Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 151. Sorry sudah merusak hari baikmu.


__ADS_3

Pagi-pagi buta didalam apartemen Renaldi. Sepasang suami istri sudah berada di dalam ruang tamu apartemen si pengacau hati mereka, siapa lagi kalau bukan Renaldi. Mereka mengkhawatirkan laki-laki itu.


Entah apa yang membuat Renaldi pergi begitu saja tadi malam dari rumah papi Winata tanpa sepengetahuan Sigit, terlebih lagi saat Tania menjawab teleponnya dengan mengatakan jika Renaldi tidak ada alias menghilang.


Penasaran.


Itulah yang dirasakan Sigit saat ini dengan sikap Renaldi semalam.


Pertanyaan besar bersarang di kepala Sigit setelah mbok Lastri memberitahukan kedatangan Renaldi dan Tania dirumah tadi malam hanya sebentar lalu mereka keburu pergi lagi.


"Bagaimana Win, sudah diangkat telponnya."


Sigit benar-benar cemas tidak sabar ingin segera mendengar jawaban istrinya.


Masalahnya, kalau ditulis menggunakan coretan, mungkin sudah beribu kali mereka menghubungi nomer keduanya, namun tidak satupun panggilan mereka terjawab.


Hingga jam sembilan pagi ini mereka belum juga kembali ke apartemen. Membuat Sigit semakin kesal saja.


"Belum bang." Jawab Winda.


Sigit menghela nafas panjang.


"Sudahlah bang jangan terlalu dipikirkan, mereka juga sama-sama sudah dewasa. Tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka bang." Winda mencoba menenangkan suaminya.


Winda tidak ingin Sigit terlalu khawatir dengan kondisi Renaldi, hanya karena merasa tidak enak hati dengan laki-laki itu.


Menurut suaminya, setelah diruntut dari cerita mbok Lastri semalam, kedatangan Renaldi dan Tania bertepatan dengan saat mereka berdua sedang berada di taman. Dan... waktu itu tepat Sigit mencium paksa bibirnya. Namun, Winda ragu dengan kesimpulan suaminya itu, jika kakak dan sahabatnya benar telah melihat mereka saat melakukan hal itu. Lantas, dengan alasan apa mereka harus pergi sejauh dan selama ini dari rumah? Ada apa dengan mereka berdua coba??


Ah... sudahlah memang ada yang tidak beres dengan sikap kedua manusia itu. Pokoknya harus ada penjelasan yang gamblang dari mereka berdua setelah mereka pulang nanti.


Winda akhirnya membiarkan pertanyaan besar mendekam dalam pikirannya. Ia benar-benar ingin segera menemui kedua manusia dewasa yang kekanak-kanakan itu.


Sigit melihat jam yang bergelung pada pergelangan tangannya, dimana jarum jam itu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, itu bearti dia harus segera berangkat ke kantornya karena masih banyak kerjaan yang harus dia selesaikan.


Tidak lucu kan jika seorang bos hampir setiap hari terlambat masuk kerja hingga jam makan siang baru datang kekantor nya? mau jadi apa coba nasib perusahaan orang tuanya nanti? mau jadi cabe-cabean. Cabe kriting, cabe lurus, cabe merah, cabe hijau atau cabe rawit? Uuhhh pedes kali ya...


Udah ah, Winda ikut Sigit beranjak dari duduknya, mereka berpamitan dengan Bu Arini yang juga ikut cemas menunggu kedatangan Renaldi.


Entah kemana kedua manusia itu pergi tanpa kabar.

__ADS_1


"Ibu, kami pulang dulu. Abang juga sudah telat kekantornya. Hubungi Winda jika mas Aldi sudah pulang nanti ya..." Ucap Winda seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan wanita yang melahirkannya.


Wanita yang masih terlihat kebingungan itupun ikut berdiri mengantarkan anak dan menantunya.


"Ya, nanti ibu kabari kamu jika Aldi sudah kembali." Jawab Bu Arini.


"Baiklah, Winda tunggu kabar dari ibu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati dijalan."


"Ya Bu." Winda bersama suaminya membalikkan tubuhnya keluar dari apartemen Renaldi. Meninggalkan Bu Arini sendiri disana.


Winda mengalungkan lengannya bergelayut manja pada lengan suaminya, kepalanya disandarkan pada pundak lelaki tampan pemilik hatinya. Sesekali Sigit mencuri ciuaman dipucuk kepala Winda dan mengelus kepala itu dengan tangan kanannya setelah menciumnya.


Tergambar kegembiraan diwajah mereka saat dilihat dari senyum merekah disela-sela candaan Sigit.


Mereka berjalan menyusuri lorong gedung hingga memasuki mobil.


****


"Cepetan pak Re, ini sudah sangat siang, panas sekali terik mataharinya. Kulitku terasa seakan terbakar karenanya. Huuuhhh... tau begini tadi malam tidak usah ikut pak Re, mending langsung pulang ke rumah saja dari pada tidak jelas begini akhirnya, sebel."


"Sudah diamlah Tania." Ucap Renaldi masih sibuk dengan gerakan memutar sebuah kunci roda mobilnya. Wajahnya penuh keringat, sekujur tubuhnya sudah banjir peluh yang mengalir bagaikan air sungai yang mengalir, tak henti-hentinya mengucur.


"Bagaimana bisa diam coba kalau kita terjebak ditempat sepi seperti ini? sudah panas banget, mobil mogok, hp tidak bisa dipakai, belum lagi kerjaan kantor sudah menumpuk kayak tumpukan baju yang baru diangkat dari jemuran beberapa hari. Bener-bener menyebalkan!" bantah Tania tidak terima, sangat kesal.


Ya, sejak tadi pagi Tania tidak berhenti menggerutu merutuki perbuatan laki-laki yang membawanya pergi itu, boleh dikatakan dirinya sangat kesal dengan sikap konyol Renaldi.


Kenapa tidak? Setelah sarapan tadi pagi mobil mereka melalui jalanan berkelok dan sepi, jarang mobil yang melintas disana. Sialnya lagi ban mobil mereka pecah, hp mereka sudah tidak bisa digunakan karena kehabisan baterai, dan bertambah nelangsa lagi tubuh Tania sudah sangat lengket karena dari kemarin sore dia belum mandi dan belum berganti pakaiannya. Coba bayangkan bagaimana rasanya menjadi Tania saat ini.


Nah benar, sudah pasti tidak nyaman kan? itulah yang dirasakan Tania, ingin marah dan memaki lelaki didekatnya, namun dia juga tidak tega melihat tubuh laki-laki itu. Bagaimana tidak?


Tubuh laki-laki itu kini sudah lusuh penuh warna hitam dibaju dan celananya karena melangsur, tiarap, dan mengotak-atik mesin dibawah mobil. Ternyata tidak hanya pecah ban masalahnya, tetapi mesin mobilnya juga bermasalah.


Entahlah bagaimana kondisi tubuh laki-laki itu, yang jelas lebih lusuh dari pada dirinya, tepatnya persis seorang montir dibengkel mobil yang penuh berlumuran oli.


"Tania, tolong ambilkan alat disitu tu..." Suara Renaldi meminta bantuan wanita yang mendengus kesal tidak jauh dari tempatnya.


Tania tidak tega dengan keadaan Renaldi yang berusaha membetulkan mobil sendirian, akhirnya rasa iba dihati terdalamnya menggerakkan kakinya berjalan dan tangan kanannya segera memungut alat yang dimaksud Renaldi.

__ADS_1


"Bukan yang itu, satunya lagi yang panjang itu." Suara Renaldi memberikan petunjuk Tania.


Tangan Tania beralih pada benda yang berbentuk huruf T.


"Bukan, yang sampingnya lagi."


Tania meletakkan kembali alat yang berada ditangannya, lalu meraih benda yang berbeda disampingnya dengan hati-hati agar tangannya tidak kotor juga akibat membantu Renaldi.


"Ya benar yang itu, cepat bawa kesini." Perintah Renaldi yang segera dituruti Tania.


Beberapa saat setelah Renaldi berkutik dibawah kolong mobilnya, selesailah tugasnya membetulkan mesin mobilnya.


Setelah dirasa beres semua, Renaldi segera memasukkan semua peralatannya ditempatnya. Lalu menstater kunci mobil.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga betulin mobil, hhhhhh.... Saatnya kita lanjutkan perjalanan lagi." Renaldi merasa lega, ia duduk dikursi kemudi dan segera memutar kemudi itu.


Tidak terasa mobil mereka sudah jauh merayap hingga haripun mulai gelap menggantikan waktu siang yang melelahkan untuk mereka berdua seharian. Akhirnya mobil Renaldi sampai juga didepan rumah Tania.


"Sorry sudah merusak hari baikmu. Kapan-kapan akan saya ganti dengan makan-makan bagaimana, setuju?" Renaldi melihat wajah Tania. Menawarkan makan bersama sebagai permintaan maaf atas sikapnya yang sudah membuat Tania kesal seharian.


Tania hanya diam mengerucutkan bibirnya. Membuat Renaldi bertambah tidak enak hati.


"Bagaimana? setuju? atau..."


"Terserah. Saya tidak menjanjikan anda, permisi saya mau masuk kedalam dulu, badanku sudah tidak tahan ingin segera tenggelam dalam air." jawab Tania dingin seraya membuka pintu mobil dan segera berlalu memasuki gerbang rumahnya.


Renaldi melihat punggung Tania hingga hilang dibalik pintu gerbang, pasrah dengan kemarahan Tania.


"Hhhh... bodoh sekali kamu Renaldi... hanya gara-gara melihat Sigit dan Winda berciuman ditaman saja kamu sudah begini. Begitu mudahnya kau teringat wanita yang sama sekali tidak ada pantasnya untuk kau tunggu selama ini. Hingga kau tega membuat Tania semarah ini. Tania, gadis yang sama sekali tidak tau apa-apa tentang masa lalumu tega sekali kau menghukumnya begini." Gerutu Renaldi didalam mobil setelah kepergian Tania. Menyesali perbuatannya yang sudah bertindak bodoh.


Renaldi kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya.


.


.


Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2