Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 156. Lebah Betina


__ADS_3

Klik.


Triiiinggg...


Seketika ruangan terlihat terang. Winda yang masih hanyut dalam suasana romantis suaminya seketika terkejut melihat orang yang sudah berada di ruang tamu. Mereka berdiri mengelilingi Winda dan Sigit.


Sepasang bola mata Winda mengamati setiap orang yang ada disekitarnya, memastikan penglihatannya tidak salah seraya mulutnya bergerak menyebut nama mereka dengan lirih nyaris tidak terdengar. Terkejut.


"Mami... Ibu... Papi... Bang Bram... Bapak... mas Aldi..." Winda seakan tidak percaya melihat semua orang yang dikenalnya ada disekelilingnya, satu persatu dia menatap lekat makhluk kasat mata disekitarnya penuh teliti.


Winda mengalihkan pandangannya pada suaminya, menatapnya dengan tatapan tidak mengerti, dalam hal apa mereka semua ada dirumah mewah ini. Apalagi ada Bram yang baru beberapa hari pulang ke tempat tinggalnya, dan kenapa saat ini Bram bisa ada diacara relasi bisnis suaminya.


"Abang... Ada apa ini?" Winda bingung sama sekali tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap suaminya.


Sigit hanya tersenyum membalas tatapan wanita didepannya yang terlihat jelas sedang menyimpan rasa penasaran.


Suasana hening.


Semua orang terdiam tidak ingin membantu menjawab kesulitan yang dihadapi Winda saat ini, hanya senyuman kecil yang terlihat dibibir mereka.


Tidak lama setelah keadaan yang sempat membuat Winda bingung, tampaklah dua orang keluar dari dalam ruangan, orang itu tidak lain adalah Revan dan Sofia dengan mendorong sebuah trolli makanan mendekat kearah Winda dengan cake yang besar bertengger diatasnya. Mewah, disertai suara sambutan meriah dari para tamu undangan yang tiba-tiba muncul dari belakang Revan dan Sofia secara beruntun.


Seketika suasana menjadi riuh suara dari orang-orang yang sangat dikenalnya.


Tania, Silvi, Anita, Willy, Topan, Jhon, pak Firman, Dian, Rere, dan masih banyak orang kantor WP yang keluar berderet seperti orang yang mengantri gratisan persis di media yang lagi viral saat ini. Ah bikin Winda semakin malu saja. Masalahnya Winda baru membaca tulisan yang tertera diatas cake itu sama dengan tulisan yang ada dipapan karangan bunga didepan tadi.


Rasa haru mendekam dalam pikiran Winda. Tatapan matanya tertuju pada sosok kekar suaminya yang tersenyum padanya.


"Abang... Jadi tulisan didepan itu benar?" tanya Winda sedikit ragu.


"Hm, happy anniversary pernikahan kita and... Hari istimewamu sayang... Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu mengiringi langkah kita kedepannya, kamu semakin sabar hidup bersama Abang, kita jalani dan kita hadapi bersama-sama apapun halangan dan rintangan itu dalam keadaan senang maupun susah, jangan pernah merasa sendiri oke..."


Sigit menggenggam kedua tangan Winda yang diangguki kepala Winda.


Winda sangat terharu melihat kejutan yang diberikan Sigit padanya. Tidak henti-hentinya Winda menertawakan kebodohannya yang sudah melupakan semua momen penting dalam kehidupannya, bisa-bisanya dia melupakan hari istimewa dan tanggal kelahirannya. Semenjak kepergian Azam, kakaknya, Winda tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya. Biasanya Bu Arini hanya menggelar syukuran kecil-kecilan dirumah mereka, hanya mengundang teman sebaya Winda dan sekedar membagikan makanan kepada anak-anak panti dan para tetangga, menurut Bu Arini dan pak Idris itu sudah cukup, tidak perlu berlebihan.


Tidak terasa embun bening di pelupuk mata Winda menghalangi pandangannya sehingga terlihat buram.


Winda memeluk tubuh suaminya, lalu meraih tangan kanan Sigit dan menciumnya.


"Terimakasih Abang... Maafin Winda yang tidak ingat anniversary pernikahan kita..." Winda merasa bersalah.


Sigit mendekap tubuh Winda dan mencium pucuk kepala wanita tersayang nya, Sigit tidak peduli dengan mata yang sudah memperhatikan dirinya dan istrinya saat ini, dia hanya menikmati suasana yang tepat, itu saja.


Para tamu tersenyum melihat mereka, tidak heran jika Topan dan John berbuat konyol melihat tingkah Sigit yang tidak segera melepaskan Winda.


"Ehem, ehem." Papi yang melihat suasana menjadi canggung saat melihat putranya tidak juga melepaskan pelukan dari menantunya mencoba mengingatkan Sigit.


Winda terlihat malu ketika menyadari keadaannya, wajahnya merona merah menahan malu.


"Sebaiknya segera kita mulai saja acara malam ini Git." Lanjut papi saat pelukan dua sejoli itu sudah terurai.

__ADS_1


"Oh iya Pi, Igit sampai lupa." Jawab Sigit lalu menuntun istrinya ditempat yang sudah disediakan untuknya.


Revan segera memulai acara malam itu, para tamu undangan menikmatinya tanpa terkecuali. Sampai acara makan-makan tiba suasana semakin riuh ditambah lagi dengan meja geng boy dan geng girl yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan kebersamaan mereka. Setelah lulus dari bangku kuliah mereka sibuk dengan dunia baru masing-masing, menjalani ketentuan Tuhan yang sudah ditakdirkan untuk mereka.


Sigit sengaja mengundang semua sahabatnya itu karena rindu dengan kebersamaan saat kuliah dulu. Alasan lain, agar istrinya juga merasa terhibur dengan kedatangan kedua sahabatnya, dan kebetulan sekali saat ini mereka sedang berada di Jakarta karena ada urusan pekerjaan. Susah sekali mereka bisa bertemu walaupun hanya sekedar reoni kecil-kecilan, semua itu karena tuntutan pekerjaan masing-masing sehingga membuat volume pertemuan mereka tidak bisa di tentukan, setidaknya pertemuan mereka hanya melalui video call saja. Itu saja sudah termasuk beruntung.


Suasana terdengar lebih riuh lagi dimeja duo geng itu ketika berkali-kali Tania dan Topan saling meledek dengan sebutan yang sama ketika jaman kuliah mereka dulu. Sehingga candaan mereka terdengar jelas di meja sebelah yang ditempati oleh keluarga Sigit dan Winda termasuk Renaldi.


Sesekali Renaldi menguping dan memperhatikan candaan teman-teman Sigit dan Winda. Sehingga Renaldi pun sedikit banyak mengetahui kisah perjalanan persahabatan mereka.


Ditengah asiknya para tamu undangan menikmati hidangan yang tersaji diatas mejanya, Sigit meminta sedikit waktu untuk menyampaikan hal penting darinya. Membuat semua orang menghentikan kegiatannya yang tengah dilakukan saat itu.


Sebuah mikrofon pengeras suara berada ditangan Sigit, perhatian para tamu undangan sudah tertuju padanya yang berdiri tegak ditengah pusaran para tamu.


"Baiklah, terima kasih banyak atas kehadirannya saudara-saudara dan sahabatku sekalian yang sudah meluangkan waktunya untuk hadir diacara kami. Malam ini aku, Sigit Andra Winata akan mempersembahkan lagu spesial untuk istriku, bidadari ku tersayang."


Dengan merentangkan tangan kanannya pada Winda, Sigit mulai menyanyikan sebuah lagu, ia berjalan mendekati Winda sambil menyanyikan lagu kenangan masa kuliah mereka saat di basecamp fakultas.


Tangan kanan Sigit meraih jemari tangan Winda dengan sedikit menariknya sebagai kode mengajaknya ikut berjalan ditengah pusaran tamu undangan. Sontak perhatian para tamu undangan tidak ingin lepas dari tingkah Sigit yang sukses membuat para jones iri Melihatnya.


Winda merasa malam ini merupakan malam paling indah setelah sekian lama melalui kesulitan yang ia lewati, tidak terasa embun bening menitik dari kelopak matanya.


Duhai cintaku pujaan hatiku


Peluk diriku dekaplah jiwaku


Bawa ragaku


Terang saja aku menantinya


Terang saja aku mendambakannya


Terang saja aku merindunya


Karena dia


Karena dia


Begitu indah....


"Huu.... Suit suit..." Suitan Willy terdengar menggoda sahabatnya.


"Tau gini tadi gue bawa calon bini gue." Celetuk Jhon menyesal tidak membawa Bela kekasihnya.


"Alah... Bilang aja lu iri." Sahut Topan.


"Tau." Tania menimpali perkataan Topan.


"Sampai kapan lu mau menunggu terus hingga Bela siap? Sadar Jhon dia itu cuma mengulur waktu saja, sepertinya dia tidak serius dengan lu." Willy tidak mau kalah berkomentar.


"Tauk sampai kapan. Liat tuh umur udah tidak muda lagi. Masih aja mau digantung." Sulut Topan seraya menggerakkan tangan menyerupai gerakan menggantung.

__ADS_1


Jhon melirik sahabatnya, ia merasa kesal sudah diledek mereka. Sementara Silvi dan Willy hanya tersenyum melihat ulah ketiga sahabatnya.


"Sirik lu, dari pada lu bujang lapuk belum juga laku." Jawab Jhon, mengerutkan kening.


"Yee... Dibilangin juga malah sewot." Sahut Tania tidak mau kalah.


"Apa?! Tidak terima? Lu juga perawan tua, Sono pantesnya kalian berdua cepetan kawin, biar klop geng boy dan geng girlnya. Mendingan gue udah punya kekasih, calon tunangan, dari pada kalian berdua? Pacar aja tidak punya apalagi tunangan ha ha ha..." Jhon melempar pembahasan pada Tania yang sedang asik merekam aksi Sigit dan Winda.


Seketika perkataan Jhon berhasil membuat Tania melotot padanya.


"Apa lu bilang? Gue tidak denger." Ketus Tania.


"Sialan. Ngaco lu ya." Ucap Topan dengan wajah datar menanggapi candaan sahabatnya setelah meneguk minuman yang ada didepannya.


John tersenyum puas.


"Ah sudah jangan berisik tau." Silvi melerai sahabatnya, ia khawatir ketika melihat horor pada bola mata Tania.


"Apa lu bilang barusan? Perawan tua Hem?! Kawin sama angin topan porak poranda kayak piranha itu? Enak aja."


"Hey Tamiya becak balap! Kenapa gue yang kena?!"


"Bodok."


"Siapa juga yang mau sama lu Tamiya yang taraf kecerewetannya melebihi lebah." Balas Topan.


"Cihhh.... emang gue mau gitu, sama piranha?"


Suasana beralih pada perdebatan sengit antara Tania dengan Topan saling mengolok-olok, sehingga tanpa disadari olokan mereka membuat Renaldi jengah mendengarnya. Tidak tahu apa yang ada pikirannya saat ini.


"Gue juga ogah sama lebah betina."


"Apalagi gue. Seribu kali juga sudah pasti bakalan gue tembok hati gue dari nama angin Topan. Najis!!" Tania dongkol, panas hatinya mendengar sebutan terbaru Topan untuknya. Enak aja dibilang lebah betina.


"Siapa juga yang sedih sama lu, lebih najis gue dengernya."


"Hahaha..." Jhon terbahak-bahak mendengar perdebatan Topan dengan Tania.


John tidak menyangka pada Topan yang memberikan julukan baru untuk Tania sebagai lebah betina. Sangat lucu di indra pendengarannya.


John sangat puas memutar keadaan dengan memancing emosi kedua mahluk itu.


"Apa lu ketawa!" Lirikan Tania tajam pada John yang tidak berhenti menertawakannya.


Sontak membuat Silvi dan Willy terdiam membiarkan Tania.


"Hahaha... Gue yakin pasti kalian jodoh juga seperti pasangan Willy dan Sigit, hahaha... Masih aja suka ribut hahaha...."


Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2