
Bang Age tersenyum mendengar ke khawatiran sang istri. Ia tangkup wajah cantik istrinya dan mendongakannya agar menatap dirinya.
"Hey! Tenang ya sayang! Dede gak ilang. Dia udah tidur sama Mamih. Tadi sengaja abang pindahin, takut kamu keganggu." Tuturnya membuat Siska lega hingga menghembuskan nafasnya panjang.
Ia sampai menenggelamkan wajahnya didada bidang sang suami karena merasa khawatir yang berlebihan. Namun tidak buat sang suami, Ia malah merasakan sensasi yang berbeda. Hembusan nafas sang istri yang menerpa dada polosnya mampu membangunkan sesuatu dibawah sana.
"Sayang!" Sapanya mengelus rambutnya.
"Hemm!" Hanya deheman yang Siska berikan sebagai jawaban.
"Ada yang gerak!" Ucap sang abang membuat Siska mendongak menatap sang abang dengan tautan alisnya.
"Apa?"
Bukan menjawab sang abang malah menuntun tangan istrinya, membawanya kebawah hingga tiba didepan kain putih yang melilit dipinggangnya. Mata Siska mengikuti pergerakan tangannya. Hingga Ia menggigit bibir bawahnya melihat sesuatu yang tak mau diam dibalik kain itu.
"Kek nya dia laper! Pengen martabak cenah." Kekeh sang abang membuat Ia mendongak.
Sang abang menunduk menjangkau bibir yang terlihat meminta digigit itu. Menyesapnya merasakan manis yang kian menantangnya untuk melakukan lebih. Tangannya dengan lihai membobol semua kain yang menempeli tubuh keduanya.
Sang abang mengangkat tubuhnya, menggendongnya menuju ring pertempuran. Membiarkan si junior dan martabak saling menyapa, hingga keduanya siap bersilaturahmi.
Si junior sudah tenggelam menggali rasa dari spesialnya martabak kacang yang sudah menjadi candu barunya dan siap memporak porandakannya, hingga gedoran dipintu membuatnya menghentikan aksinya.
Tok! Tok!
Satu kali sang abang tak menghiraukannya. Ia kembali menggerakan tubuhnya, namun gerakan selanjutnya kembali terhenti kala gedoran kembalii terdengar.
"Berhenti bang! Ada yang ketuk pintu!" Titah Siska menggigit bibir bawahnya, kala rasa luar biasa itu mulai menyerangnya.
"Biarin aja! Nanggungh." Ucapanya dengan tak menghentikan gerakannya. Ia masih menggali mencari rasa memabukan itu.
"Tapi banghh! Takut pentingghh!" Setengah mampus Siska mempertahankan kewarasannya, namun sepertinya serangan sang suami sungguh luar biasa.
"Abanghh"
Akhirnya keduanya tumbang diwaktu bersamaan. Dengan nafas yang sudah senen kemis, si junior belum mau melepaskan martabaknya itu.
Namun gedoran pintu kembali terdengar semakin keras. Hingga terdengar suara lengkingan sang Mamih dari luar.
"Bang! Sis! Buka pintunya! Ini dede nangis dari tadi." Teriak sang Mamih.
Keduanya buru-buru melepaskan diri, Siska mengambil pakaian yang berhamburan dan memasuki kamar mandi. Begitupun sang abang yang segera membuka lemari. Mencari pakaian dan memakainya.
__ADS_1
Sang abang berlenggang membuka knop pintu, dan pemandangan pertamamya adalah wajah kusut sang putra dengan deraian air mata dipipinya.
"Jagoan Papih kenapa?" Tanyanya seraya berjongkok dan menghapus jejak kebasahan dipipinya.
Sang putra langsung memeluk erat leher sang Papih. Ia yang dipindahkan dari dekapan timomnya bangun dan ngambek pada Mimihnya.
"Kamu sih, main pindahin aja! Udah tau dede lagi kangen-kangennya tuh sama Siska. Eh malah kamu pisahin." Omel Mamih.
"Ck! Mamih gak ngerti banget sii.. Kita tu pengantin baru Mih. Pengantin baru!" Tegas bang Age pada sang Mamih.
"Iya! Gak perlu dijelasin Mamih juga tau. Tapi kan kamu juga harus inget posisi kamu. Kamu tu double bukan single." Timpal Mamih membuat abangnya menghela nafasnya panjang.
"Ini tuh, karena mereka baru bertemu lagi. Ntar kalo udah beberapa hari kedepan, dede juga bakal ngerti lagi." Tutur Mamih dan dijawab anggukan sang abang.
"Ya udah kamu bawa masuk gih!" Titah Mamih.
Akhirnya sang abang membawa putranya masuk dengan menggendongnya dan Mamih berlenggang kembali ke kamarnya. "Maafin Papih ya de! Sekarang tidur ya, bareng timom juga." Ucapnya dan dijawab anggukan balita digendongannya.
Siska keluar dari dalam kamar mandi dengan sudah memakai piyama dan menghampiri keduanya. "Dede! Belum bobo?" Tanyanya seraya duduk ditepi ranjang.
"Bobo timom!" Timpalnya dan langsung dapat usapan lembut dikepalanya.
"Ya udah yuk! Kita bobo." Ajaknya dan dijawab anggukan oleh balita montok itu.
"Nda! De sini!" Ia menidurkan dirinya ditengah-tengah kedua orang tuanya.
"Jangan ditengah dong de! Ntar Papihnya gak kebagian." Protes sang Papih membuat timomnya tersenyum.
"Udahlah bang! Ngalah napa?" Ucap Siska membuatnya mencebikan bibir.
"Timom!"
"Ya sayang?"
"Au mimi!" Ucapan dede Aska membuat sang Papih terbangun.
"Jangan! Miminya timom punya Papih." Jawab bang Age membuat Siska melongo dan sang putra yang mengerjapkan matanya lucu.
"Mimi Pih!" Ucapnya lagi.
"Mimi dot bang! Mimi dot!" Tutur Siska dengan geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan suaminya itu. Bisa-bisanya Ia mikir ke situ. Mungkin karena baru saja singgah, jadinya masih baper.
Bang Age tersenyum hingga menampilkan deretan giginya membuat Siska terkekeh. "Ya udah Papih buatin dulu!" Tuturnya.
__ADS_1
Bang Age keluar hendak membuat susu untuk putranya itu menuju dapaur. Meninggalkan sang istri dan putranya disana.
"Dede mau timom bacain dongeng gak?" Tanya Siska yang sudah ikut rebahan disamping dede kesayangannya itu.
"Iya." Jawabnya.
Siska mengambil Hpnya dari atas nakas dan mulai mencari cerita dongeng disebuah aplikasi buku.
Baru saja Ia memulai dongengnya, sang suami datang membawa botol dot ditangannya. Ia mengambil alih botol itu dari tangan sang suami dan memberiaknnya pada sang putra.
Ia kembali membacakan dongeng legend, dongeng si kancil yang menjadi dongeng turun temurun. Dari jaman ke jaman si kancil selalu jadi pilihan untuk menemani si kecil mengarungi dermaga mimpi.
Hingga tak terasa balita menggemaskan itu menutup matanya dengan botol dot yang sudah tandas jatuh dilepasnya.
Siska mengambil dotnya dan meletakkannya diatas nakas. Ia melesak ikut merebahkan diri disisi balita itu, mengeloninya.
"Maaf yah?!" Ucap sang abang yang ikut merebahkan diri disisi lain balitanya.
"Untuk apa?"
"Untuk jadi ibu dadakan buat dede. Kamu masih muda, tapi udah mau menjadi seorang ibu."
Siska tersenyum. "Semua wanita akan menjadi seorang ibu. Aku emang masih muda. Tapi ini adalah jalan yang aku pilih. Aku milih yang double daripada single." Timpalnya membuat keduanya tersenyum lebar.
Karena terlalu nyaman memeluk sang putra, Siskapun ikut terlelap mengikuti balita menggemaskan itu.
Bang Age yang belum tertidur, tersenyum. Ia pindahkan lagi sang putra kebagian sisi yang dihadangi guling disisinya dan sang istri ditengah.
Ia peluk tubuh langsing istrinya dan menciumi kepalanya bertubi-tubi.
.
.
"Makasih istri imutku! Sudah jadi bagian terpenting dalam hidup kami."
.
.
Maaf ya readers baru up! Ini bab kena ghosting🙈 Harusnya udah up dari sahur, tapi ya sudahlah.. Moga kali ini lolos! Karena perasan mah gak terlalu jeletot gitu😂
Jangan lupa jejaknya yaa readerss😉
__ADS_1