
Hari berganti hari, namun Rei belum juga ada waktu untuk mengunjungi kakak ipar yang Ia harapkan akan menjadi ayah mertuanya. Pekerjaan yang memumpuk membuat Ia tak banyak memiliki waktu luang. Bahkan Ia juga tak bisa membagi waktunya bersama sang pacar. Proyek yang harus Ia selesaikan minggu ini, membuat Ia benar-benar sibuk berkutat dengan pensil dan laptopnya.
Kia yang sudah mengerti dengan kesibukan sang pacar, tak pernah mempersalahkan itu. Ia selalu mendukung apapun yang dilakukan pria kesayanagnnya itu. Seperti kali ini, Ia yang melihat sang pacar tak keluar dari ruang kerjanya. Berinisiatif untuk membawakan kopi dan sedikit cemilan untuknya.
Tok! Tok! Tok!
Ia ketuk benda persegi berwarna coklat didepannya. Lalu membuka knopnya kala suara dari dalam mengizinkannya untuk masuk.
"Om!" Sapanya, seraya masuk dengan membawa nampan ditangannya.
"Iya de!" Balasnya seraya membuka kaca mata putih yang tadi bertengger dihidungnya. Ia tersenyum melihat sang gadis menghampirinya. "Sini!" Ucapnya.
Kia berjalan mendekat. Ia simpan nampan yang Ia bawa keatas meja kerjanya. Ia beralih ke belakang sang om dan mulai menempelkan kedua tangannya dibahu kekar pacarnya dengan sedikit tekanan kecil. "Om pasti cape. Aku pijitin ya." Ucapnya.
Rei tersenyum menanggapinya. Tangannya terulur meraih satu tangan yang bertengger dipundaknya, lalu mengelusnya lembut. "Gak usah de. Kamu juga pasti cape." Tolaknya halus.
"Gak lah om! Aku gak pernah cape. Otak ku cuma bekerja empat jam perhari. Sedangkan otak om bekerja hampir dua puluh jam." Balas Kia, tanpa menghentikan aktifitasnya.
Rei terkekeh mendengarnya. Memang benar beberapa hari ini, Ia bahkan hampir melupakan jam tidur dan makannya. Jika saja tak ada dede pacarnya, entah Ia bisa makan atu tidak.
"Sesibuk apapun, jangan melupakan waktu tidur dan makannya om! Aku gak mau sampai om sakit." Peringat Kia dan sukses membuat lengkungan lebar dibibir sexy sang om.
Rei menggenggam sebelah tangan lembut gadisnya, membawanya kedepan dan menciuminya. "Makasih ya de! Kamu selalu memperhatikan om." Ucapanya.
"Iya om! Aku seneng kok. Belajar buat jadi istri yang baik." Kekeh Kia disertai cekikikannya.
Rei tertawa kecil menanggapi itu. "Sini!"Ia tarik tangan sang gadis, hingga berdiri disampingnya. Tanpa diduga, Ia mendudukan sang gadis dipangkuannya.
Deg
Kia terpaku kala dirinya berhasil duduk dipangkuan sang om dengan mata yang bertemu diantara keduanya. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang melihat tatapan yang mematikan organ syarafnya. Hingga dengan pasrah Ia hanya menerima serangan benda kenyal yang menyosor pada bbirnya.
Ia kembali terbuai dalam permainan lembut yang pacarnya berikan. Hingga mata keduanya terpejam menikmati sentuhan bibir satu sama lain yang menimbulkan decapan merdu diruangan itu. Lama keduanya berpagut menyalurkan rasa yang kian membuncak, sampai Rei sadar dan menghentikan aksinya.
Tak ingin berbuat lebih, Ia segera melepaskan pagutannya. Lalu menghapus jejak kebasahan dibibir ranum yang sedikit menebal karena ulahnya itu. "Maaf!" Sesalnya.
Kia tersenyum menanggapi itu. "Isshh apa sih om?" Tanyanya dengan sedikit menahan malu.
"Karena om gak bisa menahannya. Harusnya om gak lakuin itu sama kamu." Tuturnya seraya menunduk.
__ADS_1
Kia menangkup wajah sang pacar dan mengarahkannya bersitatap dengannya. "Gak perlu minta maaf om! Lagian ini kan yang dilakuin pasangan kekasih?" Celetuknya hingga sukses mendapat tarikan dihidung dari sang pacar.
"Gak gitu juga. Harusnya kita bisa menahannya sampai halal." Protes Rei dengan gemas. Dan hanya dibalas cebikan bibir oleh sang gadis seraya mengusap hidung, bekas tarikan sang pacar tadi.
"Lagian dapat teori dari mana sih. Pacar om yang imut ini?" Tanyanya seraya kembali menarik hidungnya.
"Ihhh om!!" Rengeknya seraya menahan lengan sang om. "Lama-lama ini hidung bisa panjang." Protesnya.
"Biarin. Biar kek artis bolywood." Celetuk Rei dengan tawanya.
"Paan artis bollywood, yang ada kek pinokio aku tuh." Protesan Kia semakin membuat sang pacar tergelak.
"Kamu belom jawab tadi pertanyaann om." Tutur Rei.
"Apa?" Tanya Kia heran. Ia tak mengingat sang om bertanya apa padanya.
"Itu tadi, kamu dapat dari mana teori pacaran harus ada sosor-sosoran? Jangan bilang kamu koleksi film biru, ya?" Tanya Rei seraya menyelidik.
"Issshh paan sih om!" Protes Kia seraya memukul dada bidang sang pacar.
"Jangankan film gituan. Drakor aja yang katanya suka bikin baper-baper aku gak pernah nonton." Sangkalnya hingga sang om terkekeh.
"Ya udah, ntar kita nonton bersama deh!" Ucap Rei dengan nada candaan dan kembali mendapat timpukan didadanya.
Ditengah canda tawa keduanya, tiba-tiba dering ponsel mengalihkan atensi mereka. Rei mengamil benda tersebut, mengechek siapa yang malam-malam menghubunginya. Ia mengerutkan dahinya kala nama seseorang tertera dilayarnya.
"Siapa om?" Tanya Kia yang sudah kepo siapa yang menghubungi pacarnya dijam larut seperti ini.
"Desy." Balasnya.
"Ngapain dia malam-malam telpon om?" Selidik Kia.
"Mungkin mau nanyain soal proyek." Balasnya. "Om angkat ya!" Izinnya, namun hanya dijawab gedikan bahu oleh sang gadis dengan melengos kesal.
Rei yang mengerti menghembuskan napasnya panjang. Pastilah gadisnya ini tak mengizinkannya. Ia hendak menekan icon merah itu namun malah icon hijau yang Ia tekan, kala sang gadis hendak berdiri.
Ia menahan tubuh sang gadis untuk tetap stay dipangkuannya. Ia pun melupakan ponselnya yang Ia simpan diatas meja dengan panggilan tersambung pada bawahannya itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rei lembut.
__ADS_1
"Kekamar!" Balas Kia singkat padat dan jelas.
"Jangan marah dong! Gak diangkat kok." Bujuknya.
"Serah!" Balasnya dengan nada yang sama.
Rei menghembuskn nafasnya panjang. "Kamu gak percaya?" Tanyanya. Namun Kia masih terdiam.
Ia peluk tubuh ramping itu seraya menyandarkan kepala dibahunya. "Percayalah dan tetaplah seperti ini! Nyaman." Ucapnya.
Hening!
Tak terdengar suara apapun dari keduanya hingga terdengar misuh-misuh pelan yang entah suaranya dari mana.
"Kek ada suara ya de?" Tanya Rei dan diiyakan Kia. Keduanya celingukan mencari sumber suara yang begitu pelan namun terdengar jelas.
Hingga atensi keduanya tertuju pada benda persegi yang menjadi bahan pertengkaran kecil tadi. Rei mengambil benda itu, lalu menempel jari telunjuknya didepan bibir memberi kode agar Kia diam. Kia menurutinya dengan wajah ditekuk.
Rei menekan pengeras suaranya, agar suara disebrang sana dapat terdengar jelas keduanya. Hingga suara misuh-misuh dari sebrang sana, terdengar menggema diruangan itu.
"Hallo! Pak Rei? Pak?"
"Ini bener kan nomornya?"
"Kok kek ada suara perempuan ya?"
"Terus kek ngobrol sama pacaranya. Jangan-jangan pak Rei udah punya pacar lagi?"
"Ck! Hilang kesempatanku buat dapatin dia."
"Hallo pak? Pak Rei?"
Sekuat tenaga Kia menahan perutnya. Hingga terbesit ide jahil dari otaknya.
"Sayang! Lagi...mhhh" Ucapnya dengan nada manja.
Dan hal itu sukses membuat Rei membelakakan matanya tak percaya. Bulu kuduknya meremang seketika, kala rematan jari halus sang gadis mengenai pundaknya.
"Once again, please!" Ucapnya dengan nada manja.
__ADS_1
****************
Jangan lupa jejaknya yaa🤗 tungguin, masih mau up!