Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 111 Saung Hotel


__ADS_3

Tampolan manja dari Siska sukses didapati sang suami, hingga keduanya pun tergelak.


"Ya ampun bang! Abang nanyain hotel ditengah desa? Ada noh hotel mini, saung sawah namanya." Penuturan Siska semakin membuat keduanya tak berhenti tertawa. Bahkan mereka melupakan mie yang sudah mulai dingin dan mengembang layaknya cacing.


"Boleh juga tuh! Nyaung yuk!" Goda bang Age dan kembali dapat tampolan manja dilengannya dari sang istri.


"Lagian ngapain sih pake nanya-nanya hotel segala. Rumah ayah Dedes kan luas?" Tanya Siska yang pura-pura tak mengerti masksud suaminya.


Bang Age berdecak kesal seraya mengalihkan perhatiannya kedepan, sesaat setelah tadi dirinya nenyamping berhadapan dengan sang istri. "Disana tuh kita gak bisa private. Gak ada waktu berdua." Balasnya.


"Ya ampun bang! Namanya juga lagi liburan keluarga, ya wajarlah kalau kita rame-rame." Timpal Siska.


"Ck! Masalahnya, bukan cuma itu." Bang Age kembali berdecak, hingga membuat Siska tersenyum.


"Apa?" Goda Siska membuat sang suami kembali menoleh.


Ia pun kembali berdecak dengan helaan nafas yang terdengar berat. Entah kenapa decakan-decakan itu semakin membuat Siska tersenyum lebar.


"Apa bang?" Godanya lagi, dengan senyum yang membuat sang suami ingin segera melahapnya.


"Itu senyumnya biasa aja. Mau abang bawa nyaung?" Protesnya membuat Siska tergelak.


Gelak tawa keduanya tentu jadi perhatian orang-orang yang berlalu lalang disana. Ada yang memuji keduanya ada pula yang berbisik-bisik dengan tatapan julid pada mereka. Namun hal itu tak ditanggapi keduanya. Mereka lebih memilih cuek dan tak memperdulikannya.


"Yah bang, mie nya?" Tutur Siska sendu dengan mengangkat mie yang sudah mengembang dengan garpunya.


Bang Age terkekeh melihatnya. Ia baru menyadari, ternyata mereka keasyikan bercanda hingga melupakan mie nya yang baru Ia cicipi sampai tersedak potongan tulang kecil tadi dan sekarang belum juga dinikmati, mienya sudah tak berselera untuk dimakan.


"Ya udah, pesen lagi aja ya!" Saran bang Age.


"Gak usah bang, udah gak nafsu." Jawab Siska seraya menatap geli mie yang Ia aduk-aduk didalam mangkuk.


"Mau yang nafsu? Makan pisang aja mau?" Goda bang Age seraya mendekatkan wajahnya dan sukses dapat ciuman tangan dibibirnya yang kian mengikis jarak.


"Jangan ngadi-ngadi bang! Lihat sikon napa?" Protes Siska membuat sang suami tertawa kecil.


"Ini beneran disini gak ada tempat penginapan khusus?" Tanya bang Age.


"Gak ada. Adanya vila-vila pribadi aja." Jawab Siska.

__ADS_1


"Ya udah, ntar kita bikin vila disini juga."Tutur bang Age membuat Siska terkekeh.


"Gak juga lah bang. Kita kan punya rumah sendiri disini." Jawab Siska. "Oh iya. Baru kepikiran. Kenapa kita gak tinggal dirumah kita aja ya?" Lanjutnya dan sukses dapat usekan dipucuk kepalanya.


"Keenakan tinggal sama SAUDARA sih?" Ledek bang Age seraya menekan kata terakhirmya. "Jadi lupa kan punya rumah sendiri?" Lanjutnya.


"Issshh paan sih bang! Itu kan dede yang minta. Dia kan maunya sama Rei terus." Balas Siska cemberut.


Bang Age tersenyum seraya mengusek kembali rambutnya. Bukan usekan pelan, kini terlihat seperti mengacak-ngacak rambutnya gemas.


"Abang ih! Rambutku. Ya ampun!" Rengeknya setengah mengomel hingga membuat suaminya kembali tergelak.


Siska mencebikan bibirnya kala sang suami menertawakannya. Melihat itu bang Age kian tegelak. Ia raih kepala sang istri dan membantu merapihkan surai hitam sebahunya.


"Yuk pulang!" Ajak bang Age, menggenggam sebelah tangangannya seraya berdiri.


"Kemana?" Tanya Siska.


"Saung hotel." Balasnya hingga sang istri dibuat tergelak lagi.


Keduanya berlalu pergi dari tempat sejuk yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Namun lebih sayang lagi jika tak menghabiskan waktu berdua untuk ngamer tanpa pengawasan sang cctv. Tentu setelah membayar mienya terlebih dahulu.


*


"Ya udah, nenek simpam disini ya! Jangan lupa dimakan!" Ucap ibu menaruh nampan berisi buah-buahan diatasnya.


"Iya bu!" Hanya Rei yang menimpali, mewakili para bocil yang tengah fokus dan hanya anggukan mereka sebagai tanggapan.


Setelah kepergian ibu, tak berselang lama karya merekapum selesai.


"Om! Dede dah beyes." Pekik balita cantik kesayangan om nya itu.


"Oh ya? Mana sini, om lihat!" Pintanya.


Kia dengan semangat berangsur mendekat pada om nya dan menyerahkan hasil coretannya pada sang om.


Rei tersenyum melihat gambar yang dibuat ponakannya. Coretan yang sebenarnya tak dapat Ia pahami jelas. Namun sedikit dimengertinya. "De, ini siapa?" Tanyanya.


"Ini dede. Ini timom. Ini mpih. Ini aka. Dan ini om!" Jawab Kia

__ADS_1


"Kenapa gambar om dekat dede?" Tanya Rei.


"Kawena om cayang nan dede!" Ucapnya seraya memeluk tubuh sang om dengan girang.


Rei terseyum seraya mengusap rambutnya sayang. Ia benar-benar merasakan, bagaimana rasanya memiliki adik perempuan. "Iya! Dede juga kesayangannya om!" Balasnya.


"Kak Rei. Aku juga udah." Ucap Sena.


"Mana sini kakak lihat!" Pinta Rei. Sena mendekat kearah bocah tampan yang masih dipeluk erat ponaaknnya itu.


"Dede, peluk mulu ih! Lepasin kak Rei nya!" Protes Sena. Namun balita cantik itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Nda mau! Om dede." Rengek Kia.


Sena yang jahil berusaha memisahkan pelukan sepupunya itu, namun itu makin sulit. Bahkan balita cantik semakin merengek. Berurai sudah air mata dipipi chuby nya, kala sepupu jahilnya iti semakin semangat menjahilinya. Hal itu mmebuat Rei tergelak. Ia begitu menikmati rengekan ponakan manjanya itu.


"Huaaa nda boweh. Om dede, nda boweh!" Jeritnya namun sepertinya hal itu semakin membuat Sena ketagihan untuk membuatnya semakin histeris.


"Udah! Udah! Sen, gak boleh gitu ya! Kasihan nih dedenya!" Lerai sang om.


"Ye,ye, Kia cengeng! Wleek!" Sena semakin semangat meledek ponakan kecilnya itu, hingga pensil ditangan Kia mendarat mulus dijidatnya.


"Aaaw!!" Pekik Sena.


"Ihhh dede Kia galak! Gak mau main lagi sama dede." Rengeknya seraya mengusap jidatnya yang kemungkinan memerah dengan wajahnya yang ditekuk.


Shaka yang cuek tak mau menanggapi adik dan sepupunya itu, Ia lebih memilih menyelesaikan maha karyanya. Begitupun Vani, Ia yang memang pendiam terlalu malu untuk ikut campur. Ia pun memilih menjadi penonton saja.


Berbeda dengn Aska, Ia yang begitu menyayangi kedua adiknya bertugas untuk melerai hingga Ia segera mendekat. Ia meraih wajah cemberut Sena seraya mendongakannya. "Mana aka lihat?" Tanyanya.


"Sakit kak! Dede jahat!" Rajuknya pada sang kakak kesayangan, seraya tangannya terus mengusap bagian kulit yang kena lemparan tadi.


Aska melerai tangan itu dan meniupnya. "Udah, sembuh!" Ucapnya tersenyum dan dibalas senyum manis gadis cantik itu.


"Jangan bertengkar lagi ya, gak baik!" Nasehatnya seraya mengusap kepalanya. dan dijawab anggukan Sena.


Sena pun memeluk tubuh sepupunya. "Sayang Aka!" Ucapnya. "Dede, Aka nya punya Sensen." Sena kembali ingin menjahili sepupu manjanya itu.


"Biayin. Dede puna om!" Balasnya membuat Aska dan Rei tergelak.

__ADS_1


*******************


Ayo ramaikan! Gak bosen ngingetin, buat ninggalin jejaknya yaa😊 biar mak othor semangat kongsi vote sama bunga lah! Biar bisa crazy up🤭


__ADS_2