Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
169. Aksi Sebuah Rencana


__ADS_3

"Saya sangat puas dengan rancangan anda pak Renaldi. Gedung sudah hampir tujuh puluh persen selesai. Sudah terlihat kokoh bangunannya. Benar-benar kinerja yang luar biasa." Komentar koleganya yang sangat takjub dengan cara kerja Renaldi.


Kinerja Renaldi memang diakui para karyawannya. Hampir setiap hari dia selalu berada di sana mengecek kualitas bahan bangunan, mendampingi para pekerja dan selalu memperhatikan pekerjaan para karyawan.


Jika dikira bahan bangunan tidak sesuai dengan perbandingan material, Renaldi pun mengetahuinya dan tidak segan memberitahukan mereka bagaimana cara membandingkan material yang benar dan sesuai kebutuhan.


"Terimakasih pak, dan jangan berlebihan pujiannya." Renaldi tersenyum.


"Baik pak Re, kami permisi dulu kalau begitu."


Renaldi menyambut uluran jabat tangan orang didepannya. Mengakhiri pertemuan mereka.


"Terimakasih atas kerjasamanya."


"Sama-sama pak."


Kedua orang itupun berlalu hingga punggung mereka tidak terlihat, Renaldi mengendorkan ikatan dasi dilehernya kemudian melipat kedua lengan tangannya.


"Hhhh... Alhamdulillah akhirnya pekerjaan ini akan segera selesai juga." Renaldi menghela nafas lega.


Awalnya ia merasa berat sekali menangani proyek pembangunan ini, ia berfikir banyak sekali rintangan yang akan dihadapinya. Namun diluar angan-angannya, pekerjaan itu ternyata selesai lebih cepat dari spekulasinya.


Cukup lama laki-laki itu berdiri sendiri setelah satu persatu para pekerja pamit pulang undur diri kepadanya. Kedua bola matanya masih menatap hamparan luas kebun teh yang membentang subur menghijau bak permadani sejuk dipandang mata.


Tangan kanan Renaldi merogoh cincin yang berada di dalam saku celana, perlahan ia mengambil cincin berlian dan menatap setiap inci cincin berlian yang sudah dalam genggamannya. Cincin milik sang ibu merupakan satu-satunya benda yang dapat menemaninya hingga saat ini.


Perlahan awan putih kini mulai memudar warna nya bersemu kemerahan, pertanda hari menjelang petang.


Hati Renaldi tampak kalut.


"Ibu, lihatlah kini anakmu sudah bisa mengurus dirinya sendiri, bekerja keras sebagai seorang lelaki yang engkau inginkan." Entah mengapa tiba-tiba wajah tampan itu terlihat sendu mengenang wajah seorang wanita yang sangat ia rindukan.


"Bahkan kini anakmu bisa bersama keluarga barunya lagi Bu... bersama papi, mami dan Revan anak kecil ibu, adik Aldi. Mereka semua orang baik Bu. Maafkan aku bu, maaf sudah membuat mu bersedih..." Embun di pelupuk matanya menutupi pandangannya. Perlahan terasa hangat dikedua pipinya.


Renaldi menangis mengingat semua kenangan, kisah keluarganya yang begitu epik. Rasa benci dan dendam dengan keluarga Winata sempat membutakan hati dan pikirannya selama ini.


Penyesalan dan malu hinggap dalam hatinya.


🎵🎵🎵🎵


Suara panggilan hp Renaldi terdengar dari saku celana nya, membuyarkan lamunannya.


Renaldi mengusap air matanya, meraih benda pipih itu lalu membaca nama yang tertera dilayar hpnya.


Winda.


Nama yang selalu dinomor satukan setelah kepergian sahabatnya, Azzam.


Renaldi memperhatikan nama itu sejenak kemudian menggeser tombol hijau keatas. Pandangannya menyebar lingkungan disekitarnya.

__ADS_1


"Halo Assalamu'alaikum Win."


"Wa'alaikumsalam mas, mas Al sekarang ada dimana?"


"E... ini masih di lokasi proyek."


"Belum pulang?"


"Belum."


"Segera pulang mas, sudah ditunggu bang Sigit."


"Sepertinya mas tidak bisa menghadiri pesta malam ini Win."


"Kenapa mas? Bukannya pekerjaan hari ini sudah selesai ya tadi sore kata pak Firman?"


"Iya, tapi mas Al mau istirahat sebentar di apartemen sebelum berangkat nanti malam."


"Tidak bisa! Mas Al harus datang."


"Mas benar-benar tidak bisa, karena mau nyiapin keperluan nanti malam sebelum berangkat ke Singapura."


Rinaldi memang sudah berencana tidak ingin menghadiri undangan pernikahan putri dari relasi kerja Winata, alias sepupu Tania. Bukan karena ada masalah pribadi akan tetapi ini karena pertimbangannya yang tidak ingin terlalu melelahkan dirinya sebelum keberangkatannya tengah malam nanti, dia mendapat perintah dari Winata agar bersedia menggantikannya mengurus pekerjaan yang berada di perusahaan Singapura. Winata sangat sibuk ditambah lagi jadwal keberangkatannya bersamaan dengan acara pesta kerja relasi kerjanya malam ini. Jadi Winata mengutus Renaldi agar mengurus perusahaannya yang ada di sana.


"Halo mas. Masih dengerin Winda kan?"


"Iya halo Win."


"Mas..." Suara Renaldi terpotong.


"Ya udah kalau mas Al gak bisa dateng mending Winda juga tidak usah dateng, malu sama Tania." Sahut Winda cepat.


"Hallo Win, hallo...." Sahut Renaldi cepat. "Hallo, jangan marah dulu."


"Serah mas aja."


"Oke, oke. Mas segera berangkat sekarang."


❄️❄️❄️


"Bagaimana Win, apa Renaldi mau menghadiri pesta nanti?"


"Yes berhasil." Winda menurunkan tangan kanannya yang terkepal kegirangan, wajahnya ceria sangat senang, sekaligus memberikan jawaban kepada suaminya. "Ya, mas Al akhirnya mau dateng."


Sigit tersenyum.


Ya, malam ini mereka mencoba menyusun rencana untuk menyatukan Renaldi dengan Tania. Melalui pesta pernikahan sepupu Tania mereka berharap rencananya berhasil. Tentunya mereka tidak berdua, mereka dibantu Gunawan dan dukungan penuh dari orang tua mereka dan orang tua Tania.


"Baik bang kalau begitu kita harus bermain cantik, jangan sampai tercium mas Renaldi rencana kita ini." Gunawan mengingatkan Sigit agar berhati-hati menjalankan rencana mereka.

__ADS_1


"Hm, tentu om karena dia adalah orang yang sangat jeli."


"Saya sudah mempersiapkan semuanya bang. Kalau begitu mari kita berangkat sekarang."


"Hm, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar sesuai yang kita harapkan."


Gunawan membalikkan badannya dan meninggalkan kediaman Sigit lebih dulu, tidak berselang lama disusul Sigit dan Winda.


Gunawan mengemudikan mobil yang berbeda menuju gedung pernikahan sepupu Tania.


❄️❄️❄️


Suasana pesta pernikahan Amel, sepupu Tania sangat mewah, tamu undangan sudah mulai berdatangan. Para kolega bisnis orang tua Amel rata-rata semuanya menghadirinya.


Terlihat seorang pemuda baru saja memasuki ruangan pesta yang meriah itu dengan wajah fresh dan cool dengan pakaian stelan jas warna hitam.


Seperti biasa para tamu undangan duduk melingkar berkelompok sambil membicarakan keluarga dan kesibukan bisnis mereka sesekali menyomot, menikmati hidangan yang sudah tersaji diatas meja. Yang muda-mudi pun tidak mau kalah, mereka mengobrol berkelompok seakan menghadiri reuni sekolah.


Sigit melambaikan tangan kanannya pada Renaldi agar bergabung duduk ditengah keluarganya.


Renaldi mendapati lambaian Sigit yang sudah duduk diantara keluarganya dan keluarga Tania. Ia pun segera berjalan mendekati meja Sigit dan orang-orang terdekatnya.


"Assalamu'alaikum, selamat malam semua." sapa Renaldi dengan menjabat tangan keluarga orang tua Sigit dan keluarga Tania yang sudah bergabung terlebih dulu darinya.


Ia memperhatikan kursi-kursi yang berjejer mengelilingi meja bundar yang sudah ada penghuninya, hanya satu kursi yang tersisa diantara


Tampak disebelah meja mereka sesosok laki-laki yang sangat dikenal para pebisnis, laki-laki itu selalu memperhatikan Tania, tatapannya jelas sedang fokus pada satu titik saja.


Sengaja Sigit dan Gunawan ikut andil melibatkan dirinya mengatur tempat duduk para tamu undangan, agar mempermudah aksi rencana mereka.


Tawa, candaan mereka melengkapi riuh gempita malam itu. Olokan, sindiran sesama jomblo saling balas membalas. Terkadang Sigit memancing pembicaraan yang mengarah pada keinginan hati para jomblo didekatnya tetapi begitu melihat reaksi dan sambutan Renaldi yang sama sekali tidak terpancing pembicaraan nya membuat Sigit semakin gemas dibuatnya, justru sikap Renaldi biasa-biasa aja.


"Ayo Re segera menyusul." Celetuk Sigit akhirnya.


" Iya pak Re langsung sikat saja kalau sudah ada calon." Pak Rudi salah satu koleganya menimpali perkataan Sigit.


"Itu lihat banyak gadis cantik yang ada disini, masak iya satupun diantara mereka sama sekali tidak ada yang menarik perhatian anda pak Re?"


Renaldi tersenyum kecil mendengar kalimat orang disampingnya lalu menyebarkan pandangan disekitarnya. Hingga tanpa sengaja kedua bola matanya menangkap sosok Alex yang masih menatap Tania dengan senyuman menawan. Terlihat dua bola mata yang tidak pernah lepas menatap sosok wanita yang berada didepan mejanya.


Tampak jelas oleh Renaldi sebagai pengamat orang-orang disekitarnya, melirik sosok Tania yang serba salah tingkah ketika mendapati tatapan Alex berkali-kali. Walaupun gadis itu berusaha menutupi kegugupannya, namun masih bisa ditangkap jelas oleh Renaldi.


Renaldi menghela nafas diudara, memalingkan wajahnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 🤗🤗


__ADS_2