Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 69 Daun kelor


__ADS_3

Siska tergelak dengan penuturannya sendiri. Berbeda dengannya, Lia berdecak kesal mendengarnya. Ia yang berfikir bestienya ini sudah lebih bijak, eh ternyata makin somplak.


"Ck! Sama aja!" Ucap Lia kesal.


"Ya deh iya." Siska menghentikan tawanya. "Eh tapi, gimana ceritanya lu bisa disini?" Tanyanya yang belum menuntaskan ke kepoannya.


"Gue dipindahin kebagian cabang disini." Timpalnya dan dijawab anggukan Siska.


"Gue kira lu ke kota mau lanjut sekolah. Padahal ya, kakak lu kan lumayan kerjaannya. Napa lu milih kerja?" Tanya Siska heran. Padahal keluarga Siska lumayan ada, cukuplah untuk membiayai kuliahnya.


"Gue sih oke! Keluarga apalagi dukung banget. Tapi otak gue menolak pinter." Jawabnya membuat mereka tertawa lagi.


"Ya udah sii. Mening kek gue. Nikah muda enak loh!" Timpal Siska.


"Gue juga kalo udah ada calonnya. Mening nikah aja! Tapi kan gue belom punya gandengan." Tutur Lia sendu.


"Ntar juga, lu ada saatnya buat nikah. Sabar aja!" Siska mencoba menyemangati sahabatnya itu. "Dan lu harus carinya yang lebih dewasa, kek bang Age!" Lanjutnya.


"Itu gue udah cari yang dewasa, tapi punya orang. Gimana dong?" Tanya Lia sedikit frustasi.


"Ya jangan punya orang juga sii. Cari lagi lah!" Titah Siska. "Kali aja masih ada teman atau kerabatnya yang masih ready gitu?" Sarannya.


"Ada sii, temannya. Tapi ngeselin banget. Sekarang aja gue malah dipindahin kerja sama dia lagi." Tuturnya membuat Siska kembali tertawa.


"Jadi ceritanya dia jadi bos lu gitu?" Tanya Siska dan dijawab anggukan Lia.


"Ganteng gak orangnya?" Tanya Siska.


"Emm.. Lumayan sih. Tapi gitu, ngeselin banget. Kadang gue ngerasa, dia selalu sengaja ngerjai gue. Gue disuruh inilah itulah. Ngeselin lah pokoknya!" Tuturnya dengan nada jengkel.


"Emang itu tugas lu oneng jadi babu!" Ledek Siska dan sukses dapat toyoran dari sahabatnya itu.


"Enak aja, gue bukan babu ya! Gue tu office girl." Timpalnya.


"Sama aja. Woy!" Siska balik menoyor sahabatnya itu membuat keduanya tergelak.


Ternyata aksi toyor menoyor sudah menjadi kebiasaan keduanya. Bagai sebuah cara mengungkapkan perasaan sayang dari keduanya.


"Lu udah lama dipindah kesini? Kok gak nemuin gue?" Tanya Siska.


"Baru juga dua hari gue. Rencananya hari ini gue mau nemuin lu mumpung weekend. Tapi tuh si bos ngeselin, minta gue buat nyari dress buat adeknya katanya. Entahlah, gue gak yakin juga sih buat adeknya. Mungkin aja buat ceweknya. Iya gak?" Tutur Lia panjang lebar.


Siska mengedikan bahunya. "Mungkin!" Ucapnya.

__ADS_1


"Ya ampun yang! Dari tadi abang nungguin kamu udah kek dagangan dianggurin, untung aja gak dilalerin. Eh kamu malah asyik reunian disini." Omel bang Age.


Lia tergelak mendengar omelan suami sahabatnya itu. Biarpun kata-katanya lembut, tapi cerocosannya tetap sama. Khas bang Age banget.


"Maaf bang! Tadi nemu makhluk ini disini. Jadi reunian dulu deh." Timpal Siska.


"Set dah, dikira anak kucing gue." Timpal Lia membuat pasangan itu tergelak.


"Lu apa kabar Li?" Tanya bang Age.


"Baik bang!" Balas Lia.


"Ya udah selesai in dulu belanjaan kalian. Kita ngobrolnya sambil makan, udah siang juga!" Bang Age yang tak mau sampai sang istri kelaparan, segera mengajaknya makan dan diiyakan kedua bestie yang tengah asyik reunian itu.


**


Setelah selesai memilih dan membayar belanjaanya. Kini ketiganya memsuki foodcourt untuk makan siang. Ketiganga memesan makanan begitu banyak. Bukan ketiganya, lebih tepatnya si bumil yang memilih berbagai macam menu yang menurutnya begitu menggiurkan.


"Sayang! Yang benar aja! Itu makanan segitu banyak mau kamu makan semua?" Tanya bang Age merasa tak percaya dengan apa yang sudah terderak didepannya.


Bahkan bang Age sudah merasa kenyang duluan melihat piring berisi berbagai macam menu yang memenuhi meja mereka. Begitupun Lia, Ia sampai menelan salivanya susah payah melihatnya. Bukan karena menginginkan semuanya. Seperti bang Age, Ia pun sudah kenyang terlebih dahulu.


"Ya nggak lah bang. Aku cicipi aja!" Timpal Siska dan mulai mencicipi satu menu.


"Ya abang lah." Jawabnya santai


Bang Age menganga mendengar penuturan istrinya. Lia kembali tergelak dengan tingkah pasangan ini. Tanpa menjawab apalagi memakan makanannya, bang Age hanya menghembuskan nafasnya panjang dan meraih minumannya hingga menegaknya habis.


Kedua wanita beda status itu makan dengan lahap. Bang Age hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa tak ada anggun-anggunya perempuan didepan dan disampingnya itu.


Setelah selesai acara makan-makan yang hanya dinikmati kedua perempuan itu, kini ketiganya kembali mengobrol.


"Jadi lu tinggal dimana?" Tanya Siska.


"Gue tinggal dikosan, dekat dari tempat gue kerja. Itupun udah direkomen dari pihak kantor." Tutur Lia dan dijawab oh ria oleh Siska.


"Emang kerja dimana?" Tanya bang Age.


"Di perusahaan XXX." Timpal Lia.


"Bukannya itu perusahaannya suami ka Aysa ya bang?" Tanya Siska.


"Iya. Itu perusahaannya Rendi. Yang disini cabangnya." Jawab bang Age.

__ADS_1


"Jadi kalian kenal sama boss nya?" Tanya Lia shok.


"Ya tau lah. Rendi suaminya Aysa. Sepupu gue." Jawab bang Age.


"Omeegaatt!!!" Lia benar-bener shok. Ia menganga dengan menahan dadanya yang terasa sesak.


'Omeegat! Ternyata dunia ini sempit.' Batinnya.


Siska cekikikan melihat ekspresi yang ditunjukan sahabatnya itu. Ternyata pria yang disukai sahabatnya itu, si pleboy suaminya si kulkas lempeng. Pria yang sama yang pernah Ia gombalin dulu. Emang dah pesona si pleboy Rendi gak diragukan. Biarpun sudah menjadi seorang dady, tapi pesonanya semakin menggiurkan dimata kaum hawa.


"Kenapa sii?" Tanya bang Age yang heran melihat tingkah keduanya.


"Nggak bang! Lucu aja. Ternyata kita hidup dalam satu ruang lingkup yang sama, namun kita tak menyadari itu. Dunia serasa hanya seluas daun kelor." Timpal Siska, padahal Ia ingin sekali ngakak guling-guling menertawakan sahabatnya itu.


Lia menghembuskan nafasnya panjang. Mendadak wajahnya terasa panas. Bagaimana kalo sampai suami sahabatnya itu tau kalo dirinya menyukai suami dari sepupunya itu? Auto malu tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh belokan itu mah. Pikirnya.


"Iya ya. Berarti kalo lu kerja disini. Bos nya bukan Rendi kan?" Tanya bang Age dan dijawab anggukan Lia.


"Emang disini siapa bang bos nya?" Tanya Siska penasaran dengan bos yang disebut sahabatnya ngeselin itu.


"Si Ivan. Dia yang jadi bos nya disini." Timpal bang Age dan sukses membuat Siska tergelak.


Bang Age mengerutkan dahinya heran. "Kenapa sih yang?" Tanya bang Age.


"Nggak. Lucu bang!" Timpalnya disela tawa.


"Ck! Pasti otak kamu langsung inget tuh, sama fans kamu itu!" Tutur bang Age dengan decakan kesal.


Ia masih mengingat bagaimana pria itu menggoda adek imut kesayangannya dulu? Bagaimana Ia membuat tertawa gadis yang sekarang sudah menjadi istrinya itu? Dan itu masih saja membuatnya kesal.


Hingga tiba-tiba atensi mereka pecah, dengan omelan seseorang yang menghampiri mereka.


****************


Ayo dong kencengin juga votenya. Kangen, pengen dapat hadiah juga🤭



Si abang yang dianggurin, untung gak dilalerin😂



Si bumil yang dikira bijak, ternyata makin somplak😂

__ADS_1


__ADS_2