
Sigit berjalan menuju ruang makan mencari sosok istrinya yang sudah rapi menyiapkan sarapan mereka. Terlihat wajah bahagia dari garis wajah istrinya.
"Sudah siap Bang?"
"Hm, sudah dong."
"Ayo kita sarapan dulu, setelah itu kita berangkat bareng ya..."
Winda menyiduk nasi dan lauk untuk Sigit, lalu kembali menyiduk nasi untuknya sendiri.
"Nanti siang seperti biasa Winda akan tetep bawain makan siang Abang kekantor." ucap Winda disela-sela sarapannya. Sigit hanya melihatnya sejenak dan melanjutkan mengunyah sarapannya hanya dentingan sendok mereka yang terdengar hingga selesai.
Sigit mengelap mulutnya setelah meminum segelas air putih miliknya. Ia menunggu Winda yang sedang membereskan meja makan. Hari ini Ningsih hanya disuruh membersihkan rumah dan mencuci pakaian kotor saja, untuk urusan memasak Winda yang mengambil alih.
Winda meraih tas yang sudah disiapkannya tadi malam, ia pun membawakan tas kerja Sigit seperti kebiasaan setiap harinya. mereka berjalan beriringan keluar rumah menuju parkiran mobilnya.
"Denger, jangan terlalu dipaksakan jika sudah capek." kalimat Sigit saat Winda duduk di kursi samping kemudi.
"Ih apaan sih bang, jangan berkata begitu kenapa, berkata tuh yang baik-baik kasih support biar istrimu ini tambah seneng. Lah ini pagi-pagi malah udah di katain suruh mundur." jawab Winda menyangkal kalimat Sigit. Sigit hanya melirik Winda sekilas tanpa membalas perkataannya melanjutkan fokus pada laju kemudinya.
"Bukannya disuruh mundur sayang... tetapi Abang hanya ingin mengingatkan saja, jaga kesehatan supaya kamu tidak terlalu lelah."
"Hm..." Winda melirik pada Sigit dengan sedikit menggerakkan sudut bibirnya. " Tadi Abang bilangnya jangan terlalu dipaksakan kalau sudah capek, itu secara tidak langsung nyuruh Winda mundur bang."
"Hhhhhhh....."
Mendengar kata-kata istrinya, Sigit menghela nafas panjangnya, percuma saja ia menjelaskan pada seorang Winda yang sudah memiliki keinginan. Tentu saja hanya akan membuat suasana semakin horor.
Dalam perjalanan mereka hanya saling diam, Sigit membiarkan suasana hening mengawali rutinitas paginya hingga sampailah mobil mereka didepan halaman parkiran yang luas sesuai permintaan Winda. Sigit menghentikan mobilnya setelah memasuki pintu gerbang masuk.
"Winda turun dulu ya bang, sampai ketemu nanti di kantor Abang." Winda meraih tangan Sigit kemudian mencium punggung tangannya. Sigit pun membalas mencium kening Winda dengan hangat.
"Assalamu'alaikum bang." Winda turun dari mobil lalu menutup pintunya.
"Wa'alaikumsalam."
Sigit melihat Winda yang langsung disambut dengan dikerubuti anak-anak begitu berada dihalaman sekolah, ia menyaksikan sendiri dari balik kaca mobilnya bagaimana bahagianya anak-anak saat baru bertemu dengan istrinya. Bersalaman lalu mencium punggung tangan Winda secara bergantian dan berakhir dengan menarik lengan sang istri hingga masuk didalam ruang kelas. "Biarlah Winda menikmati keadaan seperti ini saat ini agar ia tidak bersedih teringat Brian lagi, setidaknya Winda bisa mengalihkan perasaannya." Batin Sigit. Lalu kembali melajukan mobilnya menuju jalan raya meninggalkan tempat istrinya menyibukkan dirinya sekarang ini.
__ADS_1
❄️❄️❄️
Pagi-pagi buta Renaldi sudah berada didalam ruangannya, ia segera mendata ulang semua laporan yang diterima nya. Hasilnya baru saja ia temukan, ada beberapa nama yang tersangkut dengan kasus proyek yang ditanganinya.
Saat ini, diluar gedung terik matahari semakin menyengat seakan berada tepat di atas kepala, menandakan waktu makan siang sudah tiba. Para karyawan sudah beranjak dari ruang kerjanya menuju kantin yang berada dilantai dasar. Namun, tidak dengan Renaldi, setelah selesai melaksanakan shalat Dzuhur, ia melangkahkan kakinya buru-buru keluar dari gedung cabang, ia ingin segera menemui orang-orang yang namanya sudah ada dalam genggamannya.
Geram campur heran Renaldi tidak habis pikir dengan ulah Tommy.
Ya, Tommy. Si mandor yang bertanggung jawab atas keuangan yang sudah ia berikan beberapa waktu lalu untuk para pekerjanya, ternyata uangnya tak tersalurkan pada pemiliknya yang sudah bekerja keras selama ini. Harusnya para pekerja tidak ada alasan untuk demo karena hak mereka sudah dipenuhi oleh perusahaan. Namun ternyata, ada orang yang dengan sengaja ingin bermain-main dengannya.
"Tommy... Awas saja kamu Tommy, jika sampai benar kamu terbukti yang melakukan semua ini, aku pastikan kamu yang akan membayar penderitaan mereka." gumam Renaldi, rahangnya mengeras menahan gejolak amarah.
Drttt... drttt... 🎵🎵🎵
Renaldi merasakan getaran yang disertai nada dering dari hp yang berada didalam saku jasnya, pertanda ada panggilan masuk.
Gegas Renaldi meraih benda pipih itu lalu melihat nama yang muncul dari layar hp.
"Pak Firman. Ngapain dia menelponku?" lirih Renaldi membaca tulisan yang sedang menghubunginya sambil mengemudi mobilnya lalu menggeser tombol hijau keatas.
"Iya halo pak Re. Saya hanya mengingatkan pak Re jika nanti ada rapat dengan klien perusahaan pak."
"Ya Tuhan, kenapa jadi mendadak begini pak rapatnya?"
"Bukan mendadak pak, kemarin pak Re sudah saya beritahu saat pak Re akan pergi meninjau proyek."
"Benarkah begitu?"
"Iya pak benar."
"Jam berapa rapatnya?"
"Jam satu nanti."
"Ckk, itu berarti sebentar lagi. Tapi hari ini aku ada kepentingan yang sangat mendesak pak Firman." ucap Renaldi gusar antara menemui orang-orang yang tersangkut kasus proyeknya atau kembali kekantor cabang lagi. "Apa tidak bisa diundur besok aja rapatnya pak Firman?"
"Maaf pak klien sekarang sudah menunggu di kafe melati yang bapak pesan kemarin."
__ADS_1
"Oh iya ya, kenapa aku bisa lupa?" Renaldi baru teringat jika ia sendiri yang menentukan tempatnya kemarin. "Baiklah, saya segera kesana sekarang. Pak Firman tolong siapkan semua dokumen yang saya suruh siapkan kemarin ya?"
"Sudah pak, ini saya sudah berada di kafe melati."
Renaldi fokus memperhatikan jalanan didepannya, mencari gang yang bisa mempercepat laju kendaraannya sehingga kehadirannya tidak terlambat untuk menemui kliennya.
"Ya sudah, tunggu saya. Lima belas menit lagi saya sampai disana."
"Baik pak."
Renaldi menutup panggilan Firman, lalu membelokkan mobilnya menuju kafe yang sudah ia pesan.
❄️❄️❄️
"Baik pak Renaldi saya puas dengan presentasi Anda, penjelasannya sangat rinci, detail jadi saya menyetujui kerjasama ini." pak Rudi menjabat tangan Renaldi.
Akhirnya, setelah beberapa jam Renaldi didampingi Firman berkutat dengan kliennya yang membahas tentang proyek pembuatan perumahan di daerah Bogor membuahkan hasil.
Awalnya Renaldi tidak menyangka jika ia akan berhasil meyakinkan kliennya barusan, tetapi entah mengapa pak Rudi, seorang pengusaha yang terkenal ulet dan tidak mudah tertarik dengan berbagai model penjelasan dari orang lain begitu mudahnya mempercayainya untuk bekerjasama.
"Terimakasih pak, semoga kerjasama ini sesuai dengan keinginan dan berjalan dengan baik." Renaldi menyambut jabat tangan pak Rudi.
"Tentu itu, saya yakin anda bisa pak Renaldi."
"Terimakasih atas kepercayaannya."
Tangan kiri pak Rudi menepuk-nepuk tangan Renaldi. "Kalau begitu saya permisi dulu."
Renaldi tersenyum. "Silahkan pak, hati-hati dijalan."
Renaldi mengantar kepergian kliennya dengan tatapan hingga tidak terlihat lagi dari tempatnya berdiri. Belum sempat Renaldi duduk di kursinya, terdengar suara Firman sedang terkejut mendengar kabar dari seseorang yang berada di seberang telepon genggamnya.
"Apa? mereka sudah didepan kantor?" kalimat Firman yang sempat terdengar Renaldi. laki-laki itu menangkap sorot mata Renaldi seraya beranjak dari tempatnya.
Renaldi mengerutkan keningnya, pikirannya langsung tertuju pada para pekerja yang akan berdemo di depan kantor cabang.
"Tapi... bukankah beberapa hari lagi mereka akan melakukan demo?" gumam Renaldi terheran.
__ADS_1