
"Kang! Mie ayamnya dua ya!" Pesan bang Age, menghampiri kang dagang dengan gerobak bertenda biru yang nangkring disisi jalan.
"Siap den!" Balasnya.
Setelah kembali dari tempat pemakaman, keduanya memutuskan untuk berhenti diperkebunan dan duduk santai disebuah bangku panjang seraya menenangkan hati sang istri yang sempat kembali terguncang.
Bang Age terus memperhatikan sang istri yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menyunggingkan senyumnya melihat wajah cantik itu yang kembali tersenyum.
Ia memutuskan untuk menunggu mienya matang didekat gerobak itu. Hingga seseorang tiba-tiba menabrak dirinya, kala Ia hendak membalikan badannya. Seorang gadis terjatuh dan bo kongnya berhasil mencium aspal.
"Aww!!" Pekiknya.
"Duhh!! Sakit." Ringisnya dengan manja.
Bang Age hanya menatapnya, tanpa ingin membantunya. Seraya otak nya bekerja mengingat siapa gadis tersebut?
Si gadis mendongak seraya menepuk-nepuk tangannya yang kotor. "Kenapa diem aja? Bantuin bangun dong!" Omelnya seraya memerintahnya.
Bang Age terus menatapnya dan menarik satu sudut bibirnya, kala otaknya mengingat siapa gadis itu. "Kang! Tolong bantuin dia!" Titahnya pada kang mie.
Belum juga kang mie akan membantu, si gadis sudah terbangun dengan wajah kesalnya seraya menepuk tangan dan pakaiannya yang sebenarnya tak kotor sama sekali.
"Gak tanggung jawab banget sih! Udah bikin jatuh, malah gak ditolongin." Omelnya.
"Maaf, gue gak punya tanggung jawab sama siapapun! Kecuali keluarga gue." Timpal bang Age.
"Kakak kan bikin aku jatuh, setidaknya bantu aku bangun lah!" Protesnya.
"Lu masih bisa berdiri kan? Gue rasa kaki lu gak pincang? Bo kong lu juga gak papa. Jadi gak usah lebay." Timpal bang Age lagi seraya mengambil nampan berisi dua mangkuk mie dan kawan-kawannya.
"Tapi kan-" Belum selesai ucapannya, bang Age kembali menyelaknya.
"Gue tau apa maksud lu. Gak usah caper sama gue! Gak ngaruh!" Ucapnya dengan gamblang seraya berlalu meninggalkan si gadis yang menatap tak percaya dengan bibir terbuka lebar.
Itulah bang Age, tak ada yang berubah dari dirinya. Keluarga adalah prioritas utamanya. Ucapan manis hanya akan terlontar untuk keluarganya saja. Apalagi Ia melihat gadis yang kemarin singgah dirumah ayah mertuanya dengan gelagat aneh yang Ia lihat sekarang, tentu itu membuatnya membangkitkan mulut pedas level sekaratnya.
__ADS_1
"Itu bukannya Silvi ya bang?" Tanya Siska kala sang suami mendudukan diri disampingnya.
Ia yang sedari tadi melihat seorang perempuan tengah berdebat dengan suaminya sampai harus melipat dahinya berkali kali lipat melihat pemandangan disebrang sana.
"Iya! Nih makan dulu mienya!" Bang Age menyuapi sang istri setelah mengaduknya terlebih dahulu.
"Ntad dulu!" Siska menahan garfu dengan mienya yang hendak mendarat didepan bibirnya.
"Tadi dia ngomong apa? Ampe pura-pura jatuh segala?" Tanya Siska.
"Ya kek yang kamu lihat. Dia so so an cari perhatian." Balas bang Age.
"Dasar ganjen! Maunya apa coba tu anak? Dari dulu ampe sekarang, tetap aja kek gitu. Ngeselin!" Omelnya membuat sang suami terkekeh.
"Keknya dulu pernah ada perang dunia antar kalian ya?" Tanyanya dan dijawab anggukan sang istri.
Siskapun menceritakan kejadian terakhir pertikaiannya bersama Silvi waktu mereka masih sekolah. "Aku gak pernah peduli dia mau ngehina aku. Tapi aku gak pernah terima, pas dia rendahin orang tuaku." Tuturnya.
"Entahlah, aku juga bingung. Kenapa dia masih juga begitu?" Tanya Siska.
"Itu karena Rangga gak juga move on dari kamu." Balas bang Age membuat Siska mengehembusakn nafasnya panjang.
Otak kecilnya terus berputar keras. Hingga suara sang suami menyadarkannya.
"Udah gak usah dipikirin! Gak penting. Biar mereka lihat sendiri." Tutur bang Age membuyarkan lamunan Siska.
Ia mengambil mie dan kembali hendak menyuapi sang istri. "Kita gak akan tergoyah hanya karena hal-hal kecil dan gak penting kek gitu." Ucapnya seraya menyodorkan garpu kedepan bibir istrinya.
Siska menerima suapan itu seraya masih befikir. "Kalo itu sih, gak akan ngaruh sama kita. Sekuat apapun mereka mencoba mencari celah dari kita itu gak akan berhasil. Percuma! Cinta kita udah paten, gak bisa diganggu gugat. Udah mentok gak bisa diputar balik. Udah! Udah! pokonya mah." Tuturnya dan langsung mendapat usekan gemas dikepala dari sang suami.
"Aku lagi mikir aja, gimana caranya Rangga move on dan bisa mencintai pacarnya itu." Lanjutnya.
"Abang rasa itu bakal mustahil." Balas bang Age.
"Kok bisa gitu?" Tanya Siska heran.
__ADS_1
"Ya kamu lihat aja kelakuan cewek kek gitu. Siapa cowok yang mau sama dia. Tingkahnya aja bikin orang istigfar." Jawabnya.
"Lagian seburuk apapun cowok, tetap aja pengen dapet cewek tuh yang baik. Gak modelan kek gitu." Lanjutnya dan dijawab anggukan Siska.
"Gimana kalo kita cariin Rangga cewek? Comblangin gitu?" Pertanyaan Siska sukses membuat suaminya tersedak.
"Uhuk! Uhuk!"
Siska segera mengambil minum yang tadi juga tersedia diatas nampan dan segera menyerahkan pada suaminya.
"Pelan-pelan dong bang!" Omelnya seraya menepuk-nepuk punggungnya.
"Pasti abang tersedak karena omongan aku. Ya kan?" Tanya Siska, namun tak ada jawaban dari suaminya. "Ya udah deh gak ngadi-ngadi. Soal jodoh Rangga biar mak othor aja yang ngatur!" Sesalnya takut-takut sang suami ngambek.
"Bukan gitu. Abang keselek karena ini." Ucapnya memperlihatkam tulang kecil yang sukses membuatnya merem melek. Dan hal itu membuat Siska melongo.
"Ya ampun bang! Untung aja gak nyangkut ditenggorokan. Gimana coba kalo nyangkut. Aku belum mau jadi janda muda." Cerocosya dan langsung dapat tarikan dihidungnya.
"Aww! Aww!" Ringisnya seraya memegang hidungnya.
"Ngomong asal jeplak aja. Jangan kek gitu, omongan tu doa! Abang masih belum siap buat ninggalin kalian. Besar tanggung jawab abang buat bahagiain kalian. Ab-" Belum selesai ceramahnya sang istri sudah berhambur memeluknya.
"Maafin aku bang! Aku gak maksud doain abang. Aku adalah orang pertama yang gak ngizinin abang pergi. Kalo pun suatu saat sudah waktunya, kita akan pergi bersama. Aku hanya ingin hidup dan mati sama abang." Tuturnya dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya.
Sungguh Siska benar-benar merasa bersalah. Lidahnya kepeleset mengucapkan hal yang sebenarnya Ia takutkan. Lambenya yang suka asal ceplos membuatnya parno sendiri.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Ia usap surai hitam itu dan kembali menenangkannya.
"Udah jangan nangis lagi! Abang gak akan pergi kemanapun tanpa seizin kamu. Hem?" Ucapnya seraa melerai pelukannya dan menghapus jejak kebasahan dipipinya.
"Soal para hama-hama disana. Biarkan saja! Biar mereka jadi penonton setia hidup kita! Daripada memikirkan mereka, ada satu hal yang harus kita pikirkan sekarang." Tuturnya.
"Apa?" Tanya Siska menatap suami didepannya.
"Disini hotel sebelah mana ya?" Pertanyan dari sang suami membuat Siska ingin sekali melahap mie dengan mangkuknya.
__ADS_1
*************
Jejaknya jangan lupa gaisss😉