Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 118 Rapat urgent


__ADS_3

Semua orang yang sudah siap, dibuat tercengang oleh penuturan gadis yang akan menangkap gambar mereka. Si pelaku baju coklat menarik satu sudut bibirnya dan berjalan kedepan, hendak menghampiri sang potografer.


"Apa ada masalah?" Tanyanya.


Si gadis pun menyunggingkan senyuman termanisnya. "Tentu! Lu gak lihat. Semua keluaraga lu mengenakan pakaian monokrom. Lah lu sendiri yang gak nyambung. Ganti gih! Gak etis banget lihatnya." Cerocosnya.


Rangga tersenyum tipis. "Kalo gitu," Ucapnya seraya berjalan dan berdiri disamping gadis itu.


Karena kaget si gadis sedikit menjauh seraya menoleh pada pria disampingnya dan menatapnya aneh.


"Kita potonya berdua biar pas!" Bisik Rangga menyunggingkan senyumnya seraya melirik kerarah gadis dan dirinya bergantian.


Sang gadis mengikuti lirikan mata pria disampingnya dan betapa terkejutnya dia, ternyata warna kemejanya senada dengan pria disampingnya.


"Ya ampun!" Pekiknya seraya menutup mulutnya hingga membuat Rangga tersenyum simpul.


"De cepetan! Pegel nih!" Teriakan Siska membuyarkan keterkejutan sang gadis.


"Iya kak iya!" Balasnya ikut berteriak.


Akhirnya tanpa menghiraukan pria disampingnya yang stay menatapnya. Ia segera mengambil gambar keluarga besar disana beberapa kali dengan beberapa gaya tentunya.


"Nih! Udah." Ucapnya seraya menyodorkan layar pipih pada pria disampingnya.


Tanpa diduga bukannya mengambil benda itu, Rangga malah meraih pundaknya dan merangkulnya.


"Gaisss!!!" Teriaknya, membuat keluarganya disana seketika menoleh.


"Kalo ini gimana? Cocok gak!" Teriaknya lagi dan langsung dapat sahutan dan sorakan meriah dari keluarganya disana. Tentu hal itu membuat sang gadis menoleh dan menganga dengan mata yang membulat seraya akan keluar.


"Mantap Ga!"


"Pas! Cakeplah!"


"Pepet terus! Jangan kasih kendor!"


"Gaskeun!"


Sahutan dari orang-orang yang tak Ia kenal, membuat pipi sang gadis merah seketika. Hingga Ia menunduk untuk menyembunyikan rona merah dipipinya. Berbeda dengan Rangga yang begitu menikmati ekspersi gadis disampingnya.


"Boleh kenalan?" Tanyanya seraya menjulurkan tangan.


Sang gadis menoleh, bukan menyambut jabatan tangan pria disampingnya. Ia malah memberikan layar pipih itu padanya.


"Nih! Dasar kardus!" Ucapnya seraya menepis tangan yang bertengger dibahunya.


Ia menggerutu kesal seraya berlenggang meninggalkan tempat itu. Rangga tersenyum dengan terus menatap punggung sang gadis yang kian menjauh.

__ADS_1


"Ga! Sini!" Teriakan sang Ayah akhirnya membuat Ia memutuskan tatapannya dan kembali bergabung dengan keluarganya.


*


"Sebenarnya, apa yang terjadi antara kamu sama Silvi?" Tanya Ayah.


Kini mereka sudah pulang ke kediaman ayah Dedes dan tengah mengadakan rapat urgent diruang keluarga. Bang Ar dan keluarganya sudah pulang ke kediaman mereka, begitupun Lia dan suaminya.


Kini tersisa keluarga Ayah, Papih, dan bang Age disana. Rei membawa kedua ponakannya bermain digazebo halaman rumah, hingga menyisakan orang dewasa saja diruangan luas itu.


"Kita putus." Balas Rangga membuat mereka menghembuskan nafasnya panjang.


"Terus apa maksudnya Silvi bilang kamu mantannya Siska?" Tanya ayah lagi.


Siska saling lirik dengan sang suami dan juga Rangga bergantian.


Hening!


Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan kata disana membuat suasana kian tegang. Perlukah mereka membongkar kejadian lama? Persiapan pernikahan yang pernah direncanakan Rangga, sungguh apik. Hingga ayah Dedes tak tau apapun akan hal itu.


"Rangga?" Tanya Ayah lagi.


"Aku mencintai Siska." Penuturan Rangga sungguh membuat mereka shok sampai semua tatapan mengarah padanya.


Siska hanya terdiam, bang Age yang melihat kekhawatiran diwajah sang istri segera merangkulnya dan membuat Siska sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Dan itu dulu." Lanjutnya. "Ya! Dulu aku sangat mencintai dia. Aku sampai bertekad buat memiliki dia. Dan siap menikahinya."


Sungguh penuturan Rangga membuat semua terkejut. Disini ibu lah yang begitu shok, Ia sampai memegang kepalanya dan menyandarkannya dibahu ayah. Dengan sigap ayah segera merangkulnya.


"Tapi, apa ayah tau? Aku ditolak." Ucapnya dengan tersenyum miris. "Aku ditolaknya berkali-kali." Lanjutnya.


Siska ikut memegang kepalanya seraya menyandarkan dibahu sang suami. 'Haruskah Rangga membeberkan semuanya?' Pikirnya.


"Dan terakhir, aku memintanya untuk menikah denganku. Sampai aku sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan udah menyewa pak Ustadz Usman buat nikhin kami. Dan ayah tau jawabannya?" Ia tertawa kecil mengingat itu.


"Aku ditolak lagi." Lanjutnya dengan menggelengkan kepala. "Dan alasannya seperti yang dilihat. Aku kalah sama si abanh duda." Ucapnya terkekeh melirik bang Age.


Yang dilirik mengambil bantal sofa, hingga benda itu sukses mendarat kehadapan Rangga.


"Makanya, ngelamar gadis tuh yang romantis. Ini kok ngelamar bikin spot jantung, ya kabur lah tuh gadis." Ledek bang Age membuat suasana kembali mencair hingga senyum keluar dari para orang tua disana, kecuali ibu.


Ia mengingat kembal kedekatan Rangga dan Siska sewaktu sekolah dulu, kemudian kala perpisahan, sampai mereka jadi keluarga. Jika ditelisik banyak sikap Rangga yang begitu memperhatikan Siska. Dan sekarang Ia mengerti alasan itu. Bukan saudara yang dirasa Rangga, tapi cintanya yang masih tetap sama.


"Dan sekarang?" Ucapan ibu membuat mereka mengalihkan atensi padanya. "Apa perasaanmu masih tetap sama?" Tanyanya.


Rangga tersenyum. "Bohong jika aku bilang nggak! Karena melupakan itu butuh waktu yang cukup dari pada berkenalan." Ucapnya. "Tapi sekarang, aku sedang berusaha membuka hatiku buat orang lain. Dan smoga aja, aku segera menemukan orang yang tepat."

__ADS_1


"Gadis yang tadi, boleh juga tuh Ga." Usul Papih


"Iya. Dia cantik! Udah tau namanya belum?" Mamih ikut mencairkan suasana disana.


Rangga tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Belum! Apa kita bisa ketemu lagi ya?" Kekehnya.


"Jika kalian berjodoh, pasti dipertemukan kembali." Tutur Papih menyemangati membuat suasana kian menghangat dengan tawa kecil dari mereka.


"Sis?" Tanya ibu yang melihat sang putri yang terdiam dirangkulan suaminya sedari tadi.


"Hem?" Balasnya mendongak.


"Ada yang mau kamu sampaikan?" Tanya ibu.


"Hah?!" Siska bingung sendiri. Sejujurnya Ia merasa malu pada sang ayah, karena sudah menolak putranya berkali-kali.


"Apa? Rangga udah jelasin tuh semuanya." Jawab Siska sekenanya.


"Gak ada niatan gitu, buat kamu minta maaf sama Ayah?" Tanya ayah Dedes.


Siska menghembuskan nagasnya panjang. Itu memang harus Ia lakukan. Mendengar hal itu dari sang putra, tentu akan menyakiti hatinya.


"Maafin aku Yah! Aku udah buat putra ayah sakit hati, karena berulang kali menolaknya." Kekeh Siska.


"Tapi itu keuntungan juga. Terutama buat ayah." Lanjutnya.


"Kenapa emang?"


"Kalo aku jadi sama Rangga, ayah sama ibu hanya akan besanan. Ya gak? Jadi keuntungan tuh buat ayah sama ibu." Kekeh Siska membuat mereka tergelak.


"Terus gimana urusan nya kamu sama Silvi? Bukannya kamu sering berkunjung ke rumahnya?" Tanya Ayah.


"Ayah gak perlu khawatir, aku akan menjelaskan semuanya pada keluarganya."


"Sebenarnya apa yang membuatmu mutusin dia. Apa benar karena Siska?" Tanya ibu khawatir dan dibalas senyuman Rangga.


"Ya! Nggaklah bu!" Jawaban Rangga membuat mereka menghembuskan nafasnya panjang.


"Ada hal yang tak mungkin aku jelaskan pada kalian semua. Yang jelas," Ia menjeda sebentar ucapannya.


"Aku gagal uji coba." Lanjutnya.


*****************


Alhamdulillah, up lagi🤭 Udah yaa besok lagi, cape euyy🤣🤣


Yuk ramaikan! Ramaikan🤗

__ADS_1


__ADS_2