
"Pak Agung?!" Sapa seorang lelaki paruh baya, seraya berdiri.
"Pak Dika?!" Sapa sang papih balik.
"Apa kabar pak?" Tanya Pak Dika, seraya menyodorkan tangan untuk menjabatnya.
"Baik pak! Bapak sendiri bagaimana kabarnya?" Jawabnya dan bertanya balik seraya menyambut jabatan tangannya.
"Ya, seperti yang bapak lihat saya baik." Balas Pak Dika hingga keduanya tertawa.
Wanita paruh baya dan pemuda itu pun berdiri untuk ikut menyapa.
"Oh iya, kenalin pak. Ini istri saya Dania. Dan ini putra saya Azril." Ucap Pak Dika memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya. Hingga papih pun menjabat tangan keduanya bergantian.
"Wah ini pasti istri sama putrinya ya pak? Tapi mereka terlihat seperti adik kakak ya?" Tanya Pak Dika dan disambut kekehan sang papih.
"Iya. Istri saya masih muda, jadi terlihat seperti putri saya semua." Balasnya hingga keduanya tergelak.
"Kenalin ini istri saya Siska. Dan yang ini putri saya Kia." Ucap papih memperkenalkn keduanya.
Mereka pun saling berjabat tangan dan saling berkenalan.
"Azril!" Si pemuda yang sama yang pernah mengajaknya berkenalan, dan kini Ia kembali memperkenalkan dirinya. Dengan senyuman manis yang menghiasi wajah tampannya.
Kia menghembuskan napasnya panjang. Dengan raut muka yang sama Ia membalas jabatan tangan itu. "Kia!"
"Nama yang cantik. Secantik orangnya." Ucapnya membuat Kia ingin sekali muntah mendengar penuturan itu.
Dengan memaksakan senyumnya Ia hendak menarik tangannya, namun itu sedikit sulit. Hingga dengan kekuatannya Ia memaksa menariknya sedikit kasar.
Kedua orang tua mereka tertawa mendengar gombalan receh yang dilayangkan Azril. Kia menatap jengah pemuda yang terus menampilkan senyuman manis padanya. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin dunia ini begitu sempit? Hingga Ia menjerit dalam hatinya memanggil sang pacar. 'Om!!!'
"Kamu bisa aja! Pasti kamu banyak belajar dari papa mu ya?" Goda sang papih pada putra dari temannya itu dan hanya dijawab senyuman olehnya.
"Bisa aja kau ini." Balas Pak Dika dan mereka pun kembali tertawa.
"Oh iya. Silahkan duduk dulu pak, bu!" Ajak pak Dika mempersilahkan keluarga itu untuk ikut duduk.
"Gak usah pak. Gak papa! Kami ada janji lain." Balas sang papih dan diangguki pak Dika.
"Baiklah kalo gitu. Kapan-kapan, kita bisa makan malam bersama." Balas pak Dika dan diiyakan sang papih.
"Baiklah pak, bu, nak Azril. Kami pamit dulu. Selamat malam." pamit sang papih dan diiyakan pak Dika.
__ADS_1
Setelah berpamitan ketiganya berlenggang meningglkan meja tadi. Hingga suara Kia menghentikan langkah ketiganya.
"Bentar dulu!"
"Kenapa de?" Tanya sang timom.
"Jadi, bukan dia, calon? Suami?" Tanya Kia ragu. Kedua orang tuanya tertawa melihat ekspresi putrinya yang terlihat kebingungan.
"Bukan. Putranya pak Dika itu udah bertunangan." Balas papih disela tawanya.
Kia terkekeh mendengar itu seraya menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Kemudian menghembuskan nafasnya panjang, mendapati bukan pemuda itu yang akan menjadi calon imamnya. Mengingat betapa kasarnya pemuda itu pada seorang perempuan, membuat Ia bersyukur dan hatinya terasa lega.
'Kalo gitu? Siapa calon suami gue?' Batinnya.
Kini ketiganya kembali berjalan dan melewati beberapa meja lagi hingga berbelok dari ruangan itu. Kia mengerutkan dahinya kala melihat sang pacar tengah duduk bersama kakek dan neneknya disebuah meja. "Om?"
Ia berjalan cepat meninggalkan papih dan timomnya. Hingga panggilan dari keduanya tak Ia hiraukan. Lalu mendekat kearah meja yang sudah Ia lihat dari kejuhan.
"Om?!" Sapanya, membuat ketiga orang itu menoleh.
"De?!" Sapa balik Rei keheranan dan berdiri.
"Kamu disini? Kamu gak papa kan?" Tanyanya seraya memegang kedua bahunya. Kekhawatirannya tak dapat Ia sembunyikan lagi.
"Itu-" Belum juga ucapannya selesai. Rei sudah menarik tubuhnya kedalam dekapannya. Mendekap tubuh gadisnya erat. Bahkan Ia tak memperdulikan kedua orang tua mereka yang tengah memperhatiakan dirinya. Ia teralalu khawatir akan keadaan gadisnya. Melihat terakhir kali gadisnya dengan wajah penuh amarah, benar-benar membuat dirinya tak menentu.
Kia bergeming mendapati serangan dari omnya. Tak menduga sang om akan berbuat seperti itu didepan keluarganya. Perlakuan itu hanya Ia dapatkan ketika mereka hanya berdua, dan sekarang?
Ia memang melupakan layar pipihnya yang entah sekarang ada dimana. Semenjak pulang dari rumah om Rangga Ia melempar tasnya kesembarang arah, meluapkan emosi didadanya. Hingga Ia melupakan ponselnya yang kemungkinan didalam tas tersebut. Mendapati kabar dari timomnya yang akan menemui calon suaminya, membuat Ia semakin kesal dan benar-benar melupakan benda itu.
"Jangan kek gini lagi!" Lirih Rei dan dijawab anggukan gadisnya.
Kedua orang tua mereka hanya menghembuskan napasnya panjang seraya menggelengkan keplanya melihat interaksi keduanya.
"Ehemm!!!"
Deheman keras dari sang papih berhasil menyadarkan keduanya. Hingga dekapan itu pun terurai. Rei menarik dalam-dalam napasnya dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk memberitahu kedua orang tua mereka tentang hubungan mereka. Dengan tekad yang kuat, Rei akan mengungkapkan itu sekarang juga. Apapun konsekuensinya, Ia akan siap.
Ia genggam sebelah tangan gadisnya erat, hingga Kia menatap kearahnya. Rei menegakan tubuhnya menghadap kearah empat orang yang sudah duduk apik dikursinya.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kalian." Ucapnya dengan hati yang bergemuruh.
"Duduk!" Balas sang Papih.
__ADS_1
"Nggak bang!" Balas Rei menggelengkan kepalanya. "Aku gak akan duduk sebelum aku selesai bicara." Lanjutnya.
Suasana mendadak tegang. Tatapan Rei dengan papih Age bertemu dan saling mengunci. Hawa dingin menyelimuti keadaan disana.
"Apa yang ingin kamu omongin?" Tanya papih Age.
Rei kembali menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan sebelum memulai penuturannya.
"Aku mencintai dede." Ucapnya lantang dan begitu terdengar tenang. Dengan tatapan yang fokus menatap mata papih Age.
Kia shok bukan main, benarkah sang pacar bisa mengungkapkannya didepan keluarganya? Pikirnya.
Keempat orang tua itu hanya terdiam dengan tatapan mengintimidasi pada keduanya bergantian.
"Dan kami saling mencintai." Lanjutnya. Kia hanya mentap kearah sang pacar dengan wajah yang masih tak percaya.
"Jadi, aku ingin meminta restu pada kalian. Untuk merestui hubungan kami dan membatalkan perjodohan yang kalian rencanakan." Lanjutnya lagi.
"Rei!!" Bentak sang Ayah.
Papih Age mengangkat tangannya agar ayah mertuanya tak meneruskan ucapannya. Ia melipat tangannya didada seraya menatap keduanya bergntian dan menarik satu sudut bibirnya.
"Itu gak akan terjadi. Perjodohan itu sudah ditentukan dan gak bisa dibatalkan." Ucap papih Age membuat Kia menoleh kearahnya.
"Gak bisa gitu dong pih! Aku cuma cinta sama om. Aku gak mau menikah sama siapapun kecuali om." Tutur Kia dengan lantang. Akhirnya Ia pun bisa mengungkapkan itu.
Tanpa diduga, keempat orang tua itu teersenyum hingga tawa mereakpun pecah. Sepasang sejoli itu mengerutkan dahinya heran. Keduanya saling lirik dengan wajah tak mengerti. Hingga kalimat papih Age membuat mereka hampir tak sadarkan diri.
"Baiklah! Perjodohan ini berhasil. Selamat ayah kita besanan."
*************
**Hayoo mau jingkrak-jingkrak apa mau nangis kejer?🙈
Mak othor mah menarik menghembuskan nafas aja lah.. Cape euyy🤣🤣
Yuk jejaknya jangan lupa! Mak othor tunggu komenan kaleann yaa🤗**
Maaf ya om, dirimu kena prank🤣
__ADS_1
Maaf ya de, udah hampir dibuat stress🤣