
Sigit terdiam setelah mendengarkan ucapan lirih Winda, ingin sekali dia menceritakan perihal cincin itu dan mengatakan semua tentang hubungan mereka yang sudah terikat dalam pernikahan yang tak terduga, namun dia teringat pesan dokter Tama.
"Untuk saat ini, tolong bu Winda jangan dibebankan untuk mengingat kejadian yang menghapus sebagian memorinya, biarkan mengalir saja sesuai keadaan psikisnya pak. Jadi mohon jangan dipaksakan ya pak."
"Git?"
"Hmm?"
"Sejak kapan kita tinggal satu atap seperti ini?"
"Hm? maksudnya?"
"Ma-maksudku kamu berada dikontrakanku."
"Hampir dua bulan. Iya tepatnya satu minggu lagi dua bulan."
"Kamu yakin, dengan surat tadi? "
"Kenapa dengan surat tadi?"
"Entah kenapa hati kecilku mengatakan kalau itu tidak benar."
"Kok bisa begitu? apa kamu merasakan sesuatu atau... kamu mengingat sesuatu?"
"Tidak, aku tidak tau apa-apa dan tidak merasakan apa-apa, cuma hati kecilku saja yang tidak membenarkan."
Sigit menatap istrinya iba, ada perasaan tidak tega menyembunyikan statusnya sebagai suaminya, ingin rasanya dia memberitahunya, lalu menggenggam tangannya dan memeluk tubuh semampai istrinya, namun dia harus meyakinkan Winda terlebih dulu, jika sekarang dia benar-benar menyesali perbuatannya yang dulu. Karena Sigit yakin jika Winda saat ini memorinya masih kuat tentang dirinya sebagai teman yang suka jail padanya dari pada statusnya sebagai suami.
"Sudah aku bilang tadi, aku tidak mau membahasnya lagi. Sudah sana tidur, ini sudah malam tidak bagus untuk kesehatanmu, ingat pesan dokter Tama tadi siang."
"Tapi... "
"Tidak ada kata tapi-tapian. Cepat masuk, tidur, aku juga mau tidur sekarang karena besok harus kekantor, kamu tidak usah masuk kekantor dulu besok."
Ujar Sigit menyela ucapan Winda.
Winda melihat wajah Sigit yang menatapnya, dia heran dengan sikap Sigit yang begitu perhatian padanya, berbeda dengan Sigit yang dia kenal dulu.
"Tapi... bagaimana ceritanya aku bisa berbagi rumah ini sama dia? sebenarnya apa penyakitku? kenapa aku tidak mengingat apapun perihal perjanjian itu? dan... entah kenapa, hatiku seperti tidak asing lagi dengan tatapan Sigit tadi. hhhhh.... sudahlah, buat apa aku pikirkan, toh kenyataannya memang ada buktinya kalau aku sudah berbagi rumah kontrakan ini sama dia." pikir Winda masih menatap wajah Sigit didepannya.
"Kenapa bengong? sudah ayo masuk, anginnya juga semakin dingin." ujar Sigit sambil berdiri dari duduknya dan melihat Winda yang masih terduduk menatap matanya.
"Ayo masuk." ulang Sigit pada Winda.
Windapun perlahan beranjak dari kursinya berdiri disamping Sigit.
"Iya, aku berdiri."
Sigit berjalan dengan menggandeng tangan kanan Winda memasuki rumah mereka, tanpa Winda sadari diapun mengikuti langkah kaki Sigit tanpa menolak tangan Sigit yang menggandeng tangannya.
Sigit baru melepaskan tangan Winda saat mengunci pintu rumahnya, dan saat itulah Winda baru menyadari apa yang sudah Sigit lakukan pada dirinya tidaklah pantas mengingat hubungan mereka tidak muhrim dan hal itu tentunya dilarang.
Winda berlari meninggalkan Sigit mengunci pintu sendirian dan berlari kecil memasuki kamar favoritnya.
"Ada apa sih Win dengan dirimu? kenapa kamu menerima begitu saja gandengan Sigit? jangan jadi cewek ganjen kamu ya Win?" lirih Winda merutuki dirinya sendiri yang sudah duduk diatas ranjang.
__ADS_1
Winda melepas jilbab yang menutupi kepalanya dan meletakkannya disandaran kursi lalu menggerai rambutnya setelah melepaskan ikatan rambutnya, baru saja dia mengangkat kakinya diatas ranjang bersiap untuk tidur, tiba-tiba terdengar pintu terbuka.
Ceklekk.
Klik.
Winda terbelalak begitu melihat pintu terbuka dengan tubuh Sigit sudah memasuki kamar dan menutup pintu kembali.
Sigitpun tidak kalah terkejut dengan Winda yang terbelalak melihat dirinya.
"Sigit?!!!"
"Winda?!!!"
Suara mereka berbarengan saling menyebut nama lawan bicaranya.
"Kamu ngapain masuk dikamarku Git?"
jawab Winda sewot menatap Sigit.
"Apa? masuk kamarmu?" Sigit terhenyak mendengar jawaban Winda, dia segera tersadar jika ini adalah kamar favorit istrinya mungkin itulah alasan istrinya berada disini, lupa dengan isi perjanjian palsu yang sudah dibuatnya.
Sebersit ada niatan Sigit menggoda Winda yang mulai panik berusaha menutupi rambutnya mencari hijabnya.
"Kamu lupa ini kamar siapa? atau... kamu mau tidur dengan pelukanku yang hangat ini?" kata Sigit tersenyum genit dengan menepuk dada bidangnya dibalik kaos hitamnya.
Mendengar perkataan Sigit, membuat wajah Winda memerah seperti udang rebus, tangan Winda meraih bantal disampingnya lalu melemparnya kearah Sigit.
"Astaghfirullah Sigiiiiiiit!!!! keluar kataku! keluaaaarrrr!!!"
"Ha ha ha ha ha...."
Cekleekkk
klik
"Ini yang aku inginkan Win, mengingat kamar ini adalah kamarmu maka kamu akan selalu masuk disini karena kamu belum terbiasa tidur diatas, aku bisa melihat dirimu tanpa terhalang apapun ketika hanya berdua didalam kamar tidur kita, tapi sayang... aku harus bisa menahannya dulu, hhhhhhh tapi sampai kapan Win? ckkkkk" ucap Sigit lirih meratapi nasibnya sambil senyum-senyum.
Ceklek
Klikk
Winda keluar dari kamar Sigit dengan muka marah menatap Sigit yang senyum-senyum sendiri.
"Apa liat-liat?! senyum-senyum sendiri kayak orang dipinggir jalan yang senyum sendiri tidak ada temannya." ucap Winda sambil melirikan kedua ekor matanya pada Sigit.
Sigit mencebikkan bibirnya, membiarkan Winda meledeknya seperti orang gila, dalam hatinya pun membenarkan perkataan Winda bahwa dirinya memang sudah gila dengan dirinya.
"Tau Winda sedang tidak pakai jilbab juga, seenak jidadmu masuk kamar tanpa ketuk pintu dulu!" gerutu Winda begitu berjalan melewati Sigit menuju kamarnya diatas.
Sigit kembali menyebikkan bibirnya sambil memperhatikan langkah Winda yang semakin menjauh menuju kamarnya yang terletak dilantai dua.
"Jangankan rambut yang aku lihat tadi Win, bahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki aku sudah melihatnya semua Win." pikir Sigit sambil tersenyum.
❄❄❄
__ADS_1
Winda merasa jenuh seharian dirumah sendirian setelah kepergian Sigit dikantor dari tadi pagi, tidak ada kerjaan, tidak ada teman ngobrol, menghubungi Dian pun tidak diangkat, chatnya apalagi, masih sama centang dua belum centang biru, itu berarti Dian belum membaca chatnya.
Winda mondar-mandir dilantai satu lalu naik kelantai dua kamar tidurnya berada, diapun merasa lelah, jenuh seharian seperti ini.
Winda ahirnya berdiri diteras kamarnya melihat pemandangan dari atas yang cukup menyenangkan, hingga dia melihat sebuah mobil hitam sport milik Sigit memasuki gerbang besi depan rumahnya.
"Kenapa aku jadi girang begini melihat mobil Sigit dateng? apalagi melihat orangnya? oh jangan ngaco kamu ya Win..." gerutu Winda terhadap dirinya sendiri, ketika merasakan keanehan dalam debaran hatinya.
Tok tok tokkk
"Win... Winda..." Winda mendengar suara Sigit dari balik pintu kamarnya memanggil namanya.
Tok tok tok
"Win. Buka pintunya Win."
Winda terheran mendengar suara Sigit semakin keras untuk kedua kalinya mengetuk dan memanggilnya.
Cekleekkk.
klikk.
Sigit memasuki kamar Winda dengan tergesa-gesa terlihat panik.
"Apa yang kamu lakukan dipinggir teras seperti itu?"
"Hm? aku? kamu tanya aku?"
"Iya Winda? siapa lagi yang ada diteras tadi selain kamu hah?"
"Oooh... yaaah... cari hiburan lah Git. Capek tau seharian dirumah sendirian tidak ngapa-ngapain lagi."
"Kamu sudah mandi?"
"Belum."
"Sekarang mandi dulu, terus shalat ashar, kita keluar. Jangan pakai lama. Cepetan."
Winda menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari perintah Sigit.
Setelah selesai berbicara sama Winda, Sigit segera keluar dari kamar Winda dan masuk kedalam kamarnya yang berada dibawah.
.
.
.
.
.Bersambung...
Kira-kira mau kemana ya...
ayo dukung babang n Winda agar lebih seru lagi ceritanya....
__ADS_1
Terimakasih....😍😍😍
saranghe....💞💞