
"Turun." Suara Renaldi menyentak ketenangan Tania saat kelopak mata gadis cantik itu masih terpejam sempurna.
Selama perjalanan, Tania memutuskan tidur dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, rasa lelah dan kantuk menghinggapinya ketika menemani rekannya sepanjang jalan yang tidak kunjung sampai juga pada tempat tujuannya.
"Hm?" dengan berat Tania mencoba membuka kedua matanya yang menurutnya baru saja terpejam.
"Bangunlah, sudah sampai." suara Renaldi terdengar lagi.
Samar-samar pendengaran Tania menangkap bunyi deburan ombak bersahutan, aroma khas angin pantai menyeruak Indra penciumannya disertai sapuan dingin angin pantai membelai kulitnya.
Dingin. Ia benar-benar merasakan angin pantai saat ini.
Perlahan Tania membuka kelopak matanya mencari kebenaran dari kedua indranya yang menangkap suasana pantai.
Tania terkejut saat menemukan kenyataan dirinya memang sudah berada ditepi pantai. Ia menurunkan kedua kakinya dari atas mobil berpindah diatas pasir putih yang terbentang luas memanjang disampingnya, mengedarkan pandangannya kepenjuru pantai yang tidak begitu terang karena temaramnya lampu penerangan.
Sejenak suasana pantai menenangkan pikirannya, lupa akan sosok Renaldi yang sudah tidak ada disekitarnya.
"Huufffffff...... Aaahhhhhh...."
Perlahan Tania menghirup dan menghembuskan udara segar pantai di malam hari, kedua tangannya telentang kesisi kanan kirinya dengan wajah mendongak keatas membiarkan angin pantai membelai lembut wajahnya. Cukup lama gadis itu menikmati belaian angin malam, bintang-bintang bertaburan menghiasi langit hitam. Menambah rasa syukur dalam hatinya dapat merasakan nikmatnya sehat dan indahnya ciptaan Sang Maha Kuasa.
Ditempat yang berbeda ditepi pantai malam itu, terdapat sepasang mata telah memperhatikan gerak-gerik seorang gadis yang kegirangan menikmati sapuan angin pantai. Kedua bola mata itu tidak berkedip dengan pemandangan yang tersorot begitu indah.
Tersungging senyuman manis dibibir lelaki yang duduk diatas pasir putih yang tidak begitu jauh jaraknya dengan gadis yang disorotnya.
"Andai itu kamu Rima... Aku yakin ini akan menjadi malam terindah untuk kita..." Bayangan laki-laki itu kembali berputar pada sosok wanita yang mengisi hatinya selama bertahun-tahun.
Lama ia terdiam, merenungi nasib kehidupannya yang menyedihkan. Ditinggalkan orang-orang yang ia cintai.
"Hhhhh.... Sudahlah kamu harus kuat menjalani takdir Tuhan yang sudah tertulis untukmu Renaldi, lupakan, lupakanlah wanita yang sudah tidak berguna lagi untukmu. Bangkit Renaldi!" Ucap Renaldi penuh semangat. Tangannya terkepal menggenggam pasir penuh semangat.
****
Setelah beberapa saat terbius menikmati suasana pantai, Tania baru tersadar kehadiran sosok Renaldi tidak ada disekitarnya. Kedua bola matanya mencari sosok laki-laki yang sudah membawanya kepantai.
" Pak Re...!"
"Pak..."
"Pak Re dimana..." Tania celingukan menolehkan kepalanya kekanan, kekiri, dan kebelakang. Tidak ada siapapun disekitarnya.
Gelisah? Sudah pasti wanita itu tidak tenang sendirian dipantai. Hatinya benar-benar dibuat kesal oleh laki-laki itu. Rasa khawatir menyelimuti hatinya kala tidak menemukan rekan kerja disekitarnya. Ditambah hawa dingin semakin mengusik tubuhnya yang sudah semakin menggigil, Tania mengigit giginya menahan hawa dingin ditubuhnya.
"Hmmmm hmmmmm, dasar laki-laki aneh. Pengecut. Tidak tahu apa badan sudah kedinginan begini, angin laut seakan membekukan persendian ku semua, seenaknya saja dia pergi begitu saja, hmmmm hmmm..." Tania menyedekapkan kedua tangannya menahan rasa dingin. Lama dia terdiam memperhatikan sekitarnya.
Air mata Tania hampir saja tumpah melawan ketakutan yang tiba-tiba saja terselip hal buruk dalam benaknya mengenai laki-laki itu.
__ADS_1
"Jangan-jangan pak Re hmmp."
Tania membekap mulutnya sendiri, merinding membayangkan Renaldi terjun dilaut setelah membangunkan dirinya tadi.
"Ha? Ya Tuhan..."
Tania teringat wajah Renaldi dengan sorot mata yang terlihat begitu memendam amarah, kebencian, entahlah apa yang sedang disembunyikan Renaldi, yang jelas Tania sangat ketakutan sekarang.
"Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku tidak mau ikut terseret kasus kriminal dengan.... Huffff... Tidak."
Sunyi.
Sepi.
Tidak ada siapapun yang dia lihat disekitarnya, hanya suara deburan ombak yang tersapu angin yang semakin kencang ditelinganya. Tania kembali mendekati mobil Renaldi dan membuka pintu itu.
Saat pintu terbuka terdengar dering suara panggilan dari ponselnya, Tania segera membuka tas dan meraih hpnya.
Ia segera menggeser ikon Warna hijau setelah melihat nama Sigit dilayar hpnya.
"Iya hallo Git."
" Tania. Kenapa kamu baru angkat teleponku?! kata mbok Lastri kamu tadi datang kesini bersama Renaldi apa itu benar?"
"I-iya Git."
"Git... tidak usah bahas itu dulu, sekarang keadaannya sangat genting Git."
"Genting? apa maksud kamu Tania?!"
"Pak Re tidak ada, dia menghilang."
"Maksud kamu? Bicara yang jelas Tania."
Suara Sigit terdengar sangat keras seakan memekakkan gendang telinga Tania, jelas laki-laki diseberang sana sedang khawatir mendengar jawabannya barusan.
Berbeda dengan Tania yang seketika terdiam menatap sosok lelaki yang dibicarakannya sudah didepan pintu kemudi.
Suara panggilan Sigit tidak ia gubris sedikitpun. Membiarkan temannya mengomel-ngomel tidak jelas.
Tentu saja saat ini Tania sedang shock melihat Renaldi dengan santainya duduk dibelakang kemudi tanpa melihat dirinya. Tubuhnya seketika lemas tak bertenaga, tulangnya seakan melempem seperti kerupuk tersiram air, alias melempem.
Tania menghela nafas dengan meletakkan tangan yang masih menggenggam hp di atas pahanya.
Perasaan lega campur terkejut membuat nafasnya sedikit melambat.
Sementara Renaldi keheranan melihat wajah Tania disampingnya yang terbengong menatapnya.
__ADS_1
"Hai, kenapa??" Wajah Renaldi datar tidak mengerti apa yang terjadi pada Tania.
Tania merasa kesal dengan sikap Renaldi, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya yang justru membuat Renaldi tertegun melihatnya.
"Kamu kenapa Tania?"
Tania mengalihkan pandangannya dari Renaldi, tidak ingin laki-laki disampingnya melihat air matanya.
"Lain kali kalau anda punya masalah... dan... jika ada keinginan untuk bunuh diri... tolong jangan sangkut pautkan dengan orang yang tidak tau apa-apa sama masalah anda pak Re." cerocos Tania dengan terisak sudah tidak kuat menahan sesak didadanya.
Renaldi mengernyitkan dahinya mendengar kalimat Tania.
"Apa? bunuh diri? ha ha ha... ada-ada saja kamu ini Tania." Renaldi terkekeh menertawakan wanita yang sudah salah faham terhadap dirinya. Walaupun ada perasaan tersinggung sebenarnya dengan kalimat Tania tadi, seakan dirinya laki-laki lemah yang tidak memiliki prinsip hidup. Akan tetapi Renaldi tidak mau mempermasalahkan pemikiran Tania.
"Setidaknya sikap anda jangan membuat orang lain khawatir." Lanjut Tania masih kesal.
Belum selesai Tania menyindir Renaldi, tiba-tiba hp yang masih dalam genggamannya berbunyi menghentikan percakapan mereka.
Renaldi melirik hp Tania yang terus berbunyi nada dering panggilannya. Sempat tertangkap matanya nama si penelpon itu.
Sigit.
Tania segera menggeser ikon hijau dan menjawab pertanyaan dari suara yang berada diseberang telepon.
Renaldi menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukan kendaraannya kejalan raya, membiarkan Tania menjawab panggilan hingga selesai. Ia fokus mengendarai mobilnya.
Beberapa saat berada didalam mobil, setelah selesai dengan panggilan Sigit, Tania terdiam tidak mempedulikan Renaldi yang sibuk mengendarai mobilnya, ia memencet tombol on pada tipe didepannya untuk mengusir rasa kantuk yang siapa tahu sopir pribadi dadakannya itu sudah lelah dan mengantuk. Kan bisa berbahaya, lagi pula Tania tidak mau mati secepat itu, atau bisa dikatakan mati penasaran kata orang-orang ditempatnya. Serem kan?? Hii....
Tiba-tiba Tania bergidik sendiri mencerna pikiran kosongnya itu.
Walaupun jalanan sepi pengendara saat dini hari menjelang pagi. Namun Tania tetap merasa khawatir jika mobil yang mereka kendarai oleng karena sopir mengantuk.
"Kenapa Sigit telpon?" Suara Renaldi membuka percakapan dalam keheningan diantara mereka.
"Dia hanya memastikan keadaan pak Re, karena saat dia telpon tadi aku bilang kalau pak Re hilang." Jawab Tania jujur.
"Apa? Aku hilang?!" Nada Renaldi tidak percaya. Terbengong mendengar penjelasan Tania.
Tania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
.
.
Bersambung 🤗🤗🤗
Sarangheo 💞💞💞💞
__ADS_1