Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 35


__ADS_3

"Bi Surti, kita jalan kepantai dulu ya..." pamit Silvi kepada asisten rumah tangga yang dipercaya om Surya.


"Iya non hati-hati." jawab bi Surti.


"Iya bi." suara Winda, Silvi dan Tania serempak, lalu berjalan keluar villa menuju pantai.


"Lu beneran berani ni pagi-pagi begini kepantai duluan?" tanya Tania ragu.


"Gak papa kali Tan kita duluan, kasihan mereka kayaknya masih kecapean." jawab Winda.


"Ih dingin bener brrrr." celetuk Silvi kedinginan merasakan terpaan angin pagi.


Mereka berlari-lari kecil dipinggir pantai sambil menunggu matahari terbit. Winda dan Tania bermain air dipinggir pantai, Silvi bersedekap dada masih terasa dingin.


Sayup-sayup terdengar suara tawa dari sekelompok laki-laki berbadan tegap dengan berpakaian has pantai semakin mendekati mereka.


"Tuh laki lu nyusul Win, sudah tidak tahan kayaknya lama-lama jauh dari lu sekaranh." ledek Tania mencebikkan bibirnya.


"Baru saja semalam gak ketemu masak iya sudah tidak tahan?" Silvi ikut menimpali ucapan Tania.


"Tuh laki lu juga nyariin lu." Tania menertawakan Silvi yang sudah dideketin Willy.


"Hati-hati Win, jangan terlalu jauh ngejar ombaknya." seloroh Sigit ketika memperhatikan tingkah Winda menjinjing trining berlari maju mundur bermain ombak yang diangguki dengan senyum kecil Winda.


"Iya." jawab Winda singkat melihat kearah Sigit yang berada dibawah tenda.


"Cie cie sekarang sudah takut kehilangan bro, uhuy..." ledek Willy melirik Sigit yang cuek menahan silaunya mentari pagi.


"Hemmm... dulu aja kayak gak doyan sama yang namanya Winda." seloroh John.


"Sekarang brutal man." Tukas Willy.


"Ha ha ha ha"


ketiga sahabatnya serempak menertawakan dirinya.


"Terus aja ledek, udah kebal gue, udah gak mempan sama cincau-cincau macam lu." ucap Sigit datar, matanya tertuju pada orang-orang yang sudah banyak berdatangan bersama anak-anak mereka yang masih kecil berlarian mengejar ombak sama seperti yang dilakukan Winda.


Tania berlari mendekati Silvi yang bergabung dengannya duduk ditenda.


"Gue sebenarnya masih penasaran Git sama lu." ucap Topan.


"Hm? kenapa?"


"Lu inget, ketika kita tidak sengaja kumpul dirumah makan seafood waktu itu? Gue curiga sama lu."


"Terus kenapa?" ucap Sigit.


"Lu kan sebenernya orang yang makan sama Winda sebelum kita datang? " lanjut Topan.


"Emang gue. Itu aja gue belum ada perasaan sih sama Winda, nih ya pagi gue akad, selesai akad dia baru sadar, siang kita cabut dari rumah pak lurah, jadi deh pulang kemaleman, terus kita mampir dulu cari makan karena laper. Gak taunya malah lu lu pada dateng."


"Wah terganggu deh jadinya..." sahut Tania.


Deg deg deg deg deg


"Kenapa jantungku berdetak cepat sekali? ada apa ini?" pikir Sigit tidak mengerti mengapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.


"Gak juga, cuma udah capek aja girl, pingin cepet pulang, cepet sampai rumah aja." jawab Sigit.


"Cepet belah duren kali...??, ups" celoteh Willy menutup mulutnya, sontak semua mata tertuju pada Willy.


"Sorry kebablasan." lanjutnya.


Sigit terdiam tidak merespon ucapan Willy, matanya terarah pada beberapa orang yang berteriak tidak jelas dengan mengangkat tangannya.


"Gue gak mau membahas urusan rumah tangga, terlebih lagi yang berada ditempat yang ukurannya dua kali tiga. itu husus gue sama pasangan gue yang tau." tiba-tiba kelima sahabatnya terdiam mendengar ucapanya, Sigit hanya melirik mereka kemudian kembali melihat kerumunan yang semakin riuh.


"Gue setuju sama lu Git, abang Sigit." tukas Willy.


Sigit semakin gusar melihat orang yang lalu lalang berlari kesana kemari.

__ADS_1


"Bro, gue penasaran, ada apa sebenarnya orang-orang pada berlarian dari tadi?" Sigit terlihat gusar menoleh kearah Willy, John dan Topan.


"Paling juga orang sedang olah raga lari pagi aja Git." jawab John menebak.


"Tapi jantung gue tidak seperti biasanya bro, tiba-tiba detaknya kenceng." Sigit berdiri dari duduknya memperhatikan sekelilingnya.


"Winda? Dimana Winda Tan?" Sigit baru teringat Winda yang tadi sedang bermain air ombak dipinggir pantai, dia menanyakan Winda kepada Tania yang tadi bersamanya, sekarang Sigit melihat Tania duduk disamping Silvi sambil bermain gawainya.


"Winda tadi masih dipantai." jawab Tania, pandangannya beralih ke Sigit.


"Apa? Winda dipantai sendiri dari tadi?" Sigit panik.


"Iya." jawab Tania.


"Kenapa Git? lu terlihat cemas?" tanya Topan terheran.


"Dia takut dengan air yang dalam Pan." jawab Sigit lagi.


"Apa??!!!" suara kelima sahabatnya berbarengan tersentak kaget.


"Winda!!" Sigit berteriak, cemas berlari menuju bibir pantai mencari keberadaan istrinya.


"Git! tunggu Git!" semua sahabatnya berlari mengikuti Sigit menuju keramaian dibibir pantai.


"Ada apa pak, bu?" tanya Sigit mencari informasi apa yang telah terjadi begitu dia mendekati kerumunan.


"Ada orang tenggelam a'."


"Iya sepertinya dia seorang gadis."


"Kasihan dia, sepertinya dia tidak bisa berenang."


itulah jawaban yang didapat dari orang-orang berkerumun.


"Apa ibu tau baju yang dikenakan gadis tadi?" tanya Sigit lagi semakin cemas.


"Sepertinya dia memakai kaos olahraga warnanya biru a'." jawab seorang ibu-ibu lagi, mereka menceritakan ciri-ciri yang sama persis dengan Winda, mulai dari kostum yang dipakai pagi ini sampai ciri tubuh dan wajah istrinya, membuat Sigit semakin yakin bahwa yang dimaksud gerombolan didepannya yang tenggelam adalah Winda.


"Ya Tuhan... jangan-jangan itu beneran Winda." lirih Sigit sambil berlari menuju genangan air laut, lalu menceburkan dirinya dalam air laut.


Orang-orang yang melihatnya terheran melihatnya yang menceburkan diri dilaut, tidak berselang lama ketiga temannya pun mengikutinya menyelam diperairan pinggir laut.


Mereka bergabung dengan tiga orang yang sudah berenang mencari korban, sudah cukup lama mereka mencari di pinggir laut tidak juga menemukannya.


Sementara Silvi dan Tania mencari Winda di Pantai, mereka berpencar menyisiri setiap gerombolan yang ada dipantai sambil mendengarkan kasak kusuk tentang gadis biru yang tenggelam dilaut. mereka mencari kesana kemari tetap tidak menemukan sosok Winda.


"Gimana Tan? ketemu?" tanya Silvi.


"Tidak Sil... gue sudah mencarinya kemana-mana tapi belum juga menemukannya." jawab Tania cemas.


"O iya, coba gue hubungi bi Surti dulu, siapa tau Winda udah pulang kevilla duluan." Silvi baru teringat bi Surti divilla.


Silvi memencet nomer bi Surti.


Tuuut tuuut tuuuuut.


namun panggilan Silvi tidak juga diangkat bi Surti.


"Gimana Sil? diangkat?"


"Belum."


"Aduh Sil? gimana nih... gue takut Winda kenapa-napa."


"Gue juga Tan... Emang lu sendiri apa yang takut?!"


"Gue bener-bener takut sama Sigit Sil... Gimana kalau dia marah sama gue?" Tania ketakutan membayangkan kemarahan Sigit jika sampai terjadi sesuatu pada Winda.


Tangan Silvi berulang kali memencet nomer bi surti, tapi tidak juga diangkat-angkat panggilannya.


"Itu sudah resiko lu, kenapa juga ditinggalin sendirian?"

__ADS_1


"Sumpah gue gak tau Sil kalau Winda takut air yang dalam, mana ini dilaut lagi Sil? gue takut..."


"Sudah-sudah tidak usah yang macem-macem pikirannya, kita pikir yang positif saja." hibur Silvi yang melihat Tania ketakutan.


"Halo non Silvi? ada apa?"


"Iya bi, ini Silvi mau tanya, apa Winda sudah pulang kevilla bi?"


"Belum pulang tu non. Bibik sedari tadi beberes rumah dan masak sendirian, baru saja selesai non."


"Bibi yakin?"


"Yakin non, tidak ada orang selain bibik disini."


"Ya sudah, terimakasih ya bi?..."


"Iya non sama-sama."


Silvi menutup panggilannya.


"Giman Sil? ada divilla?"


Silvi menggeleng kepalanya.


"Tidak ada Tan."


Silvi menatap kilatan pasir putih bak kristal yang terkena sorot matahari yang semakin meninggi.


"Lu nelpon siapa Sil?" Silvi kaget dengan suara Sigit yang tiba-tiba dibelakangnya dalam keadaan basah kuyup.


"Bi Surti Git. Gimana Winda? apa sudah ditemukan?"


"Belum, ini gue mau ke post keamanan mau ikut mencarinya bersama tim gawat darurat. Gimana kata bi surti?"


"Tidak ada divilla."


"Ya sudah gue mau bergabung kesana dulu."


Sigit bergegas menuju post keamanan, disana sudah ada dua buah kapal karet dan beberapa orang yang sudah siap ditugaskan sebagai tim gawat darurat.


Sigit bersama Willy dan beberapa orang dari tim satu berada di kapal pertama, mereka menyisiri laut sebelah barat, sedangkan Topan dan John bergabung dengan tim dua berada dikapal kedua menyisiri laut bagian selatan.


Kedua kapal berpencar sesuai rute yang sudah dibagi. Kapal tim satu sudah mendekati pulau kecil disebelah barat, mereka menyisiri perairan yang sudah mulai pasang gelombang disetiap sisi pulau, namun nihil, tidak menemukan petunjuk.


Sigit semakin gusar, sudah tiga jam mereka mengitari perairan lautan sebelah barat, hingga komandan tim satu memutuskan untuk beralih rute selanjutnya.


Perahu berputar arah menuju timur mengelilingi pulau kecil didepan mereka, tetapi baru saja kapal mereka melewati sebelah timur pulau, Willy melihat sebuah perahu kecil yang terdampar dipantai berpasir putih dipulau itu.


"Komandan ada perahu terdampar didepan!" suara Willy memanggil komandan tim darurat satu, sontak semua mata menoleh kebelakang melihat apa yang dikatakan Willy barusan.


"Sebaiknya kita mendarat dulu komandan, memastikan perahu apa itu." kata salah satu anggota tim satu.


"Baiklah, segera putar arah menuju timur." jawab orang yang dipanggil komandan.


"Siap komandan." jawab anggota tadi.


"Ya Tuhan... selamatkan Winda... lindungi dirinya... aku sudah berjanji tidak akan membiarkan dirinya sendirian dalam ketakutan..."


Sigit cemas berharap Winda bisa segera ditemukan.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Semoga amalan kita dibulan suci Ramadhan ini diterima Allah swt. Aamiin 🙏🙏


Jangan lupa dukungannya untuk babang Sigit supaya tetep semangat menerima kenyataan. Terimakasih....😍😍


__ADS_2