Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 62 Sekian, terima nasib!


__ADS_3

Bang Age buru-buru bangun dari atas tubuh sang istri kala mendengar jeritan putranya. Konsentrasinya ambyar seketika, si junior yang tegang pun ikut menciut karenanya. Lemes bestie!


Begitupun Siska, Ia segera ikut bangun dengan gelagapan merapihkan penampilannya yang sudah acak-acakan. Padahal baru tahap sapa bibir, namun penampilannya sudah ackadul bagai terkena badai angin ribut.


Ia mencoba mengancingkan kembali kemejanya yang sempat kena bobol tangan jahil suaminya. Namun karena panik, Ia sampai tak sadar telah memasukan kancing pada lubang yang salah. Dan hal itu membuat Ia semakin terihat berantakan.


"Timom!" Dengan lelehan air mata yang membanjiri pipi gembulnya, Aska berhambur naik ke atas ranjang dan masuk kedalam dekapan timomnya.


"Cup sayang! Jangan nangis. Maafin timom ya!" Pintanya mengelus sayang kepala putranya itu.


Hingga akhirnya tangisnya pun berhenti. Ia lerai dekapannya dan menghapus jejak kebasahan diwajah tampannya.


"Udah ya, jangan nangis lagi. Sekarang timom kan disini, sama Aka." Tuturnya dan dijawab anggukan Aska.


"Mana gantengnya sih, senyum dong!" Rayunya dengan menarik kedua sudut bibir balita didepannya. Hingga lengkungan senyum sukses terbentuk diwajah tampan Aska.


"Nah gitu dong, ini baru gantengnya timom!" Ucap Siska ikut tersenyum manis dan menguseuk kepalanya gemas. Tak lupa hidung mancungnya juga jadi incaran timom kesayangannya itu.


Aska berbalik melihat sang Papih yang duduk diujung ranjang. Ia melipat tangannya didada dengan mata nyalang menatap pria yang sudah membuat dirinya menangis. Layaknya orang dewasa yang tengah mendakwa anaknya. Ini yang dilakukan balita tampan itu pada sang papih.


"Pih tahat tama timom!" Ucapnya tegas pada sang Papih, membuat bang Age menaikan alisnya sebeleah.


"Papih?" Tanya bang Age menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa? Papih gak jahat kok sama timom." Belanya.


"Nda. Pih tahat!" Tegasnya lagi.


Mamih yang ikut menyusul ke kamar untuk mengikuti cucunya langsung menghampiri mereka. "Kenapa sih kak teriak-teriak?" Tanya Mamih.


"Itu Mi. Pih tahat!" Tunjuk Aska pada sang Papih. Membuat sang Mamih ikut keheranan.


"Jahat kenapa?" Tanya Mamih.


"Pih bitin timom ditu." Tunjuknya beralih pada timomnya.


Mamih dan bang Age mengalihkan atensinya pada perempuan yang tengah duduk melipat kakinya dihadapan Aska. Hingga sukses membuat sang Mamih melipat bibirnya dan bang Age tersenyum kikuk menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Siska yang menjadi pusat perhatian merasa aneh, Ia menunduk dan melihat penampilannya. Hingga matanya membola melihat kemejanya yang acak-acakan. Semakin menambah berantakan penampilannya.


"Ya ampun!" Ia bergumam pelan dengan terus menunduk menyembunyikan pipinya yang tiba-tiba memanas.

__ADS_1


Apalagi sekarang dirinya tengah menjadi perhatian sang Mamih mertua. Auto runtuh sudah keanggunannya dimata Mamih mertua rasa Mamih sendirinya itu. Entah apa yang ada dipikiran sang Mmaih, yang jelas Siska merasa malu. Semalu-malunya orang malu lah pokoknya mah.


Mamih yang mengerti langsung mengajak cucunya untuk keluar, namun cucunya masih tak mau keluar.


"Nda mau Mi. Aka mau tini." Tolaknya. Matanya kembli menatap sang Papih. "Pih aja tana. Kuan tana!" Usirnya pada sang Papih.


"Kok Papih sih. Aka aja sana sama Mimih keluar!" Titah bang Age.


"Nda! Pih tana kuan." Aska sampai menarik sang Papih untuk keluar.


"Udah lah bang ngalah. Ayo keluar!" Ajak Mamih.


"Tapi kan-" Belum selesai juga ucapannya, sang Mamih sudah menarik tangannya.


Akhirnya bang Age pun pasrah meninggalkan putranya dan sang isrti disana. Biarpun dengan perasaan dongkol, Ia harus merelakan putranya menguasai istrinya.


Dengan wajahnya yang masih ditekuk bang Age menghempaskan dirinya diatas sofa diruang tv. Mamih yang melihatnya tersenyum, lidahnya sudah gatal ingin meledek putra sulungnya itu.


"Udah sii bang. Jatah kamu tu malam. Siang kan giliran Aka." Ledek Mamih cekikikan.


Bang Age berdecak kesal mendengar ledekan Mamihnya. "Ck! Mamih tu kek gak pernah ngalamin jadi manten baru aja sii. Tega bener!" Protesnya.


"Idih pengantin baru cenah, udah jamuran tuh! Udah dapat cuan lagi!" Ledek Mamih lagi dan hanya dijawab cebikan bibir darinya.


Mamih menepuk-nepuk pundak putranya. "Udah, terima nasib aja!" Tuturnya cekikian dan segera bangun untuk berlenggang kedapur.


Bang Age hendak mengumpat namun Ia segera menahannya. Bahkan Ia tak sanggup mengeluarkannya meski dalam hati. Mengingat dirinya masih menginginkan tiket masuk Surga, dengan kesal Ia hanya istigfar dalam hati. Karena kalo sampai Ia melayangkan umpatannya auto melayang itu tiket Surga.


Ia hanya menghembusakn nafasnya pasrah. Karena tak tau harus melakukan apa, akhirnya Ia merebahkan diri disana dan menyalakan layar besar didepannya. Menonton tayangan yang menurutnya tak ada yang menarik sama sekali. Hingga akhirnya Ia pun terlelap disana. Keadaan menjadi terbalik, bukan si abang yang menontom tv, tapi tv yang menonton si abang yang ngorok.


**


Sementara itu, setelah Siska mengganti baju dan merapihkan penampilannya. Siska megikuti arahan sang putra untuk mengikutinya kedepan, mengambil dodorjoy yang sudah dijanjikannya.


Balita tampan itu begitu riang, kala Siska mengeluarkan beberapa telur mainan itu dengan berbagai macam cemilan lain dari dalam kantong kresek. Ia mengambil salah satu benda berbetuk oval itu dan mencoba mengajak timomnya bermain.


"Timom, ni apa?" Tanyanya seraya memberi tebak-tebakan.


"Emm.. Apa ya?" Siska tampak beffikir sejenak. "Mobil-mobilan!" Tebak Siska, melihat dari covernya yang memang untuk anak laki-laki. Pikirnya.

__ADS_1


"Buta ya!" Aska memutar benda itu, hingga terbuka dan ternyata isinya benar mobil-mobilan kecil. Dan hal itu membuat Aska menjerit kegirangan.


Bang Age yang baru saja menyambangi dermaga mimpinya dibuat terlonjak mendengar jeritan putranya, Ia pun terbangun dengan setengah nyawa yang masih melayang. Bayangannya langsung tertuju akan hal buruk menimpa putranya. Ia pun berlari kocar kacir tak karuan menuju ruang tamu. Hingga kakinya tersandung kaki kursi.


Brukkk!!!


Siska dan sang putra yang tengah asyik membuka satu persatu dodorjoy dibuat terkejut karenanya.


"Astagfirulloh!!" Siska yang kaget refkek memeluk putranya, yang sama kagetnya. Aska terlonjak sampai menabrakan dirinya ketubuh timomnya dan memeluknya erat.


Siska shok melihat sang suami yang sudah nyungseb diatas lantai diantara sofa sebelahnya.


"Ya ampun abang! Abang kenapa?" Siska berhambur mendekati sang suami, setelah melepas dekapannya dengan sang putra.


"Aw! Aww!!" Bang Age merintih memegang pinggangnya yang sukses mendarat dengan cantik diatas lantai. Dan diperkiraan pinggannya pasti kena encok.


"Abang kenapa tidur disini?" Tanya Siska panik sembari membantunya bangun.


"Apanya yang tidur? Abang nyungseub ini." Protesnya.


Siska sedikit mengulum senyum kala melontarkan pertanyaan yang salah. 'Eh iya juga' Pikirnya.


"Ya udah yuk! Duduk sini." Siska mendudukan sang suami disofa, diikuti dirinya pula disampingnya.


Bang Age terus merintih membuat Siska semakin khawatir. "Pasti sakit banget ya bang?" Tanyanya seraya memegang pinggang suaminya dan dijawab anggukan sumainya.


"Aku panggil kang urut ya!" Tutur Siska.


"Gak usah, ntar aja malam!" Tolaknya.


"Manggil kang urutnya malam aja?" Tanya Siska.


"Gak usah pake kang urut!" Balasnya.


"Terus?" Tanya Siska heran.


"Diurutnya sama sinona manis aja!"


*************

__ADS_1


Ayo dong, kencengin like dan komennya😉 tabur-tabur bunganya juga yaa😍😍 mak othornya lagi pengen dimanja nih🤣


Kalo rame, di up satu lagi ntar malam okeh👍🤭


__ADS_2