Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 47


__ADS_3

Winda terkejut melihat video yang merekam momen yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya, dimana Sigit merekam kegiatannya ketika di negeri kincir angin dengan dua orang gadis bule dan seorang gadis Indonesia sedang berada di taman bunga tulip, dia melihat Sigit yang memegang pinggul salah satu gadis bule yang saling menatap dengan bibir mengerucut menempel di pipi sebelah kiri Sigit, bertambah romantis lagi ketika mereka terlihat sangat senang dengan melempar air di kolam renang, ada lagi adegan mereka yang berada di taman berjalan beriringan saling menyuapi es krim dengan tangan mereka saling mengusap bibir yang belepotan dengan es krim yang disertai canda dan tawa.


"Wah... romantis sekali mereka... mungkin ini alasan kenapa Sigit tidak pernah melirik teman sekampus nya, ya mungkin karena dia sudah punya gadis pilihan, bener-bener cantik dan sempurna." Winda tersenyum, tangannya kembali memutar cincin dijari kirinya.


Kemudian dalam putaran video selanjutnya ada seorang gadis kecil bersama seorang perempuan dan dua orang laki-laki yang mirip dengan Sigit sedang berada di wahana permainan, seorang gadis kecil yang tidak lain adalah Selena keponakan Sigit, mereka bercanda berkejaran sambil tertawa kecil gembira dengan membawa es krim ditangannya.


"Imut sekali anak ini, lucu, jadi gemes liatnya." lirih Winda dengan mata berbinar-binar memperhatikan tingkah lucu gadis dalam video itu.


Mata Winda tidak henti-hentinya memperhatikan setiap putaran Video yang berada dalam digital, hingga dia senyuman-senyum sendiri ketika terlihat video tentang study banding antar mahasiswa di hotel Mutiara, pantai Clara, penyampaian presentasi hasil penelitiannya bersama Sigit.


Winda memperhatikan jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima, lamat-lamat dia mendengar suara adzan dari masjid, tangannya meraba tombol off berniat akan mengahiri menonton video, namun tangannya terhenti dengan mata terbelalak saat terlihat seorang Sigit berbaju stelan jas putih yang sama dengan sosok laki-laki dalam mimpinya, dari samping terlihat jelas wajah Sigit sedang mengucapkan ikrar ijab qobul yang dinikahkan langsung oleh laki-laki yang sangat dia kenal, yang tidak lain adalah bapaknya dengan papi Winata disamping Sigit.


Winda terkejut melihat semua rekaman video dari proses ijab qabul sampai dia menangis dalam pelukan bapaknya dan saat Sigit mencium keningnya setelah memasangkan sebuah cincin pernikahan dijarinya yang berada didalam sebuah ruangan yang dipenuhi beberapa orang yang tidak dia kenali sama sekali, Winda terduduk lemah tidak berdaya dibawah ranjang penuh tanda tanya dan terkejut.


"Berarti... selama ini mimpi-mimpi ku memang benar nyata. Dan laki-laki yang mengucapkan ijab qobul itu adalah...ya Allah... mengapa aku tidak mengetahui sama sekali... ada apa dengan ku?"


Winda menatap cincin pernikahan dijarinya dengan tatapan kosong.


"Apa karena ini Sigit berubah terhadap ku? dan... apa karena ini juga aku bisa disini Sekarang? apa yang sebenarnya terjadi padaku sampai terjadi pernikahan seperti ini dengan Sigit? dan hubungan nya dengan gadis bule itu bagaimana... "


Winda menatap sekeliling dalam ruangan memperhatikan isi ruangan Sigit, perlahan dia beranjak berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju lemari, tangannya membuka pintu lemari, Winda tercekat melihat sebagian banyak adalah baju dan gamis yang dia gunakan untuk kerja.


Winda menggigit bibir bawahnya dengan tangan meraba dan memegang pakaiannya, Winda benar-benar merasa bodoh tidak mengetahui apa-apa dengan semua yang dia lihat.


Matanya menerawang menatap cincin berlian dijari kanannya teringat masa bersama Sigit ketika dirumah sakit.


"Kenapa liat-liat? tertarik pengen dipeluk lagi?"


"Gak sopan. dasar tidak tau malu."


"Kenapa harus malu sama istrinya sendiri?"


Mata mereka saling beradu dengan bibir yang sudah terkikis, Winda hanya terpaku melihat bibir Sigit yang sudah berhasil mengulum bibir tipisnya, dia merasakan sentuhan Sigit seakan dia pernah melakukan hal yang sama entah dimana dan dengan siapa.


Winda terhanyut dengan permainan bibir dan pergulatan lidah Sigit didalam mulutnya, hingga Winda tersadar dan mendorong tubuh Sigit.


"Apa yang kamu lakukan Git? kamu harus tahu batasan. Siapa aku? dan siapa kamu? jangan seperti binatang yang tidak punya akal, ingat Git. Kita hanya teman kuliah tidak lebih." Sigit menepuk jidatnya.


"Hm, lupa honey..." ucap Sigit sambil melirik Winda.


"Apa lagi itu Git. Honey honey honey jangan sampai aku didamprat temen perempuan spesialmu dengan kata candaan kamu itu, tidak lucu Tau?!"


"Hm. Siap nyonya Andra." ucap Sigit seakan meledeknya.


"Siapa itu Andra? kamu jangan buat gosip ya Sigit Andra Winata!" ucap Winda tanpa sengaja menyebut nama lengkap suaminya.


Winda membelalakkan kedua bola matanya, terkejut dengan kalimat yang dia keluarkan sendiri.


"Ups..." lanjut Winda sambil menutup mulutnya.


"Ha ha ha ha."

__ADS_1


Sigit gemas menertawakan ulah Winda.


"Apa maksud ucapanmu menyebutku nyonya Andra Git?" Winda menanyakan ucapan Sigit yang baru diucapkan kepadanya.


.


"Ya Allah.... apa yang sudah terjadi padaku? apa benar kami sudah menikah seperti dalam video itu?" lirih Winda.


"Kalau memang benar, itu berarti dia sudah berhak atas diriku, aku harus menanyakan kebenaran semua ini pada mami, ya mami Lia dan papi Winata, supaya semuanya jelas."


Winda menutup kembali pintu lemari didepannya, lalu meraih jilbabnya.


Winda bergegas menuju pintu akan menemui mami di bawah, namun langkahnya terhenti ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah enam, dia baru teringat jika dia belum menunaikan shalat subuh.


Winda segera membuka jilbabnya dan melanjutkan langkahnya kekamar mandi.


Setelah beberapa saat didalam kamar mandi dia keluar dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya, kemudian mengganti bajunya dengan gamis yang dia ambil dari lemari Sigit, dia segera melaksanakan shalat subuh.


Winda bergegas menemui mami Lia setelah dia siap berangkat ke kantor, Winda menyiapkan digital Sigit didalam tasnya sebagai bahan pertanyaan baginya untuk mami dan papi Winata.


Winda menuruni tangga mencari mami yang berada dimeja makan bersama papi dan Revan yang sudah duduk di kursinya.


"Selamat pagi pi, mi, Revan."sapa Winda kepada orang yang sedang berada di meja makan.


Winda duduk didepan mami, diam-diam dia mengumpulkan kekuatan untuk bertanya tentang kebenaran rekaman video milik Sigit, setelah beberapa saat disela-sela sarapan Winda membuka keheningan dimeja makan.


"Mi, bolehkah saya menanyakan sesuatu pada mami, papi, mungkin juga Revan." Winda melihat mereka secara bergantian, yang dijawab dengan anggukan yang hampir bersamaan.


Mami Lia melihat Winda yang menatapnya.


"Mohon maaf sebelumnya jika Winda lancang menanyakan nya karena saya benar-benar tidak mengerti semuanya."


Kata Winda dengan hati-hati.


"Silahkan, dengan senang hati akan kami jawab jika kami tahu Win." jawab mami lagi.


"Apa.... Sigit sebenarnya sudah menikah?" Tanya Winda hati-hati.


Mami dan papi saling pandang setelah mendengarkan pertanyaan Winda yang tidak pernah mereka sangka.


"Emmm... maksudnya Winda?"


Mami mengerutkan keningnya terkejut, dia merasa bahwa menantunya sudah mengingat sesuatu.


Tangan Winda meraih tas disampingnya lalu mengeluarkan benda dari dalam nya, mami, papi dan Revan melihat pergerakan Winda yang mulai memencet tombol on pada digital ditangannya.


"Ahir-ahir ini saya sering mimpi yang sama sehingga saya merasa itu bukan hanya mimpi saja karena saya benar-benar merasa seperti kenyataan."


Sementara mami dan papi tidak mengerti apa maksud Winda memperlihatkan Vidio dalam digital, sebaliknya dengan Revan yang tenang karena sudah mengerti apa yang ada dalam video itu.


"Winda menemukan digital ini dari laci lemari Sigit, karena saya merasa ada sesuatu yang tidak saya ketahui, karena banyak sekali keanehan tingkah Sigit pada saya yang tidak seperti biasanya ketika kami masih kuliah." Winda menghentikan bicaranya sejenak memperhatikan raut wajah mami yang serius memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Winda mulai menceritakan keanehan tingkah Sigit padanya dan mimpi-mimpinya yang selalu hadir dalam tidurnya, dan ternyata mimpinya sama dengan Video Sigit didalam digital.


Mendengar cerita dari Winda, mami Akhirnya menceritakan kisah pertama kali pertemuan mereka hingga berujung pada pernikahan.


Winda terdiam mendengarkannya hingga ahir, dia terpaku menatap cincin yang melingkar dijari manisnya, dia merasakan tangan mami memijat pelan pada kedua pundaknya.


"Jangan takut dan jangan sedih, kami akan selalu bersamamu." kata mami sambil memeluk Winda.


Papi memperhatikan kedua wanita dihadapnnya dengan saling berpelukan. Setelah beberapa saat melihat istri dan menantunya saling berbagi, papi melihat kearah Revan yang tersenyum merasa sudah aman dengan keadaan rumah tangga abangnya lalu berpamitan pergi duluan.


Papi pun mengingatkan mami untuk segera bergegas berangkat bersama ke lokasi pertemuan dengan para relasi kerjanya dan meninggalkan Winda di meja makan meneruskan sarapannya.


Papi dan mami pamit duluan dengan menantunya lalu melangkahkan kakinya meninggalkannya dimeja makan sendirian lalu menuju ruang tengah, namun baru dua langkah mereka berlalu tiba-tiba getaran gawai papi dari balik jasnya bergetar.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Papi meraih gawainya lalu melihat nama yang tertulis dilayarnya dengan nama Gunawan, papi pun menggeser tombol hijau dari layarnya.


"Ya hallo Gun?"


"Selamat pagi pak."


"Hm pagi juga, ada apa pagi-pagi nelpon?"


"Begini pak, saya sudah mendapatkan kabar bang Sigit yang sudah pulang dari Bandung pagi tadi, akan tetapi..."


"Kenapa Gun?"


"Abang sekarang sedang dirumah sakit MMC."


"Apa? Sigit di rumah sakit MMC?" papi terhenti langkahnya kaget mendengar jawaban asistennya melalui panggilan jarak jauh, mami yang berjalan disampingnya pun terhenti mengerutkan keningnya.


"Iya pak, ada kecelakaan tadi pagi."


.


.


.


.


Bersambung... 🤗


maaf ya agak telat up-nya... tapi diusahakan part selanjutnya agak cepat up-nya biar tidak penasaran ya...


Terimakasih akak2 yang udah like n koment.


jangan lupa diramaikan lagi ya....


saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2