanya boleh mengeluarkan air mata bahagia. Ingat kan?" ucap Sigit sambil menunjuk kedua kelopak mata Winda yang sengaja dipejamkan oleh Winda.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Terimakasih buat akak2ku yang selalu memberikan semangatnya. Love you all...

__ADS_1


ayo ramaikan terus like n komentnya...


Saranghe...💞💞


__ADS_2