Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 152. Rencana Sigit 1


__ADS_3

"Huuuaaaahhhmmm...."


Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang menerobos masuk didalam kamarnya. Dengan sedikit rasa malas, Renaldi merentangkan kedua tangannya, membuka matanya perlahan. Rasa lelah setelah dikerjain mobilnya membuat tubuhnya lebih capek dari pada bekerja di kantor seharian. Semalam ia tertidur pulas setelah shalat isya'.


Makan malampun hanya sebentar sebagai syarat pengganjal perutnya saja. Untuk menyantap hidangan saja tidak lagi ada rasa nikmat, hanya rasa kenyang yang menjadi tujuan utama.


Kalau tidak karena ulah sembrono Sigit semalam pastilah Renald tidak akan pergi ketempat itu, tidak tau kenapa pikirannya kalut begitu saja. Belum juga kerjaan yang tertunda kemarin hingga setinggi gunung himalaya tumpukan berkas telah melambai menunggu tarian jari tangannya, alhasil hari ini dia harus membayar lemburan sampai malam nanti.


"Uuuuuhhhh....."


Tubuh kekar Renaldi menggeliat duduk diatas ranjang melawan rasa malas karena tubuhnya yang masih lelah.


Setelah beberapa saat terdiam diatas ranjang, akhirnya Renaldi berhasil mengumpulkan nyawa sepenuhnya. Kemudian menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan segera beranjak ke kamar mandi.


Beberapa saat Renaldi berada didalam kamar mandi membersihkan dirinya secara kilat. Hanya selembar handuk yang menutupi setengah badannya ketika ia keluar dari kamar mandi. Setelah itu ia segera mengenakan pakaian dan menjalankan kewajibannya menghadap sang Maha Pencipta dengan khusyuk. Meresapi ayat demi ayat dalam setiap bacaannya yang menyejukkan hati hingga selesai menyempurnakan gerakan sholat subuhnya. Kemudian menengadahkan kedua tangannya setelah membaca bacaan dzikir memohon petunjuk kepada Allah agar hidupnya tidak tersesat dalam dunia yang penuh tipu daya ini.


Tok tok tok


"Nak Aldi..."


Tepat saat Renaldi selesai berdoa, terdengarlah suara pak Idris dari balik pintu kamarnya


Laki-laki itu menolehkan kepalanya melihat pintu yang masih tertutup rapat.


"Iya pak..."


Renaldi beranjak dari duduknya melipat sajadahnya lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.


Renaldi menemukan pak Idris sudah berdiri tepat didepannya. Masih terpasang peci hitam diatas kepalanya menambah wajah setengah tua itu terlihat lebih tenang dan bijak.


"Kamu sudah shalat Aldi?"


"Iya pak baru saja selesai." jawab Renaldi dengan tersenyum renyah.


"Ada Sigit diruang tamu, dia ingin bicara sama kamu katanya." Kata pak Idris memberitahunya.


Renaldi terhenyak mendengar pemberitahuan laki-laki didepannya. Mengerutkan keningnya, heran.


"Sigit pak?" tanya Renaldi, dalam hatinya bertanya untuk apa Sigit sepagi ini sudah datang menemuinya. "Ada apa dia pagi-pagi sekali sudah datang kemari mencari saya pak?" Akhirnya Sigit mengutarakan isi kepalanya.


"Bapak hanya di beritahu kalau ada yang mau dibicarakan dengan mu." Jawab pak Idris.

__ADS_1


Renaldi terdiam sesaat.


"Sudah sana temui dulu orangnya." suara pak Idris membuyarkan lamunan Renaldi.


"Oh iya pak." Renaldi menutup pintu kembali, ia berjalan dibelakang pak Idris yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


Tidak berapa lama kedua laki-laki itu sudah duduk berhadapan diruang tamu. Disana hanya ada mereka berdua, pak Idris kembali sibuk dengan membaca Al Qur'annya terdengar dari suara mengaji dari dalam kamarnya. Renaldi tidak melihat adanya Winda disana, membuatnya semakin penasaran.


Untuk beberapa saat mereka saling diam setelah saling sapa sebelumnya.


"Emmm.... sebenarnya ada apa kamu datang kesini sepagi ini sendirian Git?" tanya Renaldi akhirnya, memecah kebisuan. Tidak sabar ingin mengetahui tujuan kedatangan Sigit.


"Ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepada mu Re." Jawab Sigit to the poin.


"Apa itu?"


Sigit menatap lekat wajah laki-laki didepannya.


"Sebelumnya aku sudah mengatakan rencana ini pada ibu dan bapak kemarin ketika kamu pergi." Sigit membuka suara memberitahukan maksud kedatangannya dengan pandangan penuh arti.


Renaldi seketika tertegun mendengar kalimat "pergi" yang dikatakan Sigit barusan. Ia khawatir jika Sigit mengetahui masa lalunya mengenai perjalanan asmara nya dulu.


Sungguh masa lalu yang mengecewakan.


"Aku ingin memberikan kejutan untuk Winda, dan itu butuh dukungan dari keluarga besar. Aku tidak tega melihat Winda terus bersedih saat melewati kamar Brian. Dia masih teringat Brian sampai saat ini Re. Jadi rencananya aku akan memberikan surprise di hari ulang tahunnya besok. Mengajak Winda pindah ke rumah yang sudah aku persiapkan sebelum Brian lahir. Aku mohon bantuanmu juga agar kamu bisa ikut andil dalam acaraku nanti." Sigit mengutarakan tujuannya datang menemui Renaldi, dia sudah merencanakan itu jauh hari ketika Winda masih hamil putranya dulu sebagai hadiah nantinya. Tapi siapa tau jika takdir Tuhan akan berlawanan dengan rencana manusia.


"Oke, baiklah aku setuju dengan mu Git. Terus kapan rencana itu akan di laksanakan?"


"Dua hari lagi."


"Baiklah akan aku usahakan datang besok."


Renaldi menganggukkan kepalanya.


Sigit tersenyum dengan lirikan penuh arti.


"Jangan sampai tidak datang." Ucap Sigit seraya beranjak dari duduknya.


❄️❄️❄️


Hari menjelang siang Sigit sudah mengakhiri kerjaannya, ia keluar dari gedung cabang menuju rumah barunya untuk memastikan persiapan perpindahannya agar tidak ada kendala lagi.

__ADS_1


Sejak dua hari yang lalu mami, Revan dan Ningsih sudah sibuk menata dan menghias ruangan sesuai konsep yang diberikan Sigit. Walaupun sudah ada Ivent yang menanganinya sendiri, namun Sigit ingin ada pihak keluarga yang memantau langsung prosesnya agar tidak ada satupun yang terlewati.


Semua itu dilakukan dengan cara diam-diam tentunya tanpa sepengetahuan Winda. Sigit ingin momen penting istrinya saat ini sangat mengesankan untuk Winda.


Sigit sadar jika selama satu tahun mereka berumah tangga sudah banyak cobaan yang sudah mereka hadapi, maka dari itu Sigit benar-benar ingin membahagiakan Winda, setidaknya dengan menghapus luka istrinya dengan memberikan kejutan istimewa ini. Selain itu, saat ini merupakan perayaan pertama sebagai tanggal kelahiran wanita pujaannya setelah mereka menikah.


"Bagaimana mi? sudah beres semuanya? atau masih ada yang diperlukan?" tanya Sigit. Bola matanya memandang sekeliling merasa puas dengan hasil kerja orang yang sudah dibayarnya.


Mami Lia tersenyum lega karena rumah putranya sudah siap huni. Bola mata mereka bertemu saling memandang menyiratkan kebahagiaan yang murni dari hati mereka.


"Mami kira sudah cukup bang. Bagus sekali rumahnya, desain interiornya juga luar biasa. Rumah kalian bagaikan istana kerajaan jika permaisurinya sudah diboyong kesini nanti. Mami jamin Winda pasti sangat menyukainya. Ternyata anak mami selain pandai bekerja kantoran ternyata anak mami juga pintar merancang bangunan juga, mami benar-benar tidak menyangka bang." Kalimat mami mengomentari hasil karya putranya yang sudah berhasil merancang bangunan rumahnya sendiri menjadi istana sebagai tempat tinggalnya.


"Mami berlebihan mujinya." Sigit mengelak pujian dari wanita didepannya, tidak ingin pujian itu membuatnya semakin besar kepala.


"Igit memastikan ruangan di atas dulu mi."


Ia segera beranjak dari hadapan maminya berjalan meneliti setiap ruangan hingga menaiki tangga menuju lantai dua. Disana terdapat empat kamar, kamar paling ujung sebagai tempat untuk nge-gym rutinnya, sebelahnya lagi ruang kerja, sedangakan kamar yang dekat dengan tangga masih kosong, awalnya kamar itu akan dipakai anak mereka begitu sudah lahir, namun, lagi-lagi takdir Tuhan berkata lain. Kamar itu hanya terdapat sebuah lemari baju besar dan sebuah ranjang. Ada satu kamar lagi yang terletak ditengah antara kamar kosong dengan ruang kerja. Kamar yang sangat luas daripada ketiga kamar lainnya yaitu kamar utama yang Sigit pilih sebagai kamar utama mereka nantinya.


Sigit memasuki kamar yang sangat luas itu, dia memandang sangat puas dengan hasil yang sesuai dengan ekspektasinya. Sigit pun duduk diatas ranjang mengamati setiap sudut kamar. Matanya berbinar terdiam membayangkan wajah istrinya yang akan tersenyum bahagia ketika memasuki kamar mereka.


"Rasanya Abang sudah tidak sabar lagi menanti hari itu tiba Win..." Sigit tersenyum kecil.


Drrrrtttt drrrrtttt


🎵🎵🎵


Sigit merasakan getaran disertai dering hpnya berbunyi dari saku jasnya, ia segera merogoh benda pipih itu dan melihat nama yang muncul dilayar hpnya.


"Om Gun." gumamnya begitu melihat nama Gunawan disana, Sigit segera menggeser ikon hijau mengangkat panggilan.


"Iya om, bagaimana? apa om Gun sudah menemukan biodata dari orang yang saya cari?"


"Sudah bang. Saya tunggu di tempat biasa."


"Baiklah, saya segera ke sana."


Tut.


.


.

__ADS_1


Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞


__ADS_2