Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 103 Liburan


__ADS_3

Hari libur pun tiba. Kini keluarga besar bang Ar sudah siap untuk berangkat berlibur. Sesuai rencana mereka akan menghabiskan waktu liburannya di desa. Dua mobil sudah bertengger dihalaman rumah ayah Arshad, untuk menjemputnya.


"Udah ayah gak usah bawa mobil. Kita bareng aja. Lagian Papih sama Mamih ikut sama abang." Tutur Ayra.


"Ya udah kalo gitu. Kita berangkat sekarang!" Timpal ibu Anita dan diiyakan menantunya.


Ketiganya keluar dan disambut meriah oleh para cucunya.


"Kakek!" Pekik gadis kecil princess nya bang Ar.


Ia berlari diikuti ketiga saudaranya dan berhambur kepelukan kakeknya. Lelaki yang hampir memasuki usia senja itu tersenyum mendapati pelukan hangat dari cucu-cucunya.


"Cucu kakek yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng!" Ucapnya dengan menciumi satu persatu cucunya seraya mengusap sayang kepalanya.


"Kekek sama Sensen ya, kita dimobil papa!" Ajak balita cantik yang begitu cerewet persis Mamanya itu.


"Iya! Ayo!" Ayah Arshad menggiring bocah-bocah itu untuk memasuki mobil.


Akhirnya kedua mobilpun melesat meninggalkan halaman rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya bang Ar puluhan tahun yang lalu.


*


Tak membutuhkan waktu lama mobilpun sampai diperbatasan desa. Mobil bang Ar berhenti untuk mampir terlebih dahulu di kafe yang didirikan olehnya. Berbeda dengan mobil bang Ar, mobil bang Age tak berhenti disana.


Mereka yang berencana akan makan siang disana harus diurungkan, tatkala balita cantik yang berada dimobil itu rewel. Ia merengek ingin segera sampai dirumah kakeknya. Mereka pun pasrah danenuruti keinginan princess nya bang Age.


Akhirnya mobilpun sampai di halaman rumah ayah Dedes. Kedua wanita dan para bocahnya sudah berhambur terlebih dahulu menuju rumah. Tinggalah bang Age dan Papih yang menurunkan barang-barangnya terlebih dahulu.


Ternyata ledatangan mereka sudah disambut ibu dan Ayah Dedes diambang pintu.


"Nenek! Kakek!" Pekik kedua bocah itu dan berhambir memeluk keduanya.


Aska yang berhambur kepelukan neneknya, dan Kia yang berhambur kepelukan kakeknya, hingga Ia digendong olehnya.


"Ake! Om ana?" Tanya balita cantik itu.


Ayah Dedes tersenyum mendengar celotehan balita cantik digendongannya. "Ada. Lagi mandi." Jawabnya. "Dede udah mandi belum?" Tanyanya.


"Dah don! Dah wani." Timpal Kia.


"Emamg iya? Mana sini kakek cium!" Goda Ayah seraya mengusek perutnya hingga membuat Kia tergelak.


Semua orang disana tertawa melihat interaksi kakek dan cucu ini.


"Ya udah! Yuk masuk!" Ajak Ibu setelah Ia bersalaman dan cipika cipiki bersama putri dan besannya.

__ADS_1


Mereka pun masuk diiringi oleh bang Age dan Ayah yang membawa barang-barang ditangannya. Mereka memasuki rumah luas itu. Bisa dikatakan rumah Ayah Dedes adalah rumah terbesar didesa ini.


Semua orang mendudukan diri diatas sofa, namun tidak dengan gadis kecil itu. Ia berlari menuju kamar sang om yang sudah Ia rindukan. Alasan dimana mereka tak bisa ikut bergabung dikafe bersama keluarga bang Ar.


"Om!!" Pekiknya ketika Ia membuka pintu kamar dan mendapati sang om yang baru selesai mengenakan pakaiannya.


Ia tersenyum dan hendak berhambur memeluk omnya. Rei ikut tersenyum melihat keponakan cantiknya. Ia berjongkok dan merentangkan tangannya untuk menyambut ponakan kesayangannya, hinga Ia hampir terjengkang kebelakang menahan bobot tubuh ponakannya yang kian berat.


"Ya ampun! Hampir aja!" Ucapnya seraya memepertahankan tubuhnya.


"anen om!!" Pekik balita cantik itu menenggelamkan wajahnya didada sang om.


Senyum tak luntur dari bibir Rei sejak sang gadis memasuki kamarnya. Ia usap surai hitam nan ikal ponakannya, kemudian membalas mendekapnya tak kalah erat.


"Om juga kangen banget sama dede." Balasnya.


Rei melepas dekapannya, Ia ciumi wajah ponakannya gemas dan menggelitikinya hingga balita cantik itu tergelak.


Gelak tawa begitu terdengar renyah dari kamar itu. Siska yang mengekori sang putri dari belakang memutuskan tak akan mengganggu acara reunian om dan ponakan itu. Ia pun hanya memperhatikannya dari ambang pintu yang terbuka. Ia tersenyum melihat interaksi keduanya. Ia bener-bener berasa mempunyai adik kandung.


Ditengah kefokusannya memperhatikan kedua bocah didalam sana. Sebuah tangan yang menepuknya berhasil membuatnya terlonjak.


"Astagfirulloh!" Siska terlonjak dan berbalik seraya mengusap dadanya.


"Ngagetin aja lu!" Omelnya pada pria didepannya dan membuatnya terkekeh.


"Nggak! Gue lagi lihat mereka." Ucapnya seraya menunjuk kedalam kamar dengan dagunya dan dijawab oh ria oleh Rangga.


"Napa gak masuk aja?" Tanyanya.


"Cuma ngawasin dede aja, takut ganggu Rei." Balasnya. Kemudian atensinya berlaih pada penampilan Rangga yang menurutnya sedikit berbeda.


"Wiihh, rapih bener? Mau kemana?" Tanya Siska memeperhatikan saudara sambungnya dari atas sampai bawah.


"Napa? Lu terpesona?" Goda Rangga.


"Idihh! Mau digorok lu sama abang?" Tantang Siska membuat Rangga tergelak.


"Ini tu hari minggu, ya ngapel lah!" Jelas Rangga.


"Idih emang punya pacar?" Ledek Siska.


"Ngeledek lu. Ya punya lah!" Balasnya.


"Gue kira belom move on!" Ledeknya lagi.

__ADS_1


"Enak aja! Ngarepin emak-emak kek lu, nggak lah! Gue milih yang bening." Penuturan rangga sukses membuatnya mendapatkan toyoran dikepala.


"Eh! Jangan salah lu, emak-emak kek gini gue makin bening ya? Si abang aja makin bucin sama gue." Protes Siska membuat Rangga terkekeh.


"Iya lah harus makin bucin. Jangan sampe nyakitin! Kalo itu terjadi, gue orang pertama yang bakal hajar dia." Tutur Rangga membuat Siska tergelak.


Ia menepuk bahu Rangga. "Iya deh. Kakak!" Tuturnya disela tawanya.


Ditengah obrolan mereka, bang Age datang menghampiri keduanya dengan alis yang menekuk tajam seolah menyelidik. Siska yang mengerti langsung berhambur memeluk tubuhnya dari samping.


"Kenapa? Mau cemburu?" Goda Siska.


Bukan menjawab bang Age malah mengapit leher sang istri seraya menarik hidungnya gemas hingga membuat Siska kembali tergelak. Rangga yang melihat itu hanya menghembuskan nafasnya panjang disertai gelengan kepala.


"Udah lah! Gue harus cabut. Cewek gue udah nunggu. Bye!" Pamitnya seraya berlenggang.


Siska menghentikan sejenak aksi sang suami dan meneriaki saudaranya itu. "Woy! Lu belom nyebutin siapa cewek lu?" Teriaknya.


Rangga tetap berjalan tanpa memperdulikan teriakan Siska dan hanya memberi kode padanya dengan menggoyangkan telunjuknya. Hingga Ia hilang ditelan belokan.


"Ditanya juga main nyelonong aja!" Gerutunya.


"Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Bang Age.


"Isshhh apa sih bang!" Sangkalnya seraya memukul bahu suaminya manja.


"Ngapain juga harus cemburu? Kalo abang yang kek gitu, baru aku cemburu. Malah bukan cemburu lagi, aku hajar sekalian!" Tutur Siska membuat sang suami terkekeh.


"Mau dong dihajar?" Godanya.


"Hayu! Mau yang mana yang dihajar?" Tantang Siska.


Bang Age tersenyum seraya meraih tangan sang istri dan membawanya menemui si jack yang terhalang cangkangnya.


"Jangan si jack dong bang! Ntar akunya rugi." Protes Siska.


"Ya dihajarnya jangan keras-keras lah! Yang lembut gitu." Balas bang Age.


"Kalo lembut bukan dihajar namanya dibelai itu mah!" Protes Siska.


Keduanya tergelak dengan penuturan ngelantur mereka.


"Serah kamu mau dihajar, mau dibelai, abang pasrah! Asal dapat martabak spesial." Final bang Age.


*****************

__ADS_1


Ayo gaiss ramaikan! Jangan lupa like dan komennya yaa😊


__ADS_2