
Winda memasuki ruang rapat yang sudah terdapat beberapa rekannya yang duduk disamping kursinya, Winda melihat office girl yang baru saja keluar setelah menyuguhkan air putih diatas meja.
Menit kemudian masuklah dua orang lelaki dan seorang wanita cantik yang mengenakan baju yang lebih terbuka bagian dada sehingga terlihat tonjolannya yang dipadu dengan bawahan rok yang sangat minim dengan belahan dibagian belakang dan rambutnya yang panjang tergerai sehingga terlihat sangat seksi, Winda segera mengalihkan pandangannya pada berkas ditangannya.
Mereka bertiga dipersilahkan duduk tepat di depan Winda, begitu duduk ditempat yang sudah dipersilahkan untuknya wanita cantik itu menatap Winda dengan tatapan yang kurang bersahabat, terasa aneh melihat penampilan Winda yang tertutup dengan menggunakan baju gamis warna maroon yang dikombinasikan dengan warna abu muda dan dipadukan dengan jilbab warna maroon.
Winda memahami apa yang dipikirkan oleh wanita cantik didepannya, dia tersenyum kepada mereka mencoba menyambutnya dengan ramah, karena bagaimanapun mereka adalah rekan bisnis atasannya walaupun dia belum mengenal siapa mereka, yang Winda tau bahwa mereka adalah utusan dari perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan cabang WP.
Winda mencoba menghubungi Firman yang belum juga kelihatan batang hidungnya hingga jam tangannya terlihat diangka satu lebih sepuluh menit, tidak biasanya mereka terlambat seperti ini, namun tetap saja tidak aktif, hingga diapun menyilent gawainya.
Winda terlihat cemas, dia rasa atasannya tidak profesional kepada rekan bisnis perusahaannya saat ini.
"Selamat siang bapak ibu yang saya hormati..."
Terdengar suara moderator membuka acara rapat siang ini, secara bersamaan juga suara pintu dibuka dari arah belakang Winda yang disusul dengan suara deritan langkah sepatu sedang memasuki ruangan.
Tidak lama kemudian dua kursi yang masih kosong disampingnya sudah diduduki oleh pemiliknya. Winda merasakan gawainya yang terus bergetar, dia segera melihatnya siapa tau ada hal penting dari suaminya yang harus segera dia ketahui, dia tidak melihat dua orang yang baru duduk dan memperhatikan tingkahnya sejak mereka datang.
Setelah memastikan siapa yang melakukan panggilan terhadapnya barusan bukanlah dari suaminya melainkan dari Dian yang hanya ingin memastikan berkas yang dibawanya sebagai bahan presentasi tetap utuh. Winda melirik kearah dua lelaki yang sama-sama mengenakan jas hitam, namun tidak melihat wajah keduanya karena menurutnya orang disampingnya adalah Firman dan orang yang mengenakan jas hitam satunya lagi yang menduduki kursi Dirut tak lain adalah putra dari sang pemilik perusahaan.
Beberapa saat selama rapat berlangsung, Winda menyimpan senyum setelah menangkap gelagat wanita didepannya yang curi-curi pandang terhadap orang yang duduk di kursi Dirut, sehingga menurut Winda ada perasaan lebih si wanita cantik itu dengan putra sang pemilik perusahaan WP, dia teringat ocehan teman-temannya
di kantin tadi, jika pemegang perusahaan cabang ini banyak kaum hawa yang terpikat dengan sosoknya. Winda sudah membuktikan perkataan teman-temannya dengan tingkah wanita didepannya.
Winda pun merasa penasaran dengan raut wajah pemegang perusahaan cabang disamping Firman yang membuat wanita didepannya selalu memandang wajahnya, dengan tekad yang bulat Winda melirikkan kedua ekor matanya kearah laki-laki yang dicarinya.
Alangkah terkejutnya Winda, dengan sempurna matanya membulat sambil menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.
Kebalik dengan Winda, Sigit justru terlihat tenang dengan senyum tertahan ketika melihat reaksi Winda yang menatapnya tidak berkedip, karena terkejut melihatnya berada diposisi pak bos.
Winda tidak mendengar berkali-kali namanya telah disebut moderator yang mempersilakannya
untuk mempresentasikan berkas yang dipegangnya.
Firman menggerakkan jari telunjuknya di lengan Winda, menyadarkan lamunan sekertarisnya disertai deheman Sigit berbarengan dengan suara Firman menyebut namanya.
"Win, Winda..."
"Ehem, ehem."
Winda baru tersadar setelah merasakan colekan di lengan tangannya dan suara deheman serta sebutan namanya.
"Hm? i-i-iya pak?"
"Presentasikan berkasnya sekarang." suara Firman lirih disampingnya memberikan perintah padanya.
"Oh, emmm i-i-i-iya pak."
Winda gugup, salah tingkah melihat orang-orang disekelilingnya yang sudah lama memperhatikannya, dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya terasa dingin menahan rasa malu jadi pusat perhatian seisi ruangan.
Tatapan tajam dari sorot mata wanita cantik didepannya mengancam pergerakannya seakan memberi isyarat padanya agar jangan macam-macam dengan miliknya.
"Kenapa Sigit ada disini? bukankah dia dikantornya?"
"Dan... bukankah ini kerjasama perusahaan cabang dengan perusahaan Duta Perkasa?"
Winda bermonolog sendiri dalam hatinya, bingung tidak mengerti apa-apa, seperti orang yang paling bodoh didalam ruangan.
Winda mengingat semalam sudah membaca file yang sudah dikirim Dian padanya, namun dia menyesal tidak membaca nama penanggung jawab perusahaannya dulu, dia hanya membaca nama perusahaannya saja.
__ADS_1
Gegas, Winda mencari lembaran terakhir dari berkas ditangannya, dia membuka lembaran demi lembaran ingin mengetahui penanggung jawab dari kedua belah pihak perusahaan yang akan menjalin hubungan kerjasama.
Alangkah terkejutnya Winda saat membaca tulisan Anita Pricilia dan Sigit Andra Winata sebagai penanggungjawab dari masing-masing pihak.
Winda berusaha mengumpulkan kekuatannya kembali bangkit memusnahkan rasa gugupnya sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan kedepan disamping Sigit, dia melihat suaminya dan Anita membuka berkas yang diberikan oleh Firman.
Winda mulai menyampaikan presentasinya hingga selesai dengan menggunakan bahasa yang simple, mudah dimengerti dan tepat sasaran, dengan didukung proyektor laser sehingga lebih mudah Winda mengekspresikan tanggung jawabnya dan juga lebih mudah difahami oleh para peserta rapat.
Pada awalnya ada rasa ragu dihati Anita ketika pertama kali melihat Winda yang terlihat gugup saat baru tersadar dari lamunannya setelah beberapa saat terdiam memperhatikan Sigit. Namun setelah menyimak, memperhatikan cara penggunaan bahasa, cara memberikan penjelasan saat memberikan perumpamaan dalam kasus berat yang bahkan tidak terlintas dibenaknya sekalipun mampu dijelaskan oleh Winda.
Mau tidak mau Anita akhirnya mengakui kepiawaian dan kecerdasan Winda dihadapan anggota rapat, walaupun sempat diawal dalam hatinya meremehkan kemampuan Winda.
Mendengar pujian dari rekan bisnis suaminya, Winda hanya tersenyum dengan mengeluarkan kata-kata yang sopan dan tetap merendah.
Sementara Sigit melihat gelagat Anita yang mulai mencurigakan, ia mengenal betul bagaimana Anita jika sudah berdekatan dengannya, dia tidak ingin ada salah faham dengan istrinya ketika dirumah nanti.
Sigit segera mengambil kesempatan dengan mengetikkan sesuatu di dalam gawainya.
Winda melihat suaminya sekilas ketika Anita menatap suaminya yang sedang mengetikkan sesuatu digawainya, sedangkan kedua laki-laki yang berada disamping Anita mengajak diskusi pribadi setelah sebagian anggota rapat berpamitan, suasana semakin sepi sehingga tinggalah mereka berenam.
Tidak lama Winda merasakan getaran dari balik gamisnya, lalu meraih mesin pintarnya dari saku bajunya.
Drtt drtt
Winda membaca pesan masuk dari Sigit.
Sigit.
"Jangan pulang! tetap disini sampai selesai!"
Drtt drtt
Winda
"Winda tunggu diruangan saja ya?"
Drtt drtt
Sigit.
"Tetap disini!!"
Drtt drtt
Winda
"Gak mau."
Drtt drtt
"Winda Zilvana Idris!!"
"Jangan membantah."
Anita merasa ada yang aneh dengan tingkah Sigit dan Winda, dia memperhatikan mereka bergantian, melihat Sigit dan Winda yang membaca pesan masuk secara bergantian seperti seseorang yang berkomunikasi melalui media.
"Kenapa mbak Winda masih disini? bukannya pulang? padahal anggota rapat yang lain sudah pada pulang loh..." tanya Anita seraya mengusir Winda secara terang-terangan.
"Winda nungguin saya Nit." jawab Sigit cepat.
__ADS_1
"Nungguin? kenapa Git?" Anita semakin penasaran.
Sigit malas menjawab pertanyaan Anita yang tidaklah penting menurutnya.
Merasa tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Anita terlihat kesal kembali menatap Winda yang berdiri disamping Sigit.
"Atau.... mau ikut nebeng pulang?? karena tidak punya ongkos?" celetuk Anita memancing jawaban dari Winda.
"Anita. Jaga bicaramu."
"Kenapa? atau menunggu dermawan yang memberikan lembaran rupiah?"
"Bisa diam tidak!"
"Hm. Aku tau... pasti dia sedang..."
"Anita! Jangan sampai gue membatalkan kerjasama ini!"
Kalimat Sigit mengancam dengan nada tinggi tidak suka dengan pertanyaan Anita yang sudah berani menghina istrinya.
"Wow... ada apa ini? baru kali ini saya melihat seorang Sigit Andra Winata mengancam seorang wanita. atau... jangan-jangan ada sesuatu diantara kalian, atau... kekasih gelap mungkin?"
"Jangan asal bicara kamu Anita, dia itu..."
"Mohon maaf mbak Anita, saya menunggu pak Sigit karena sudah kewajiban saya sebagai asisten pribadinya selama di kantor, maka dari itu sebelum saya mendapatkan izin pulang dari beliau secara langsung tidak sopan jika saya lancang pulang duluan."
Belum sempat Sigit menyelesaikan kata-katanya, Winda menyela ucapan suaminya.
Winda yang sudah merasa jengah tidak nyaman didalam ruangan menunggu suaminya yang masih ditahan Anita, dengan sengaja Anita mengulur waktu agar bisa mengambil kesempatan dengan suaminya dengan dalih membicarakan proyek secara pribadi. Akhirnya Winda menjawab pertanyaan Anita.
Firman terkejut mendengar kalimat Winda, dia tidak menyangka dengan jawaban bawahannya yang berani mengatakan dirinya sebagai asisten pribadi Sigit.
Sigit tidak ingin keadaan semakin tidak terkendali, dia pun menyadari keadaan istrinya yang tidak boleh terlalu capek dengan pekerjaan sesuai saran dokter Tama tadi siang, Sigit beranjak dari kursinya dan berpamitan lebih dulu.
"Maaf saya pulang dulu, karena waktunya sudah sore."
"Tapi Git, ini belum selesai."
"Silahkan dilanjutkan dengan pak Firman selaku manajer saya."
Sigit berdiri dari duduknya lalu meninggalkan Firman, Anita dan rekannya didalam ruangan.
Winda mengikuti langkah Sigit menuju lift turun dari gedung perusahaannya.
.
.
.
.
Bersambung..🤗🤗
Terimakasih akak yang sudah memberi hadiah buat babang n Winda...🤗
dukung terus mereka dengan meramaikan like n komentnya.
mau juga loh ditambah lagi hadiah dan votenya..😉😉
__ADS_1
saranghe...💞💞