
"Banghhh!!!"
"Yeaahh!! Sayanghhh!!"
De sa han begitu menggema diruangan luas nan temaram itu. Udara semakin panas, hingga AC kamar tak mampu menghentikan peluh yang membanjiri tubuh keduanya.
Keduanya masih enggan menyelesaikan aktifitas yang maembuat kondisi kamar begitu berantakan dengan pakaian dan selimut yang sudah berserakan dilantai.
"Abanghh!! Lebih cepat banghh!!"
"Okehhh!!"
Sesuai permintaan sang istri, bang Age kian mempercepat tempo gerakannya. Hingga pencapaian itu datang bersamaan, membuat si jack menyemburkan lahar panasnya kedalam rahim terdalam sang istri.
Bang Age menenggelamkan wajahnya diceruk yang lengket dengan peluh namun begitu memabukan untuknya itu dengan nafas yang tak beraturan dan begitu bersahutan dengan sang istri. Hingga terasa tangan lembut yang membelai rambut basahnya.
Ia angkat wajahnya, untuk menatap wajah cantik istrinya. Ia tersenyum seraya menghapus keringat yang mengucur di dahinya dan menciuminya. Siska hanya tersenyum mendapati perlakuan suaminya.
"Mau ngulang?" Tanya bang Age terkekeh.
Siska menggeleng. "Cape bang! Ntar lagi." Balasnya dengan sedikit tersendat, karena nafas yang masih tak beraturan.
Bang Age semakin terkekeh dan kembali menciumi wajahnya. Ia tarik paksa si jack yang tak mau keluar dari persemayamannya, kemudian merebahkan diri disamping sang istri. Ia bangun sebentar dan mengambil tissue untuk membersihkan si jack yang belepotan dan sarangnya yang berantakan. Kemudian Ia ambil pula selimut yang tercecar dilantai untuk menyelimuti tubuh polos keduanya.
Ia dekap tubuh yang kembali ramping, yang membelakanginya dan memeluknya erat. Seraya tak hentinya membisikan kata cinta.
"Love you!"
Siska hanya mampu tersenyum tanpa membalas ucapannya. Dirinya terlalu lelah walau hanya untuk mengeluarkan satu kata saja. Sungguh penggempuran yang membuat ngempor, bahkan wanita yang terlihat begitu tangguh tak dapat menaklukan si jack yang perkasa.
Hingga akhirnya keduanya terlelap. Namun baru saja keduanya mengarungi dermaga mimpi, gedoran keras dipintu membuat keduanya terlonjak dan membuka mata.
Tok! Tok! Tok!
"Timom!"
Pekikan dari luar mampu membuat Siska terbangun. Dengan setengah nyawanya yang masih melayang Ia bergegas mencari dan mengumpulkan pakaian untuk dikenakannya.
"Bang segitiga merahnya dimana?" Tanya Siska dengan celingukan mencari satu benda yang belum Ia temui, dibawah ranjang.
"Di samudera Atlantik." Balas bang Age asal.
__ADS_1
"Ishh itu mah segitiga bermuda." Timpalnya dengan membanting guling kearah suaminya.
Bang Age terkekeh dan bangkit kala mendapat lemparan guling dari istrinya. Ia menggelengkan kepala kala melihat sang istri sibuk mencari benda keramatnya. Kemudian netranya menangkap hal aneh dari lampu temaram diatas nakas.
Tawanya pecah melihat sesuatu yang menghalamgi cahaya lampu disana. Benda keramat yang tengah dicari sang istri tersangkut disana.
Siska yang tengah sibuk, menghentikan aktifitasnya kala mendengar tawa suaminya. "Kenapa sih bang?" Tanyanya heran.
"Kamu cari apa?" Bukan menjawab Ia malah bertanya balik membuat Siska sedikit kesal.
"Abang ihh! Udah tau juga lagi cari cangkang martabak. Pake ditanya lagi." Gerutunya. "Lagian dilempar kemana sih, ampe gak ketemu?" lanjutnya serayae membuka selimut yang dikenakan suaminya.
Bang Age bangkit dari ranjang dan mengambil benda itu dari atas lampu. Lalu memberikannya pada sang istri. "Nih!"
"Ya ampun bang! Kenapa mesti ngekep cangakngnya sih?" Omelnya membuat sang suami tergelak.
Ingin rasanya Ia membalas ucapan sang istri, namun pekikan dari luar semakin nyaring terdengar ditelinganya. Ia membiarkan sang istri mengenakan pakaiannya dan diririnya berlalu ke kamar mandi.
Setelah rapih Siska segera membuka pintu kamarnya.
Ceklek!!
"Timom!"
Ia berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan balita cantik yang baru saja berulang tahun yang ke tiga tahun, yang telah digelar seminggu yang lalu. Ia usap kedua pipinya yang basah dengan lelehan air mata menggunakan kedua ibu jarinya.
"Ada apa sayang? Mimpi lagi?" Tanya Siska dan dijwab anggukan putrinya.
"Dede nda bica mbo agi." Celotehnya membuat Siska tersenyum.
Siska belai rambut setengah ikalnya dan mencium pucuknya. "Yuk masuk!" Ajaknya.
Hal ini sudah tak aneh baginya. Hampir beberapa minggu ini semenjak putri kecilnya memutuskan untuk tidur terpisah, Ia selalu terbangun dijam kunti seperti ini. Mimipinya selalu membuat Ia terjaga dan sulit untuk kembali memejamkan mata. Meski itu bukan mimpi buruk, namun tetap saja Ia tak bisa kembali memejamkan matanya.
Ketika konsultasi dengan dokter, ternyata putrinya mengidap insomnia. Gejalanya akan timbul, dimana dirinya terlalu letih karena bermain. Tubuhnya yang terlalu aktif, menjadi faktor penunjang utamanya. Hingga sang timom selalu membatasi putrinya itu untuk bermain terlalu lama dan tak membiasakan tidur disiang hari. Namun tetap saja namanya anak-anak sulit sekali untuk dicegat. Dan alhasil, malam-malamnya akan terganggu dengan mata cerah yang sulit tertidur kembali itu.
"Timom, napa bewantakan kacunnya?" Tanya balita cantik itu kala melihat sprei yang tergulung tak beraturan, sisa petempuran si empunya.
Siska terkekeh mendengar celotehan putrinya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia pun menggulungkan spreinya dan melemprnya kedalam keranjang khusus pakaian kotor.
"Napa diwempan mom?" Tanyanya.
__ADS_1
"Itu tu bekas Papih tadi bunuh kecoa jadinya kotor. Timom ganti dulu yang baru ya!" Ucap Siska dan diiyaakan putri kecilnya.
Ketika Siska tengah mengganti spreinya, bang Age keluar dari kamar mandi.
"Pih!" Pekik dede Kia merentangkan tangannya minta digendong sang Papih.
Dengan sigap sang Papih menangkap tubuh mungilnya dan menggendongnya. Ia ciumi wajah cantik putrinya bertubi-tubi. "Dede gak mbo lagi?" Tanyanya.
"Nda Pih. Nda bica mbo." Keluhnya.
"Kasihan princess nya papih. Makanya kalo siang tuh, jangan kebanyakan gerak. Jadinya kan sulit bobo!" Ledek sang Papih.
"Iya pih!" Jawabnya sendu dengan wajah cemberutnya.
Bang Age tersenyum dan menciumi kembali putri gemoy nya dan sukses membuatnya tersenyum bahkan tertawa kembali.
"Udah beres! Yuk bobo!" Ajak Siska pada sang putri.
Bang Age membawa sang putri keatas kasur yang sudah kembali rapih, lalu menidurkannya dibagian sisi.
"Dede nda mau dicini, mau ditenah aja!" Protenya dan memindahakan diri bergeser ketengah.
"Dede disisi dong! Kalo dede ditengah, papih gak kebagian timomnya." Bujuk bang Age.
"Nda mau. Dede mau ditenah. Dicana ntan jatoh!" Balas balita cantik dengan celotehan yang mampu membuat sang Papih mengalah.
"Udah deh bang ngalah. Ampun deh!" Ucap Siska dan dijawab cebikan bibir dari suaminya.
Akhirnya Ia mengalah dan tidur disebelah putrinya pula. Membiarkan princess nya menguasai sang istri.
"Udah sekarang dede bobo ya! Emm Timom bacain dongeng, mau ya!" Bujuknya ketika dirinya sudah membaringkan tubuh disamping putrinya dan diiyakan olehnya.
Siska pun mulai membacaakan dongeng anak-anak, meski dengan mata yang setengah tertutup, Ia mencoba melanjutkan bacaannya. Hingga akhirnya bukan hanya dede Kia namun sang Papih sudah ngorok duluan.
Siska tersenyum seraya memperhatikan dua orang tersayangnya. Ia belai kepala keduanya dengan sayang dan mencium pucuk kepalanya bergantian. "You are my treasure!" Gumamnya.
***************
Jangan lupa like dan komennya! Ayo dong ramaikan! Kita main sama bocil yang gumush-gumush😊
__ADS_1
Si cantik Dede Kia😍