
Pagi ini, seperti biasa sang timom tengah mempersiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Apalagi sekarang bukan hanya suaminya saja yang akan berangkat ke kantor pagi-pagi. Namun sang putra yang sudah memasuki sekolah dasar, akan berangkat bersama sang Papih.
"Pagi timom!" Sapa Aska yang sudah rapih dengan seragam merah putih dan jangan lupakan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
Ia berjalan menghampiri sang timom yang sibuk dengan wajan dan spatulanya.
"Pagi sayang!" Balas Siska sedikit menunduk agar sang putra dapat menjangkau pipinya.
Sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi akan memberikan morning kiss pada timomnya. Hal yang sudah menjadi agenda wajib untuknya lakukan.
"Bentar ya sayang, timom siapin dulu sarapannya!" Ucapnya dan dijawab anggukan bocah kalem itu.
"Oh iya kak! Papih sama dede sudah bangun belum?" Tanyanya.
"Papih lagi mandi. Kalo dede kek nya masih tidur." Balasnya seraya mendudukan diri dikursi meja makan.
Ketika Siska masih bergulat dengan wajannya. Seseorang yang bertamu nyelonong masuk begitu saja. "Asslamualaikum!" Sapanya.
"Waalaikumsalam!"
"Ya ampun! Bisa gak sih, lu masuk rumah orang tuh ketuk pintu dulu. Main nyelonong aja!" Omel Siska.
"Iya. Maaf!" Balasnya seraya mendudukan dirinya dan putri cantiknya dikursi.
Ia melihat kaarah bocah tampan yang tengah duduk rapih disana. "Ciee calon mantu udah rapih euy! Mau berangkat sekolah ya!" Sapanya.
Aska tersenyum pada teman timomnya yang menurutnya agak aneh itu. Bagaimana tidak? Setiap pagi-pagi sekali Ia bertamu dan membawakan makanan atau cemilan untuknya. Seperti kali ini, Ia datang membawa rantang yang entah isinya apa.
"Iya. Onty." Jawabnya.
"Kan udah sering dibilangin, jangan panggil onty, panggilnya Mama aja, ya!" Pintanya dan hanya dijawab senyuman bocah tampan itu.
"Ck! Lu tu ya Li, bener-bener deh! Mereka tuh masih kecil. Kenapa sih Kekeuh banget pengen ngejodohin?" Tanya Siska.
"Ya lu mah. Siapa tau gitu mereka beneran jodoh. Lagian sayang banget kalo sampe Aska jadi mantu orang, gak ikhlas gue." Tutur Lia dramatis.
Siska menghembuskan nafasnya panjang. Sungguh bestienya ini tak pernah berubah. Ia masih bersikukuh ingin menjodohkan putrinya dengan Aska. Keinginannya sedari hamil hingga disebut ngidam, ternyata adalah obseseinya untuk menjadikan Aska menantunya. Meski tak dapat dipungkiri Siska sangat menyukai putri dari sahabatnya itu yang sangat berbeda sifatnya dengan Mamanya. Namun tetap saja, soal jodoh Ia hanya menyerahkan pada putranya sendiri. Dan tak ingin ikut campur dengan masalah pribadinya.
Vanilla, balita cantik dengan rambut panjang dan lurus yang dibiarkan tergerai dan bando yang bertengger dikepalanya begitu terlihat manis. Siapapun yang melihatnya akan terpesona melihat betapa gemasnya balita cantik itu.
Ia yang tak mengerti dengan pembahasan orang dewasa, hanya acuh dan sibuk dengan boneka barbie ditangannya. Berbeda dengan Aska, Ia yang sedikit tau tentang menyukai seseorang tersenyum mendengar perdebatan orang dewasa disana. Hingga atensinya teralihkan pada gadis cantik yang tengah fokus dengan boneka ditangannya.
__ADS_1
'Aku gak akan suka sama anak kecil kek dia. Aku kan sukanya sama dede.' Batinnya.
"Timom! Kiy ana?" Tanya balita cantik itu menghentikan perdebatan kedua emak-emak disana.
"Iya sayang!" Jawab Siska. "Kiy masih bobo. Bangunin gih!" Titahnya membuat balita cantik itu mengangguk.
Ia berjalan hendak memasuki kamar Siska, hingga diambang pintu, Ia bertemu dengan bang Age. Tanpa ingin masuk Ia kembali ngibrit kedapur.
Bang Age tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat gadis kecil yang selalu kabur kala melihatnya. Entah apa yang dilihat darinya hingga membuat balita cantik itu takut padanya.
Sementara didapur Vani berhambur kepelukan Mamanya. Tau apa yang terjadi Siska dan Lia terkekeh sampai menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Ketemu om ya?" Tanya Lia dan dijawab anggukan putrinya.
Mereka tertawa melihat ekspresi balita cantik itu. Hingga bang Age datang menghampiri mereka.
"Bang! Kamu apain nih calon mantu?" Tanya Lia.
"Idih calon mantu. Ogah gue besanan sama suami lu." Balas bang Age seraya menundukan diri disisi putranya.
"Jangan gitu lah bang. Kurang apa coba putri gue ini. Udah cantik, manis, kalem lagi." Timpal Lia membuat Siska tergelak.
Bang Age mengelus rambut panjang balita cantik itu. "Vani jangan takut sama om. Om gak gigit kok!" Ucapnya dengan nada candaan.
"Iya sayang. Om Age baik kok. Buktinya dia bisa menghasilkan anak tampan seperti kak Aska." Penuturan Lia sukses membuatnya mendapatkan timpukan kerupuk dari Siska yang tengah menyiapkan nasi goreng yang akan Ia berikan untuk suami dan putranya.
"Kalo ngomong sama anak-anak itu yang benar napa?" Protes Siska seraya memberikan piring pada suami dan putranya bergantian.
"Kenapa? Apa yang salah?" Tanya Lia.
Siska menghenbuskan nafasnya panjang. "Au ah, susah ngomong sama lu." Finalnya.
"Vani sayang, kita bangunin Kiy yuk!" Ajaknya membujuk balita cantik yang tengah mengeratkan pelukanmya pada sang Mama.
"Jangan takut! Lihat! Om gak galak. Dia baik. Ya?" Bujuknya dan dijawab aggukan gadis kecil itu.
Akhirnya Ia turun dari pangkuan Mamanya dan mengikuti langkah timom menuju kamarnya. Keduanya masuk dan melihat gadis kecil yang seumuran dengan Vani masih anteng meringkuk dibalik selimut.
"De bangun! Ini Vani udah disini mau main sama dede." Ucap Siska mencoba membangunkan.
Mendengar nama temannya sudah stay untuk mengajaknya main. Ia pun bergegas bangkit. Senyuman manis terukir dari wajah cantik itu. Wajah bantalnya tak mengurangi sedikitpun kecantikannya.
__ADS_1
"Vanii!!" Pekiknya seraya merentangkan tangannya, hingga keduanya berpelukan.
Siska tersenyum dan menggelrngkan kepalanya. Sungguh tingkah keduanya bagai gamabaran dirinya dan sahabatnya dulu. Sahabat yang tak terpisahkan hingga sekarang. Ia pun berdoa dalam hatinya untuk kelanggengan keduanya.
"Ya udah dede cuci muka dulu ya! Kita sarapan bersama." Titah Siska.
"Keh!" Balas Kia.
Setelah melakukan ritual mencuci muka dan gosok gigi, kini Siska mengajak kedua balota cantik itu untuk bergabung di meja makan.
"Pagi cantik!" Sapa Lia pada putri sahabatnya itu.
"Pagi Ti." Balasnya dengan senyuman yang begitu manis.
"Ya ampun manis banget Kia!" Timpal Lia dengan mata berbinar.
"Nih. Dede sarapan dulu. Vani juga ya!" Siska menyodorkan piring pada kedua balita itu.
"Lu juga makan Li!" Titah Siska.
"Nggak! Gue udah kenyang, gue udah sarapan tadi dirumah sama suami." Ucapnya. "Kalo Vani emang belum sarapan dia. Soalnya pas kita sarapan dia masih tidur." Lanjutnya dan dijawab abggukan Siska.
"Lagian gue heran deh, kok lu bisa sih kesini pagi-pagi. Gak repot emang?" Tanya Siska penasaran.
"Gak lah! Gue kan rajin." timpalnya dengan bangga dan kembali dapat lemparan krupuk darinya.
"Timom! Nda boweh gitu!" Ucap Kia yang melihat timomnya melempar krupuk.
"Kenapa sayang?" Tanya Siska.
"Kata om nda boweh buan-buan matanan!Mubadzir!" Balasnya hingga membuat mereka tergelak.
******************
Mari-mari ramaikan! Calon besan, calon mantu siap beradu😂😂
.
Ayo siapa yang mau keep buat calon mantu🤭 Aka😍😍
__ADS_1