Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Benda keramat


__ADS_3

Sekuat mungkin Kia menahan tawanya agar tak pecah. Berbeda dengan sang gadis yang begitu asyik menjahili sesoarang disebrang telepon, Rei justru tengah mati-matian menahan sesuatu yang tiba-tiba saja terbangun, kala mendengar suara manja yang keluar dari bibir gadisnya.


Dengan susah payah Ia menelan salinya kuat-kuat, kala rematan pada bahu dan goyangan dari tubuh sang gadis yang tak mau diam menyentuh benda keramatnya.


"Come on baby! Mmmhhh.."


Sungguh akting Kia, patut diacungi jempol. Tanpa kata dan suara lagi, sambungan dari sebrang sana pun terputus. Pecah sudah tawa gadis cantik yang masih anteng dipangkuan pacarnya itu. Ia tak menyadari kelakuannya yang sudah membangkitkan jiwa kelelakian sang pacar.


Bagaimana tidak? Rei lelaki normal dapat pancingan seperti itu tentu membuat jiwa liarnya keluar. "De!" Desisnya ditelinga sang gadis.


"Keluar!" Titahnya pelan. Kia menoleh seraya menautkan alisnya heran.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Om harus ngeluarin sesuatu, kamu cepet keluar!" Titahnya dengan berusaha setenang mungkin.


Kia yang tak mengerti semakin dibuat bingung. "Apa sih om? Ngeluarin apa?" Tanyanya.


Rei berdiri, higga membuat sang gadis ikut berdiri. Lalu mendorong gadisnya untuk keluar dari ruangannya. "Udah jangan tanya lagi, cepet keluar. Om gak mau sampe nerkam kamu!" Titahnya.


Kia berdecak kesal kala Ia benar-benar keluar dari ruangan itu. "Ck! Ngeselin. Napa sih si om!" Gerutunya menatap kesal benda persegi yang sudah tertutup.


Ia hendak melayangkan pukulan pada benda didepannya. Namun, Ia urungkan kala pastilah benda itu membuat tangannya sakit. "Issshhh" Desisnya kesal seraya menghentakan kakinya greget. Dengan perasaan dongkol Ia berlalu menuju kamarnya.


Sementra itu didalam kamar, Rei berulang kali menarik dan menghembuskan nafasnya teratur. Mencoba menenangkan si jack benda keramatnya untuk diam. Namun rasanya sulit, kala suara merdu gadisnya malah menari diotaknya. Bahkan terus mendengung ditelinganya. Hingga sesuatu didalam sana kian membesar.


"Ya ampun! Apa-apaan ini." Ucapanya dengan wajahnya menunduk kebawah, melihat gundukan yang kian besar dibalik celananya.


"Haiiiss!" Ia hendak mengumpat kesal pada si jack yang tak mau diam. Akhirnya Ia pun memutuskan untuk pergi kekamar mandi.


"Kek nya emang harus menggelar konser solo ini." Ucapnya seraya menghembuskan napasnya pasrah.


Ia pun menutup pintunya dengan wajah frustasinya. Hingga mungkin Ia benar-benar mengadakan pergelaran itu.


**


Sementara itu, Kia yang memasuki kamarnya terus menggerutu kesal. Ia membantingkan tubuhnya keatas kasur, dengan posisi tengkurap.


"Ishh om menyebalkan! Main usir aja lagi. Awas aja, besok aku bakal ngambek!" Omelnya pada layar pipih didepannya, yang ternyata menampilkan gambar sang pacar yang terpampang disana.


"Iya, smoga aja bisa!" Ucapnya dengan semangat yang menggebu. Hingga didetik berikutnya, Ia menjerit frustasi.

__ADS_1


"Aaaaa!!! Aku tuh suka gak tega, lihat muka om yang unyu ini." Rengeknya melihat senyum yang ditunjukan sang om digambar itu.


"Ck! Kenapa jadi kangen ya, padahal kan baru ketemu?" Ucapnya dengan terus stay menatap gambar dilayar pipihnya itu.


Lengkung senyuman manis terukir indah, kala sentuhan dibibirnya kembali menari diotaknya. "Aaaaaa!!! Om pacar." Pekiknya kegirangan seraya tangan yang terus bertengger dibibirnya, dengan kaki yang menenedang-nendang tak jelas.


Hingga suara notif chat mengalihkan atensinya. Ia buka chat tersebut dan melihatnya. Hingga hembusan nafas kasar terdengar jelas dari bibir ranum itu, disertai decakan kesal yang mengisyaratkan pesan begitu tak diinginkannya.


My Timom💙📥


Besok, Papih jemput ya de!


Chat singkat dari wanita tercintanya, seketika membuat mood nya ambyar. Alih-alih memikirkan siapa yang akan dijodohkan dengannya. Ia lebih memikirkan, doa apa agar si calon suami yang akan dijodohkan dengannya mendadak serangan jantung, atau kecelakaan, atau masih banyak lagi doa negatif agar perjodohanya itu dibatalkan.


Sungguh putri bang Age ini membuat mak othor geleng-geleng kepala. Pasalnya mak othor gak punya doa seperti itu. Haruskah mak othor tanya sama emak-emak readersnya?


Erangan frustasi terdengar menggema diruangan temaram itu. Ia terus berpikir keras bagaimana caranya agar sang Papih tak jadi menjemputnya. Sudah dipastikan sang pacar yang merangkap jadi omnya itu hanya akan menuruti keinginan papihnya. Hingga akhirnya Ia menemukan ide cemerlang diotak kecilnya. Dengan seringai diwajahnya, Ia pun mulai mengotak atik layar pipihnya.


"Dah beres, papih gak bisa paksa gue pulang!" Ucapnya girang.


"Maafin dede ya, calon suami yang gak jadi. Dede terlalu cantik buatmu. Pasnya tuh dede sama om pacar. Perfect!" Ucapnya cekikikan.


Setelah melakukan ritual sebelum tidur, seperti gosok gigi dan cuci muka, lalu skincare an. Kia pun memasuki dermaga mimpinya.


*


Di depan meja kerjanya Rei terus menopang pelipisnya seraya memijitnya pelan. Satu tangannya terus memainkan pensil ditangannya. Pikirannya melayang pada sebuah pesan dari sang kakak ipar, untuk membantunya membujuk sang ponakan yang sayangnya sekarang malah menjadi pacarnya.


"Apa yang harus kulakukan?" Gumamnya. "Aku harus mempertahankan gadisku. Aku gak akan biarin siapapun memilikinya." Ucapnya semangat.


"Iya. Ini belum terlambat. Ini baru dimulai, dan aku bisa menghentikannya." Lanjutnya tersenyum.


Ia buka laci mejanya, meraih sehelai kertas dari dalamnya. Senyumnya terukir melihat gambar hasil karya melamunnya waktu itu. Ia terkekeh sendiri mengingat waktu dimana dirinya ingin menolak dan menghindar. Namun kenyataannya, semakin Ia menghindar rasa itu semakin sulit Ia kendalikan.


"Aku akan memperjuangkanmu. Bagimanapun caranya. Kamu hanya milikku. Askia Gisellya Arumi. Kamu hanya akan menjadi satu-satunya nyonya Reihan Adya Darmawan." Ucapnya dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya seraya memejamkan mata, kala bayangan gadisnya tersenyum memenuhi pikirannya.


**


Gedoran dipintu sukses membangunkan seorang gadis dari tidur nyenyaknya. Ia mengerjakan matanya pelan kala sinar mentari memasuki indera penglihatannya. Hingga netranya menangkap sosok wanita yang Ia kenali.


"Timom!" Gumamnya yang belum tersadar sepenuhnya.

__ADS_1


"Ck! Perawan jam segini masih aja ngorok. Kalah tuh sama anak kucing tetangga." Ledek sang timom, hingga Ia terkekeh sendiri.


Entah kenapa dialog yang Ia ucapkan mengingatkannya pada sang suami dulu. Bagai dejavu, apa yang dia alami dulu kini dialami juga oleh putrinya.


Ia mendekati ranjang dan mencoba membangunkan putrinya yang masih anteng menutup matanya. "De, bangun! Udah siang!" Titahnya seraya menggoyangkan bahunya pelan.


"Bentar lagi mom, ngantuk!" Timpalnya yang enggan membuka mata.


"Udah siang ini. Udah hampir waktu bedug." Tutur sang timom.


Seketika mata Kia membola sempurna. Ia bangkit dari tidurnya seraya mengucek matanya. Ia kembali mengingat janjinya tadi malam bareng sahabatnya. "Iden!" Pekiknya.


Hingga atensinya teralihkan pada sang Timom yang mengerenyitkan dahinya heran.


"Kok timom disini?" Tanya Kia heran.


"Timom kan bangunin kamu." Balasnya.


"Bukan itu, maksudnya timom bareng sama papih jemput dede kesin?!" Tanyanya.


"Nggak! Timom gak ikut."


"Lah terus kenapa timom ada disini?" Tanya Kia semakin heran.


"Kamu kenapa sih? Timom kan dari dulu tinggal disini." Jawaban sang timom membuat Kia benar-benat melongo. Ia edarkan pandangannya keseluruh ruangan. Hingga matanya membola sempurna.


"Ini aku-?" Tanya Kia shok.


"Kenapa? Kamu dikamar kamu ini." Balas sang timom dans sukses membuat linglai dengan hembusan napas panjang.


**************


Ayo kasih jempolnya! Jangan lupa ramiakan komentarnya yaa🤗



Si om yang lagi inget sama persatuan bibir🤣



Dede yang bete dijemput sang papih🤣

__ADS_1


__ADS_2