
Sigit berjalan menuju parkiran mobil dengan hati berantakan, ia baru saja menyelesaikan meeting diruang rapat.
Suasana hati yang awalnya sangat mengharapkan ingin segera pulang kerumah dan bertemu dengan istrinya, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Bayangan wajah Winda yang datang menyambutnya dengan berbinar didepan pintu, kini pudar dihempas ombak kalimat Renaldi.
"Selamat sore pak."
Suara satpam disertai menundukkan kepala sedang menyapanya ketika mobilnya melewati gerbang.
Tin.
Sigit melajukan mobilnya ke jalan raya berbaur dengan ramainya kendaraan di ibukota Jakarta ketika pulang jam kerja.
Ia mengemudikan mobilnya perlahan, mengikuti antrian panjang kemacetan disore hari menjelang petang.
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap istriku!"
"Tenang saja, kami hanya sekedar bertemu dan berbincang-bincang sambil menikmati minuman hangat disela-sela perbincangan kami."
"Dan... senyuman indah yang ku terima sangat menyenangkan sekali. Membuatku semakin melambung tinggi saat bersendau gurau bersamanya."
"Hingga aku berpikir... bahwa kamulah orang yang paling beruntung itu, tapi ternyata aku juga termasuk laki-laki yang beruntung itu, aku bisa ketawa bersamanya, menikmati indahnya menghabiskan waktu bercengkrama dengannya, berbagi cerita disepanjang malam dan sepanjang hari dengannya, menghabiskan waktu dengan berbelanja dengannya, serta berduaan dengannya, sehingga aku ketagihan untuk bertemu dengannya lagi."
"Benar-benar sangat menyenangkan."
Kepadatan kendaraan yang melintas seperti dirinya yang berada ditengah lautan alat transportasi, bagaikan perkataan Renaldi yang memadati kegundahan hatinya saat ini.
"Sial sial sial!!!" Sigit memukul stir dengan keras. "Kurang ajar sekali dia, dia pikir sedang berhadapan dengan siapa dia sekarang!" Sigit mengeratkan giginya sehingga rahangnya mengeras melampiaskan rasa kesalnya terhadap kalimat Renaldi tadi.
"Dan kamu Winda, berani-beraninya bermain dibelakang ku! Awas saja kamu nanti kalau aku sudah sampai dirumah!! kamu pasti akan menerima akibat dari ulahmu!"
Sigit masih terus menggerutu sepanjang perjalanan.
Senja di sore hari yang setia mengiringi perputaran waktu siang dan malam menyaksikan tingkah Sigit yang berbeda dari hari-hari biasanya.
Kemelut hatinya menguasai emosi yang sudah membuncah tidak terkendali lagi.
Bayangan demi bayangan sosok istrinya yang sedang bersama laki-laki lain bergelayut indah memainkan pikirannya. Tertawa, bercanda, berjalan bersama sambil belanja-belanja, cerita dan apa lagi yang sudah mereka lakukan selama ia berada di Singapura. Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas ia merasa dikhianati selama berada di Singapura.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mencari kejelasan dari Winda sendiri."
"Bisa jadi ini hanya akal-akalan Renaldi. Supaya terjadi keretakan rumah tanggaku dengan Winda."
"Jelas-jelas ia sangat membenci papi karena menikahi ibunya, dan sekarang rumah tanggaku yang akan dia pertaruhkan."
Tin.
Sigit menunggu pak Zain membukakan pintu gerbang untuknya.
"Aku harus bisa mengendalikan emosi saat menanyakan masalah ini pada Winda." gumamnya didalam mobil.
"Selamat malam bang."
sapa pak Zain saat Sigit melewatinya.
"Malam pak." Jawabnya seraya melanjutkan mengendarai mobilnya memasuki halaman parkir.
Sigit diam sejenak didalam mobil setelah mematikan mesin mobilnya, setelah beberapa saat mengatur emosinya sedikit redam ia baru membuka pintu dan turun dari mobil.
Ia melangkah memasuki rumahnya yang sudah disambut Winda dan mami diruang tengah.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Abang sudah pulang?"
__ADS_1
Sigit diam tidak menjawab pertanyaan Winda. Ia hanya menatap mata indah wanita didepannya itu.
Mami menautkan kedua alisnya tidak mengerti dengan sikap putranya yang baru datang. Heran.
Seperti biasa Winda mengambil alih tas kerja suaminya, dan berjalan mengiringi langkah Sigit menuju kamar mereka.
"Abang mau mandi sekarang?" tanya Winda saat mereka sudah berada didalam kamar.
Winda membantu melepaskan dasi dan jas yang dipakai suaminya.
Sigit masih tidak merespon pertanyaan Winda, diam dan membiarkan Winda mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri.
"Tenang saja, kami hanya sekedar bertemu dan berbincang-bincang sambil menikmati minuman hangat disela-sela perbincangan kami."
"Bang? buruan mandi." Suara Winda mengagetkan lamunannya.
Ia segera mengalihkan pandangannya dan berlalu menuju kamar mandi.
"Aneh, kenapa Abang dari tadi terlihat murung ya?"
"Oh mungkin karena pekerjaannya dikantor. Tadi kan dia bilang bete karena pekerjaan kantor."
"Ya sudah biarin saja dulu, nanti juga baik sendiri."
Gumam Winda menenangkan pikirannya menghilangkan prasangkanya terhadap sikap suaminya. Ia meletakkan baju ganti Sigit diatas ranjang lalu berjalan menuruni tangga berniat membantu mbok Lastri dan Ningsih menyiapkan makan malam mereka.
Setelah beberapa saat didalam kamar mandi.
Sigit mencari sosok Winda disekitar kamar mereka, namun ia tidak menemukannya.
"Pasti sudah turun kebawah dia." gumamnya.
Sigit melihat baju ganti yang sudah disiapkan Winda diatas ranjang, dia hanya meliriknya sekilas mengabaikan pilihan istrinya berlalu begitu saja berjalan menuju lemari, Kemudian mengganti handuk yang melilit tubuhnya dengan baju pilihannya.
Ia memandang wajahnya dari cermin didepannya, melamun teringat kembali kata-kata yang sangat ia benci.
"Hingga aku berpikir... bahwa kamulah orang yang paling beruntung itu, tapi ternyata aku juga termasuk laki-laki yang beruntung itu, aku bisa ketawa bersamanya, menikmati indahnya menghabiskan waktu bercengkrama dengannya, berbagi cerita disepanjang malam dan sepanjang hari dengannya, menghabiskan waktu dengan berbelanja dengannya, serta berduaan dengannya, sehingga aku ketagihan untuk bertemu dengannya lagi."
"Mas Sigit."
tok tok tok.
"Mas." suara Ningsih terdengar setelah terdengar suara ketukan pintu.
Sigit menoleh kearah pintu dan segera berjalan membukakan pintu.
"Iya ada apa Sih?" tanya Sigit setelah menemukan Ningsih yang berada dibalik pintu kamarnya.
"Di suruh turun ibu sekarang mas, makan malamnya sudah siap."
"Winda kemana?"
"Ada mas, sudah dimeja makan bersama ibu dan mas Revan dari tadi menunggu mas Sigit turun." jelas Ningsih padanya.
"Ya sudah." Sigit menutup pintunya dan berjalan menuruni tangga yang diikuti Ningsih dibelakangnya.
"Emmm... Sih." Sigit membalikkan badannya ketika beberapa langkah berada di tangga.
Ia berpikir lebih baik menyelidiki terlebih dulu sebelum bertanya langsung pada Winda dengan menanyakan pada Ningsih tentang sikap Winda selama ia tidak dirumah, sebagai tanda bukti.
"Iya mas." Ningsih mengerem langkahnya seketika terhenti ketika Sigit berhenti secara mendadak membalikkan tubuh didepannya.
"Kamu tau dimana dan bersama siapa saja ketika Winda pergi selama aku tidak ada dirumah?"
Ningsih mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Sigit yang seakan sedang menjadi detektif dadakan.
__ADS_1
"Kok tanyanya seperti itu mas?"
"Sudah jawab saja Sih."
Ningsih bingung.
"Tidak tau mas, setau Ningsih, mbak Winda perginya selalu dianter Riyan deh. Memangnya kenapa mas?" tanya Ningsih penasaran.
"Sudah tidak usah kepo dengan urusan orang, bisa-bisa terserang penyakit jantung loh kamu nanti terlalu kepo dengan urusan orang lain."
"Kok bisa mas?"
"Ya iyalah, ketika kamu penasaran dengan kehidupan orang lain terus kamu merasa iri dan setelah mengetahui ternyata dia bisa memiliki sesuatu yang kamu tidak bisa membelinya dan memilikinya maka kamu akan jantungan seketika."
"Ah mas Sigit bisa saja."
sahut Ningsih tersipu malu mendengar jawaban Sigit yang menyindirnya.
"Makanya jangan banyak tanya."
Suara Sigit kesal.
Ia berjalan cepat meninggalkan Ningsih jauh dibelakangnya menuju meja makan.
Sigit menarik kursinya, ketiga pasang mata yang berada didepannya memperhatikannya penuh keheranan dengan sikapnya yang terlihat menyimpan sesuatu.
Winda melakukan tugasnya meraih piring Sigit dan mengambilkan nasi diatas piringnya.
"Makan yang banyak bang biar tidak diam aja dari tadi." ucap Winda seraya meletakkan piring yang sudah berisi lauk dan sayur untuk Sigit.
Sigit melirik Winda yang tersenyum padanya.
"Dan... senyuman indah yang ku terima sangat menyenangkan sekali. Membuatku semakin melambung tinggi saat bersendau gurau bersamanya."
"Bisa-bisa stress aku memikirkannya." gumamnya terdengar jelas ditelinga orang-orang disekitarnya ketika ia teringat kalimat Renaldi lagi.
Justru ucapannya itu membuat mereka penasaran.
"Ada apa bang?" tanya mami.
❄️❄️❄️
Ditempat berbeda.
"Hehehe... pastinya sedang terjadi tragedi menarik saat ini. Hahaha... Sigit Sigit memang semudah itu kamu meremehkan aku? hahaha..."
Renaldi tersenyum membayangkan drama keluarga yang terjadi dalam rumah tangga Sigit saat ini.
"Hahaha... istri yang manis. Winda." Renaldi mengeratkan minuman kaleng dalam genggamannya.
"Sangat manis. Dan dia memang wanita baik-baik. Maafkan aku yang sudah menjadikanmu sebagai alat semua ini. sebenarnya kamu tidak ada salah sedikitpun dengan masalahku, akan tetapi kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Winata." tersenyum sinis.
Ia teringat sosok Winda yang sopan dan bersikap baik padanya beberapa hari lalu. Ia melihat senyuman yang terasa hangat dan menenangkan setiap orang yang memandangnya.
"Tapi... tapi kenapa selalu orang baik-baik yang selalu mengelilingi si tua itu! kenapa!!!" matanya menerawang menembus air kolam yang berada di apartemennya. Ia geram dengan membanting kaleng dalam genggamannya sehingga terpelanting jauh didepannya.
"Kenapa engkau membuat nasib begini padaku ya Tuhan...."
"Kenapa?!!"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung 🤗🤗
Saranghe 💞💞💞