Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 163. Luka tak berdarah


__ADS_3

Tania terdiam didalam mobil Renaldi, sejuta kisah cintanya bersama Alex kembali terlihat di pelupuk matanya. Kejadian demi kejadian saat mereka bersama tidak terasa berat saat itu, seutuhnya Tania mempercayai laki-laki yang sangat ia cintai.


Seorang Alex yang dewasa pemikirannya, hari-harinya hanyalah digunakan untuk kerja dan kerja untuk mewujudkan impian di masa depan.


Status, kecantikan dan fisik Tania tidak pernah terlihat buruk di mata laki-laki itu, tidak pernah terdengar pula laki-laki itu membandingkan Tania dengan wanita lain, bahkan Tania merupakan gadis yang dicari selama ini. Sehingga sedikitpun Alex tidak pernah tergoda dengan wanita cantik manapun selain pada Tania.


Tania, seorang wanita yang cukup setia mendampingi seorang Alex yang bermula seorang laki-laki biasa hingga menjadi seorang laki-laki yang bisa dikatakan sukses setelah berhasil meniti karirnya di perusahaan terkenal di ibu kota saat itu.


"Sayang... kamulah wanita terbaik dari jutaan wanita diluar sana yang sudah mengisi istana hatiku... maukah kamu menikah dengan ku?" Tania tertegun mendapat kejutan dari Alex ditengah kerumunan didalam kafe tempat mereka makan malam. Tidak terlintas sebelumnya Alex akan berbuat seperti itu.


Tania terdiam. Membisu sesaat.


Kedua mata Tania berkaca-kaca mendengar kalimat Alex. Tania diperlakukan seperti putri kerajaan dengan posisi Alex sudah setengah berdiri dengan satu kakinya bertumpu pada lantai, sedangkan tangan kanannya meraih tangan Tania lalu menciumnya lalu menatapnya lekat tidak berkedip menunggu jawabannya.


Tania mengangguk.


Alex tersenyum menguar kebahagiaan dari dalam hatinya mendapatkan anggukan Tania yang disertai suara lirih.


"Iya Alex."


"Sungguh Tania? itu berarti kamu menerimaku untuk hidup bersama?"


"Iya Alex, aku akan mengabdikan diriku hidup bersamamu."


Berkali-kali Alex mencium tangan Tania bahagia usahanya tidak sia-sia. Alex berdiri mendekap tubuh wanita didepannya dengan mendaratkan kecupan dipuncak kepala wanita itu.


"Terima kasih sayang, tunggulah sebentar lagi Tania, aku akan datang kerumah dengan mengumumkan pertunangan kita sekaligus pada keluarga mu."


"Hm, aku tunggu i'tikad baikmu itu secepatnya Alex."


"Tentu Tania, aku akan segera mengabulkan keinginan itu."


Berwarnanya hati Tania saat itu, seakan bunga-bunga bermekaran di taman yang dikelilingi kupu-kupu disekitarnya.


Tania tersenyum kecut mengingat kejadian yang indah itu, tetapi kandas begitu saja hubungan itu setelah Tania mengetahui kejadian yang membuatnya terluka.


Ya, luka yang tak berdarah saat melihat sendiri apa yang sudah membuatnya menangis sejadi-jadinya setelah melihat adegan panas yang berada didalam flashdisk yang Tania temukan malam itu tepat satu Minggu sebelum pertunangan itu terwujud.


Bisa dibayangkan kan, bagaimana hancurnya perasaan Tania saat itu? sakitnya dikhianati laki-laki calon imamnya yang sudah digadang-gadang akan bertamu kerumah secepatnya?


Tak terasa tetesan air merembes keluar dari kelopak matanya, pandangannya nanar melihat pemandangan di sisi kiri jalanan yang dilintasi mobil Renaldi.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan laki-laki model Alex itu." ucap Renaldi disela-sela mengemudinya.


Malam semakin larut, Renaldi menangkap butiran bening meluncur ria dipipi merona Tania, membuat setitik hatinya tergelitik untuk mengalihkan perasaan wanita yang duduk disampingnya.


"Percuma saja air mata kamu tumpahkan hanya untuk hal sepele, sudahlah masih banyak laki-laki baik-baik disana yang mau denganmu. Sekarang kita mau kemana nih? aku siap mengantarmu kemana saja asalkan kamu tidak bertindak bodoh." lanjut Renaldi, namun Tania masih terdiam seakan tidak ada siapapun disana.

__ADS_1


Renaldi mengerti keadaan Tania saat ini, setelah berada didalam mobilnya, wanita itu lebih banyak diam dan terlihat murung. Membuat Renaldi mengurungkan niatnya yang awalnya akan memaki dan mengumpat kelakuan Tania saat bertemu Alex tadi.


"Tania..."


"Tania..."


"Tan... Tania..."


Rasa geram melihat dan mendengar kata-kata Alex belum luntur dari indera penglihatan dan pendengarannya begitu saja, ingin rasanya Renaldi menonjok wajah Alex dengan Bogeman tangannya, namun secepatnya Renaldi menyadari siapalah dirinya hingga harus ikut andil ditengah masalah mereka.


Ciiiiiiiittttttt....


Tania tergagap meraih pegangan handle pintu mobil agar terbebas dari benturan ketika mobil Renaldi berhenti mendadak.


Renaldi sengaja mengerem mobilnya secara mendadak, entah mengapa emosi didalam hatinya membuncah begitu besar melihat Isak tangis Tania yang tidak merespon panggilannya.


sedangkan gadis itu benar-benar tidak menyadari tangisnya hingga beberapa kali Renaldi memanggilnya tidak terdengar olehnya.


Tania menoleh kearah Renaldi kesal.


"Kenapa ngeremnya mendadak pak?"


"Aku bukan driver online yang sedang kamu sewa Tania hingga seenaknya kamu mengacuhkan panggilan ku." ketus Renaldi tanpa melihat wajah Tania, pandangannya lurus kedepan.


"Ha?" Tania bengong tidak mengerti. "Me-mang apa salah ku pak? sedari tadi aku tidak mendengar pak Re memanggil." jawab Tania ringan merasa tidak bersalah seraya mengelap sisa air matanya.


Renaldi diam.


"Apa? kamu bilang aku yang berbuat hal bodoh begitu ha? emang aku mau berbuat semauku kalau tidak karena kasihan?"


Mata Tania membulat sempurna mendengar kata kasihan dari Renaldi.


"Kasihan? asal bapak tahu ya, aku tidak perlu rasa kasihan dari bapak. Terimakasih."


"Terserah."


Hati Tania semakin kacau, suasana didalam mobil tiba-tiba terasa panas walaupun AC mobil terasa dingin.


Kedua insan itu terdiam, suasana hening sekita. Hingga terbersit lah dalam benak Tania membuka pintu mobil.


"Mau kemana kamu Tania." Renaldi melihat Tania yang sudah turun dari mobil.


"Sesukaku."


Renaldi membuka pintunya dan turun dari mobil berjalan mengikuti langkah Tania yang sudah menjauh.


"Tania."

__ADS_1


"Tania tunggu."


"Tania mau kemana kamu."


Tania masih berjalan tidak menggubris Renaldi.


Renaldi semakin melebarkan langkahnya dan segera menarik lengan Tania. Seketika wajah Tania tepat berada dihadapannya.


"Tania! berpikirlah dengan waras kamu!" Renaldi menatap wajah Tania.


Mereka terdiam saling pandang. Renaldi melihat sorot mata Tania, terlihat disana menyimpan rasa pilu dan sakit.


"Apa pedulimu pak?" nafas Tania berat, dadanya terasa sesak.


Renaldi mengeratkan giginya, rahangnya mengeras menahan ledakan emosinya.


"Apa urusan bapak padaku?" lanjut Tania semakin membuncah. "Tidak ada kan? lalu, kenapa bapak..."


"Masuk mobil Tania!" sahut Renaldi tidak ingin semakin memperpanjang perdebatan mereka.


Tania tersenyum sinis mengalihkan pandangannya dari Renaldi.


"Masuk mobil Tania!"


"Gak."


"Masuk Tania."


"Gak!"


"Masuk kataku Tania!"


"Aku bilang gak ya gak."


"Tania! jangan membuat kesabaran ku hilang!"


Tania menatap wajah lelaki didepannya, terpampang wajah serius seorang Renaldi dengan suara lirih penuh penekanan. Membuat nyali keberaniannya menciut seketika.


"Aku mau pulang naik kendaraan online." jawab Tania tegas.


Renaldi mengerutkan keningnya, pikirannya khawatir jika Tania benar-benar pulang sendirian, seketika pikirannya melayang kemana-mana jika Tania berbuat nekad diluar kendali.


Bagaimanapun alasannya jika sampai terjadi sesuatu pada Tania, maka dialah satu-satunya orang yang harus ditanyai dan bertanggung jawab atas kejadian itu. Karena dialah orang yang sudah membawa Tania pergi dari gerombolan Winda dan Silvi.


Ada rasa penyesalan sudah membuat hal bodoh pada Tania. sepandainya Renaldi mencari ide memutar akalnya agar Tania nurut perkataannya.


"Jangan bodoh kamu, hp dan kunci mobilmu ketinggalan di mall tadi."

__ADS_1


Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞


__ADS_2