
Satu Minggu, dua Minggu hingga satu bulan dua bulan, Tania berusaha menghindar dari Renaldi. Rasa jengkel dan malu masih betah tersimpan dalam hatinya.
Hari ini atasannya menyuruhnya langsung agar dirinya sendiri yang menyurvei proyek kerjasama dengan perusahaan WP yang hampir selesai. "Bu Tania, dipanggil pak Re. Ibu disuruh kedepan sekarang." suara seorang karyawan bangunan membuyarkan konsentrasi Tania yang memperhatikan para pekerja yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Ya, saat ini Tania sudah melakukan aktivitas pekerjaannya dengan menyurvei proyek yang digarapnya bersama Renaldi. Menyebalkan bukan?
Itulah keresahan yang Tania rasakan saat ini.
"Iya pak? maaf saya tidak dengar." Tania mengalihkan pandangannya pada laki-laki disampingnya, meminta pada laki-laki itu mengulang kembali kalimatnya karena suara bising disekitarnya.
Laki-laki itupun mengulang kalimatnya sembari mendekatkan diri pada Tania dengan suara yang lebih keras dari semula.
"Ibu dipanggil pak Renaldi di depan sana." tunjuk pekerja itu pada sesosok laki-laki yang berada diujung bangunan sedang berbicara dengan seseorang.
Tania mengikuti arah tunjuk jari pekerja disampingnya pada sosok yang sangat dikenalnya, Renaldi. Seketika Tania terhenyak melihatnya, keningnya berkerut.
Bukan kenapa-kenapa, masalahnya Tania masih menghindar dengan laki-laki itu untuk berbicara dengannya. Tania masih merasa kesal dengan kalimat-kalimat Renaldi yang sangat pedas di indera pendengarannya beberapa waktu lalu.
"Bu."
"Bu Tania." suara pekerja itu menyadarkan Tania.
"I-iya pak, saya segera kesana." Tania tergagap mendengar panggilan pekerja didekatnya.
"Kalau begitu saya izin melanjutkan pekerjaan saya lagi Bu." pamit pekerja itu, Tania tersenyum sambil mengangguk. Laki-laki itupun berlalu meninggalkan Tania.
Huuffffttt....
Tania menarik nafas panjang mengatur perasaannya yang masih kesal.
Bagaimana tidak kesal coba, disaat Tania masih kekeh dengan keputusannya untuk pulang sendiri, Renaldi bersikeras tetap memaksanya untuk masuk kedalam mobil dan mengantarnya pulang.
Ditambah lagi omelan-omelan Renaldi tajam menyerang Tania bertubi-tubi tidak berhenti ketika isakannya semakin histeris, terlebih saat Renaldi melontarkan kata, "Sebagai seorang wanita harus bisa berpikir elite didepan mantan, setidaknya jaga image sebagai wanita berkelas, bukannya seperti bunga yang baru sehari saja tidak disiram air dia langsung layu begitu saja. Tunjukkan padanya kalau kamu lebih bahagia dari dia."
"CINTA BOLEH, TOLOL JANGAN Tania! ngerti kamu!?"
"Jemputlah kebahagiaan mu ditempat yang tepat."
Kalimat Renaldi masih mendayu manja dalam ingatan Tania.
Namun entah mengapa kalimat itu seakan membuat diri Tania tersudutkan. Seolah-oleh dirinya seperti makhluk yang paling tolol di dunia ini. Begitu bodoh.
Walaupun sebenarnya kalau dipikir-pikir perkataan Renaldi malam itu memang benar adanya, akan tetapi rasa sakit pengkhianatan yang dialami Tania belum hilang seutuhnya dari sanubarinya, masih ada benang-benang halus kenangan bersama Alex.
__ADS_1
Tania begitu sulit melupakan kenangan itu bersama Alex. Tidak hanya satu atau dua tahun Tania merasakan hangatnya cinta sang kekasih yang bernama Alex. Tidak adil memang jika Tania harus menanggung rasa sakit dan kecewa itu sendirian. Namun sekuat tenaga Tania harus bangkit, harus bisa melupakan masa lalu yang kelam. Benar apa yang dikatakan Renaldi malam itu, jika Tania harus bahagia tanpa terbayang-bayang masa lalunya. Harus menjadi wanita yang tegar.
Ah, biarlah kenangan itu tersapu angin laut dan silih berganti dengan angin darat. Ibarat bongkahan es, biarlah meleleh mencair kembali ke wujud asalnya. Menjadi air bening yang mengalir ke sungai menyejukkan. Menghilangkan rasa penat para pendaki yang kehausan akan segarnya air mengalir.
Setidaknya, Tania harus terlihat bahagia walau tanpa seorang Alex sebagai sandarannya lagi, cukup sudah isi hatinya hampa selama ini tanpa laki-laki yang sudah berpaling darinya.
Tania berjalan menuju tempat yang dimaksud pekerja tadi. Sesekali Tania membenarkan geraian rambutnya yang diterpa angin, menyelipkan anak rambutnya dibelakang telinganya.
Antara perasaan gusar dan penasaran menggelayut manja di dada Tania. Hal apa lagi yang akan disampaikan laki-laki yang membuatnya kesal.
Tania berdiri tepat dibelakang Renaldi, menunggu laki-laki itu menyelesaikan pembicaraannya pada rekan kerjanya.
Sementara itu, Renaldi masih asyik berbicara dengan lawan bicaranya sehingga tidak menyadari kehadiran Tania dibelakangnya.
Cukup lama Tania berdiri menunggu kedua laki-laki didepannya menyelesaikan pembicaraan mereka. Berkali-kali Tania menyugar rambutnya yang panjang dengan sesekali merapikan bajunya yang diterpa angin.
"Ehem, ehem permisi, mohon maaf mengganggu waktunya sebentar pak."
Tania akhirnya memberanikan diri saat kedua lelaki didepannya saling diam. Renaldi dan rekan kerjanya menolehkan wajah mereka mencari pemilik suara yang tidak jauh dari tempat mereka.
Renaldi menatap sosok Tania. "Oh kamu rupanya." ucap Renaldi setelah melihat siapa yang berada didekatnya.
Terlihat disana wajah datar Renaldi.
"Baiklah pak Ramli, cukup dulu kalau begitu, saya kira pembicaraan kita tadi sudah jelas, silahkan pak Ramli lanjutkan pekerjaan bapak lagi dan saya pamit dulu." Renaldi mengakhiri pembicaraannya dengan laki-laki jangkung didepannya seraya mengulurkan tangan kanannya berjabat tangan.
"Iya pak Re silahkan." jawab laki-laki itu menyambut uluran jabat tangan Renaldi dengan tersenyum, setelah itu berlalu meninggalkan Renaldi dan Tania.
Kini tinggallah mereka berdua, Tania menatap wajah Renaldi sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada sekitarnya.
"Apa benar pak Re memanggil saya?" tanya Tania acuh.
Mendengar pertanyaan Tania, bukannya langsung menjawab pertanyaan itu, justru Renaldi melakukan gerakan mengendorkan ikatan dasinya yang melingkar setia dilehernya seharian, lalu melipat kedua lengan bajunya bergantian seraya berjalan menuju parkiran.
"Aneh." gumam Tania heran sambil mengikuti langkah laki-laki yang berjalan didepannya.
"Pak Re?" Tania mencari jawaban dari Renaldi.
"Menurut kamu?"
Tania terhenyak mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Renaldi. Langkahnya terhenti saat Renaldi membuka pintu mobilnya.
"Ikut aku."
__ADS_1
"Kemana?"
"Sudah, jangan banyak tanya, segeralah masuk." jawab Renaldi yang diakhiri perintah. Wajahnya terlihat sedang menyimpan sesuatu, sepertinya ada masalah besar.
Seharian Renaldi terlihat sibuk mengontrol sendiri kinerja para pekerja yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, sehingga menjelang sore hari rasa penat menggelayut ditubuhnya.
Tania tidak berani membantah. Rasa ketakutan melihat lelaki didepannya membuatnya nurut berjalan menuju pintu mobil sebelah, kemudian membuka dan bergegas masuk kedalam.
Suasana didalam mobil hening.
Tania diam ketakutan bercampur heran dengan sikap sosok disampingnya yang masih membisu belum mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaannya ataupun sekedar pemberitahuan tujuan perjalanan mereka saat ini.
Sedangkan Renaldi tidak menyadari keadaan Tania yang masih menyimpan penasaran. Ia masih fokus dengan kemudinya agar segera sampai pada tempat yang akan mereka datangi.
"Pak Re, kenapa pak Re diam saja dari tadi? tidak menjawab pertanyaan saya?" Tania tidak ingin lama-lama bergumul dengan rasa penasaran.
Mendengar pertanyaan Tania, Renaldi menoleh sejenak pada Tania, lalu kembali fokus dengan jalan didepannya. Ia baru sadar jika dirinya belum menjelaskan tujuan perjalanan mereka saat ini.
"Kebetulan, tadi sudah aku bicarakan pada pak Ramli, saat ini yang aku butuhkan adalah laporan semua data yang kemarin kamu buat beserta bukti data pengeluaran keuangan selama pengerjaan proyek yang masih berlangsung saat ini. Jadi tugas kamu sekarang buat laporan dan kirim di email ku nanti malam." Renaldi menatap wajah Tania yang terlihat sedang berpikir.
"Tapi, bukannya laporan keuangan sudah saya kirim kemarin?"
"Iya, tapi ini ada satu hal yang sangat urgen dan mengharuskan untuk didata ulang dari beberapa bulan lalu. Karena ini menyangkut perusahaan WP dan perusahaanmu" Renaldi memberikan sedikit penjelasan pada Tania. "Karena aku tidak ingin papi Winata melihatku lemah menangani masalah ini."
"Apa? masalah? maksud pak Re, proyek kerjasama perusahaan kita ada masalah?" tanya Tania.
"Iya ibu Tania Putri. Proyek perusahaan saat ini dalam masalah, sehingga kalau tidak segera ditangani maka para pekerja akan melakukan demo."
Tania terdiam, tiba-tiba ia teringat dengan perkataan segerombol pekerja dua hari lalu mengenai demo. Entah apa motif perkataan para pekerja saat itu hingga ada kata-kata demo terhadap perusahaan. Tania belum mengetahui secara jelas.
Namun, saat ini Renaldi mengatakan hal sama dengan apa yang dikatakan para pekerja saat itu.
.
.
.
. Bersambung...🤗🤗🤗
Hai kak, rindu kali rasanya lama tak menyapa akak2 readers. Karena banyaknya urusan outhor beberapa bulan kemarin hingga terjeda lama cerita Jodoh yang tak terduga ini.
mohon tetap dukungannya untuk cerita ini ya akak2 readers... love you all 💞💞'
__ADS_1