Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Perjodohan


__ADS_3

"Emmm... Ini enak banget om!"


Pekik seorang gadis cantik berambut sebahu dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Sang om yang berada disampingnya tersenyum melihatnya dengan gemas Ia mengusek pucuk kepalanya. "Makan yang banyak biar cepet gede." Kekehnya.


"Ishhh!!!" Protes Kia mencebikan bibir membuat sang om tergelak.


Kia menelan terlebih dahulu makanannya sebelum kembali berbicara. "Aku udah gede om! Masih aja dianggap kecil." Protesnya lagi.


"Buat om, kamu tuh tetep gadis kecilnya om. Gak ada yang berubah." Balas sang om membuat Kia menghembuskan nafasnya kasar. Tiba-tiba saja rasa baso yang tengah Ia makan menjadi tak enak, tenggokannya terasa kering mendengar penuturan om nya itu.


Ia simpan sendok dan garpunya sedikit kasar, hingga sang om kaget dan menoleh kearahnya. "Kenapa?" tanyanya khawatir.


Kia hanya menggelengkan kepalanya seraya menegak minumannya. Hal itu membuat sang om menghembuskan nafasnya panjang.


"Maaf! Maksud om bukan kek gitu." Ucapnya seraya menggenggam tangannya."Biar om pikirkan lagi!" Lanjutnya.


Sepertinya hal itu akan membuat hati gadisnya kembali baik. Terlalu takut untuknya membiarkan sang gadis berlama-lama merajuk.


Kia tersenyum menanggapi hal itu. Ia menoleh dengan mendekatkan wajahnya kehadapan sang om dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya. "Beneran ya om?" Ucapnya girang.


Rei sedikit tekesiap dengan tanggapan gadisnya yang tak terduga. Hingga Ia dibuat terpaku dengan senyum manis yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia pandangi dalam wajah cantik dengan mata indah, hidung mancung dan bibir ranum yang berbentuk seperti love yang menarik dirinya untuk menggapainya.


Hingga Ia kembali tersadar dan sedikit menjauhkan diri seraya berdehem untuk menetralkan dirinya. "Iya. Udah cepetan abisin makanannya!" Ucapnya sebiasa mungkin.


Kia masih menyunggingkan senyumnya. Dengan semangat Ia kembali memakan makanannya. Rei kembali menghembuskan nafasnya panjang seraya memperhatikan gadisnya. Ia tersebyum sendiri mengingat tingkahnya sendiri yang begitu terpesona pada sang gadis.


Ia tak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Namun untuk sekarang seperti ini bersama gadisnya adalah hal yang paling membahagiakan. Ternyata membuat sang gadis tersenyum, sungguh menenangkan jiwa dan hatinya.


**


"Kamu tau dari mana om mau dijodohin lagi?" Tanya Rei.


Kini keduanya tengah duduk disebuah bangku panjang yang memuat dua orang disebuah taman ditengah kota.


"Sensen." Balasnya. "Dia kan cctv dirumah." Celetuk Kia dengan santainya sembari memakan eskrim diatas cone nya.


Rei tersenyum menanggapi hal itu. Terkadang Ia merasa aneh dengan keluarga kakak iparnya yang pada lucu itu. Bahkan sekarang sang gadis semakin tertular oleh mereka. Namun sepertinya hal itulah yang membuatnya betah lama-lama bersama sang gadis.

__ADS_1


"Kira-kira siapa lagi ya cewek yang mau dijodohin sama om?" Tanya Kia dengan tatapan lurus kedepan.


"Ck! Aku beneran gak rela, gak ikhlas kalo om nikah sama cewek lain." Gerutunya dengan decakan kesal. Dan hal itu membuat sang om terkekeh.


"Kenapa coba mesti harus dijodoh-jodohin segala? Kek jaman siti Rubae'ah aja." Gerutunya lagi dan sukses membuat sang om tergelak.


"Nurbaya de, Nurbaya. Kenapa jadi Rubae'ah?" Tanyanya disela tawanya.


"Ya pokonya itulah." Final Kia tak mau ambil pusing.


"Jadi, om nikahin aku aja. Biar gak dijodoh-jodohin terus!" Ucap Kia dengan gamblang. Sudah cukup Ia menahan diri lagi, sekarang Ia memilih untuk blak blakan pada sang om.


Rei tersenyum mendegar itu. Rasanya hal itu akan sering Ia dengar dari ponakannya sekarang. "Gak segampang itu, de." Balasnya.


"Kenapa? Karena kita keluarga?" Tanya Kia menoleh menghadap pada sang om.


"Emm itu salah satunya." Balasnya.


"Justru karena kita keluarga, itu akan memudahkan kita. Kita udah tau satu sama lain. Orang tua kita juga. Terus masalahnya dimana?" Tutur Kia.


Rei menghembuskan nafasnya pelan. "Andai itu gampang, tapi itu tak semudah membalikan telapak tangan. Ada hal yang kamu belom ngerti." Jelasnya.


"Terus apa? Aku udah dewasa om. Aku mengerti apa yang om pikirin, tentang keutuhan keluarga kita kan. Tapi gak bisakah kita mencobanya?" Tanya Kia.


"Benar. Hanya aku yang menyadari perasaan itu." Lirihnya.


Rei meraih tangan gadisnya dan menggenggamnya. "De-" Belum juga Rei mengucapkan kata-katanya. Kia sudah menyelaknya.


"Tapi om tenang aja. Aku akan buat om juga menyadari perasaan itu. Hem." Tutur Kia semangat. "Om cukup kasih aku waktu, untuk buktiin, kalo emang kita memiliki perasaan yang sama, sebelum om menerima perjodohan itu." Lanjutnya tersenyum manis.


Rei ikut tersenyum menanggapi itu dan mengacak rambutnya gemas. Hal itu membuat Kia merengek manja. "Om ihhh!!!"


Rei tergelak melihat ekspresi gadisnya yang menggemaskan itu. Kia merapihkan rambutnya yang berantakan dengan memberenggut kesal. Sang om ikut merapihkan poninya, hingga atensinya teralihkan pada noda coklat dari eskrim yang tadi Ia makan.


Rei mengulurkan tangannya, hendak menghapus noda eskrim dibibirnya. Hingga ibu jarinya berhasil mendarat di benda kenyal itu.


Deg!


Keduanya terpaku dengan tatapan saling mengunci, menyelami rasa yang sama, namun begitu sulit untuk Rei ungkapkan. Ia begitu terhipnotis sampai wajahnya kian dekat dengan jarak yang kian terkikis. Hingga kedua benda kenyal itu hampir bertemu. Namun tiba-tiba dering ponsel membuyarkan lamunan mereka. Keduanya gelagapan seolah tertangkap basah tengah melakukan yang iya-iya.

__ADS_1


"Itu ponsel om bunyi." Ucap Kia dengan nada ragu dan tatapannya Ia alihkan kemana saja.


Rei berdehem keras untuk menetralkan degup jantungnya. "Bukan, itu punya kamu." Balasnya dengan nada yang sama.


"Iya kah?" Tanya Kia tak percaya. Tangannya meraba-raba slingbag dipangkuannya. Dan benar saja layar pipihnya lah yang berdering.


Ia raih benda itu dari dalam tasnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ia mengerutkan dahinya kala tau nama siap yang tertera dilayar itu. "Timom?" Gumamnya.


Ia tekan icon hijau nya dan menempelkan benda itu didepan telinganya.


"Iya. Mom!"


"Assalamualaikum dulu, kamu tu ya!" Peringat sang timom.


"Iya. Iya! Assalamualaikum!" Ralatnya.


"Waalaikumsalam. Kamu lagi ngapain?" Tanya Timom dari sebrang sana.


"Aku lagi main sama om!" Balasnya.


"Apa? Main? Main apaan?" Tanya sang timom yang terdengar meriweuh.


"Paan sih mom? Gak usah mikir aneh-aneh deh. Kita lagi ditaman." Balas Kia yang tau kemana arah pembahasan timomnya.


"Huh! Syukurlah! Awas kalian jangan macem-macem ya disana!" Peringat ibu cerewet yang sayangnya begitu Ia cintai itu.


"Isshh... Paan sih mom, kek sama orang baru aja." Protes Kia.


"Justru itu timom khawatir. Takut tiba-tiba ada setan lewat, terus menggoda kalian untuk melakukan hal yang iya-iya." Ceramah sang timom panjang kali lebar.


Pipi Kia tiba-tiba terasa tebakar mendengar itu. "Gak bakalan mom udah ah!" Sangkalnya. "Sebenarnya ada apa sih timom telepon aku?" Tanyanya.


"Dengerin timom baik-baik. Minggu depan, Papih akan jemput kamu. Kamu harus nemuin calon suami kamu." Jelasnya membuat Kia membelakakan matanya.


"What?! Calon suami?" Pekiknya.


"Iya. Calon suami. Papih udah jodohin kamu sama seseorang." Balas sang timom membuat Kia shok bukan main.


***************

__ADS_1


Yuk Ramaikan lagi! Jangan lupakan jejaknya yaa🤗



__ADS_2