Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 12 Cemburu


__ADS_3

Bang Agung yang melihat seorang pemuda disisi gadisnya itu mengerenyitkan dahinya. Apa mungkin adek imutnya itu tengah diapelin?


"Dia siapa?" Tanya bang Agung dengan nada dingin. Entah kenapa ada perasaan tak nyaman melihat kedekatan dua manusia itu.


"Dia Rangga teman aku bang! Kita lagi bahas buat ujian besok." Jawab Siska.


"Oh iya Ga. Ini bang Agung. Abang gue!" Siska memperkenalkan pria didepan layarnya pada pemuda disampingnya.


"Hai bang!" Sapa Rangga seramah mungkin dan hanya dijawab anggukan pria disebrang sana.


"Bukannya lu anak tunggal ya Sis?" Tanya Rangga pada Siska.


"Gue abang angkatnya. Kenapa?" Timpal bang Agung dengan nada yang sama.


"Oh! Ng-nggak bang!" Jawab Rangga merasa aneh dengan pria disana.


"Gak usah deket-deket, jauhan sono!" Titah bang Agung.


"I-iya!" Rangga sampai menaikan satu alisnya. 'Posesif bener abangnya' Batinnya. Ia pun menjauhkan diri dan kembali duduk dengan rapih.


Siska yang melihat reaksi abangnya ini ikut merasa aneh. Lalu perhatiannya terlaihkan pada baby yang tengah mengoceh tak jelas itu membuat dirinya tersenyum.


"Uluhh-uluhh sayangnya Onty! Ngomong apa sih? Kangen yaa sama Onty yaa? Mau gendong yaa? Uhh gumushin banget sihh!" Celoteh Siska mengajak main baby disebrang sana, hingga membuatnya tertawa.


Rangga yang melihat itu tersenyum. Ternyata Ia tak salah, menempatkan hatinya pada gadis disampingnya itu. Selain cantik gadis itu juga begitu penyayang.


Ternyata raut wajah Rangga itu terekam kamera dan dillihat jelas bang Agung. Kamera yang sedikit menyerong, hingga memperlihatkan Rangga dibelakang Siska tentu jadi perhatian pria dengan raut muka yang semakin kecut itu. Apalagi kala Ia melihat betapa pemuda itu mengaguminya. Mendidih sudah darahnya, hingga naik keubun-ubun.


"Kenapa gak lu suruh pulang temen lu itu?" Tanya bang Agung.


"Kenapa?" Tanya Siska heran.


"Ngehalangin pemandangan." Timpalnya semakin sengit.


Siska menaikan satu alisnya, merasa tak mengerti. Lalu Ia menoleh kearah pemuda disisinya. Rangga yang ditatap mengerti, kalau dirinya tengah diusir.


"Ya udah gue pulang ya Sis! Jalannya kapan-kapan aja deh." Pamit Rangga dijawab anggukan Siska.


"Iya. Maaf ya Ga!" Timpalnya merasa tak enak hati.


"Its ok! Ntar besok gue jemput ya!"


"Gak usah Ga! Deket ini." Tolak Siska halus.


"Gak papa sekalian aja!"


Eheemm!!!


Deheman keras mengalihkn atensi keduanya.


"Ya udah gue cabut. Tuh bukunya jangan lupa lu baca ya!" Pamit Rangga sekali lagi dan dijawab anggukan Siska dengan senyumnya.


Setelah kepergian Rangga, tak ada suara yang keluar dari sebrang sana.


"Bang! Napa sih diem bae? Sariawan?" Ledek Siska namun tak ada tanggapan apapun dari sana, hanya celotehan baby yang tengah menyesap ibu jarinya yang terdengar.


"Abang ihh!! Kok akunya dicuekin. Abang napa sih? Aneh deh." Masih tak ada jawaban dari pria didepan sana.


"Atau abang cemburu ya?" Tanya Siska dengan girangnya.


"Paan? Siapa juga yang cemburu?" Elak bang Agung yang baru bersuara.

__ADS_1


"Itu abang cemburu. Kalo gak cemburu apa coba namanya? Tiba-tiba marah-marah gak jelas?" Tanya Siska.


"Gue gak cemburu!" Tegasnya.


"Aku gak percaya!" Tegas Siska pula.


"Seraaahhh!!" Finalnya membuat Siska mencebikan bibirnya.


"Abang napa sih? Bilang aja kalo cemburu. Gak papa kok aku diceburuin." Tutur Siska.


"Idihhh apaan! Udah gue tegesin gue gak cemburu!"


"Terus tuh muka napa jutek banget?" Tanya Siska dan hanya dijawab gedikan bahu olehnya


Siska menghela nafasnya panjang. Merasa bingung dengan sikap abang-abangannya ini. Hingga terbesit ide untuk membuat mood pria itu up lagi.


"Bang aku mau nyanyi, dengerin ya!" Titahnya namun yang disebrang tetep diem bae.


Siska berdehem terlebih dahulu untuk memulai nyanyiannya. Bak penyanyi profesional. Ia sampai menarik dan membuang nafasnya teratur, membuat ancang-ancang layaknya latihan vocal seorang diva.


"Abang! Jangan marah-marah


Nanti abang lekas tua


Dinda eh salah, ulang!


"Abang! Jangan marah-marah


Nanti abang lekas tua


Siska setia orangnya


Bang Agung melipat bibirnya mencoba menahan tawanya, dari mulai ancang-ancang pemanasan tadi hingga sekarang Ia menahan perutnya.


"Dari jutaan bintang


Abang paling gemerlapan


Dari jutaan pria


Hanya abang yang ku sayang!"


Hingga dibait terakhir barulah tawa bang Agung pecah membuat Siska tersenyum senang. Akhirnya Ia bisa mengembalikan tawa itu. Walau tak dapat dipungkiri, lirik itu memang hatinya tunjukan pada pria yang begitu renyahnya tertawa disana.


"Balas dong bang?" Goda Siska.


"Paan? Gue gak bisa nyanyi. Suara gue terlalu bagus!" Jawab bang Agung membuat Siska ikut tergelak.


"Udah lu lanjut aja nyanyinya. Suara lu bagus tuh!" Titahnya.


"Gak ah! Gak ada yang nyawer!" Timpal Siska disela tawanya.


"Udah buruan. Ntar kalo ketemu gue sawer deh!" Titanya lagi.


Siska pun berhenti tertawa. "Iya! Iya mau lagu apa?" Tanyanya. "Eh udah kaya biduan ya aku, di request?" Lanjutnya cekikikan.


"Apa aja, serah lu!"


"Emm ya udah lagu ini aja!"


"*Kau tau sejak pertama bertemu

__ADS_1


Terbayang senyum indah dimatamu


Kau berikan tatapan cinta untukku


Jatuh cinta ku jatuh cinta"


"Rindu terasa mengancam dadaku


Saat kau slalu hadir dimimpiku


Hati jiwaku slalu memanggilmu


Oh kasihku.."


"Ku cinta kau, ku cinta kau


Hanya kamu dihatiku


Takan pernah kan terganti


Sampai kau jadi milikku"


"Oh oh oh ohhh


Sampai kau jadi milikku


Oh oh oh ohhh


Kaulah cinta sejatiku*.."


Bang Agung tersenyum mendengr suara yang melantun indah disana. Tanpa sepengetahuan yang punya, Ia merekam suara itu.


"Gimana bang?" Tanya Siska. Seperti tengah mendengar komentar jurinya. Ia dibuat tegang karenanya.


"Emm lumayan!" Jawab bang Agung santai membuat Siska berdecak kesal.


"Ck. Cuma lumayan. Yang etis dong bang! Beri komentar yang pas gitu." Gerutu Siska.


"Ya gue mesti jawab apa? Dikira gue komentator apa? Gue gak tau yang gitu-gituan." Timpalnya. Namun Siska masih belum puas dengan jawabannya.


Bang Agung menghela nafasnya panjang. "Iya deh, suara lu bagus. Enak didenger. Puas!" Tuturnya.


"Cih. Kek gak ikhlas!" Protes Siska.


"Ini gue ikhlas. Itu ralitanya, suara lu emang bagus!" Timpal bang Agung dan akhirnya membuat Siska tersenyum begitu manis.


Bang Agung yang melihat senyum itu, tiba-tiba merasa aneh pada dirinya. 'Gue napa sih?' Batinnya bertanya-tanya.


"Bang itu dedenya tidur!" Suara Siska membuat lamunan bang Agung buyar dan seketika melihat putranya tertidur dengan posisi tak nyaman. Ternyata suara Siska menjadi obat tidur untuk baby yang sudah montok itu.


"Ya udah gue tutup dulu! Mau tidurin dedenya ya." Pamit bang Agung.


"Ya bang! Selamat tidur sayangnya Onty! Ntar Onty telepon lagi ya!" Tutur Siska membuat keduanya tersenyum.


Panggilan pun akhirnya terputus. Siska tersenyum senang sampai memeluk Hp nya. Tanpa disadari sang Ibu melihatnya dari kejauhan. Ia melihat interaksi itu dari tadi.


"Lapor ah!" Gumamnya cekikikan.


**************


Ayo dong, kasih jempol sama komentarnya! Ini beneran mau up 3bab yaa😊 Jangan lupa tuh tabur bunganya biar bermekaran, kalo perlu suguhin kopi ni mak othor buat gadang🤣

__ADS_1


__ADS_2