Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 128 Tersipu


__ADS_3

Keesokan harinya, Rangga sudah siap untuk menjemput sang kekasih. Dengan menggunakan kemeja warna coklat dan kancing atasnya yang dibiarkan terbuka dan jangan lupakan wajah tampan yang terlihat berbunga-bunga itu, begitu kentara terlihat sampai sang adik menyapanya dengan heran.


"Kakak kenapa?" Tanyanya seraya memasukan roti kedalam mulutnya.


Rangga terus menyunggingkan senyumnya tanpa membalas ucapan adiknya. Ia hanya mengusek rambutnya sampai berantakan dan sukses membuat Rei memberenggut kesal.


"Rambut gue, ya ampun!" Pekiknya. "Napa sih nih orang, aneh banget deh!" Lanjutnya.


Ketika Rei tengah bertanya pada sang kakak yang mendadak aneh, suara cempreng mengalihkan atensinya.


"Assalamualikum!"


"Waalikumsalam!" Balasnya.


Seorang gadis kecil datang dengan membawa rantang ditangannya. Rangga meminum susunya, tanpa memakan rotinya. Ia betjalan mendekat pada si gadis seraya berjongkok.


"Selamat pagi gadis cantik!" Sapanya, lalu mendaratakn bibirnya pada pipi gadis itu seraya mengusek pucuk kepalanya gemas.


Kia melongo mendapat perlakuan tak terduga dari om yang beberapa tahun ini sudah seperti patung itu. Begitupun Rei, Ia sampai menjatuhkan roti dari bibirnya melihat adegan itu. Keduanya terus menatap kepergian pria itu sampai hilang dibalik pintu keluar.


Kia tersadar lebih dulu, Ia berjalan mendekat dan mengambil roti yang dijatuhkan om nya tadi dari atas pahanya. Lalu memasukan kembali kedalam mulut sang om, hingga sukses membuatnya terkesiap.


"Sayang om rotinya, belom kena lantai." Celetuk Kia tanpa dosa.


Rei menghembuskan nafasnya seraya mengunyah roti yang tadi kembali dimasukan ponakannya dengan wajah sedikit ditekuk.


"Yang mana tadi yang dicium om Rangga?" Tanyanya.


"Yang ini!" Tunjuknya pada pipi sebelah kanan sembari mendudukan diri dikursi disebelah sang om.


Tanpa bertanya lagi, Rei ikut mencium pipi kanan ponakannya yang tadi kena cium kakaknya. Kia melongo mendapati hal itu dengan mata yang membola.


"Tapi om, om Ga ciumnya yang kiri." Ucapan Kia membuat sang om berdecak kesal. Ia kembali mendaratkan ciumam itu dipipi kirinya hingga membuat gadis cantik itu tersenyum lebar.


"Satu lagi om, disini!" Tunjuknya pada dahinya. Akhirnya ciuman pun didapati bertubi-tubi diseluruh wajahnya dari sang om dan membuat keduanya tergelak.


"Napa sih om? Marah-marah?" Tanya Kia.


"Kesel om tuh sama om Ga! Tiba-tiba aja rambut om diberantakin." Balas Rei.

__ADS_1


"Mana sini aku lihat?" Tanya Kia.


Rei sedikit menunduk agar rambutnya dapat dijangkau ponakan tercintanya. Kia mencoba merapihkan sedikit rambut yang berantakan itu. Hingga senyum terukir dari bibir Rei kala melihat wajah cantik itu dari jarak yang begitu dekat.


"Dah! Om udah ganteng." Ucapnya dengan senyum yang mengembang dan sekali tepukan tangan.


Rei kembali keposisi dengan senyum yang kian mengembamg. Wajahnya terasa terbakar mendapat pujian dari ponakannya itu. Meski bukan yang pertama, namun tetap saja pujian dari bibir mungil itu selalu membuatnya tersipu.


'Ya ampun! Bisa-bisanya bibir kecil itu selalu membuatku seperti ini.' Batinnya.


Ia yang sudah remaja, sudah sedikit tau mengenai hal itu. Namun dengan seorang gadis kecil, itu rasanya mustahil.


"Om!!" Suara cempereng sang ponakan sukses membuatnya terkesiap.


"Hah?! Iya." Jawabnya gelagapan.


"Om napa?" Tanya Kia heran seraya mendekatkan wajahnya dan hal itu membuat Rei semakin tak menentu.


"Ehemm nggak, gak papa!" Balasnya dengan pandangan yang Ia edarkan kemana saja.


Kia hanya mengedikan bahunya seraya membuka bekal yang Ia bawa dari rumahnya. "Nih om. Aku bawain nasi goreng buatan timom! Om makan ya!" Titahnya.


Ia mulai menyendokan nasi berminyak dengan berbagai toping diatasnya kedalam mulut sang gadis, lalu ke mulutnya juga bergantian. Hingga mereka menikamati nasi goreng buatan sang timom itu bersama.


Jarak rumah yang hanya berkisar beberapa meter, bahkan bisa disebut tetangga itu. Memudahkan sang gadis untuk mengganggu sang om setiap hari. Sekolah yang berdekatan membuat mereka berangkat bersama kesekolah dengan supir yang disediakan bang Age.


*


Sementara itu, seorang pemuda terus menyunggingkan seyumnya. Ia yang biasa membawa sang kuda besi kini mendadak membawa kijang besi saudarnya. Bahkan Ia rela berdebat terlebih dahulu dengan si empunya dan siap menerima persyaratan apapun darinya.


Siulan terus keluar dari bibir sexy nya. Berulang kali Ia pun melihat penampilannya dari kaca spion atasnya, memindai rambut dan wajahnya. Ia mengemudikan kendaraannya menuju alamat yang diberikan kekasihnya.


Hingga tak terasa mobilpun sampai ditempat tujuan. Ia memarkirkan mobilnya dihalaman yang lumayan luas itu. Ia turun dengan gaya cool nya, tak lupa Ia membawa buket bunga dan buah tangan yang sempat Ia beli tadi.


Ia menarik dan membuang napasnya terlebih dahulu sebelum mengetuk benda persegi berwarna putih dihadapannya itu.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamuaalikum!"

__ADS_1


Ceklek!


Pintu terbuka, hingga nampak wanita paruh baya yang menyambut dirinya.


"Waa- ya Ampun nak Rangga!" Pekiknya, bahkan Ia tak sempat membalas salamnya saking terkejutnya siapa yang bertamu.


Ia berhambur memeluk tubuh pria yang sudah Ia anggap putranya sendiri itu. Ia tak menyangka dapat bertemu kembali dengannya.


"Kamu apa kabar nak?" Tanyanya seraya menangkup wajahnya dengan air mata yang sudah berderaian.


"Baik bun. Bunda gimana kabarnya?" Tanyanya balik.


Kedekatan keduanya empat tahun silam membuat mereka sudah seperti ibu dan anak. Segala keperluannya sangat diperhatikan pemuda itu. Semenjak bunda dibawa pindah oleh putranya, Rangga tak dapat bertemu lagi dengannya.


"Bunda baik nak. Yuk masuk yuk! Bunda udah siapain makanan kesukaan kamu." Bunda menggiringnya hingga menuju sofa ruang tamu.


Ruangan luas yang bergitu nyaman ditinggali. Atensinya terus memindai isi didalam rumah itu. Sepertinya sang abang sudah sukses sekarang. Terlihat dari rumah yang dapat dibelinya, cukup mewah untuk kalangan seperti mereka.


"Bentar ya, bunda panggilin Hanna dulu. Pasti tu anak masih dandan deh." Ucap bunda dan dijawab anggukan Rangga seraya mendudukan diri.


Tak berselang lama Hanna datang dengan sang bunda. Ia terpaku memindai penampilan sang kekasih dari atas sampai bawah. Bibirnya sampai terbuka lebar melihat kecantikannya.


"Awas iler nya tumpah tuh!" Ledek sang bunda dan sukses menyadarkan Rangga dari lamunannya.


Kedua wanita beda generasi itu cekikikan melihat ekspresi pemuda yang tengah duduk dengan salah tingkah. Bahkan Rangga sampai menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk mengalihkan perhatiannya.


"Makin cantik ya?" Goda Hanna seraya mendaratkan bokongnya disofa sebelah kekasihnya dan bunda yang berlalu kedapur.


Rangga tersenyum menanggapinya. Ia raih buket bunga dari meja yang sempat Ia simpan dan memberikannya pada sang gadis.


"Bunga yang cantik, untuk wanita paling cantik." Pujinya.


Hanna tergelak mendengar pujian atau gombalan yang dilayangkan kekasihnya itu, yang jelas hal itu sukses membuatnya tersipu.


"Oh iya, kita mau kemana hari ini?" Tanya Hanna.


"Ketempat dimana kita akan dipersatukan." Balasnya hingga Hanna keheranan.


******************

__ADS_1


Crazy up mak'e🤣 Kuy lah kasih bunga, vote nya juga dong! Kemarin hari senin yaa! Gak ada yang mau nyumbang gitu😅


__ADS_2